Mendengar ucapan Nara yang tak bisa lagi menahan emosinya, membuat Doni menghentikan aktivitasnya. Dan dengan wajah penuh amarah, Doni yang telah membungkus tubuh telanjangnya dengan selimut menyeret paksa Nara keluar dari kamar itu dan mendorongnya dengan kasar.
“Jangan menggangguku. Kaulah yang harus pergi dari rumah ini, kalau kau memang tidak terima!” hardik Doni dengan arogan dan seenaknya.
“Kau benar-benar keterlaluan, Mas!” sahut Nara mencoba melawan, namun tangan Doni terlalu kuat mencengkeram lengannya dan membuatnya memekik menahan sakit.
“Jangan paksa aku berbuat lebih kasar dari ini, Nara. Awas kalau kau menggangguku sekali lagi! Kalau kau tak suka, pergi saja dari rumah ini!!” ancamnya dengan tatapan penuh amarah menunjuk dengan jari telunjuknya pada wajah Nara yang terisak.
Nara hanya bisa tersedu-sedu saat Doni kembali ke dalam kamar dan mengunci kamar dengan kasar, mengabaikan Nara yang tersedu-sedu. Dan tak lama kemudian terdengar tawa renyah dan suara manja Wina sebelum akhirnya mereka kembali tenggelam dalam lautan kenikmatan mereka.
Tak kuasa lagi mendengar suara-suara itu, akhirnya Nara memilih pergi meninggalkan tempat itu dan membenamkan wajahnya pada bantal di kamarnya dan meraung sekuat-kuatnya.
***
Pagi itu, Nara terbangun dengan tersentak kaget karena mendengar dering telepon miliknya yang merengek seperti bayi yang butuh perhatian ibunya. Nara bangkit dari rebahnya seraya meringis memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut. Apalagi saat melihat nama ‘Kak Susan’ terpampang di layar ponselnya.
“Halo, Nay? Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kau sudah sehat?” sapa Susan membuka pembicaraan dengan suara riang.
“Halo? Ummm.... Ya, begitulah, aku baik-baik saja,” sahut Nara dengan suara sengau dan berat.
“Kau yakin? Apa kau sudah sarapan? Apa aku mampir ke rumahmu dulu sebelum pulang?” tanya Susan menawarkan diri.
“Tidak, Kak. Terima kasih, aku baik-baik saja. Aku sudah sarapan. Sekarang aku masih mengantuk karena efek obatku,” sahut Nara dengan gamblang tanpa tahu jebakan Susan yang tiba-tiba menghela napas.
“Baiklah. Ku tunggu nanti malam. Kita jaga malam bersama lagi,” ucap Susan yang lalu memutus pembicaraan mereka tanpa pamit yang sontak membuat Nara mengernyit heran.
‘Tunggu, kenapa Kak Susan marah? Apa dia ....’ gumaman Nara terhenti seketika saat tatap matanya berserobok pada jam dinding yang bertengger di hadapannya yang menunjukkan pukul lima sore.
‘Dia tahu aku berbohong. Kak Susan sangat paham aku. Aku gampang sekali gugup dan tak bisa berbohong jika aku sedang ada masalah. Tapi, sebaiknya aku tidak menceritakan apa pun padanya. Dia pasti akan sangat marah. Apalagi sejak waktu itu, aku menceritakan sikap mas Doni yang cuek saat aku jadi bulan-bulanan Mama, Kak Susan sangat membenci mas Doni,’ pikir Nara masih tertegun dalam diam.
Hingga ia mendengar suara ramai beberapa orang yang datang dan sedang bercakap-cakap dengan suara riang. Apalagi mendengar suara-suara anak kecil yang berlarian dan sesekali terdengar jeritan salah satu dari mereka.
‘Suara anak-anak? Apa itu Shawn dan Shane? Apa ada Mas Denny dan Kak Shita? Ada apa, ya?’ pikir Nara bertanya-tanya seraya bangkit dari duduknya di tepian ranjang.
Namun, belum sempat ia benar-benar bangkit, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dengan kasar hingga daun pintu itu membentur tembok dengan suara nyaring. Yang lagi-lagi menambah denyutan di Kapala Nara.
Dengan mengernyit menahan sakit kepala ia melihat Shane sedang menyembunyikan mainan Shawn di punggungnya. Dengan menjerit-jerit marah, Shawn berusaha meraih mainan yang Shane sembunyikan.
“Sudah, Shane. Jangan seperti itu!” tegur Shita berjalan mendekat pada keduanya dan segera mengulurkan tangannya untuk meraih mainan yang ada di punggung Shane dan memberikannya pada Shawn yang langsung berlari menjauh seraya menjulurkan lidahnya kepada Shane yang kembali mengejarnya.
“Dasar anak-anak...” keluh Shita dengan menghela napas menahan kesal, namun ekspresi kesalnya langsung berubah membeliak terkejut sekaligus takjub dengan bersamaan, saat tatap matanya berserobok pada sosok Nara yang duduk dalam diam di tepian ranjang.
“Wah, ternyata sedang ada di rumah? Baru bangun tidur? Atau pura-pura tidur?” cecar Shita berjalan mendekat dengan gaya khasnya yang angkuh dan sok anggun.
Nara mengernyit heran menatap Shita yang terlihat sangat rapi dan terlihat memakai perhiasan lengkap di sekitar wajah, hingga di kedua pergelangan tangannya. Dan dengan gaun berpotongan tanpa lengan dan panjangnya menyapu lantai dengan motif bunga-bunga tropis yang sangat ramai membuat Shita tampak seperti taman bunga berjalan di hadapan Nara.
Melihat reaksi Nara yang diam tanpa menjawab membuat Shita terkekeh geli, “Kenapa kau begitu heran? Oh, apa kau sedang melihat model bajuku ini? Bagus ‘kan? Ini adalah baju terbaruku, pemberian Mas Denny. Tadinya akan aku pakai untuk liburan ke Bali, tapi aku pakai untuk acara dadakan hari ini,” papar Shita dengan berlenggak-lenggok di hadapan kaca yang terpampang di meja rias milik Nara.
‘Whatever! Kalau kau hanya ingin pamer seperti biasanya, sebaiknya pergi saja!’ pekik Nara dalam hati yang terlihat cukup jelas dari raut wajahnya yang tak suka.
Shita melirik pada Nara yang masih terlihat enggan dengan ucapannya yang menyiratkan sebuah pesan, namun karena Nara terlihat acuh dan tak peduli, Shita yang berpura-pura merapikan lipstiknya di cermin menatap Nara melalui cermin itu.
“Wajahmu itu, kenapa terlihat menyedihkan sekali, Nara?” tanya Shita melanjutkan, “Ya. Wajar saja, jika sampai laki-laki melirik perempuan lain. Lihat saja istrinya lebih dulu. Mau secantik apa pun kalau dia tidak bisa merawat diri dan menyenangkan hati suami dengan berdandan yang pantas, jelas saja suami akan memilih perempuan lain,” sindir Shita seraya merapikan lipstiknya dengan tangan dan beralih menatap Nara yang semakin menampakkan wajah tak senang.
“Kak Shita. Aku sedang tidak sehat. Jadi, tolong... Jika Kakak hanya ingin pamer atau apa pun itu, aku sedang tidak baik-baik saja untuk mendengarkan semua itu,” ungkap Nara akhirnya membuka suara.
Mendengar ucapan Nara, Shita terkekeh senang seraya bangkit dari duduknya, “Aduh, aduh, aduh.... Dia marah,” ledek Shita masih menyisakan tawanya.
“Tadinya aku pikir kau tak ada di rumah, dan saat aku melihatmu di rumah, itu berarti kau sudah tahu semuanya. Jadi, aku tak perlu memberitahukanmu apa pun. Toh, kau sudah tahu semuanya ‘kan?” sambung Shita lagi-lagi terkekeh senang dan bangga, apalagi saat melihat ekspresi masam Nara yang menunjukkan bahwa apa yang dikatakan Shita benar adanya.
“Berdandanlah sedikit. Walaupun kau cantik dan bisa bekerja, setidaknya berdandanlah. Setidaknya, walau kau mandul, suamimu masih mau mempertahankanmu.”
Kali ini Nara tak bisa lagi menahan rasa amarahnya yang tertahan, ditambah denyutan di kepalanya semakin menjadi. Benar-benar menjengkelkan.
“Tapi, sudahlah, mau bagaimana pun juga semua sudah terlambat. Doni sudah mempunya istri baru dan keluarga baru. Sebaiknya kau persiapkan hatimu saja, karena sebentar lagi kau akan menjadi janda.”
Ucapan Shita terhenti seketika saat ia melihat sosok Doni dan Wina melewati lorong kamar dengan baju pengantin dan saling bergandengan tangan dengan mesra.
“Apa? Apa maksudnya ini?”