Hai diary,
Dunia telah menunjukkan cahaya paginya.
Apa yang harus aku lakukan hari ini? Apakah mencari cinta sejati?
***
Safira Bella Eliza, gadis cantik bermata cokelat dengan rambut hitam panjang bergelombang. Kulitnya putih, seputih s**u. Ia adalah gadis yang pemalu, ramah, dan juga baik hati. Ia mengungkapkan segala isi hatinya pada buku catatan harian miliknya. Ia tak memiliki tempat untuk mencurahkan segala isi hatinya. Ia saat ini berusia 16 tahun, yakni kelas 11 SMA. Ia anak yang pintar dalam bidang akademik. Ia adalah anak dari keluarga yang sederhana.
"Bu, aku berangkat ke sekolah ya."
"Iya, nak," sahut sang ibu dengan singkat.
Tak lama, ibunya terdengar berteriak kesakitan. Ia menoleh ke arah ibunya dan ia sungguh kaget saat melihat ibunya jatuh terbaring di lantai.
"Ibu! Ibu kenapa?" tanyanya khawatir.
"Ke—kepala ibu sa—sakit." jawab ibunya terbata-bata.
Ibunya kemudian memberikan ia sebuah sobekan kertas putih yang bertuliskan sesuatu. Ibunya langsung terkapar tak berdaya. ia tak sempat membaca kertas itu. Ia langsung menyimpan kertas itu di saku bajunya dan segera menghubungi rumah sakit untuk segera membawa ambulans ke rumahnya dengan cepat agar ibunya segera mendapatkan pengobatan medis dan tak terjadi apa-apa.
Mobil ambulans datang dengan cepat ke rumahnya, mobil itu langsung membawa ia dan ibunya menuju rumah sakit. Tanpa berlama-lama, mereka segera sampai ke rumah sakit dan perawat segera membawa ibunya ke ruang instalasi gawat darurat.
"Dokter! Segera obati ibu saya! Saya mohon!" teriak Safira memohon.
"Baik, akan kami usahakan. Kamu bisa tunggu di luar." perintah Dokter.
Safira duduk di ruang tunggu, ia berdiri dan kembali duduk berulang-ulang kali karena kepikiran ibunya. Ia takut akan terjadi apa-apa pada ibunya saat itu.
Tak lama, dokter pun keluar dari ruang IGD, Safira bergegas tuk menghampiri dokter ini karena khawatir akan keadaan ibunya.
"Dok, bagaimana keadaan ibu saya? Apa dia baik-baik saja? Jawab dok!" desak Safira yang nampak sangat cemas saat itu juga.
Dokter itu terlihat menggelengkan kepalanya ke arah kanan dan kiri.
"Aku takut akan terjadi apa-apa pada ibuku. Saat ini, aku hanya bisa berharap agar dia selalu baik-baik saja. Aku mohon."
"Ibu saya baik-baik saja kan dok? Jawab dok! Jangan bikin saya khawatir." desak Safira lagi.
"Ibu kamu mengalami kanker otak stadium akhir, ibumu harus melakukan kemoterapi." jawab dokter.
"Kanker, dok?"
Safira terlihat menjatuhkan tetesan air matanya karena semakin cemas dengan keadaan ibunya.
"Ibu anda harus tetap berada di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis."
"Baik, dok. Apapun akan saya lakukan, yang terpenting saat ini adalah kesehatan ibu saya."
"Baiklah, saya permisi kalau begitu."
Raut wajah Safira terlihat begitu sedih. Ia khawatir dengan ibunya dan ia juga bingung bagaimana membayar pengobatan ibunya.
Safira terus memikirkan hal itu.
"Biaya kemoterapi itu kan mahal. Bagaimana aku sanggup membiayai pengobatan ibuku? Tolong bantu aku."
Ia kini sangat khawatir pada ibunya. Ia keluar dari rumah sakit. Lalu, ia terus berjalan hingga tanpa sengaja melihat seorang anak berusia sekitar 12 tahun yang sedang berbicara dengan ibunya.
"Nilai kamu selalu saja turun, kamu itu harus belajar lebih rajin. Apa perlu ibu bayar jasa guru les untuk kamu?" ucap ibu itu pada anaknya.
Safira yang mendengar hal itu pun langsung menghampirinya.
"Bu, saya dengar ibu lagi butuh jasa guru les. Saya bisa bu." tawar Safira.
"Serius kamu bisa? Kamu mau ajarin anak saya?"
"Bisa bu, saya serius."
"Untuk biaya, kamu mau berapa?"
"Untuk biaya kalau bisa agak besar ya bu, soalnya uangnya untuk pengobatan ibu saya." ucap Safira yang lagi-lagi meneteskan air matanya.
"Memang ibu kamu sakit apa?"
"Kanker otak stadium 4, bu."
Safira memandang ibu itu dengan penuh kesedihan yang luar biasa pada dirinya. Yang tak bisa ia tahan.
"Kalau begitu kamu ajari anak saya di rumah setiap hari, perharinya gaji kamu 500.000 rupiah. Bagaimana, kamu mau?" tawari ibu itu.
"Mau banget bu. Kapan saya mulai mengajar?" tanya Safira memastikan.
"Mulai hari ini. Bisa?"
"Tentu, bisa banget."
Safira mengikuti ibu itu dan anaknya pulang ke rumah. Ia berjalan dengan wajah penuh kegembiraan.
"Akhirnya, aku bisa mendapatkan pekerjaan. Menjadi seorang guru les, aku harap uang ini cukup untuk membayar semua biaya pengobatan ibuku."
"Kak soal yang ini bagaimana?" ucap anak itu sambil menunjukkan lembar jawaban yang berisi soal matematika.
"Yang ini, tinggal kamu kalikan aja kemudian dijumlahkan semua angkanya. Jangan lupa cara menyelesaikan soalnya ya."
"Iya, kak."
Anak itu mulai menyelesaikan soal yang ada di kertas tadi. Ia terlihat sangat konsentrasi.
15 menit berlalu begitu cepatnya.
"Udah selesai?"
"Udah, kak."
"Mana? Coba kakak lihat."
Anak itu memberikan lembar soal yang telah ia kerjakan semaksimal mungkin pada Safira. Safira mulai mengecek jawaban anak itu.
"Untuk soal yang nomor 3, kamu bentuk ke dalam pecahan dulu ya. Ini masih salah, dan untuk yang nomor 5, jawaban kamu kurang tepat." jelas Safira.
"Iya, kak. Aku ganti dulu jawabannya."
Safira terus memperhatikan pekerjaan anak itu secara saksama.
"Ini caranya bukan seperti ini. Sini, biar kakak bantu untuk jawab."
"Iya, kak."
"Jadi, untuk yang ini itu...,"
Hari sudah semakin malam, matahari sudah mulai tenggelam. Safira hanya berdiam diri di kesunyian. Rumahnya kini sepi, ia hanya ditemani oleh angin yang kian berembus. Udara kini sangat dingin, Safira hanya bisa berharap ibunya segera sembuh. Ia pun sudah tidak terlalu mementingkan sekolahnya. Semua pikirannya hanya tertuju pada ibunya, tak ada yang lain.
"Dingin banget sih malam ini. Andai ibu ada di sini, pasti aku tidak akan kesepian dikerumuni sunyi."
"Dapatkah aku memilih? Memilih untuk menjadi gadis yang dipenuhi dengan kebahagiaan, dicintai banyak orang dan selalu mudah tuk meraih impian. Aku tahu ini sulit, tapi itu tetap terasa sakit."
***
"Bintang, tolong sampaikan pada matahari untuk cepat menampakkan terangnya, sebab aku tak sanggup terlalu lama berada di kegelapan malam."
***
"Aku rindu ibu, apa aku masih harus sekolah sekarang?" gumam Safira.
Matanya tertuju pada salah satu kursi yang berada di dekat meja makan, karena itu adalah tempat ibunya menyapa dan memasak untuk ia sarapan. Ia sangat merindukan sosok ibunya yang sangat baik.
Safira tersenyum sesaat, kemudian pergi meninggalkan rumahnya untuk berangkat ke sekolah, ia takut terlambat. Ia tak pernah terlambat pergi ke sekolah, walaupun ia tak memiliki seorang pun teman. Entah mengapa ia dapat hidup dengan keadaan seperti itu.
—Bersambung...