Good Morning

994 Kata
Melo saat ini sedang berada di bus Transjakarta, alat transportasi yang memang selalu digunakannya untuk berangkat bekerja. Pria itu baru saja duduk, dan saat ini bus tersebut belum diisi oleh ramai penumpang, jadi Melo bisa bergerak sedikit lebih bebas dan leluasa, seperti contohnya meluruskan kakinya ke depan. Rasanya sangat nyaman kalau belum ada banyak orang, serasa bus pribadi, oleh karena itu Melo sangat menikmatinya, bahkan ia menutup kedua matanya dan kedua tangannya dia jadikan sebagai alas untuk kepalanya. Melo benar-benar sangat menikmati momen yang cukup langka ini. "Serasa kayak bus pribadi, ya?" tiba-tiba suara yang agak familiar bagi Melo muncul dan membuat Melo terpaksa membuka kedua matanya untuk memastikan apakah itu benar suaranya Kayla atau bukan. Dan ternyata memang Kayla ada di sini, ia duduk di sebrang Melo. "Astaga! Lo ngapain ngikutin gue?! Kerjaan rumah gimana?!" Melo berseru pada Kayla. Kayla tidak menjawab pertanyaan Melo, malahan dia terkekeh sebab Melo menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di dalam bus sekarang. Untunglah belum banyak orang di dalam bus ini, jadi Melo tidak perlu merasa terlalu malu, meskipun tetap saja tadi itu cukup memalukan. 'Ish! Khayalan kurang ajar!' gerutu Melo di dalam hatinya. Pria itu berusaha untuk tidak memedulikan Kayla yang menertawainya habis-habisan, ia mencoba untuk kembali 'nyantai'. "Syukurin! Emang enak diliatin orang-orang! Makanya jangan sembarangan merintah-merintah, kena karma instan, kan, kamu," ledek Kayla, tetapi Melo tidak memedulikannya. "Mmm, cieeee, ada yang pura-pura gak denger dan cuek," lanjut Kayla. Walaupun Melo sama sekali tidak meresponnya, tetapi Kayla tetap berusaha untuk memancing emosinya agar Melo kembali menjadi pusat perhatian gara-gara memarah-marahinya. Ini adalah bentuk pembalasan Kayla atas sikap Melo yang memerintah-memerintahnya tadi. Beberapa saat kemudian, Melo mengira kalau Kayla sudah pergi karena mendadak roh itu tidak bersuara lagi, jadi ia membuka sedikit mata kanannya untuk memastikan hal tersebut. Betapa terkejutnya Melo karena tiba-tiba Kayla duduk tepat di sebelah kanannya dan berteriak di telinganya. "MELO!!" teriak Kayla. Tentu saja hal itu membuat Melo terkejut sampai terjungkal ke kiri sembari berteriak karena ia terkejut. Kayla lantas tertawa terbahak-bahak melihat hal itu, sementara Melo kali ini merasa sangat malu karena ia kembali menjadi pusat perhatian, namun yang kali ini berbeda dari yang sebelumnya, yang ini jauh lebih memalukan!. "Mas, gak apa-apa?" tanya seorang Kernet kepada Melo seraya membantunya bangkit. "Gak apa-apa, Mas. Makasih, ya," jawab Melo. "Masnya lagi sakit atau gimana?" "Enggak, Mas, saya gak lagi sakit, kok. Tadi saya ketiduran, dan kebetulan saya kaget di mimpi saya, anehnya malah kaget sampai ke dunia nyata." "Oooh, gitu. Tapi mas yakin kalau mas gak apa-apa, kan?" "Gak apa-apa, saya sehat, kok." "Oh, ok." Kernet itu lantas pergi kembali ke tempatnya. Setelah semua pasang mata tidak lagi tertuju padanya, Melo pun melirik tajam Kayla yang masih saja menertawainya. "Aduh, aduh, maaf, ya," ucap Kayla yang berusaha untuk berhenti tertawa. "Ok, aku gak bakal ganggu kamu lagi," sambungnya. "Tapi berlaku cuma waktu di dalam bus ini aja. Kalau nanti kamu masih merintah-merintah aku, aku bakal tetap gangguin kamu. Dan pokoknya kamu harus bantu aku pergi ke akhirat, kalau enggak aku bakal gangguin kamu terus sampai kamu mau bantuin aku. Ini pemaksaan, gak ada pengecualian," ujar Kayla, namun Melo memilih untuk cuek dan kembali 'nyantai'. "Mel, kamu denger, kan?" tanya Kayla. Melo tidak menjawabnya. "Mel!" "Melo!" "MELOOO!!" Kayla berteriak tepat di telinga Melo, tetapi berbeda dari yang sebelumnya, kali ini Melo tidak terkejut. Sepertinya Melo sudah memperkirakan kalau Kayla akan berteriak di telinganya lagi. "Isssh! Ngeselin banget, sih!" gerutu Kayla yang sekarang merasa sangat kesal. Tiba-tiba ide jahil terlintas lagi di pikiran Kayla. Kali ini dia memanfaatkan kemampuan para roh yang bisa menyentuh benda mati, jadi Kayla menarik baju Melo sekuat tenaga hingga membuat Melo kembali terjatuh. "Ish! Rese banget, sih, lo, setan!" bentak Melo yang sudah habis kesabarannya. "Masnya ada masalah apa, sih?! Coba cerita!" seru seorang remaja perempuan berusia sekitar 14 tahun. Seruan remaja itu sontak mengundang tawa orang-orang yang ada di dalam bus itu termasuk Kayla yang notabenenya adalah mantan orang. Semuanya tertawa, tapi tentu saja Melo tidak. Melo kemudian bangkit dan menatap tajam Kayla yang sudah mengerjainya habis-habisan di dalam bus ini sejak tadi. "Cie yang jadi bahan ketawaan," Kayla kembali berusaha untuk membuat Melo kesal, namun Melo memutuskan untuk kembali diam, meskipun sebelumnya dia gagal untuk diam dan tidak memedulikan Kayla. "Hahaha. Ya ampun, jahat banget aku, ya. Yaudah, aku gak bakal gangguin kamu lagi, tapi selama di dalam bus ini aja, hahaha," ucap Kayla. "Dasar setan," lirih Melo, ia sengaja berbicara dengan nada sepelan itu agar kali ini ucapannya hanya bisa di dengar oleh Kayla. "Huwek! Aku gak kesel dikatain setan begitu, huuuu," ledek Kayla. Melo pun lalu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. *** Sekitar 30 menit kemudian, Melo akhirnya sampai di tempat kerjanya, dan ia baru saja turun dari bus, jadi dirinya saat ini masih berada di dalam halte dan bersiap untuk berjalan kaki menuju kantornya. Entah kenapa Kayla tiba-tiba menghilang tadi, padahal Melo hanya tertidur sekitar 3 menit di dalam bus, tetapi pada saat bangun, Melo tidak mendapati Kayla di dalam bus Transjakarta itu lagi. Awalnya Melo merasa heran karena Kayla hilang secara tiba-tiba, namun dirinya memutuskan untuk tidak memikirkannya,karena bukankah baginya lebih baik jika tidak ada Kayla? Karena Kayla hanya akan mengganggunya juga membuatnya malu di hadapan orang-orang. Melo pun berjalan menuju kantornya dengan perasaan gembira karena ia merasa sudah terbebas dari Kayla. Pria itu bahkan menyapa semua orang yang ia lihat, baik itu ketika sedang berjalan menuju kantor, maupun setelah sampai di kantornya. Melo juga bersikap sangat ramah dengan teman-teman satu ruangannya, padahal dia baru saja masuk. "Good morning, semuanya!!" sapa Melo kepada teman-teman satu ruangannya dengan senyum lebar yang tentu saja membuat mereka bingung, karena baru semalam Melo terlihat sangat kacau. "Uh ... lo kenapa, Mel?" tanya Dareen. "Gapapa, nyapa doang gak boleh?" Melo bertanya balik seraya berjalan menuju kursi dan mejanya. "Boleh, tapi masalahnya kan tiba-tiba aja lo begini, padahal kan semalam lo-" "Udah, lo diem, deh. Gue, tuh, cuma mau menyambut warna baru di hidup gue. Intinya, gue bakal selalu gembira begini." Mendengar hal itu, Cornelia, Owen, Dareen, dan Galih pun hanya bisa mengernyitkan dahi mereka masing-masing dengan perasaan bingung. "Hmm, bagus, deh, kalau lo-" "Astagfirullah!!!" Melo menginterupsi Cornelia yang baru saja akan buka suara. Melo terkejut karena melihat keberadaan Kayla yang duduk di kursinya. "Good morningnya buat aku juga, kan?" tanya Kayla pada Melo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN