BAB 12

1381 Kata
            “Hahaha!” tawa Soraya membahana. “Rel, itu artinya Ken cemburu!” Soraya kembali tertawa.             “Cemburu apanya sih! Itu karena aku sekarang sudah jadi istri bohongannya.” Protes Relisha.             “Aku sih lihat kalian ada kecocokan, lho.” Komentar Soraya saat tawanya mereda. “Coba kamu pikir dimana lagi ada pria seperti Ken. Sudah tampan, mapan, bertanggung jawab, sangat menyayangi putrinya. Kalau aku bukan saudaranya aku pasti bakal deketin dia, Rel.” Soraya mengedip-ngedipkan mata pada Relisha.             “Bukan itu yang aku pikirkan. Ini soal kebohongan yang kita buat, Soraya. Coba kalau mereka tahu aku dan Ken berbohong bagaimana?” Relisha membayangkan wajah Nenek Poppy yang akan kecewa padanya.             “Aku tidak tega membohongi mamah Ken.”             “Tapi kamu sudah membohonginya.” Kata Soraya.             Relisha mengangguk sedih. “Bukan hanya mamahya tapi aku juga membohongi Poppy.”             “Lupakan semuanya, mari kita berbelanja. Aku harus beli sepatu baru. Lihat, sepatuku.” Soraya melepaskan sebelah sepatunya dan memperlihatkannya pada Relisha. “Sudah rusak. Jangan overthinking. Percayakan saja semuanya pada Ken. Lagian kalian pasti nanti bakal jatuh cinta kok.” Ucapan Soraya seperti seorang cenayang.             Relisha mendelik tajam pada Soraya.             “Kelihatannya, lho, ya.”             “Jatuh cinta atau tidak aku hanya berharap agar tidak ada kebohongan antara Ken dan keluarganya. Aku merasa bersalah kalau sampai mamahnya Ken tahu.”             “Sudah berapa kali kamu membahas masalah ini sih?” Soraya menyesap kopi dari gelas kertas.             “Aku datang ke kantor Ken dan ada Emma di sana.” Akhirnya Emma menjadi topik pembicaraan Relisha setelah berusaha memendam ketidaksukaannya pada mantan kekasih Ken itu.             Mata Soraya membelalak. “Em-ma?”             Relisha mengangguk.             “Mau apa dia ke kantor Ken?”             Relisha mengangkat bahu. “Ken tidak mau menjawab pertanyaanku itu. Dia hanya bilang ‘tidak ada apa-apa’ itu membuatku curiga. Jangan-jangan Ken dan Emma masih menjalin hubungan lagi. Di pesta saja kita melihat mereka berduaan kan?”             Soraya menahan tawa dengan membungkam mulutnya hingga mengeluarkan suara aneh dari balik tangannya.             Relisha seperti biasa mendelik tajam pada Soraya. “Kamu kenapa sih?”             Dan akhirnya Soraya terbahak. “Hahaha!”             “Rel,” dia mencoba mengatakan sesuatu pada Relisha tapi dia masih belum bisa menghentikan tawanya. Akhirnya dia memilih untuk kembali tertawa.             Setelah tawa Soraya reda dan Relisha menunggu sekian abad, Soraya berkata, “Kamu cemburu, Rel. Itu artinya, kamu cemburu.” Soraya tertawa lagi namun setelah matanya menangkap sosok pria yang mendekat tawanya lenyap. “Om Rey...” gumamnya. Relisha memandang ke arah Soraya.            “Om Rey, Rel.”             Relisha dan Soraya menatap ke arah pria yang sekarang sudah berada di hadapan mereka. “Om Rey, ngapain ke sini?” tanya Soraya mencoba untuk biasa saja. Rey menyeringai. “Menemui sahabatmu.” Relisha ingin sekali kabur dari sana melihat seringai nakal Rey yang ditujukan padanya. “Seharusnya aku lebih dulu bertemu denganmu sebelum kamu bertemu Ken.” Dahi Relisha mengernyit. “Apa maksudmu?” Relisha tidak sudi memanggil Rey dengan panggilan ‘Om’ pria itu tidak layak untuk dihargai. Ya, Relish masih teringat ucapan dan tuduhan Rey yang menyakitinya menuduh tanpa bukti kalau Relisha berniat menjebak Ken. Padahal Kenlah yang menjebak Relisha. Kenlah yang membuat Relisha dicurigai. “Om Rey, tolonglah jangan buat Relish ketakutan seperti ini.” Soraya mulai beraksi. Sebelumnya dia sempat memotret Rey sebagai bukti yang bisa diberikannya pada Mamah Ken. “Aku dan Relisha sedang serius mengobrol.” “Aku tidak akan berhenti sebelum aku mendapatkan jawaban alasan Ken bisa menikahinya.” Rey menoleh pada Relisha. “Aku akan menerormu dan mengganggumu.” Kata Rey yang membuat bulu di tengkuk Relisha meremang. “Jangan dengarkan Om Rey, dia memang hobi meneror orang. Aku pernah diteror juga kok.” “Ya, betul. Aku punya hobi meneror orang. Termasuk meneror Ken.” Rey kembali menyeringai. “Aku harus ke sekolah Poppy. Sebentar lagi dia akan pulang.” Relisha berkata pada Soraya. Soraya mengangguk. “Mau aku antar? Kudengar kamu tidak punya mobil dan Ken tidak memberikanmu salah satu mobilnya. Kamu tahu kan di garasi rumah ada beberapa mobil Ken.” Rey berkata sinis. “Aku tidak bisa menyetir.” Sebelah alis Rey melengkung tinggi menatap curiga Relisha. ***             Relisha melambaikan tangan pada Poppy saat Poppy keluar dari gerbang sekolah dengan tas ranselnya yang berada di punggung. “Bagaimana sekolahmu hari ini?” tanya Relisha layaknya seorang ibu yang bertanya pada anaknya.             “Aku punya beberapa teman. Setidaknya sekolah ini lebih menyenangkan daripada sekolah dulu.”             Relisha bersyukur dalam hati saat tahu Poppy bisa berbaur dengan anak-anak di sekolah baru ini. Dia ikut senang karena merasa sekolah ini bisa menjadi sekolah yang tepat untuk Poppy dan berharap kejadian di sekolah lama tidak akan terulang lagi.             “Kamu kenapa?” tanya Poppy saat memperhatikan Relisha yang termenung.             “Tidak kenapa-kenapa, memangnya aku terlihat kenapa?” Relisha merasa Poppy bisa merasakan suasana hatinya saat ini.             Melihat Emma di ruangan Ken sudah membuat moodnya tak keruan ditambah kedatangan Rey ke kampus saat dia dan Soraya mengobrol. Mau tidak mau Relisha merasa tidak nyaman dengan semua itu.apalagi kalau terkaannya benar Ken dan Emma masih menjalin hubungan. Lalu, urusannya apa? Bukankah Ken hanya memintanya untuk menjadi istri yang pernikahannya pun tidak pernah ada.             Apa arti ciuman yang diberikan Ken saat malam dimana dia membuat Rey tersungkur ke lantai? ***             Relisha memastikan kalau Poppy sudah tertidur. Dia ingin mengobrol serius dengan Ken. Setelah melihat anak itu tertidur di atas ranjangnya, Relisha mengetuk pintu kamar Ken.             “Ken,” panggilnya.             Ken membuka pintu dan menatap wajah wanita yang mengenakan piyama motif bunga tulip itu.             “Aku ingin bicara denganmu.”             “Masuklah.”             “Eh?” Relisha malah bingung sendiri.             “Berbicara di kamarku lebih aman. Poppy suka bangun malam-malam. Aku tidak ingin dia mendengar pembicaraan kita nanti.”             Relisha masuk ke kamar Ken dengan jantung yang bergegup kencang. Dia merasa takut kalau sampai Ken melakukan sesuatu padanya. Masalahnya dia tidak mungkin teriak minta tolong sedangkan di rumah hanya ada Poppy. Dan minta tolong karena Ken melakukan sesuatu pada dirinya? Apa kata Poppy nanti?! Relisha pasrah. Dia menggeleng mengenyahkan pikiran buruknya.             “Duduk,” Ken menepuk sofa panjang yang berada tepat di depan layar televisi di kamarnya.             Relisha duduk di samping Ken. Kemudian dia memilih menarik napas perlahan sebelum membicarakan masalah Rey yang datang ke kampus. “Tadi Rey datang ke kampus saat aku bersama Soraya. Dia bilang ‘seharusnya aku lebih dulu bertemu denganmu sebelum kamu bertemu Ken’ dan dia juga bilang dia punya hobi meneror orang.” Relisha bersitatap dengan mata Ken. “Berengsek!” umpat Ken. “Aku minta ma’af kalau ini membuatmu tidak nyaman. Tapi, aku berjanji aku tidak akan membiarkan Rey bertindak lebih lanjut lagi. Dia hanya bermulut besar, Rel. Aku bisa membuatnya berurusan dengan hukum. Percayalah, aku akan memenjarakannya.” Relisha merasa perkataan Ken yang akan memenjarakan Rey membuat perutnya mual. Relisha yakin ini akan menjadi masalah keluarga besar kalau sampai Rey dipenjara. “Jangan, Ken. Kamu mau semua orang di keluargamu membenciku? Mereka akan berpikir akulah yang memecahbelah keluargamu.” “Hei, kenapa kamu berpikir seperti itu? Aku dan Rey memang sudah bermasalah dari dulu.”             “Ya, tapi—“ Ken menempelkan jari telunjuknya di kedua daun bibir Relisha membuat semua kosa kata Relisha lenyap begitu saja.             Dia menatap Ken.             “Jangan ceriwis.” Kata Ken kemudian menurunkan jari telunjuknya dari kedua daun bibir Relisha.             Sentuhan jari telunjuk Ken membuat Relisha membeku seketika.             “Setelah mengobrol soal topik serius ini apa yang akan kamu lakukan di kamarku?” tanya Ken santai.             Dahi Relisha mengernyit tebal. “Apa maksudmu, aku tidak mengerti.”             “Apa yang akan kita lakukan di kamarku?” pertanyaan Ken malah makin membuat Relisha bingung.             “Aku tidak mengerti Ken.”             “Kamu masuk ke kamarku bukan hanya ingin mengobrol kan?”  Ken tersenyum menggodanya.             “Lalu?” Relisha mulai menegang.             “Itu pertanyaanku lalu apa yang mau kita lakukan?”             “Emm—“ Relisha bangkit dan berjalan cepat menuju pintu.             “Pintunya sudah kukunci kamu tidak bisa keluar begitu saja.” ucapan Ken sukses membuat Relisha tercengang.             Jeda yang sangat menegangkan bagi Relisha. Kediaman Ken malah menambah atmosfer ketakutan Relisha. Ken berjalan mendekatinya.             “Ken meskipun aku ini pengasuh Poppy tapi bukan berarti kamu bisa berbuat seenaknya—“             Cup!             Sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Relisha. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN