Mendengar ucapan Dahlia, semua mata saling memandang satu sama lain dengan wajah penuh tanda tanya sekaligus berbinar bahagia. Kecuali Nara.
Wanita berparas cantik itu tercekat tak berdaya, namun air mata terus meleleh membasahi wajahnya yang kini semakin terlihat pucat setelah menghadapi kenyataan yang ada. Bahwa suaminya berselingkuh di depan matanya dengan perempuan lain yang lebih muda darinya. Walaupun kecantikannya hanya polesan semata jika dibandingkan dengan Nara yang cantik tanpa perlu polesan.
Dan yang lebih mengherankan dan membuat Nara semakin tersayat adalah Dahlia, ibu mertuanya yang malah menyalahkan dirinya atas perbuatan Doni, seolah ia memang mendukung perbuatan Doni yang telah melampaui batas. Lebih-lebih sikap Dahlia yang terlihat senang dengan kehamilan Wina.
“Sudah berapa lama kau terlambat haid, Wina?” desak Dahlia dengan tatapan penuh harap kepada Wina yang tersenyum canggung dan malu-malu.
“Saya kurang tahu, Ma. Sepertinya sudah tiga atau dua bulan,” jawab Wina dengan wajah malu-malu yang langsung disambut dengan pekik tertahan dari Dahlia.
“Doni, sebaiknya besok pagi kalian harus pergi ke dokter dan periksakan kandungan Wina,” ucap Dahlia dengan suara penuh semangat.
“Iya, Ma. Aku akan memeriksakan kondisi Wina ke dokter besok pagi,” sahut Doni dengan senyum mengembang di wajahnya seraya merangkul pundak Wina yang tersenyum senang.
‘Ya, Tuhan... Sudah tiga bulan, dan Wina pun telah hamil? Tanpa aku tahu semua itu? Jadi, mereka sudah berhubungan selama itu, tanpa aku tahu apa pun?’ jerit Nara dalam hati dengan perasaan pilu.
Mereka sibuk dengan berita praduga yang berasal dari Dahlia dan mengabaikan keberadaan Nara yang sangat terguncang hebat dengan apa yang telah ia dengar, walau belum sepenuhnya benar. Akan tetapi, bagi Nara tak ada bedanya, benar atau tidak, pada kenyataannya suaminya telah berselingkuh dan tidur dengan perempuan lain. Dan kini ia telah hancur.
“Jadi, jadi... Mas sudah sejauh itu? Kalian sudah sejauh...itu?” gugu Nara dengan terbata-bata yang sontak mengalihkan perhatian ketiga orang yang sedang berbahagia dan merusak momen bahagia mereka. Mereka terlihat terkejut karena mereka melupakan keberadaan Nara.
“Mas! Jawab aku, Mas?” desak Nara dengan terisak.
“Ra....” sahut Doni beringsut mendekat pada Nara seolah ingin menenangkan hati Nara. Namun, Nara menampik tangan Doni yang terulur kepadanya.
“Dan...dan...Mama menyetujuinya... Jadi, Mama...Mama pun sudah mengetahui semuanya? Tapi selama ini, Mama...Mama hanya diam?” imbuh Nara dengan suara bergetar tak percaya menatap Dahlia. Wanita paruh baya itu terlihat tak nyaman dengan tatapan mata Nara yang begitu tak berdaya.
“Ma. Mama juga seorang wanita... Kenapa Mama malah membela pengkhianatan ini, Ma? Ibu macam apa yang malah membela anaknya untuk berbuat me**m dan menghamili perempuan lain di depan istrinya sendiri, Ma?” cecar Nara dengan terbata-bata.
“Jadi, kau menyalahkan Mama? Oh, Doni. Lihat istrimu, dia menyalahkan Mama, Don. Padahal dia yang paling harus disalahkan, sekarang dia malah menyudutkan Mama, seolah Mama menyuruhmu berbuat begitu?” keluh Dahlia merengek pada Doni yang sontak membuat Doni naik pitam.
Sebuah tamparan mendarat dengan keras di wajah Nara yang berasal dari tangan Doni dan membuat Nara terhuyung tak karuan dan memegangi wajahnya karena menahan sakit.
“Jaga bicaramu, Nara! Mama melakukan ini, Mama diam saja justru karena menjaga perasaanmu, bodoh! Jangan menyalahkan, Mama!” hardik Doni menarik lengan Nara dengan kasar dan mengguncang-guncang pundak Nara dengan marah.
“Asal kau tahu! Semua ini karena kamu! Kamu yang mandul, tapi semua orang memandangku sebagai laki-laki yang tak berguna dan lemah! Mereka yang berpikir aku mandul dan memperolok-olokku!” desis Doni menggeram marah.
“Dan sekarang lihat! Pacarku hamil ‘kan? Bahkan kami baru tiga kali melakukannya. Tapi, lihatlah? Wina hamil!” ungkap Doni dengan senyum mengembang di wajahnya dengan bangga, “Dan sekarang aku telah berhasil membuktikan bahwa aku laki-laki sehat dan tidak mandul. Tapi kaulah yang mandul!” pekik Doni seraya mendorong tubuh Nara hingga membuat wanita cantik itu terhuyung.
“Ayo, Sayang. Kita istirahat di kamar atas saja, karena besok pagi kita langsung ke dokter. Jadi, kau tak perlu pulang ke rumah Tante kamu,” ajak Doni beralih kepada Wina dan menggandeng tangan Wina beranjak pergi meninggalkan ruang tengah tersebut.
Demikian pula dengan Dahlia yang mengekor keduanya dari belakang seraya melirik Nara dengan tatapan sinis, “Dasar mandul,” sindir Dahlia dengan mulut mencibir seraya beranjak pergi dari hadapan Nara yang hanya bisa pasrah melihat apa yang telah terjadi.
Nara menatap kepergian Doni yang dengan tenangnya memeluk pundak Wina memasuki sebuah kamar tamu yang ada di lantai dua rumah itu yang bersebelahan dengan kamar Dahlia. Apalagi sebelum mereka menutup pintu kamar, Nara sempat melihat bagaimana Wina yang dengan tak sabar merangkul leher kekar Doni yang langsung disambut pelukan erat di pinggang Wina dan dengan cepat Doni pun menyambar bibir merah Wina yang telah menantangnya.
Pergumulan itu membuat pintu tertutup dengan terbanting keras hingga membuat Nara tersentak kaget dari fokusnya menatap keduanya. Walaupun demikian, Nara masih saja berdiri terpaku di tempatnya untuk beberapa saat lamanya dan menatap pintu yang tertutup di atasnya.
Nara jatuh terduduk tak berdaya seraya masih sesekali menatap pintu kamar di lantai dua yang tepat berada di atasnya. Untuk sesaat Nara berharap itu semua hanya mimpi dan sebentar lagi Doni akan keluar dengan tawa berderai disertai kelakarnya yang terkadang terasa lebih banyak menyindir dari pada bercanda. Namun kini Nara berharap sarkasme itulah yang terjadi.
‘Mas...’ gugu Nara dalam hati dengan tatapan memohon pada pintu yang tertutup rapat itu, mengabaikan air mata yang telah membasahi wajahnya yang cantik, ‘Aku masih berharap ini hanya mimpi dan kelakarmu yang hanya bercanda saja, Mas. Kamu tak serius untuk ....’
Jeritan hati Nara terhenti seketika saat ia mendengar suara-suara yang berasal dari dalam kamar itu. Suara sayup-sayup itu semakin jelas terdengar dan membuat Nara membeliak nyalang.
‘Erangan! Ya, benar! Itu suara erangan!’
Sontak Nara berdiri dari duduknya dan memaksakan dirinya untuk bangkit dan berjalan menyusuri tangga dengan limbung serta jantung yang bergemuruh tak karuan. Dan benar saja, Nara semakin jelas mendengar suara-suara itu. Bahkan kini ia mendengar suara erangan yang diselingi geraman rendah milik Doni. Dan suara itu yang sangat ia kenal dulu yang kini hampir tak pernah terdengar lagi di telinganya.
Entah pikiran apa yang merasuki Nara. Seolah ia menaburkan garam pada lukanya yang segar dan menganga, tatkala ia tak bisa menahan tangannya yang tiba-tiba terulur ke gagang pintu kamar dan membukanya dengan gemetar. Dan semua kenyataan pahit di hadapannya itu menghancurkan ilusi yang ia ciptakan di benaknya beberapa saat lalu.
Ia benar-benar melihat Doni, suaminya sedang mencumbu dan menggagahi perempuan selain dirinya yang kini terlihat begitu menikmati permainan cinta Doni yang seketika membuat hatinya terkoyak dan hancur berkeping-keping.
“Kalian... Benar-benar... seperti...binatang...! Sekarang... pergi kalian rumahku!”