Cerita

1154 Kata
      Sekitar 5 menit kemudian, Melo akhirnya selesai mandi, dia kemudian buru-buru masuk ke dalam kamarnya dengan maksud untuk membuat Kayla terkejut dengan kecepatannya mandi. Melo ingin membuat dirinya menang. Setelah 3 menit berada di kamarnya, Melo keluar dalam keadaan sudah wangi dan rapi, ia langsung pergi ke meja makan dan terkejut saat melihat sarapannya sudah tersedia di atas meja makannya. Di sana juga ada Kayla yang duduk sambil tersenyum ke arahnya. "Loh? Kok cepet banget?" tanya Melo dengan perasaan heran. "Ngapain lama-lama, toh ini bukannya makanan yang ribet masaknya," jawab Kayla dengan santai. Melo lantas menatap sarapannya dengan tatapan curiga. Pria itu kemudian mencoba untuk menyentuh sarapannya tersebut. 'Ini nyata gak, ya?' pikir Melo tentang sarapannya. "Udah, makan aja, itu beneran kok, bukan cuma khayalan kamu, begitu juga dengan aku, aku nyata loh, aku gak tahu harus bilang apa lagi sama kamu biar kamu percaya sama aku. Tapi tadi kamu bilang kalau aku kamu selesai mandi sarapan kamu udah selesai aku siapin, itu artinya kamu bakalan percaya sama apa yang aku bilang, kan?" ujar Kayla. "Loh? Kok lo bisa baca pikiran gue? Hantu bisa baca pikiran?" tanya Melo. "Bahasa tubuh kamu yang ngejelasin semuanya," jawab Kayla. "Hmmm." Melo lalu duduk di kursinya dan mencoba untuk mulai memakan sarapannya yang ternyata memang nyata. "Jadi, kenapa lo balik lagi ke sini?" tanya Melo pada Kayla seraya makan. "Nah, itu dia. Aku juga gak tau," jawab Kayla. "Lah?" "Aku kira satu-satunya alasan kenapa aku gak pernah bisa pergi ke alam selanjutnya adalah karena aku harus ngasih tau salah satu dari anggota keluarga Ayah kamu kalau aku ini wanita simpanan dia. Selama beberapa bulan setelah kematian aku, aku tuh sebenarnya udah datengin keluarga besar Ayah kamu, aku juga ngedatengin Ibu dan Adik kamu loh," papar Kayla. "Terus?" "Dan gak satupun dari mereka yang bisa ngelihat aku. Dari situ aku sadar kalau sebenarnya yang harus aku kasih tau itu kamu, dan benar aja, ternyata cuma kamu yang bisa ngelihat aku." "Bukannya lo bilang anak indigo juga bisa ngelihat lo?" "Ish, iya. Maksud aku yang dari bagian keluarga Ayah kamu, loh." "Ooooh." "Terus?" sambung Melo. "Walaupun aku udah tau kalau kamu adalah orang yang harus aku kasih tau hal itu, tapi aku gak siap buat datengin kamu karena aku tau gimana perasaan dan kondisi kamu setelah perceraian orangtua kamu. Intinya, aku gak siap buat ngedatengin kamu, tapi gentayangan begini sebenarnya ngebuat aku gak nyaman banget, aku bosan begini, jadi akhirnya aku kumpulin keberanian buat datengin kamu, dan akhirnya aku datengin kamu." "Gue kali yang harusnya takut sama lo, masa iya ada hantu takut sama manusia." "Ish, beneran." "Iya, dah. Lanjut." "Nah, setelah aku kasih tau ke kamu, ternyata gak terjadi apa-apa, selama ini aku ngira kalau aku harus ngasih tau kamu bahwa aku ini wanita simpanan Ayah kamu, karena gak ada satupun yang tau siapa wanita simpanan Ayah kamu, jadi aku pikir ya aku harus ngasih tau salah satu anggota keluarganya, dan ternyata itu kamu. Tapi, ternyata perkiraan aku salah, dan aku gak tau harus ngelakuin apa biar aku bisa pergi ke alam selanjutnya." "Terus, gimana, dong?" "Gak tau, deh. Mungkin aku harus buat kamu percaya dulu sama aku, baru aku bisa pergi ke alam selanjutnya." "Lah, enak aja lo ngasih beban ke gue." "Please, lah, aku tuh udah bosan gentayangan gini. Please, kamu harus percaya sama apa yang aku bilang." "Bukannya gue gak mau bantu, tapi kalau gue percaya sama lo, itu artinya gue ngebiarin diri gue sendiri jadi gila." "Enggak, kamu gak bakal gila. Ini semua nyata, Melo." "Gak." "Ish!" "Lo kok bisa tau apa alasan kenapa lo gak bisa pergi ke alam selanjutnya?" "Aku udah nanya sama roh-roh yang gak bisa langsung pergi ke alam selanjutnya kayak aku gini, dan semuanya udah lebih lama gentayangan dari pada aku, dan jawaban mereka sama, mereka bilang pasti masih ada hal yang harus aku selesaikan di dunia ini, dan mereka waktu itu udah pada tau apa yang harus mereka selesaikan di dunia ini, dan aku lihat sendiri mereka semua pergi ke alam selanjutnya setelah mereka nuntasin urusan mereka di dunia seperti yang mereka bilang. Rata-rata memang pada butuh waktu yang lama buat bisa nyelesaiin urusan itu, apa lagi butuh waktu juga buat sadar hal apa yang harus diselesaikan." "Ya jadi sekarang lo tinggal nyelesaiin hal yang sebenarnya harus lo selesaiin, kan?" "Iya, dan hal itu pasti masih ada kaitannya sama kamu." "Maksud lo?" "Gak sembarangan orang yang bisa melihat keberadaan roh, kecuali orang-orang dengan kemampuan khusus, dan biasanya orang-orang yang bisa ngelihat tapi gak ada kemampuan khusus itu pasti gak bisa ngelihat keberadaan semua roh, cuma roh-roh yang harus berurusan sama orang itu aja yang bisa dia lihat, dan dalam kasus kamu, kamu cuma bisa ngelihat aku, dan artinya memang urusan aku ada sama kamu, dan gak semua orang bisa ngelihat aku, cuma orang-orang berkemampuan khusus dan kamu." "Bisa aja gue ternyata punya kemampuan tersembunyi, kan? Kayak orang-orang indigo gitu?" "Kalau kamu punya kemampuan begitu, seharusnya kamu bisa ngelihat hantu dari dulu." "Ya namanya juga kemampuan tersembunyi, munculnya jarang-jarang, dong." "Jarang, JARANG, bukan GAK PERNAH. Ini kali pertama kamu ngelihat hantu begini, kan?" "Engh ... enggak, tuh." "Kalau enggak kamu pasti bakal langsung percaya sama aku. Skakmat." "Hadeh, iya, iya." Melo kemudian menyelesaikan sarapannya. "Jadi sekarang lo mau gue tuh percaya sama lo?" tanya Melo usai dirinya menghabiskan sarapannya. "Iya, please, ya." Kayla memohon. "Dengan keadaan di hidup gue sekarang, gue gak akan bisa percaya gitu aja, gue pasti bakal tetap ngira lo tuh cuma khayalan gue. Hidup gue bener-bener lagi kacau sekarang, jadi pikiran gue juga ikutan kacau, dan gue pasti bakal tetap ngira lo tuh khayalan gue doang." "Jadi aku harus ngelakuin apa biar kamu percaya?" "Gue juga gak tau, sih, cuma ..." "Apa?" "Hmmm, gak tau, deh." "Ish!" "Tapi gue boleh nanya nggak?" "Boleh, semoga aja topik pembicaraan selanjutnya bisa bikin kamu percaya sama aku." "Lo mati kenapa?" "Hah?" "Iya ... apa penyebab lo mati? Lo kan masih muda matinya, seumuran gue, kan? Gak mungkin dong lo mati karena faktor usia," kata Melo yang kemudian meminum segelas air putih. "Engh ... soal itu ... aku ... aku mati karena dibunuh," jawab Kayla. Mendengar hal itu, Melo yang sedang minum pun tersedak. "Uhuk!" "Apa lo bilang? Lo dibunuh?" tanya Melo, memastikan. "Iya." "Terus, berarti kematian lo jadi kasus, dong?" "Enggak." "Lah." "Pembunuhnya belum terungkap sampai sekarang, dan ... adik aku sama sekali gak peduli sama kematian aku, dia gak melapor ke Polisi buat nuntasin kasus kematian aku, sedangkan dia satu-satunya yang aku punya." "Hah?" "Aku bakal jelasin dari awal, tapi aku minta waktu sebentar buat ngatur emosi, aku gak mau sedih lagi kalau ingat-ingat hal itu." "Yaudah, gak usah diceritain, deh." "Gak apa-apa, aku udah bisa nerima apa yang terjadi kok." "Beneran?" "Iya." "Gue gak tanggung jawab loh ya kalau lo sampai nangis." "Hahaha, hantu mana bisa nangis, kamu ada-ada aja. Hantu itu tetap punya perasaan, kayak senang, sedih, marah, dan lain-lain, tapi yang namanya cuma roh, mana bisa nangis, mana bisa berdarah, mana bisa keringetan." "Jadi lo gak menstruasi lagi, dong?" "Ya enggak, lah! Kamu ada-ada aja pertanyaannya!" bantah Kayla dengan keras. "Hmmm." "Ini aku jadi cerita nggak?" "Oh, iya, iya, lanjut." "Karena aku bakal nyeritain kenapa aku mati, itu artinya aku harus nyeritain sedikit kisah hidup aku, termasuk alasan kenapa aku jadi wanita simpanan ayah kamu." "Lo beneran simpanan bokap gue?" "Beneran." Melo lantas mengernyitkan dahinya. "Ok lah, gue siap dengerin cerita lo," ucap Melo beberapa detik kemudian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN