15. Kebenaran

2038 Kata
Hari keempat berada di bungalo milik keluarga Uzukiro. Cuaca di sini sangat cerah, walau tadi pagi saat sang Surya baru saja terbit, bumi sedikit dijatuhi dengan tetes-tetes air. Meski begitu, tak  membuat langit menjadi gelap atau kabut kembali turun, untungnya cahaya matahari segera bersinar, walau mereka juga tengah dikelilingi dengan hutan beranting rimbun. Teras kayu yang memang cukup luas, menampung beberapa dari mereka yang masih mau bersantai, contohnya saja para anak muda, Takao, Sanosuke dan Siera yang sedang menghabiskan segelas cokelat panas dan kopi pahit. Tak ketinggalan pula camilan sudah tersediakan di atas meja bulat terbuat dari rotan-rotan yang dianyam. Siera terlihat membalikkan lembar demi lembar novel yang masih dibacanya, pembatas buku berada di pertengahan, menandakan ia baru menghabiskan setengah dari keseluruhan isi. Tidak mau kalah, Sanosuke dan Takao juga sibuk dengan bacaan masing-masing, Takao memegang buku entah apa dan saudara kembar Siera sendiri membalikan halaman kertas koran. Tak seperti teman sekelasnya yang sedang bersantai menikmati udara segar, Ken yang sekarang berada di dalam bungalo, sedang berada di atas sofa panjang masih mengukir mimpi indahnya setelah tadi sempat tebangun dan sarapan bersama. Entah kenapa sekarang lelaki itu terlihat sangat mengantuk, mungkin sedang mempersiapkan diri untuk siang nanti. “Apa kita harus membuat kekkai—penghalang?” Karura bertanya, ia menatap Hoshi dan Aoda yang masih duduk di dekat meja dapur, mereka kebagian tugas untuk membersihkan peralatan sarapan. Sontak, Aoda dan Hoshi menganggukkan kepala, sekali lagi mereka harus meminimalisir risiko yang akan terjadi, kalau sampai Siera lepas kendali dan auranya memancing kehadiran makhluk astral lainnya, bisa repot mereka. Jadi, lebih baik memasang kekkai sebagai jaminan jika nanti keadaan Siera memburuk. “Aku akan mulai memasang, lebih cepat akan lebih baik.” Aoda pun berdiri dan segera memanggil Takao yang sedang bersantai, mereka memang sudah membicarakan hal ini sebelumnya. “Kalian mau ke mana?” Siera sudah menutup bukunya, gadis itu terlihat penasaran dan seperti ingin mengikuti mereka. Takao hanya terdiam, sementara Aoda mengerutkan alisnya, seperti mencari alasan. “Kami hanya ingin memeriksa tempat ini, kudengar penduduk desa sempat mengatakan saat kita ke kuil kemarin, sedang musim-musimnya babi liar berkeliaran. Tadi malam sepertinya aku juga mendengar suara para babi yang mencari makan, sebaiknya kau jangan ikut, ini berbahaya.” Siera memeluk tubuhnya sendiri, babi liar itu mengerikan. Walau ingin sekali menjelajahi dan berkeliling di daerah sini, tetapi kalau nanti tiba-tiba bertemu dengan babi liar, itu akan sangat mengkhawatirkan baginya, ia sangat takut dengan makhluk tersebut. Ia pun hanya mengaggukkan kepala dan kembali duduk untuk membaca novel. “Kalau begitu, kalian harus hati-hati.” “Tentu saja, dah!” tangan Aoda ia lambaikan dan disambut juga oleh Siera, sementara Takao hanya menatapnya dan kemudian pergi mengikuti kakaknya. Kedua kakak beradik itu berjalan dalam diam, sesekali Aoda menyisir pandangannya kepada sekeliling bungalo. Takao pun melakukan hal yang sama, ia jelas memperhatikan dan kadang menyoroti pekarangan dengan mata merah yang telah ia tampakkan. “Jadi?” Takao mulai mengeluarkan tanyanya. Mereka berhenti, tidak terlalu jauh dari tempat menginap. “Kita akan memberi kekkai di sekililing tempat ini, bersiaplah.” * Pukul 11.30 mereka kembali bertugas untuk mempersiapkan makan siang, Ken terlihat baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang setengah basah, terlihat lelaki berwajah Eropa itu menggosokkan handuk dengan sebelah tangannya. Ia lalu berjalan ke halaman samping di mana mereka menjemurkan pakaian di sana dengan tali dan tiang yang sudah berfungsi sebagai jemuran darurat. Siera mendatangi kakaknya, gadis itu bertanya sambil menarik lengan Hoshi. “Kak, bukannya kita akan melaksanakan upacara adat hari ini? Kenapa masih belum juga dimuali, lagi pula melaksanakannya di mana sih, Kak?” Siera mulai mengerutkan alisnya, ia sangat bingung karena seingatnya mereka akan melakasanakan upacara itu hari ini, tapi entak kenapa masih belum dimulai juga? Atau memang tidak jadi dilakukan? “Setelah makan siang, kami akan menjelaskannya, jadi kau duduk dulu di meja makan karena kami hampir selesai.” Hoshi menerima mangkuk dan piring dari Karura, Siera yang mendengar penjelasan kakaknya pun ikut membantu dengan membawakan peralatan makan. Mereka semua akhirnya menikmati santapan setelah bahu-membahu dalam melakukan pekerjaan ini. Piring-piring telah dicuci, ruangan pun telah menjadi rapi lagi setelah mereka kembali membagi tugas, jam sudah menunjukkan pukul 1. 32 siang. Hoshi dan Aoda meresa ini adalah waktu yang tepat, apalagi cuaca sekarang sedang tak terlalu panas, tetapi juga sangat cerah. Mereka duduk di ruang depan, di masing-masing kursi. Ken yang mengetahui perubahan aura karena memiliki kemampuan khusus pun menebak kalau sekarang adalah saatnya untuk memberitahukan jati diri Siera. Semuanya dengan wajah santai, tetapi bersiap dan sudah berjaga-jaga kalau Siera tidak bisa menerima sesuatu yang belum diketahuinya. “Siera, bagimana perasaanmu sekarang?” Hoshi tersenyum dan membelai kepala adiknya dengan menggunakan tangan kanan yang kokoh, tetapi tak menyakiti. Ia duduk di tengah-tengah antara Hoshi dan Karura, di depannya ada Takao yang duduk hanya terpisahkan oleh meja kayu saja, dengan Ken dan Sanosuke yang mengapit pemuda itu. Di samping Hoshi dan Karura, berdiri Aoda dan Kuroda, lalu ada Yahiko yang juga berdiri di belakang Siera. Gadis itu sekarang juga melihat Takao, Aoda dan Kuroda mengeluarkan mata merah aneh yang berpola masing-masing. “Aku sangat bahagia, ini pengalaman yang tak akan terlupakan, Kak. Terimakasih.” Siera menyentuh tangan kakaknya dan tersenyum sampai menampakkan gigi putih dan mata yang hampir menyipit. “Syukurlah. Kalau kau sekarang senang.” Hoshi pun balas tersenyum. “Sie, aku ingin mengatakan sesuatu,” ucap Hoshi ambigu karena ia menunggu respons Siera. “Ya, Kak? Katakan saja.” “Sebenarnya, upacara adat itu hanya alibi untuk membawa kalian ke sini. Siera, yakinlah kakak tak bermaskud jahat atau menipumu.” Hoshi langsung menambahi ketika melihat wajah tak senang adiknya, gadis itu mengernyitkan alisnya dan terlihat kesal, namun perubahan ekspresi itu hanya terjadi dalam sekejab, karena Siera kembali menormalkan wajahnya ketika mendengar perkataan kakaknya selanjutnya. “Jadi?” “Siera, apakah kau pernah mendengar legenda kutukan Iblis Yamata no Ryu?” Gadis itu menggelengkan kepala, ia bahkan tak pernah mendengar hal itu. Kali ini, Hoshi menjelaskan tentang legenda sang Iblis, yang menyebabkan beberapa klan tua berkumpul untuk melakukan penyegelan nyaris lima belas abad lalu. Semuanya berjalan lancar, sebelum mereka menyadari sebuah kesalahna, ketidakseimbangan kekautan spiritual untuk menyegel iblis, membuat Yamata no Ryu berhasil mengambil celah dan membuat salah satu klan mendapatkan kutukan. Masih memandang Hoshi dengan serius, Siera pun mengerutkan alisnya, hal ini berbeda dari legenda iblis Yamata no Ryu yang pernah ia tahu dari buku. “Kenapa aku baru mengetahuinya, lalu ceritanya juga berbeda?” Mendengar pertanyaan sang Adik, Hoshi pun menimpali. Menjelaskan bahwa yang terjadi ini sebenarnya dirahasiakan kepada khalayak umum, dan hanya klan tertentu seperti Harata, Aoryu, Yakumo dan Uzukiro yang tahu. Sementara itu, legenda yang tersebar di masyarakat adalah cerita-cerita penduduk di masa lalu. Suasana berubah menjadi cukup canggung, ketika Hoshi menggenggam tangan adiknya dan tersenyum kepada Siera. Sementara itu, Sanosuke yang berdiri menundukkan kepala karena mengira-ngira apa yang akan terjadi jika adiknya mengetahui prihal kutukan Kokoro no Yami? Walau mereka telah memasang kekkai mengelilingi pekarangan bungalo ini, tetap saja jika Siera tidak bias menerima dan memancing kekelaman hatinya meningkat, akan berimbas kepada rusaknya segel semakin parah. Dan tubuh Siera bisa dikendalikan iblis yang berada di hatinya. Kondisi adiknya memang sudah lebih baik semenjak Takao membantu pemulihan segel iblis, meski tak sesempurna Klan Uzukiro, setidaknya hal itu masih bisa bertahan dari rusaknya segel secara keseluruhan. Yang terpenting, sekarang Siera harus menerima dengan sepenuh hati atas semua kejadian ini, walau ia tahu tidak mudah menyakinkan adiknya agar tetap tenang dalam situasi seperti sekarang. “Siera, aku benar-benar menyayangimu, tetapi aku terlampau bodoh dengan menyembunyikan semua ini.” Sorot mata Hoshi terlihat putus asa, lelaki itu tak sampai hati memberitahu rahasia kelam keluarganya yang sudah ia sembunyikan sejam Siera kecil. Namun, Siera harus mengetahuinya, ia tak bisa terus bersembunyi karena mereka akan melakukan perbaikan segel dan adiknya pasti akan menaruh curiga. “Ada apa, Kak? Kau berubah serius tiba-tiba?” gadis itu menatap sekeliling, orang-orang ini berwajah cenderung khawatir, terlebih adalah kakaknya dan Sanosuke. “Aku tahu bahwa selama ini aku tidak terlalu menuruti perkataan Kakak, tetapi aku juga sangat menyayangimu, Kak. Terlebih, akhirnya aku bisa bertemu Ibu, itu adalah hal yang paling kudamba walau tak berjalan dengan baik.” Mengehela napas, Hoshi membawa adiknya mendekat dan memeluknya, jika saja kutukan ini bisa ia pindahkan kepada dirinya, ia akan melakukan segala cara untuk menggantikan beban Siera. Namun, semua itu adalah khayalan semata, yang mereka harus lakukan adalah mengembalikan segel secepat mungkin sebelum semuanya bertambah parah. Maka dari itu, ia pun menjelaskan apa yang ada pada diri adiknya, tentang sesuatu itu ia gadang-gadang sebagai pelindung Siera. Gadis itu terdiam, tidak bereaksi, hanya mengerutkan alisnya dan menatap Hoshi dengan pandangan tidak mengerti, bingung dan tidak percaya. Memejamkan mata, Hoshi pun meminta maaf sekali lagi karena telah menyembunyikan hal ini dari Siera dan selalu membohongi gadis itu selama sepuluh tahun lebih. Cengiran Siera terlihat, terlalu terkesan dipaksakan saat gadis itu mulai tertawa kecil. “Hahaha, Kak. Ini hanya lelucon untuk mengerjaiku ‘kan? Katakan, Kak? Sanosuke, ini tak benar ‘kan? Kau sendiri tahu kalau semua ini hanyalah pelindungku, Sanosuke?” gadis itu memalingkan wajahnya, menghadap Sanosuke yang berdiri menyandar di dinding dengan kedua tangan bersidekap, kepala itu terlihan menunduk dengan mata yang terpejam. Tak ada jawaban setelahnya, Takao dan Ken yang berada di sana juga masih terdiam untuk melihat bagaimana Siera akan menyikapi hal ini. Tentu menerima semua yang telah dijelaskan Hoshi bukalah perkara mudah, bagaimanapun di dalam tubuhmu ada sosok iblis yang terus akan menggerogoti kemurnian jiwa. Jiwamu akan semakin kelam dari hari ke hari, hingga Yamata no Ryu akan menguasai kehendak tubuhmu untuk membangitkan tubuh aslinya di hutan Shizu. Panik mulai menguasai diri, tidak ada yang mau menjawab pertanyaannya, bahkan Sanosuke yang biasanya selalu tanggap. Tubuhnya berkeringat, membayangkan bahwa setiap di malam purnama pada sosoknya adalah jelmaan iblis dan bukanlah sebuah pelindung. Ia ditipu, ibunya pun berpendapat sama, bahkan semenjak pertama kali berjumpa. “K-kak, bicaralah kalau ini tak benar?” salivanya ia telan perlahan, rasa takut mulai menggerogoti diri. Air matanya menetes, napasnya ternegah karena ketegangan ini. Namun, tiba-tiba Sanosuke memeluknya dari belakang, menenangkan gadis itu dengan bisikan dan kehangatan. “Stttt, Siera tetaplah Siera. Aku dan Kak Hoshi, juga yang lainnya akan selalu berada di sisimu.” Gadis itu terisak, menundukkan kepala walau pikirannya terus berasumsi buruk. Bagaimanapun, ada iblis di dalam tubuhnya, kenapa baru sekarang ia mengetahui fakta ini? “Aku tak ingin seperti ini? Kenapa begini, Sanosuke?” tangisnya kian kencang dan Siera sekarang berada di antara Sanosuke dan Hoshi yang memeluk tubuhnya dari belakang dan depan, mencoba terus mengingatkan kalau mereka tidak akan meninggalkannya. “Akan kulakukan apa pun untuk meringankan bebanmu, Siera. Kalau saja semua bisa kutanggung, tetapi maafkan aku yang tak berguna.” Hoshi mengenggam telapak tangan adik bungsunya dan menatap kedua mata yang masih berembun itu, ia berbicara, “Jangan berkecil hati, jangan mendengarkannya, cukup menjadi Siera yang biasa. Kita akan melakukan penyegelan kembali dan Siera akan baik-baik saja.” Gadis itu melepaskan kedua pelukan kakaknya, pikirannya masih kacau, sosok mengerikan yang pernah ditemuinya waktu itu adalah dirinya yang lain, sang Iblis? Matanya masih terus tak fokus, pikrian Siera pun membuana ke hal lain dan tak terlalu mendengarkan penjelasan Hoshi. Air matanya menggenang kembali, ia bukannya merasa benci kepada sang Kakak, tidak sama sekali, tetapi rasa kecewalah sekarang yang mendominasi hatinya. Tiba-tiba udara semakin melembap, angin dingin membuat bulu kuduk mereka meremang, Karura yang adalah keturunan Nephilim dan sengat peka dengan hal mistis pun merasakan sesuatu, begitu pula dengan Ken. Laki-laki itu langsung mengernyitkan alis waspada, menatap Takao dan Aoda secara bersamaan. Mereka menganggukkan kepala, Aoda dan Ken pergi ke luar ruangan, melihat banyaknya makhuk astral yang terus berdatangan karena tertarik dengan aura iblis di tubuh Siera. “Mereka semakin banyak, ukh.” Ken mulai merasa keringat dingin membanjiri tubuhnya, ia tak terlalu tahan dengan perbenturan energi seperti sekarang ini, memiliki kekuatan supernatural cukup merepotkan juga dan ia harus terbiasa untuk melatih diri karena akan memperbaiki segel dari kutukan Kokoro no Yami. “Aku dan Takao telah memasang penghalang, tetapi aku sendiri tak cukup yakin apakah ini cukup kuat untuk menghalangi mereka semua yang semakin banyak. Kesedihan Siera mempengaruhi energinya.” Aoda menatap para iblis kelas rendah di pekarangan. “Aura iblis terasa sangat jelas dari tubuh Siera, jiwanya semakin kelam dari waktu ke waktu. Namun, aku yakin Siera tak selemah itu dan kita pasti bisa membelenggu Yamata no Ryu dengan sempurna walau dia bersarang di hati Siera.” Dengan ini, Ken berjanji untuk lebih sering berlatih menggunakan energi spiritualnya, ia harus bisa membantu Siera bebas dari pengaruh iblis dengan cara memperbaiki segel yang mulai menua. Tidak peduli bayaran dari semua ini adalah hidupnya, jika sampai Siera diambil alih dan tubuh asli Yamata no Ryu dibangkitkan, maka mala petaka akan datang di kota ini. . . . . . Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN