Makin Gila

1030 Kata
    "Aku yatim piatu sejak umur aku masih lima tahun, aku punya satu adik laki-laki yang umurnya dua tahun lebih muda dari pada aku, artinya umur dia tiga tahun waktu kami jadi yatim piatu, dan kira-kira umurnya sekarang sama kayak kamu, soalnya aku meninggal seumuran kamu, dan aku meninggal udah sekitar dua tahun, jadi perhitungan aku pas lah ya-" "Iya, iya, gue gak perlu tau berapa umur adik lo, please gak usah nyeritain hal yang gak penting," Melo menginterupsi Kayla. "Ih, aku tuh harus jelasin semuanya biar kamu ngerti, jadi dengerin aja! Gak usah protes! Toh tinggal dengerin aja apa susahnya?!" sewot Kayla. "Lo bilang lo mau cerita dikit aja, lah kok malah banyak? Sampai adik lo pun lo ceritain." "Ceritaku juga baru mulai, Mel. Jangan main potong-potong kenapa, toh aku nyeritain dikit doang tentang adikku." "Iya deh, iya. Cowok selalu salah memang." "Lah, siapa yang nyalahin kamu?" "Yaudah lanjutin aja cerita lo, jangan jadi kemana-mana deh pembicaraannya." "Ih, ngeselin banget, sih! Gara-gara kamu nanyain aku masih datang bulan atau enggak, akhirnya kamu yang jadi kayak perempuan yang lagi PMS!" "Gak ada hubungannya kali." "Ada lah." "Apa?" "Ini malah kamu loh yang buat pembicaraannya jadi kemana-mana, Mel." "Kan, gue lagi yang salah." "Lah, memang kamu yang salah, kan?" "Iya, deh, iya, salah mulu gue mah." "Makanya tadi gak usah protes-protes! Aku tau apa arti kata 'dikit' dan memang aku bakal nyeritain sedikit aja kisah hidup aku! Gak usah motong-motong aku bicara dan ngeluh kalau aku nyeritain hal yang gak penting! Tinggal dengerin aja apa susahnya!" bentak Kayla yang naik pitam. Melihat Kayla yang mengamuk, Melo pun jadi ketakutan sendiri, karena Kayla sekarang terlihat lebih menyeramkan dari pada Valak, jadinya sekarang Melo hanya bisa terdiam dan tidak membalas Kayla dengan sepatah katapun. "Nah, gini kan enak," ucap Kayla yang akhirnya tenang setelah membentak Melo dan berhasil membuatnya terdiam. "Aku lanjut ceritaku, ya," sambung Kayla, Melo hanya diam. "Gak gitu juga kali, sampai diem terus," ujar Kayla, dan Melo tetap diam. "Ah, terserah lah," keluh Kayla. "Diem salah, bicara salah. Mau lo apa, sih?! Udah mati kok banyak tingkah," oceh Melo. Kayla lantas hanya mendengus. "Jadi aku sama adik aku itu jadi yatim piatu karena orangtua kami tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Sebenarnya aku dan adik aku juga ada di dalam kecelakaan itu, tapi orangtua kami ngelindungi kami. Kecelakaannya sendiri kecelakaan tunggal, gara-gara rem mobil papaku blong, dan waktu itu mobilnya melaju di kecepatan yang tinggi banget, jadi kalau mau lompat pun resikonya terlalu besar, dan karena aku dan adik aku waktu itu masih kecil, kami gak tau apa-apa tentang apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba kami udah di rumah sakit aja. Kami gak pernah dikasih tau tentang kematian orangtua kami sama keluarga papa dan mama kami, mereka semua itu jahat-jahat banget, setelah aku dan adik aku keluar dari rumah sakit, mereka malah bawa kami ke panti asuhan. Aku kurang ingat gimana ceritanya aku dan adik aku bisa ada di panti asuhan itu, karena setelah kecelakaan itu, aku dan adik aku kurang bisa ngingat banyak hal gitu, tapi ibu sama bapak panti bilang kalau aku dan adik aku tiba-tiba ada di depan panti itu waktu lagi hujan, dan mereka bilang, waktu itu aku dan adik aku cuma nanya dimana mama, papa, om, dan tante kami. Menurut bapak sama ibu panti juga kami waktu itu susah buat ditanya-tanya, kami kayak orang yang linglung gitu, jadinya awalnya asal usul aku sama adik aku belum jelas. Akhirnya kami tinggal di panti asuhan itu dan mulai lupa sama orangtua dan keluarga besar kami, sampai akhirnya waktu kami remaja, kami mulai nyari tahu siapa sebenarnya kami, dan akhirnya kami berhasil ketemu sama keluarga besar kami yang ternyata sengaja naruh kami di depan panti itu karena mereka gak mau ngurus kami, tapi semua harta orangtua kami mereka rampas. Jahat gak, sih? Jahat banget, kan? Dari situ perlahan beberapa ingatan aku yang kadang suka aku lupain mulai pulih, adik aku juga, dan setelah ketemu sama keluarga besar kami waktu itu, aku dan adik aku akhirnya memutuskan hidup mandiri berdua, kami keluar dari panti, tapi kami gak balik ke keluarga besar kami, setelah apa yang mereka lakukan, mereka tuh sama sekali gak nyesel dan gak merasa bersalah, aku jadi kasian sendiri sama mereka yang cuma kumpulan manusia-manusia haus uang, pokoknya, aku berusaha ngelupain tentang mereka, deh, kalau diingat-ingat yang ada bisa gila aku karena sakit hati banget, tapi-" "Lo sebenarnya mau cerita tentang biografi hidup lo sendiri atau gimana, sih?! Dah lah, males gue ngelayanin cerita lo! Hidup gue udah penuh drama, gak usah sok-sok mau nyaingin drama hidup gue, deh! Pusing gue!" tegas Melo. "Lah, tadi bukannya kamu mau tau kenapa aku jadi simpanan ayah kamu dan gimana aku bisa mati?" tanya Kayla. "Iya, setan! Tapi bukan tentang drama keluarga besar lo yang udah kayak sinetron tau nggak!" "Ih, kasar banget, sih!" "Lah, lo kan memang setan, masa iya setan gak mau dipanggil setan? Gue aja manusia mau dipanggil manusia, karena gue memang manusia." "Setan sama hantu itu beda, tolong lah." "Dah lah, makin gila gue lama-lama, makin gak jelas khayalan gue." "Ih! Kamu tuh enggak lagi mengkhayal, Melo! Ini semua nyata!" "Iya, nyata. Dah ya, gue mau pergi kerja, makasih udah masang alarm gue di jam yang gak tepat, dan makasih juga udah buat gue jadi makin gila." "Gak ada makasih buat sarapan yang udah aku buatin?" "Gak." "Hadeh, dasar manusia." "Lo juga manusia pas lo masih hidup kali." "Aku kan cuma khayalan," ledek Kayla seraya melakukan gerakan yang menyerupai tarian India yang seperti di film-film Bollywood. 'a***y hantu bisa joget,' batin Melo yang merasa dirinya semakin gila sekarang. "Dah, gue mau berangkat kerja. Lo setan- maksud gue, hantu, gue pulang nanti nih apartemen harus bersih mengkilap kayak kepala upin ipin, ya! Walaupun sebenarnya nih apartemen udah bersih, sih, tapi gak apa-apa lah ya lo bersihin lagi, hitung-hitung buat nabung pahala lagi sebelum lo pergi ke akhirat nanti, makin banyak dah tuh pahala lo nanti, lumayan, kan? Jadi waktu gentayangan lo gak bakal sia-sia," ucap Melo. "Ih, enak aja! Enggak mau!" tolak Kayla dengan keras. "Eh, siapa tau lo belum bisa pergi ke akhirat itu karena lo masih harus ngumpulin pahala lagi di dunia ini, baru deh lo bisa pergi ke akhirat. Dosa lo kebanyakan mungkin." "Sotoy." "Bodo amat. Dah ya gue tinggal dulu, baik-baik lo di sini, jangan lupa kerjain tugas," imbuh Melo yang kemudian pergi dari sana. "Aku bukan pembantumu, bisa kau suruh-suruh dengan seenak maumu," ujar Kayla sambil bersenandung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN