7

1106 Kata
"Hey, pak!?" Aku benar-benar marah. "Tak sepatutnya kamu marah padaku," sahut si pak tua itu "Aku sudah sangat senang bisa mengabadikan perjalananku dengan kakakku dengan tawaran yang bagus dari staffmu untuk menawari kamera." Ucapku tegas "Tapi saat kami diatas kami lupa membawanya. Saat kami bertanya pada staffmu di sebrang sana dia malah langsung meluncurkan kami." "Apa kau tidak mendengar intruksi dengan baik?" Aku berdecih, "tentu saja aku mendengarnya" "Jika kau mendengarnya kau tidak akan terjebak dan berhenti di tengah danau tadi." Ucapnya "Aku tidak melakukan apa-apa. Aku menjalankan sesuai intruksi. Tapi kenapa tiba-tiba hanya flying fox yang terakhir dan saat kami saja yang macet dari sekian banyak orang yang naik dan menggunakan ini?" Aku geram sungguh. "Aku tidak tau. Yang pasti itu urusanmu." Pak tua itu berjalan melewatiku lalu melihat keadaan kakakku yang lemas. Mukanya pucat. Keringat dingin membasahi wajah cantiknya. Aku menyesal setelah melihat ini. Lalu aku melihat pak tua itu memberikan jaketnya pada kakakku. Tapi, tanpa aku sadari pria tua itu menyeret kakakku. Aku sadar kakakku kesakitan. Aku berlari lalu memegangi kakakku. "Apa yang kau lakukan?" "Apa yang ku lakukan?" Tanya dia balik Aku melihat tangannya berada di dalam jaket yang ia berikan. Aku curiga ada sesuatu. Dengan tergesa aku menyentuhnya. Sialan! Plat besi itu. Aku melirik ke arah pak tua. "Lepaskan. Kakakku. Sekarang." Dia menggeleng lalu tersenyum kemenangan, "dia milikku." Ucapnya. "Sialan," umpatku Aku segera beradu tangan dengannya. Dia sempat melepaskan tangannya dari kakakku. Dan lihat? Dia memegang plat besi itu. Pisau. Lebih tepatnya. Aku memulai aksiku. Aku rasa aku tidak menyia-nyiakan waktuku di tempat latihan kalau ini terpakai juga. Pukulan demi pukulan membuatku meringis sesekali. Bahkan sabetan yang disebabkan oleh pisau itu terasa sakit sekarang. "Ahhh!" Erangku. Pisau itu sempat mengenai pahaku. Dan sialnya. Ini sakit. Aku tidak sengaja ambruk ke salah satu meja, terdapat tas. Tas milik pak tua itu. Ah aku tidak bisa mengatakan tua lagi padanya melihat dia kuat seolah masih muda. Isi dari tas itu berhamburan keluar. Gunting, pisau dan benda tajam lainnya membuat aku menatapnya aneh. Ini tidak seharusnya di bawa ke kebun binatang, 'kan? Aku lelah sungguh. Aku habiskan tenagaku untuk bergulat dengannya tadi. Sialan. Tanpa aku menyadari dia membawa kakakku di gendongannya. Aku rasa kakakku tidak bisa apa-apa lagi. Dia lemas. Aku menyentuh gunting yang tadi sempat aku lihat. Lalu melemparnya dengan mengarah ke punggung pria yang membawa kakakku. Clab, kena. Dia sempat terhuyung. Aku berjalan mendekatinya. Tapi sialnya dia bisa bangkit dan membawa kakakku lagi di gendongan di depan dadanya. Sial! Aku tidak bisa melakukan apapun saat ini. Aku lemas. Aku terbaring lemas. Dan semuanya menjadi gelap. "Saat gue terbangun, gue ada di rumah sakit," lirihnya Sedari tadi dia tidak berhenti menangis. Terkadang dia menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Air matanya masih mengalir, saat dia selasai memberikan ceritanya. "Apa tidak ada saksi lain selain lo yang ngeliat kejadian itu?" tanya Petra Dia menggeleng, "gue ga yakin ada orang yang ngeliat kejadian itu, karena yang pasti gue selalu fokus ke kakak gue," ucapnya "Lo inget wajah-wajah pegawai disana?" tanya Petra lagi A diam. Dia tidak banyak bicara. Dia hanya menyimak. Bahkan sedari tadi posisi duduknya seperti itu, bersender ke bahu kursi dengan melipat tangannya di d**a. Memperhatikan. "Gue ga bisa lupain mereka," ucapnya pelan Petra hanya mengangguk, lalu melirik A. "Bagaimana pendapatmu, A?" A mengerjap saat Petra bertanya. Lalu membenarkan posisi tubuhnya menjadi tegak. "Kita periksa TKP. Bawa dia, lalu mencari bukti lain," ucap A "Ini akan sulit, karena mungkin buktinya sudah tidak terlihat." "Tolong, gue mohon. Temuin kakak gue." A diam memandangi wajah cantik perempuan 20 tahun yang bernama Zea itu. "Kita bakal usaha semampu kita, Zea. Nanti kita hubungin lo kalo kita bakal ngelakuin pemeriksaan." ucap Petra "Lo bisa pulang dan istirahat," sambung Petra lagi Zea mengangguk lalu bangkit. "Segera hubungin gue kalo kalian mau lakuin pemeriksaan," ucapnya sebelum menghilang di pintu Kami hanya mengangguk. "A," ucap Petra "Hmm?" "Kasusnya dianggap sulit menurut detektif lainnya," "Gue tau, Bang," ucap A "Kalo gampang, detektif di kepolisian bisa saja menyelesaikannya, 'kan?" Petra mengangguk, "ah iya hampir lupa, lo harus liat hasil otopsi temen sekolah lo." "Apa dia benar-benar meninggal?" tanya A Petra mengangguk, "luka di kepalanya sangat parah. Bahkan jika selamat dia akan lumpuh." Dan tiba-tiba saja, A ingat pasal rekordernya. Dia akan membuatnya sebagai barang bukti diakhir nanti. Untuk sekarang, A hanya menggunakan barang bukti dan hasil pemeriksaan TKP terlebih dahulu. "Kenapa?" itulah yang A keluarkan dari mulutnya "Lihat?" ucap Petra mengeluarkan berkas dari amplop coklat berlogo rumah sakit A melihatnya. Disitu tertulis, bahwa korban sempat di tampar. Terdapat luka sobek di bibirnya. Selain itu, tidak ada kekerasan lain. A mengangguk, "menurut gue ini bukan sekedar bunuh diri, Bang," ucap A "Bisa jadi gitu, A," ucap Petra "Oh dengan darah yang di temukan di atap itu, itu bukan darah Tina." "Apa maksud lo?" ucap A tidak yakin Sebenarnya, A yakin itu adalah darah milik Tina. Di yakinkan dengan hasil otopsi yang menyebutkan bibirnya sobek. "Golongan darah Tina adalah O, sedangkan dengan darah yang di temukan itu, golongan darah A," ucap Petra "Ini aneh, darah itu masih cukup segar. Berarti belum lama ditinggalkan," lanjut Petra A mengangguk, "dia tidak sendiri di atap," gumam A Petra mengangguk, "kita harus tau siapa yang terakhir bersama korban." "Gue rasa gue udah tau siapa," ucap A "Maksud lo?" A menggeleng, "biar besok gue periksa sesuatu dulu, kalo gue yakin bener gue kasih tau lo. Gue mau istirahat, Bang." Petra mengangguk. A bangkit dan menaiki tangganya. "Terus kapan ada waktu untuk ke kebun binatang?" teriak Petra "Minggu ini," sahut A tanpa menghentikan langkahnya menaiki tangga - Arfan terganggu oleh suara balkon samping tetangganya terbuka. Jangan mengintip. Jangan mengintip. Ucapnya dalam hati. Tapi gagal. Arfan penasaran. Arfan mendekati balkon samping perlahan, lalu dengan hati-hati dia mengintip ke tetangga sebelah. Untung saja dia membelakangi balkon. Seragam putih abu-abunya masih melekat di tubuhnya. Kuncirannya masih saja tidak teratur. Arfan rasa kenal dia, Rea. Dia Rea. Teman sekolahnya. Tetangganya. Dan teman sebangkunya. Dia menghadap ke beberapa komputer di depannya. Arfan masih memperhatikannya. Arfan rasa dia melihat email disana. Waaah banyak email yang masuk ke akunnya. Dia ini apa? Anak sekolah? Tapi di sekolah kerjaannya hanya tidur. Apa dia punya akun online shop sampai emailnya menumpuk seperti itu? Ah penglihatan Arfan cukup baik untuk jarak ini. Arfan di balkon dan dia di depan sana. Arfan cukup baik. Lalu, Rea menggeser kursinya memeriksa komputer lainnya. Kemudian dia membuka salah satu foto, dan Arfan terkaget. Foto itu foto korban tadi di sekolah. "s**t!" Arfan berkata Kemudian gerakan tangan Rea berhenti dan langsung menatapnya. "So- sorry," ucap Arfan gugup "Lo ngapain?" ucap Rea mendekati balkon "Maksud lo ngapain?" "Lo ngapain di situ?" kali ini dia sudah di balkon Posisinya sama dengan Arfan. Bahkan jarak mereka hanya satu setengah meter. "Ini rumah gue, tepatnya ini kamar gue," ucap Arfan Dia mengangguk kecil. "Yang harusnya nanya lagi ngapain itu gue," ucap Arfan "Ngapain lo liat foto begituan?" Rea melirik ke mana Arfan menunjuk dengan dagunya. Arfan menunjuk komputer di belakang Rea. "Foto apaan maksud lo?" "Mayat?" ucap Arfan pelan        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN