bc

KUDETA HATI SANG TIRAN

book_age18+
44
IKUTI
1K
BACA
family
HE
forced
curse
badboy
heir/heiress
sweet
bxg
lighthearted
bold
city
office/work place
cheating
enimies to lovers
office lady
like
intro-logo
Uraian

⚠️ STRICTLY 21+

"Aku mungkin percaya padamu," bisik Rhea, suaranya rendah namun penuh penekanan tepat di depan wajah Rajendra.

"Tapi aku bukan seseorang yang bisa kau kendalikan sesuka hati."

"Aku tahu, Sayang," jawab Rajendra lirih.

"Lagipula, menjinakkan wanita pembangkang sepertimu jauh lebih menarik daripada sekadar memenangkan perdebatan."

**

Ibu kota membara akibat isu kudeta.

Di tengah kekacauan itu, bidikan kamera Rhea Zivanka Senja—pemilik akun anonim yang gemar membongkar rahasia politik—tanpa sengaja menangkap sebuah bukti yang bisa mengguncang pemerintahan.

Sialnya, aksinya tertangkap oleh Rajendra Mahatala. Pria yang seharusnya menjadi musuhnya. Putra dinasti politik dengan senyum hangat yang menyembunyikan terlalu banyak rahasia.

Sejak malam itu, hidup Rhea berubah.

Apartemennya terbakar. Kota menjadi semakin berbahaya. Dan satu-satunya tempat berlindung yang tersisa justru berada di sisi pria yang paling tidak ingin ia percaya.

Rajendra menyambutnya dengan ketenangan yang membuat Rhea perlahan lengah.

Tapi semakin dekat ia mengenal pria itu...

Semakin kuat firasatnya berkata.

Ada sesuatu yang Rajendra sembunyikan.

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1. Lensa Yang Salah
"Tolak RUU Omnibus Law Sektor Energi!" "Turunkan Harga Bahan Pokok, Batalkan Kenaikan Pajak Digital!" "Pemerintah Khianati Rakyat!" Gema orasi di depan Gedung DPR RI siang itu memekakkan telinga. Ribuan mahasiswa memadati jalanan, membentuk lautan jaket almamater yang bergolak. Suasana panas matahari berpadu dengan amarah yang mendidih. Di antara kerumunan itu, Rhea Zivanka Senja melangkah santai. Gadis berusia 24 tahun itu tampil dengan gaya khasnya, hotpants denim yang memamerkan kaki jenjangnya, kaos oblong putih polos yang dibalut kemeja oversize berwarna hijau lumut yang kancingnya dibiarkan terbuka, serta topi hitam yang menutupi rambut kepalanya. Di lehernya, sebuah kamera DSLR. Rhea bukan wartawan resmi. Ia hanya mahasiswa perantauan tingkat akhir yang merantau ke ibu kota demi bertahan hidup. Di balik status mahasiswanya, Rhea adalah pemilik akun anonim @TheBlindSpot yang terkenal sering membagikan gosip politik A1. Suara tembakan peringatan memecah udara. Hanya dalam hitungan detik, suasana yang awalnya damai mendadak berubah anarki. Asap putih tebal mulai mengepul dari selongsong gas air mata yang ditembakkan aparat. Pekikan panik langsung bersahutan. Semua orang berlarian menyelamatkan diri. Namun, alih-alih ikut lari, Rhea justru merangsek maju ke garis depan, berlindung di balik separator busway. "Akun gue bakal meledak malam ini," gumam Rhea bersemangat. Kamera-nya bergerak cepat, membidik bentrokan antara mahasiswa dan polisi. Namun, saat matanya mengintip lewat viewfinder kamera, fokusnya tidak sengaja menangkap sebuah mobil sedan hitam mewah yang terparkir jauh di belakang barisan barikade polisi. Pintunya sedikit terbuka. Rhea memutar lensa zoom-nya. Di dalam mobil itu, duduk seorang pria paruh baya mengenakan kemeja putih khas pejabat kabinet. Ia sedang menyerahkan koper hitam kepada seorang pria berjaket almamater yang menjadi koordinator lapangan aksi hari ini. Rhea beru-buru mengabadikannya. Nyatanya ini bukan sekadar demo mahasiswa biasa. Tidak mungkin seorang pejabat kabinet bertemu diam-diam dengan koordinator lapangan demo. "Sialan, ini gila..." bisik Rhea berdidik. Sebuah bom asap meledak tepat beberapa meter di dekatnya. Kekacauan berlipat ganda. Massa yang panik mulai saling injak. Menyadari situasinya sudah terlalu berbahaya, Rhea berbalik dan mulai berlari sekencang mungkin, mendekap kameranya erat-erat. Ia berbelok ke sebuah gang sempit di samping gedung perkantoran kosong yang luput dari kejaran aparat. Napasnya memburu, tenggorokannya tercekat karena sisa gas air mata. Rhea bersandar pada dinding lorong yang remang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang menggila. Namun, suasana sunyi di gang itu terusik oleh aroma tembakau yang pekat. Rhea menoleh tajam. Di ujung lorong yang gelap, bersandar pada pilar beton, seorang pria asing bertubuh jangkung sedang berdiri dengan tenang. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Di sela jarinya, sebatang rokok menyala, mengepulkan asap tipis ke udara. Rhea mengabaikannya. Dengan tangan gemetar, ia langsung menyalakan layar LCD kameranya untuk mengecek hasil foto tadi. Begitu gambar koper dan wajah pejabat itu terlihat jelas, Rhea terengah dan spontan mengumpat. "Gila... Ini beneran konspirasi gila. Mati gue kalau ketahuan," gumam Rhea dengan wajah pucat. Pria di ujung lorong itu menoleh, mengembuskan asap rokoknya perlahan. "Ngeluh di tengah demo nggak bakal bikin gas air matanya berubah jadi oksigen, Bocil." Rhea tersentak, mata bulatnya menatap tajam pria itu dengan kesal. "Bukan urusanmu. Dan gue bukan bocil!" Pria itu terkekeh rendah. "Baju kedodoran, celana kurang bahan, pake lari-larian bawa kamera gede. Kalau bukan mahasiswa baru yang lagi ospek, apa namanya? Mahasewa?" "Dih sok tahu. Gue udah mau lulus!" sahut Rhea ketus, sambil mengibas-ngibas tangannya di depan wajah karena gerah. Pria itu melangkah mendekat dengan santai. "Terserah apa katamu. Yang jelas, gara-gara demo kalian, mobilku kejebak macet total di depan. Sial banget." "Salah sendiri lewat jalur protokol pas ada demo," balas Rhea tak mau kalah. Pria itu tiba-tiba menghentikan langkah tepat di depan Rhea. Matanya tertuju pada topi Rhea. Tanpa permisi, tangan panjangnya terulur dan mencopot topi itu dari kepala Rhea, lalu memakainya sendiri. "Pinjam ya. Kepala gue pusing denger klakson dan hawa panas di luar." "Heh! Kurang ajar ya, main ambil aja!" protes Rhea melotot. Tubuhnya yang mungil terpaksa mendongak demi menatap pria jangkung itu. "Anggap aja sewa," ucap pria itu santai. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan, lalu menyodorkannya ke depan d**a Rhea. "Nih. Muka lu udah merah banget kayak kepiting rebus. Sana beli air minum di warung depan kalau situasi udah aman. Biar nggak mati dehidrasi di jalanan, Dek." Rhea menatap uang itu, lalu menatap wajah pria di depannya dengan perasaan jengkel yang memuncak. Pria ini mengasihaninya seolah dia anak ilang yang butuh ongkos pulang. Bukannya mengambil uang, tangan Rhea justru bergerak cepat menyambar rokok yang baru saja terselip di bibir pria itu. Dengan berani, Rhea memasukkan rokok itu ke mulutnya sendiri dan mengisapnya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya tepat ke arah d**a si pria. Pria itu tertegun sejenak. Alisnya terangkat, sebelum akhirnya senyum geli terukir di bibirnya. "Uangnya buat ongkos Om pulang aja, kasihan tuh," ketus Rhea. "Gue Rajendra," pria itu mengulurkan tangan, senyumnya tampak begitu ramah dan memikat di bawah remang gang. "Rhea." Rhea menjawab acuh, justru menikmati rokok di tangannya. Senyum di wajahnya perlahan memudar. "Akhirnya ketemu juga." Rhea mengernyit. "Ketemu siapa?" Wajahnya berubah waspada. "Ini ketemu, kamu. Jadi... foto apa yang ada di kamera itu sampai muka lu sepucat tadi? Kelihatan kayak habis lihat hantu," tanya Rajendra sok ingin tahu. "Bukan hantu. Lebih serem dari hantu," sahut Rhea misterius, matanya melirik ke arah jalan raya. "Oh ya? Apa? Nilai ujian lu yang jeblok?" canda Rajendra. Rhea mendengus sebal. Malas meladeni pria asing yang terus menganggapnya bocah, Rhea mematikan rokok di tangannya, membalikkan badan, dan mulai melangkah pergi meninggalkan gang. Tanpa menoleh lagi, ia mengangkat tangan kanannya ke udara, mengacungkan jari tengahnya dengan santai sebagai salam perpisahan. Rajendra yang ditinggalkan begitu saja tertegun. Detik berikutnya, tawa renyah keluar dari bibirnya. Namun, perlahan tawa itu menyusut, digantikan oleh senyuman getir yang sarat akan kepedihan. Tatapannya mendadak kosong, menatap punggung Rhea yang kian menjauh. "Gue pasti mimpi lagi..." gumam Rajendra lirih, suaranya parau. Ia meraba dadanya yang berdenyut ngilu. *** Malam harinya, riuh ibu kota berganti dengan kesunyian yang mencekam. Di dalam sebuah kamar apartemen tipe studio yang sempit—Rhea duduk bersila. Keringat tipis masih membasahi pelipisnya karena kipas angin tua di sudut ruangan berputar dengan suara berisik, gagal mengusir gerah. Di ibu kota yang kejam ini, Rhea harus memutar otak agar uang hasil kerjanya cukup untuk membayar sewa tempat tinggal sekecil ini sekaligus biaya kuliahnya. Layar laptop di depannya menyala terang. Ia tampak sibuk menyusun kalimat yang pas untuk hook berita yang akan ditampilkan nanti. Ia harus sangat berhati-hati merangkai kata agar informasinya meledak tanpa memicu kecurigaan pihak berwajib. Sementara itu, televisi tabung di sudut ruangan menayangkan berita usai demo siang tadi. Seorang juru bicara pemerintah dengan setelan jas rapi sedang berbicara di depan podium dengan wajah penuh wibawa. "...Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh isu-isu hoaks yang tidak bertanggung jawab mengenai stabilitas pemerintahan. Presiden tetap memegang kendali penuh..." Rhea mendengus, mengeluarkan cibiran malas dari bibirnya. "Tinggal tunggu waktu aja sampai kedok kalian semua runtuh. Penipu," gumamnya sinis sembari memindahkan foto koper hitam dari kameranya ke dalam folder tersembunyi. Ponsel Rhea yang tergeletak di atas kasur bergetar hebat. Layarnya berkedip, menampilkan nama kontak yang sangat ia kenal. Kak Rama Rhea mengernyitkan kening. Jarang sekali kakaknya menelepon pada jam selarut ini, apalagi dari kampung halaman mereka di daerah. Dengan perasaan agak cemas, Rhea menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Halo, Kak? Tumben telepon jam segini. Ada apa?" tanya Rhea, mencoba mencairkan suasana. Tidak ada jawaban langsung. Hanya terdengar suara isak tangis yang tertahan di seberang sana, berpadu dengan suara riuh orang-orang yang berbisik. Jantung Rhea mendadak berdegup dua kali lebih cepat. "Kak? Kenapa nangis?" suara Rhea mulai bergetar. "Rhea..." Suara Kak Rama terdengar serak dan pecah di ujung telepon. "Rhea... kamu harus pulang sekarang, Dek..." "Pulang? Ada apa sih, Kak? Jangan bikin gue takut." "Ayah ditemukan di sungai ... meninggal." Bersambung~

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
746.5K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.7M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
979.7K
bc

A Warrior's Second Chance

read
359.6K
bc

Not just, the Beta

read
348.3K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook