Nara membeliak terkejut bukan kepalang. Ia segera berlari mengejar Doni dan Wina yang menuju kamar lantai dua.
“Mas, apa-apaan ini, Mas? Apa yang telah Mas lakukan?” cecar Nara berusaha menjangkau Wina yang langsung dilindungi oleh Doni.
“Nara, maafkan, Mas. Mas harus segera menikahi Wina. Karena Wina telah mengandung anak Mas dan ....”
“Kenapa Mas melakukan itu di belakangku, Mas? Kenapa secepat ini, Mas? Dan apa Mas yakin itu benar anak Mas Doni?” cecar Nara yang sontak membuat Doni naik pitam dan melayangkan sebuah tamparan keras di wajah Nara.
Nara memekik kesakitan seraya memegangi wajahnya, saat tiba-tiba Dahlia datang dan menjambak rambut panjang Nara yang membuat Nara semakin memekik kesakitan.
“NARA! JAGA BICARAMU! Jangan menyebar fitnah, Nara! Mulai detik ini, Wina telah menjadi istri sah Doni, kau paham? Dia juga punya hak dan kedudukan di rumah ini. Dan dia lebih berharga dari kamu yang mandul!” hardik Dahlia seraya mendorong Nara kuat-kuat dan membuat Nara terhuyung seraya memekik kesakitan.
“Mama.... Kenapa, Ma? Apa salah, Nara, Ma?” gugu Nara mulai terisak dan berusaha meraih tangan Dahlia untuk menarik simpati wanita paruh baya itu yang terlihat begitu sinis menatapnya.
“Kenapa, Mama tak menghentikan perbuatan Mas Doni, Ma?” desak Nara di sela isaknya, apalagi saat Dahlia menampik tangan Nara yang terulur kepadanya.
“Karena kau mandul. Sudah tujuh tahun kalian menikah, tapi kau tak kunjung hamil. Benar-benar perempuan tak berguna. Sekarang coba pikir, untuk apa perempuan tak berguna sepertimu harus dipertahankan? Lagi pula aku sendiri yang menyuruh Doni menikahi Wina. Lebih cepat lebih baik, agar orang tak tahu jika mereka telah melakukannya lebih dulu, dan Wina telah hamil lebih dulu,” papar Dahlia yang membuat Nara membeliak terkejut bukan main.
“Tapi, Ma. Orang pasti akan menghitung hari kelahiran dan bulan pernikahan, Ma,” sela Shita dengan wajah polosnya dan membuat Dahlia membeliak nyalang padanya. Dan hal itu tanpa sengaja ia membantu argumen Nara.
“Diam kamu, Shita. Tinggal bilang saja, bayinya prematur, apa susahnya? Sudahlah, Mama sudah mengatur semuanya. Jadi, kalian diam saja. Tak perlu banyak bicara, apalagi mengumbar aib macam-macam,” papar Dahlia dengan tatapan nyalang pada Shita dan Nara secara bergantian.
“Kenapa jadi, Shita? Tentu saja Shita tidak akan membicarakan apa pun pada orang lain, Ma! Tapi, kalau dia ....” sahut Shita menunjuk pada Nara dan membuat semua pasang mata menatap Nara dengan pandangan mengancam.
“Apa?” gugu Nara dengan wajah pasrah mendapat limpahan kesalahan dari Shita.
“Awas kau, Nara! Kalau sampai semua berita buruk itu tersebar, itu pasti dari mulutmu!” ancam Dahlia dengan tatapan serius dan menunjuk kening Nara dengan jari telunjuknya.
Nara mengernyit dengan pasrah, dan menelan mentah-mentah semua tuduhan dan perlakuan buruk itu. Ia terus menguatkan hatinya agar tak meraung, walau air mata terus meleleh dari kelopak matanya yang terasa perih dan bengkak.
“Sudah, bubar semua. Setelah ini kita harus bersiap-siap dengan acara resepsi pernikahan di balai kota. Ayo, Shita bantu Mama menyiapkan undangan dan semua yang diperlukan,” ajak Dahlia pada Shita yang otomatis membuat pasangan Doni dan Wina mengekor di belakang Dahlia dan Shita yang berjalan lebih dulu.
“Resepsi?” gugu Nara dengan suara tercekat, namun diabaikan oleh semua orang, bahkan Denny yang baru memasuki ruangan utama rumah itu dan menatap Nara yang sedang berurai air mata.
“Papi...! Ayo, sini, bantu Mami!” pekik Shita kepada Denny yang otomatis mengalihkan pandangan Denny pada Nara dan beralih pada Shita yang datang dan langsung bergelayut di lengan Denny untuk memaksanya berjalan bersama.
Nara berjalan tertatih dan bersandar pada dinding, menatap mereka dari ujung lorong lantai satu dengan hati bergemuruh dan hancur berkeping-keping di saat yang sama. Apalagi melihat Doni dan Wina yang duduk berdekatan dengan lengketnya, seolah tak mau berpisah. Lebih-lebih Wina yang sangat manja pada Doni.
Melihat semua orang mengabaikannya, membuat Nara memutuskan untuk pergi dari rumah. Ia memaksakan dirinya untuk mandi dan berganti pakaian dengan warna cerah dan modis. Doni yang saat itu memasuki kamar sangat terkejut saat melihat Nara telah bersiap dengan dandanan cantik.
Untuk sesaat Doni terkesima dengan wajah Nara yang memang cantik alami, apalagi dengan sedikit polesan ringan akan menambah kecantikan Nara yang berkulit kuning langsat.
“Mau ke mana kamu?” tegur Doni saat melihat Nara merapikan rambut dan lipstiknya yang berwarna merah muda.
Melihat Nara mengabaikannya, membuat Doni berang dan menarik lengan Nara dengan kasar dan membuat Nara lagi-lagi memekik kesakitan.
“Jawab aku! Kamu mau ke mana berdandan seperti ini? Selama ini kau tidak pernah berdandan untukku, Nara. Aku ini suamimu. Sekarang tiba-tiba kau berdandan, apa kau sedang berselingkuh di belakangku? Hah?” tuduh Doni dengan suara mendesis tajam dan memicingkan matanya dengan pandangan curiga.
Nara menampik tangan Doni kuat-kuat hingga terlepas, “Maling teriak Maling. Mas, yang berselingkuh sampai menikah tanpa persetujuanku, kenapa sekarang aku yang kau tuduh? Berkacalah, Mas sebelum menuduh orang lain,” sahut Nara dengan suara bergetar menahan sedih, amarah dan emosi yang membuncah di dadanya.
“Apa kau bilang? Kau berani melawan ucapanku sekarang! Sini kau, sini!” hardik Doni seraya menyeret paksa Nara kembali ke kamar mandi.
Nara berteriak dan berusaha memberontak untuk melepaskan dirinya dari cengkeraman tangan Doni. Akan tetapi, seperti orang kesetanan, Doni pun semakin kuat mencengkeram lengan Nara hingga berhasil menyeretnya ke kamar mandi. Dan serta merta, Doni pun memutar kran pancuran yang menyemprotkan air yang menyebar ke penjuru arah.
Akibatnya air itu membuat Nara basah dan merusak riasan wajahnya, apalagi Doni juga tak tinggal diam, ia menyiramkan air yang berasal dari bak mandi dengan gayung di tangannya berkali-kali hingga membuat Nara basah kuyup, gelagapan dan terbatuk-batuk.
Dengan kesal, Doni melemparkan gayung yang ada dalam genggamannya kembali ke dalam bak mandi, “Mulai sekarang aku tak akan pernah mengizinkan kau pergi ke mana pun!” hardik Doni dengan meninggikan intonasi suaranya dan memukul dinding kamar mandi dengan geram sebelum ia melenggang meninggalkan ruangan kecil itu.
Nara memeluk dirinya sendiri seraya menangis tersedu-sedu. Bahkan sesekali ia meraung sejadi-jadinya hingga ia meringkuk di pojok kamar mandi. Akan tetapi, saat terdengar suara pintu yang terbanting dengan kasar diikuti oleh bunyi kunci yang di putar. Nara segera bangkit dari duduknya dan berlari ke luar, ke arah pintu kamar. Dan benar saja, Doni mengunci kamar itu dari luar.
“Maaaas...! MAS DONI....!” pekik Nara meraung dengan menggedor-gedor pintu kamar. Walau berkali-kali, namun tak ada suara seorang pun yang menjawab panggilannya.
Hingga Nara mendengar deru sebuah mobil yang keluar dari garasi rumah. Nara mengintip dari balik jendela dan mendapati Doni dan Wina sedang menaiki mobil yang bertuliskan ‘Pengantin baru yang akan berbulan madu’ dengan diakhiri gambar bertanda hati.
‘Ya, Tuhan! Apa maksudnya ini! Mereka akan pergi berbulan madu ke mana? Lalu kenapa mereka memakai mobilku? Kenapa....!’