Bagian 35

1082 Kata

Pangerah Heydar membuka mata perlahan. Dia mencabut pedang di hadapannya dengan yakin. Keputusan telah diambil. Sang pangeran lebih memilih memenuhi ambisi untuk berkuasa dibandingkan mendengarkan hati nurani. Bersamaan dengan tercabutnya pedang terkutuk dari segel penjaga, sisa-sisa serpihan jiwa kesatria suci legendaris juga perlahan memudar. “Keputusan yang buruk, Anakku .... Kuharap kamu masih bisa kembali sebelum terlambat.” Bisikan lembut mendenging di telinga Pangeran Heydar bersamaan dengan kerlipan cahaya yang semakin redup. Ada perasaan sedih yang tak bisa dijelaskan tiba-tiba bercokol di hati Pangeran Heydar. Namun, hal itu tidaklah lama. Tepat setelah pecahan jiwa kesatria suci menghilang, kabut hitam dari pedang terkutuk menyelimuti Pangeran Heydar. Rasa panas bergolak di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN