Nara terduduk dengan lemah, namun demikian, karena hawa dingin mulai menyelimuti tubuhnya yang tiba-tiba menggigil, ia pun bergegas bangkit dan mengganti bajunya dengan baju tidur seadanya dan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Beberapa kali ia bersin dan mengernyit menahan sakit.
‘Padahal aku sudah hampir membaik, sekarang kepalaku jadi kembali berkunang-kunang dan berat. Kalau begini caranya aku bisa kena flu dan demam. Ya, ampun. Masa malam ini aku membolos kerja lagi? Mas Doni benar-benar kelewatan!’ jerit hati Nara dengan menahan sesak dan gemuruh di dadanya.
Apalagi ia teringat selama seharian ini, ia tak mengisi perutnya sama sekali. Dan sekarang, Doni malah menguncinya dari luar. Nara mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Ia tak menemukan biskuit atau makanan kecil apa pun yang biasanya tersimpan rapi di atas rak kecil di meja.
Nara menghela napas dengan pasrah seraya memegangi perutnya yang semakin terdengar bunyi keroncongan dan rasa melilit karena kelaparan. Hingga tiba-tiba terdengar suara kunci kamar yang diputar oleh seseorang dan pintu itu pun terbuka.
Untuk sesaat Nara tertegun menatap sosok Denny yang berdiri di tengah pintu. Laki-laki itu terlihat menenteng bungkusan di tangannya, yang kini terulur ke arahnya. Melihat itu Nara bergegas turun dari tepian kasur di mana ia duduk.
“Mas Denny?” tegur Nara dengan tatapan kebingungan.
“Makanlah, aku sengaja membeli di luar. Jadi, itu bukan makanan dari pernikahan Doni tadi,” ucap Denny seraya menyerahkan bungkusan di tangannya kepada Nara.
Nara menerima bungkusan itu dengan canggung, “Terima kasih, Mas. Tapi, saya tidak ....” Terdengar kembali suara perut Nara yang semakin kencang dan membuatnya mengernyit menahan malu, apalagi melihat Denny yang tertawa di hadapannya.
Merasa kelepasan, Denny segera mengatupkan mulutnya seraya menoleh ke belakangnya sekilas.
“Maafkan aku, sebagai Kakaknya aku tak bisa menasihati Doni dengan benar. Tetapi, untuk masalahmu, aku akan membujuknya agar dia jangan terlalu bersikap keras padamu,” ucap Denny dengan tatapan canggung.
“Malam ini turuti saja perintahnya, sampai aku menegurnya dan mengizinkanmu untuk pergi bekerja kembali,” sambung Denny seraya beranjak menjauh dari pintu kamar, “Sudah, ya. Makanlah, dan jangan sakit,” imbuhnya seraya pergi meninggalkan kamar itu dalam keadaan masih terbuka.
“Terima kasih, Mas,” jawab Nara yang disambut anggukan kepala sekaligus kibasan tangan laki-laki itu yang menandakan tak masalah buatnya.
Dengan langkah gontai, Nara kembali ke dalam kamar setelah ia menutup pintu kamar, tak lupa ia mencabut kunci yang menggantung di pintu dan mengunci pintu dari dalam kamar.
‘Benar. Ini akan menjadi kamarku sendiri dan mas Doni tak boleh tidur di sini lagi. Toh, dia sudah beberapa minggu tak pernah tidur lagi denganku. Ya, mungkin karena dia telah tidur dengan Wina. Pantas saja dia enggan menyentuhku. Dan aku tak pernah menyangka, karena aku berpikir dia tak ingin menyentuhku hanya karena aku disebut mandul oleh mama,’ pikir Nara seraya menghela napas dengan berat.
Ia membuka bungkusan itu di atas meja yang ada di sisi kamar. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat menu makanan yang berasal dari retail makanan ternama yang menyajikan makanan siap saji.
Dengan berkaca-kaca, Nara menatap empat ayam potong, sebungkus kentang dan dua buah nasi yang di bungkus rapi khas cara mereka membungkus serta sebotol minuman dingin di dalamnya.
Nara melahap sepotong ayam dan nasi itu tanpa suara, namun air mata tiba-tiba saja meleleh dari sudut mata indahnya. Hingga tanpa sadar ia telah menghabiskan sebungkus nasi dan sepotong ayam yang berukuran besar serta sebungkus kentang goreng itu tanpa tersisa, sambil terus mengusap air mata yang terus meleleh di pipinya.
‘Mas Denny begitu baik. Sejak dulu dia selalu baik padaku. Kenapa dia harus berbeda sifat dengan mas Doni? Sifat mereka sangat bertolak belakang. Mas Denny yang kalem dan lembut sangat bertolak belakang dengan sifat mas Doni yang gampang sekali tersulut emosi tentang hal-hal kecil. Apalagi jika menyangkut ibunya, semuanya harus sesuai kehendak ibunya dan dia tak pernah bisa membelaku di depan ibunya. Sangat berbeda dengan mas Denny.’
Nara menghela napas dengan pasrah dan lega, walau sesaat lalu perutnya terasa sakit karena ia telah makan begitu banyak setelah seharian tak diisi sama sekali.
‘Beruntungnya Kak Shita, punya suami seperti mas Denny. Kenapa laki-laki sebaik mas Denny harus menikah dengan perempuan seperti kak Shita? Sedangkan aku menikah dengan mas Doni yang sangat egois seperti itu? Rasanya, dunia itu tak adil!’ pekik Nara dalam hati seraya menahan isaknya yang lagi-lagi tak bisa dibendungnya.
Apalagi saat ia kembali teringat bagaimana sikap Doni pada Wina malam itu. Seolah sebilah sembilu mengiris d**anya dan menyayatnya dengan perlahan-lahan namun sekaligus dalam dan menyakitkan.
Dering ponsel membuyarkan lamunan Nara, ia segera bangkit dan meraih ponsel yang ada di tengah kasur. Kak Susan, nama yang terpampang dalam layar ponselnya sebagai penelepon.
Dan saat mendengar suara Susan yang menyapanya penuh dengan perhatian membuat tangis tertahan Nara pecah seketika. Dan hal itu membuat Susan tak perlu lagi berpikir dua kali untuk menjemput Nara di rumahnya.
Walaupun kepergiannya di bawah tatapan nyalang Sang Ibu mertua, Nara tetap pergi meninggalkan rumah, bahkan saat salamnya pun diabaikan oleh wanita itu meski di hadapan Susan yang membalas tatapan Dahlia dengan tatapan tak kalah tajamnya.
“APA? DIA BENAR-BENAR GILA!” pekik Susan setelah mendengar segala penuturan Nara tentang semua yang telah terjadi dengan pernikahannya, bahkan Susan yang tersentak berdiri dari duduknya itu mengabaikan semua pandangan orang yang duduk di sekelilingnya.
Nara menatap dan mengangguk meminta maaf kepada semua orang yang ada di kafe itu seraya menarik tangan Susan untuk kembali duduk karena telah menjadi pusat perhatian.
“Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, Nay. Kau harus berbuat sesuatu. Dia sudah keterlaluan. Kenapa kau tak mengusir mereka saja, toh itu adalah rumahmu. Itu rumah warisan orang tuamu. Kau berhak mengusir mereka. Lagi pula, Si Doni baj***an itu juga lebih tak manusiawi padamu,” oceh Susan yang diakhiri dengan berbagai macam umpatan yang bahkan tak pantas untuk di dengarkan.
“Kakak, tolong jangan seperti itu, walau bagaimana pun dia masih suamiku...”
“Ceraikan saja dia. Dia tak pantas mendapatkan wanita sebaik kamu, Nay. Aku yakin masih banyak laki-laki yang akan menerimamu, terlepas apa yang terjadi padamu,” sela Susan dengan ucapan bersungguh-sungguh dan membuat Nara membeliak terkejut.
“Aku tahu ini sangat ekstrem, tapi, suamimu lebih gila dan tak tahu diri. Dia baru jadi manajer pemasaran saja sudah banyak tingkah! An**ng ba***at! Saranku, ceraikan dia, usir mereka dan kau harus memulai hidupmu yang baru,” ucap Susan dengan amarah tertahan.
“Kau masih sangat muda, cantik dan kau punya pekerjaan tetap. Lagi pula kau juga punya rumah dan sepetak tanahmu sendiri. Sudahlah, banyak laki-laki yang akan mengantre dan aku yang akan jadi penyeleksi pertama,” sambung Susan dengan bersungguh-sungguh namun membuat Nara akhirnya tergelak saat melihat Susan mempraktikkan semua calon suaminya di ancam dengan jarum suntik di tangannya.
Malam itu Nara yang kembali bolos bekerja, tidur dengan perasaan lebih ringan setelah pembicaraannya dengan Susan. Bahkan ia tidur dengan membiaskan senyum di wajahnya karena membayangkan bagaimana panjangnya antrean jodohnya.
‘Ya. Lihat saja, begitu mas Doni pulang dari bulan madu aku akan memberikan surat cerai padanya!’