Alun-alun Negeri Asytar gegap gempita. Rakyat berdesak-desakan hendak menyaksikan penobatan penguasa baru, Ratu Farahnoush. Beratus pasang mata menatap kagum sosok yang mengenakan jubah kebesaran di atas panggung kehormatan. Pujian akan pesona kecantikan dan keanggunan nan memikat tak henti terdengar dari berbagai sudut kota. “Ratu Farahnoush memang seperti peri,” bisik seorang gadis berambut pendek di depan sebuah toko kue kepada gadis berkucir kuda. “Beliau begitu memesona. Kau tahu, sudah puluhan lelaki yang pingsan sejak beliau keluar dari gerbang istana,” sahut gadis berkucir kuda. Sementara kedua gadis itu sibuk memuji-muji sang ratu, Gulzar Heer telah berlutut di hadapan Houri untuk menerima pemberkatan sang peri. Pangeran Fayruza yang berdiri di sisi kanan panggung terus mengu

