"Ayo Nak, cepatlah bangun Ji So!" Ini kali ketiga paman Soo membangunkan keponakannya yang tidur. Bersyukurlah karena kali ini bahkan Ji Soo mencoba untuk membuka matanya. Matanya terasa amat lengket, tetapi dia harus segera bangun. "Pa-man ...." ucap Ji So pelan sambil mengucek kedua matanya. "Bangunlah, Nak." Paman So membantu Ji So untuk bangun. Dan gadis itu belum menyadari bahwa sedari tadi sang paman sudah memperhatikan wajahnya yang bernoda. Noda lebam dan jidat yang di tambal perban, bahkan kini gadis itu tanpa sengaja memperlihatkan sikut tangannya yang merah dan gugus, luka di sikut tangannya terlihat kering dengan obat merah. "Ya Tuhan nak, Ji So apa yang sebenarnya terjadi?" Pria paruh baya itu sungguh tidak tega melihat gadis yang dia sayangi menjadi seperti itu. A

