Episode 2

1013 Kata
"Terima kasih bulan, engkau telah mengalah pada matahari. Aku tahu engkau indah, namun aku tak sanggup menahan kegelapan mu." *** "Safira, kamu kemarin ke mana? Kenapa tidak berangkat ke sekolah? Apa kamu sedang sakit?" tanya seorang guru. "Saya tidak sakit bu. Tapi, saya harus menemani ibu saya di rumah sakit. Jadi, saya tidak masuk sekolah." jawab Safira dengan jujur. "Lain kali kamu harus meminta izin dulu dari ibu. Kamu kan salah satu anak teladan di sekolah ini, ibu tidak mau kamu merusak nama baik sekolah kita. Tolong jangan diulangi ya." "Iya, bu." "Kalau begitu ibu permisi." "Aku rasa, aku sudah tak sanggup tuk menginjakkan kaki di sekolah ini. Kenapa? Aku tidak memiliki teman maupun sahabat, satu orang pun tidak ada. Aku hanyalah debu bagi mereka." "Safira, kamu kemarin kenapa tidak masuk sekolah?" tanya Anna. Anna Claudia Mariana, gadis cantik bermata hitam kecoklatan dengan rambut hitam yang indah bergelombang. Ia juga merupakan juara pertama di setiap bidang mata pelajaran, kecuali bidang olahraga. Anna juga wanita yang baik dan juga tak memandang orang dari luarnya saja. "Aku cuma ada urusan mendadak." sahut Safira. "Kamu mau ke kantin bareng aku?" ajak Anna. Anna juga merupakan wanita terpopuler di sekolah ini, ia diimpikan banyak pria di sekolah, hal itu membuat semua wanita iri padanya. Namun, ia tak pernah sekalipun berpacaran dengan seorang pria, karena ayahnya melarang hal itu. Anna bukan hanya populer di sekolah, tapi ia juga populer di media sosial, bahkan akun media sosialnya telah mencapai lebih dari 200 ribu pengikut. Tak heran jika ia menjadi rebutan setiap pria. "Gak perlu. Aku udah makan di rumah." tolak Safira. "Jangan gitu dong, ke kantin yuk. Aku mohon, yah." mohon Anna. "Iya deh. Aku mau." Mereka berdua berjalan menuju kantin, Anna mulai menggandeng tangan Safira. Anna terlihat bahagia entah kenapa. Ia hanya tersenyum di sepanjang perjalanan mereka. Mereka pun akhirnya sampai di kantin. Kantin itu dipenuhi oleh banyak orang. Safira berjalan mendekati sebuah bangku yang terlihat kosong. "Heh! Ini tempat kita, lo ke tempat yang lain aja deh sana." usir mereka. Orang memang tak ada yang peduli terhadap Safira, kecuali Anna. Namun, Safira tak ingin beranggapan bahwa Anna ingin ia menjadi temannya. Karena itu mustahil. Dari kecil, Safira tak pernah mempercayai siapapun di dunia ini, kecuali ibunya. "Safira, sini." panggil Anna. Anna sudah duduk di sebuah bangku yang hanya ditempati oleh ia seorang diri. Anna tentu saja memiliki banyak orang yang ingin menjadi temannya, tapi ia tak pernah ingin berteman dengan orang-orang itu, karena ia tak ingin teman yang hanya menemaninya saat ia sedang terkenal. Tapi, ia butuh teman yang selalu ada. Namun, entah mengapa ia selalu mendekati Safira, apakah ia hanya ingin dekat dengan Safira atau ada hal lain yang membuat ia mendekati Safira? Safira mulai berjalan mendekati bangku kosong di samping Anna. "Kamu kenapa? Kok melamun?" "Enggak, aku cuma haus aja." sahut Safira. "Mau minum apa?" "Terserah kamu aja, aku ikut." "Mbak, tolong jus mangga dua ya!" "Safira, kamu besok ada acara? Besok kan hari minggu, aku mau main ke rumah kamu. Boleh ya?" mohon Anna. "Kayaknya nggak bisa deh. Soalnya aku gak di rumah besok." ucap Safira. "Hm, ya udah deh kalo gitu." Wajah Anna terlihat mulai cemberut. Baru kali ini ada orang yang menolak ajakannya. Biasanya, orang selalu menuruti keinginannya. Safira memang beda dari yang lainnya. Mungkin, hal itu juga yang membuat Anna tertarik untuk berteman dengannya. "Safira, mau mampir ke rumah aku?" "Rumah kamu? Enggak ah, aku malu sama orang tua kamu." "Gak perlu malu, kamu cuma nemenin aku di rumah aja kok. Orang tua aku juga pasti seneng." jelasnya. "Aku pikir-pikir dulu deh ya." "Iya, langsung ke kelas yuk. Jam pertama udah mau dimulai." Safira mengangguk dan berdiri. Mereka berjalan menuju kelas bersama-sama. Setelah sampai di kelas, Safira segera menduduki bangkunya, Anna duduk tepat di depannya. Jadi, mereka terkadang mengobrol. "Safira, kamu mau belajar kelompok bareng aku enggak?" ajak Anna. "Kurang tau deh. Liat nanti ya." "Oke. Eh, guru udah mau masuk." Anna langsung menoleh ke arah depan dan mulai berpura-pura membaca buku catatannya. "Pagi, anak-anak." "Pagi, Pak." "Baik, hari ini saya akan mengadakan kuis. Kerjakan 35 soal ini dalam waktu 30 menit, dimulai dari sekarang." Guru membagikan selembaran kertas kuis kepada para siswa di kelas. "Ya elah, pak. Masa udah kuis aja." "Gak perlu banyak berkomentar. Saya tidak perlu komentar kamu. Ayo, cepat kerjakan!" bentak Guru. Safira dan Anna mulai mulai mengerjakan soal dengan perlahan-lahan. Mereka memang anak yang pintar. Jadi, saat ada kuis dadakan mereka sudah ingat dengan semua jawabannya. Intinya, semua jawaban sudah ada diluar kepala. "Saya sudah selesai, pak." ucap Anna. Waktu baru berjalan sekitar 7 menit, dan Anna telah menyelesaikan semua soal di kertas kuisnya. "Kamu sudah yakin dengan jawaban kamu?" "Sudah, pak." "Saya juga sudah pak." ucap Safira. "Silakan dikumpulkan." Waktu berjalan sekitar 10 menit. Hanya mereka berdua yang mampu menyelesaikan jawaban kuis secepat itu di kelasnya. Kelas sudah berjalan selama 120 menit, sekarang adalah saat istirahat. Anna mengajak Safira ke kantin. "Aku di kelas aja." tolak Safira. "Udah, ikut aja yuk." mohon Anna. "Aku males banget keluar kelas." Anna kemudian kembali duduk di bangkunya. Wajahnya cemberut. Ia membaca buku catatannya. "Safira, kamu gak ada niatan buat jalan bareng aku? Kapan gitu." "Belum ada sih. Aku gak kepikiran soal jalan-jalan, aku cuma mikirin ibuku di rumah sakit." jelas Safira. "Ya udah deh. Hm, ke perpustakaan aja gimana? Mau gak?" ajak Anna. "Boleh. Yuk!" Mereka berjalan ke perpustakaan. Mereka tidak sengaja bertemu dengan adik kelasnya seorang pria. "Kak Anna, boleh foto bareng gak?" "Boleh banget." jawab Anna. "Kak." "Iya." sahut Safira. "Bisa minta fotoin gak?" "Fotoin? Bisa kok." Safira memang hanyalah debu yang menyelinap dibalik sebuah permata. "Terima kasih kak, permisi." "Iya." "Safira, kenapa? Kok cemberut begitu?" "Biasa aja kok. Ayo ke perpustakaan, nanti keburu masuk loh. Ayo cepat." Mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju ke perpustakaan. Safira masih terlihat cemberut karena kejadian tadi. Sementara, Anna. Ia terlihat sangat senang, hidupnya terasa begitu sempurna karena memiliki banyak penggemar di dunia maya sekaligus dunia nyata. "Hidup Anna sangat sempurna, sangat jauh berbeda dengan hidupku yang bagaikan sebutir debu ini. Ada, namun tak pernah dianggap ada. Itulah aku." —Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN