Gulzar Heer membuka mata perlahan saat mencium aroma lemon yang familiar. Wajah banjir air mata Delaram tertangkap pandangan. Dia susah payah menggerakkan tangan untuk mengusap buliran bening di pipi sang ibu. “Ibu ...,” lirihnya. “Gulzar ... akhirnya kau sadar, Nak,” gumam Delaram dengan suara bergetar. Lengannya yang besar dan hangat mendekap erat putrinya. Gulzar Heer membenamkan wajah di d**a sang ibu. Farzam mengepalkan tangan dengan mata berkaca-kaca. “Ayah, aku juga ingin dipeluk olehmu,” cetus Gulzar Heer tiba-tiba. Tangis Farzam tak bisa dicegah lagi. Sebagai kesatria, dia pantang meneteskan air mata karena tak ingin terlihat lemah. Namun, permintaan tak biasa Gulzar Heer meruntuhkan pertahanannya. Putri yang tak pernah mengeluh dengan pelatihan sekeras apa pun tiba-tib

