A sampai di kelasnya di lantai satu. Siswa dan siswi tadi sudah dibubarkan sekitar 2 jam yang lalu. Dia membawa tasnya dan langsung pulang. Tapi sesuatu yang mengusik pendengarannya, saat melewati satu kelas kosong di samping kelasnya.
"Bahkan lo pasti masih ada di sana Han," itu suara perempuan
"Gue emang disana, tapi gue gatau Tina loncat," suara itu seorang lelaki
"Gue ga yakin lo bisa ngebiarin Tina loncat gitu aja Han," itu si perempuan lagi
"Gue ga tau apa-apa, De."
De? Tanya A dalam hati
"Kenapa lo ga percaya sama gue sih, Dea?"
Tangan A langsung mengambil rekorder di tasnya, mungkin ini bisa di jadikan bukti lagi untuk kasus ini.
"Karena gue ga pernah liat lo jujur Han."
A hanya tinggal mengetahui siapa lelaki itu. Suara lelaki susah di bedakan kecuali yang sering A dengar. Abangnya misalnya.
"Gue harus jujur apa lagi sih, De?" Lelaki itu menggerang frustasi
"Gue udah pernah jujur sama lo, kalo gue ngajakin Rea duel karena gue suka sama dia!"
Deg!
Apaan sih ini?
"Gue tau Han, gue tau."
'Ini Farhan?' Tanya A sendiri
"Gue cuman curiga aja sama lo, Farhan Leonard."
Benar. Dia Farhan. Farhan Le- tunggu. Leonard? FL?
"Gue tau pasti terjadi sesuatu di atap saat gue ninggalin lo sama Tina. Cuman lo, Farhan. Cuman lo yang bisa jadi tersangka!" bentak Dea
"Gue gatau apa-apa!"
"Cukup Han. Gue ga bakal bilang ini semua. Gue ga bakal bilang sama siapapun tentang lo dan Tina yang asa di atap dengan satu syarat," ucap Dea
Lelaki itu tidak menjawab.
"Gue mau lo jadi cowok gue."
"Apa?!"
A rasa Farhan kaget. Bahkan A sudah menghentikan rekaman dan berjalan cepat meninggalkan mereka. Itu urusan pribadi mereka. A tidak berhak mengetahuinya. Yang membuat A curiga adalah, kenapa dia membicarakan ini di kelas IPA? Bukankah mereka berasal dari kelas IPS? A akan menyimpan rekorder itu, kalau sampai kasus ini belum juga selesai, A akan mengeluarkannya.
A memasuki rumahnya setelah dia berperang di dalam tubuhnya antara otak dan hatinya. Antara memberitahukan rekorder ini pada Petra atau tidak.
Langkahnya terhenti ketika dia melihat ada seorang perempuan yang duduk di sebrang abangnya duduk.
"Aku pulang," ucap A
"A, client," sahut abangnya
A mengangguk, lalu duduk di sebelah abangnya. Kursi yang di tempati A dan abangnya adalah sofa panjang. Dan, yang di sebut client tadi oleh abangnya duduk di sebrang mereka. A mentaksir umur perempuan itu sekitar 20 tahunan. Rambut pendek sebatas telinga membuatnya terkesan sangat tomboy. Ditambah lagi dengan cara berpakaiannya, kaus hitam dilapisi jaket jeans biru dongker, lalu celanya berwarna senada dengan jaketnya sebatas lutut. Ah, bahkan A melihat beberapa luka di jari tangan yang tidak tertutup jaket dan mukanya.
"Jadi ada masalah apa, emm Zea?"
Abangnya memang selalu begitu. Membuka awalan yang baik. Membuka pembicaraan yang sopan dan ya, A mengagumi abangnya itu.
"Gue mau lo cariin kakak perempuan gue," ucap perempuan itu
Apa yang di pikiran A, pertama dia tomboy. Sangat. Tomboy. Dilihat dari cara bicaranya yang terkesan sudah biasa seperti itu.
"Memangnya kakak lo ilang? Dimana? Kapan?" sahut abangnya mulai membuka buku kecil sebagai catatan
"Iya, di kebun binatang, kurang lebih 2 minggu yang lalu."
Pikiran A kedua, dia tidak mau bertele-tele.
"Apa sudah lapor polisi?" tanya abangnya lagi
"Ya."
Pikiran A ketiga, cuek tapi tegas. Dia selalu menjawab pertanyaan yang di perlukan.
"Bisa sebutkan ciri-ciri kakak lo?"
Dia mengangguk, "Namanya Jenny, umurnya 25 tahun, lajang belum menikah. Tingginya sekitar 165 cm, dengan berat badan kurang lebih 52 kg. Rambutnya hitam panjang melebihi bahu. Dia memiliki wajah sedikit oval dengan lesung pipi di keduanya. Ciri khas dia, memiliki t**i lalat hidup leher."
Pemikiran A keempat, orangnya to the point. Cara penyampaian ciri-ciri yang ia berikan sangat cepat dan lengkap. Bahkan jika Petra hiang, Rea akan menjelaskan tentang ciri fisiknya saja. Rea tidak sampai hafal tinggi dan berat badan Petra. A sempat menaruh curiga pada orang ddi depannya kali ini.
Abangnya mengangguk kecil setelah mencatat apa yang di perlukan.
"Plis, secepatnya lo temuin kakak gue. Kakak gue takut air yang bisa bikin dia tenggelem dan ga bisa tahan hidup di udara dingin."
Pemikiran A kelima, dia sangat menyayangi kakak perempuannya. Yang Rea pikirkan adalah ketakuatan Petra. Bahkan Petra sama sekali tidak takut dengan apapun, kecuali satu. Kehilangan orang yang dia sayangi.
Abangnya mengangguk lagi, "kita bakal usaha semaksimal mungkin. Lo bisa tinggalin no hp lo."
Lalu kemudian perempuan itu menuliskan no telepon dan alamatnya, bahkan saat abangnya ga minta.
"Oh ya, bisa lo ceritain gimana kejadian ilangnya? Lo ada di sana?" ucap A
Dia masih di balut dengan seragam putih abunya. Bahkan tidak sopan sebenarnya menggunakan kata lo-gue. A tidak peduli. Perempuan itu menatap A lama. Lalu kemudian mengangguk kecil.
Zea di kebun binatang saat itu. Berlibur bersama kakaknya. Entahlah. Hanya mereka berdua yang ingin menghabiskan waktu.
Sampai tiba saatnya. Zea agak merengek ingin menaiki sesuatu yang disebut flying fox. Zea selalu manja pada kakaknya. Kakaknya saat itu hanya tersenyum lalu bangkit membelikan Zea tiket. Dan Zea disiapkan untuk menaiki flying fox itu. Dipasangnya alat pengaman, membuat Zea tersenyum pada kakaknya yang memperhatikan gerak-gerik Zea. Ah kakaknya ini sangat baik.
Zea melayang di udara menaiki flying fox itu. Jaraknya tidak cukup jauh. Zea bisa melihat kakaknya di bawah sana dengan tatapan khawatir. ‘Aku tidak apa-apa’. Isyarat yang Zea berikan untuk kakaknya melalui gerakan tangan dan anggukan kepala.
Saat Zea turun, kakaknya tersenyum semuringah. Kakaknya kemudian menuntun Zea mengantri tiket, lagi. Zea sempat bertanya untuk apa. Tapi kakaknya hanya tersenyum tanpa menjawabnya.
"Lihat?" Kakaknya memperlihatkan tiketnya
"Lo bakal ngelayang lagi, bareng gue," sambungnya
Zea senang ternyata tiket itu akan digunakan untuk Zea dan kakaknya. Seperti yang terlihat diatas kami sekarang. Ada sepasang kekasih juga menaiki flying fox yang lebih jauh dari tadi, melewati danau yang cukup luas. Berdua.
Zea akan melakukannya bersama kakakknya. Zea terlihat senang dengan itu. Zea tidak bisa menghilangkan garis lengkung di bibirnya. Katakanlah Zea memang sudah dewasa. Tapi ketika bertemu dengan kakaknya, Zea menjadi anak kecil lagi. Ah memalukan memang, tapi itu adalah Zea.
Setelah lama mengantri. Zea dan kakaknya dapat giliran terakhir, dipasangi alat lagi dan di beri pengetahuan kecil. Bahkan salah satu pegawai itu menawarkan jasa menggunakan alat potret yang akan di bawa kakak Zea saat di atas nanti. Kamera itu berbentuk kotak kecil dengan gagang yang panjang.
Tanpa Zea sadari, hanya tinggal mereka berdua. Kami adalah pelanggan terakhir mereka. Karena Zea melihat suasana sudah sepi dan sudah menunju ke malam hari. Zea takut sebenarnya karena hari akan menjelang malam. Tapi kakaknya yang ingin merasakan terbang seperti Zea tadi. Hanya saja ada yang aneh. Pegawai yang bekerja disana tinggal 2 orang. Yang satu membantu memasang alat di atas dan yang satu bertugas melepas alat di sebrang sana. Aneh menurut Zea saat itu. Kebun binatang juga sudah sepi. Bahkan hampir semua pengunjung sudah melewati gerbang keluar. Zea dibingungkan dalam keadaan ini. Aaah demi kakaknya. Zea bergumam dalam hati. Mereka di berikan intruksi. Sama seperti saat Zea naik sendiri. Dan mereka mulai berdiskusi ringan.
"Kak, lo lupa kita kan di tawari sewa kamera pas di bawah?" Zea memastikan ingin merekam kebersamaan mereka
"Ah iya kita lupa," jawab kakak Zea
Akhirnya kakaknya membuka suara pada pegawai itu.
"Maaf mas, kita di-"
Perkataan kakaknya terpotong karena mereka sudah meluncur terlebih dahulu. Zea takut sungguh. Kakaknya yang berada di belakang Zea hanya tersenyum dan berkata, "nanti gue bicarain lagi sama orang itu."
Tapi tiba-tiba kami berhenti di tengah danau. Astaga. Itu lebih menyeramkan lagi. Zea berusaha menggerakkan tali yang dia pegang, tapi tidak berhasil. Zea berusaha berteriak agar seseorang pergawai di ujung sana dapat mendengar. Tapi hanya ada senyum sinis di wajahnya. Apa ini? Zea memutar kepala. Melihat kakak perempuannya.
"Gapapa ini cuma macet," ucapnya pelan
Zea mengangguk. Zea meneguk ludahnya susah payah. Ini diluar dugaan.
"Kenapa bisa macet?" Sahut seseorang di mana tempat kami akan mendarat.
Ah syukurlah. Dia adalah pengelola flying fox ini. Lalu dia menepuk dahi seperti kecewa. Tunggu? Bukankah mereka yang di kecewakan? Kenapa dia yang berwajah sangat menyesal dan kecewa? Pria yang Zea perkirakan berumur menginjak usia 50 tahunan itu menatap Zea. Dan mengomel.
"Apa kalian gak dengarin intruksinya? Kenapa bisa berhenti di tengah danau kayak gitu?"
Zea menunduk takut.
"Bisakah kita bicarain ini saat kami mendarat?" Itu kakak Zea "selamatkan kami dulu," lanjutnya
Lalu pegawainya entah berbuat apa di belakang pengurus permainan ini. Tapi dengan tiba-tiba kami berjalan mendekati tempat kami seharusnya mendarat.
Dan mendaratlah kami. Aku tidak bisa menahan emosiku. Tapi kakakku yang sedari tadi duduk itu membuatku khawatir. Dia takut air seperti danau. Dia punya trauma dengan yang sejenis tenggelam. Ah kenapa aku baru ingat.
Kakakku bersender di salah satu pohon yang ada disana. Ayolah aku tidak tega membiarkannya begitu.
Aku langsung menghampiri pengelola.