42

2206 Kata

Gilang berada di kafe yang di janjikan Tiffany. Bahkan Gilang masih ingat saat dirinya dan Tiffany dulu sering sekali masuk ke kafe ini, mencium bau roti dengan coffe latte favorit Tiffany. Bunyi pintu yang di lengkapi lonceng itu sudah tidak asing di telinga Gilang. Tapi bunyi lonceng kali ini membuat Gilang gugup. Bunyi lonceng itu sangat di tunggu-tunggu. Setiap bunyi lonceng itu, mata Gilang pasti selalu menatap pengunjung yang datang. Seperti kali ini, Gilang menatap siapa yang datang. Senyumnya mengembang saat melihat Tiffany dengan kaos hitam yang terbungkus kemeja kotak-kotak merah hitam tidak terkancing juga jins navy yang menjadi bawahannya, di lengkapi dengan sepatu sporty berlambang pumma. Gilang berusaha menyambut Tiffany layaknya menyambut kekasihnya dengan berdiri dari kur

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN