8

1175 Kata
"Mayat?" tanya Rea pada Arfan Arfan mengangguk, "bukannya itu mayat di sekolah tadi?" Rea mengangguk, "mau mampir?" ucap Rea "Maksud lo?" "Kita teman sebangku 'kan? Lo tetangga gue juga. Dan gue rasa gue ga bisa nutupin ini ke lo," ucap Rea "Jadi?" "Lompat sini," ucap Rea lalu masuk ke dalam kamarnya "Lo- lompat?" Apa dia bercanda? Arfan di suruh melompat? Di bawahnya adalah pagar yang terbuat dari rerumputan yang di bentuk seperti dinding. Dinding rumput itu membatasi antara jarak rumah. "Lo takut?" tanya Rea "Pas rumah lo kosong, gue sering lompat ke sana," lanjut Rea "Ok- oke gue lompat" ucap Arfan Arfan bersiap untuk melompat. Rea tersenyum miring disana. Di dalam kamarnya. Arfan melompat. Tidak sengaja, kepalanya terantuk pada kusen pintu masuk balkon. "Bahkan mendarat dengan tidak sempurna," ejek Rea "Puas banget ngejekin gue ya lo," ucap Arfan berdiri sambil mengusap-ngusap kepala yang terantuk tadi Rea terkekeh kecil. "Jadi apa yang mau lo kasih tau ke gue?" ucap Arfan "Lo mau tau apa?" Arfan mengeryitkan dahinya. Sedangkan Rea terkekeh setelah melihat raut wajah Arfan. Lucu. "Jadi gue cuman mau ikut liat kasus ini," ucap Rea menunjukkan foto Tina yang tadi melompat di sekolahnya. Foto mayat Tina yang sudah mendarat ke tanah lebih tepatnya. "Kasus?" Pantas saja, Arfan melihat foto mayat kemarin sore itu. Rea suka dengan kasus seperti ini. Pikir Arfan. Rea mengangguk, menjawab pertanyaan Arfan. "Maksud lo ini bukan bunuh diri?" tanya Arfan lagi Rea menggeleng, "gue belum tau pasti. Gue masih penasaran. Kalau dia bunuh diri pasti ada motif di balik semua ini." "Lo udah kayak detektif." Rea tersenyum. Bukan saat ini untuk mengatakan pada Arfan kalau dia emang detektif. "Cita-cita gue jadi detektif," gumam Rea pelan "Serius?!" "Gausah kaget." ucap Rea Arfan diam sebentar. "Jadi apa yang lo temuin?" tanya Arfan "Ga ada yang gue temuin, cuman gue harus tau siapa yang terakhir kali di temui Tina sebelum dia lompat." "Lo yakin dia lompat?" Rea diam, bahkan Arfan pun bertanya seperti itu. "Bahkan kemungkinannya banyak Re, contohnya di dorong, di senggol, di paksa lompat dan lainnya." "Ya gue tau Fan," ucap Rea "Emm, gue minta sama lo jangan kasih tau siapapun kalo gue punya ini," lanjut Rea "Tenang aja, kita kan temen," sahut Arfan Rea mengangguk, "kita temen," ucap Rea tersenyum - Sekolah seperti biasa. Hanya saja desas-desus tentang kejadian kemarin, masih saja jadi topik yang hangat untuk di perbincangkan. 'Gue ga liat langsung kejadiannya.' 'Tina orang baik padahal.' 'Dia di bunuh?' 'Bunuh diri pasti.' Telinga Rea panas mendengarnya. Abangnya akan datang nanti siang, untuk mewawancarai beberapa orang terdekat Tina. "Reaaaaa!!" Ah, Rea tau itu adalah Dea. Entah mengapa temannya itu mengingatkan Dea kemarin. Dea berbicara dengan Farhan dan mengajukan sebuah syarat untuk Dea tutup mulut. Farhan menjadi pacar Dea Itu persyaratannya. "Tau ga?" ucap Dea yang sudah ada di dekat Rea. Berjalan beriringan memasuki koridor panjang, yang nantinya akan ada dua jalur. Kanan dan kiri. Kanan untuk jalan Rea dan kiri untuk Dea. "Apaan?" sahut Rea "Gue jadian sama Farhan." Deg! Rea berhenti melangkah. Empat kata itu membuktikan bahwa Dea benar-benar akan menutupi kasus ini. "Ka-kapan?" "Kok lo gugup sih, ga suka kalo gue jadian sama Farhan?" Rea menggeleng cepat. Lalu melanjutkan langkahnya. "Maksud gue itu, gue harus hati-hati sekarang." "Maksud lo hati-hati?" Sekarang giliran Dea yang menghentikan langkahnya. "Kalo gue nonjok Farhan, bisa jadi gue di tonjok balik sama pacarnya," ucap Rea bercanda dengan kekehan yang di buat semirip mungkin dengan kekehan aslinya "Ah lo bisa aja," ucap Dea "Jadi kapan lo di tembak sama dia?" tanya Rea Dea diam. Kemudian dia tersenyum. "Kemarin," ucap Dea penuh semangat. Rea menganggukkan kepalanya mengerti. "Oh iya, Re. Gue ada tugas Inggris, bantuin gue ya nanti?" Rea mengangguk, "ke kelas gue aja. Gue duluan kalo gitu." Dea mengangguk lalu melihat punggung Rea yang berjalan di koridor kanan menuju ruang kelasnya. Dea tersenyum miring. Rea bisa dengan mudah di manfaatkan. Rea duduk di bangkunya saat dia masuk ke kelas. Sudah ada Arfan disana. Arfan bilang, dia akan sangat pendiam di sekolah. Dia tidak ingin banyak bicara. Well, Rea tidak akan mengajaknya bicara jika Arfan tidak mengajak Rea bicara duluan. Handphone milik Rea bergetar. Jam 9, gue ke sekolah lo. Lo bisa izin? Itu pesan dari abangnya. Gue usahain Lalu pembelajaran di mulai. Arfan dan Rea terus terfokus pada pelajaran ini. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Hanya fokus dan tenang. Arfan mendengus kesal karena soalnya sulit. Tapi mudah di selesaikan oleh Rea. Ah, Arfan bahkan malu jika bertanya pada Rea di sampingnya. "Ada yang kesulitan?" sahut guru pengajar di depan kelas. Bu Ratna, guru Matematika. Semua murid tidak ada yang menjawab. "Baiklah, di kumpulkan sekarang ya," ucap guru itu lagi Baru saja Rea hendak bangkit saat tangan Arfan menahannya. "Kenapa?" ucap Rea "Satu soal aja, bantuin gue please," Rea terkekeh lalu mengangguk. Setelah mengerjakan soal yang di minta oleh Arfan selesai, Rea segera bangkit dan mengumpulkan buku catatannya. "Seperti biasa, Rea selalu yang pertama," guru itu memuji Rea hanya tersenyum. Kemudian Rea melihat jam tangan di pergelangan tangannya. Jam sembilan kurang lima menit. "Em, bu. Saya sudah selesai mengerjakan. Bolehkah saya izin keluar?" tanya Rea sopan "Mau kemana?" "Saya takut mengganggu yang lain bu, jadi saya nunggu di luar aja," Guru itu berpikir sebentar, lalu mengangguk. Rea tersenyum. Kemudian langkah kakinya bergerak menjauhi kelas. Gue di luar, lo? Dia mengirim pesan pendek pada abangnya. Kantor kepala sekolah Ketika mendapat pesan itu, langsung saja Rea berjalan menuju kantor kepala sekolah. Ini waktunya menjadi A. A mengetuk pintu ruang kepala sekolah. Kemudian suara menyahut dari dalam menyuruhnya masuk. Sudah ada abangnya, kepala polisi dan beberapa anggota forensik dan juga anggota psikolog. "Ada apa Rea?" Itu kepala sekolah yang bertanya. "Rea akan membantu kita pak, apa di izinkan?" kepala polisi yang menjawab "Dia bisa?" tanya kepala sekolah lagi Kepala polisi mengangguk. "Baiklah, saya akan membuat surat dispensasi untukmu, Afrea," ucap kepala sekolah lagi lalu pergi dari ruangannya Lalu A duduk di sebelah abangnya. "Siapa yang kita akan wawancarai?" bisik A "Teman dekat Tina. Teman sekelas. Orang yang nemuin korban pertama kali. Dan orang yang disukai Tina." ucap abangnya. A mengangguk. Kemudian masuk seorang siswi. Rambut pirang sebahu. Rok span pendek dengan baju ketat, duduk di depan A, abangnya dan kepala polisi. Lututnya di perban. Anggota forensik dan psikolog ada di samping A. "Kenapa dengan lututmu?" pertanyaan pembuka di ajukan kepala polisi si pewawancara "Ah, itu. Aku jatuh kemarin saat lari untuk pemanasan ekskul." Kepala polisi mengangguk kecil. "Siapa namamu?" ucap kepala polisi langsung "Juni pak," sahutnya pelan lalu matanya tertuju pada A "Lo ngapain di sini Re?" Ah ini pasti akan membuat A membuka kedoknya. A tersenyum, "gue di panggil abang gue," ucap A menunjuk Petra dengan dagunya Tanpa bertanya lebih lanjut, Juni di wawancarai. "Apa kau teman dekatnya Tina?" Juni mengangguk. "Seberapa dekat?" "Sangat dekat. Saya seperti saudaranya sendiri. Saya sedih mendengar berita jika Tina meninggal. Saya tidak bisa kehilangan Tina begitu saja." Lalu A melirik psikolog di sampingnya. Psikolog berbisik pada A. Bohong Kemudian A mengangguk. "Apa yang anda ketahui tentang Tina?" "Dia orang baik, polos dan pengertian. Dia juga pintar dalam ilmu akademik. Dia bahkan sangat baik hati pada siapapun. Dan dia selalu berusaha menolong siapapun jika dia benar-benar bisa menolong." Lagi. A melirik psikolog di sampingnya. Psikolog itu mengangguk, perkataannya benar. Tidak bohong. "Dimana anda saat Tina ke atap?" "Aku tidak tau dia pergi ke atap. Aku hanya tau dia keluar saat.. Emm teman yang dia sukai keluar dari kelas saya dan Tina." "Orang yang Tina sukai?" Juni mengangguk. "Seberapa besar Tina menyukai orang itu?" "Sangat menyukainya. Bahkan saya berani bertaruh jika orang yang disukainya itu meminta dia untuk lompat dari atap, dia pasti akan ngelakuin itu." Apa dia bilang? "Bolehkah saya tau, siapa orang itu?" Juni mengangguk, "namanya Farhan. Farhan Leonard"  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN