Episode 3

1081 Kata
Safira ingin mengambil buku di sebuah rak yang tinggi. Ia terlihat sangat kesusahan. Tiba-tiba datang seorang pria yang membantunya. "Ini bukunya." ucap pria itu dengan senyuman manis. Pria itu nampaknya dari kelas 12, yakni kakak kelas Safira. "Terima kasih ya, kak. Maaf, nama kakak siapa?" tanyanya. "Rafa." jawabnya. Rafa langsung pergi ke tempat teman-temannya membaca buku di perpustakaan. Safira terlihat mulai senyum-senyum sendiri. Ia terlihat kegirangan dan hanya mampu berteriak bahagia di dalam hati karena baru saja bertemu dengan seorang pangeran di sekolah yang begitu tampan. Rafa Ardhan Mahendra, adalah kapten tim basket kelas 12, ia juga pintar dalam bidang akademik. Tak heran jika setiap wanita memimpikan untuk menjadi pendampingnya. Ia merupakan kebanggan kedua orang tuanya, terutama ayahnya. Ia memiliki adik di kelas 11, yakni Rizki Alvaro Mahendra. Sementara Rizki adalah siswa yang pintar dalam mata pelajaran bahasa Inggris dan Prancis, namun ia tak terlalu menguasai mata pelajaran lainnya terutama olahraga. Karena ia tak gemar berolahraga. Sementara, ayahnya ingin semua anaknya pintar dalam setiap bidang akademik. Jadi, ayahnya selalu membanding-bandingkan Rafa dan Rizki, tanpa tahu isi hati Rizki yang sudah muak mendengar pujian tentang kakaknya. Sementara, ibu mereka adalah tipe ibu yang tidak pernah menuntut apa-apa pada anaknya. "Hari ini aku bertemu seseorang yang membantuku mengambil sebuah buku yang berada di rak tinggi. Mungkin, ini terdengar sangat klise. Tapi, semenjak saat itu. Aku mulai merasa ada getaran di hatiku. Entah getaran apa itu. Tapi yang pasti, aku selalu bahagia saat melihatnya." "Safira, udah ambil bukunya?" tanya Anna yang sudah menungguku sejak tadi. "Udah kok. Lama ya?" "Enggak, yuk sini duduk." Anna meminta Safira duduk di dekatnya dan membaca buku bersama. Anna dan Safira duduk dan mulai berkutat dengan kesibukan masing-masing. Namun, Safira malah tersenyum sendiri karena membayangkan tentang kejadian tadi, ia selalu memikirkan hal itu. Anna yang memperhatikan ia sejak tadi mulai merasa keheranan. Anna menepuk bahu Safira pelan. "Safira, kamu mikirin apa sih? Kok senyum-senyum sendiri gitu?" heran Anna. "Hah? Gak mikirin apa-apa kok. Aku cuma baca ini aja, lucu." ucapnya beralasan. "Masa sih? Pasti mikirin cowok, iya kan?" goda Anna. "Apaan sih? Enggak kok." elak Safira sembari tersenyum tipis. "Eh, kamu tau gak..., " Anna terhenti saat tiba-tiba ada seorang pria yang menghampirinya. Dia adalah Rizki, ia memberikan sebuah buku catatan. "Maaf, ini buku kamu?" tanyanya pada Anna. Anna masih menatapnya. Safira menepuk bahu Anna. Anna akhirnya tersadar. "Iya, ini bukuku. Makasih ya." ujarnya. "Kamu Anna kan?" tanya Rizki seraya menarik kedua sudut bibirnya hingga mengulas senyuman.. "Iya, aku Anna. Kamu?" tanya Anna yang memang belum berkenalan dengan pria tampan itu. Rizki menjulurkan tangannya pada Anna. "Rizki Alvaro Mahendra. Kamu boleh panggil aku Rizki." Anna juga menjulurkan tangannya, mereka berdua berjabat tangan saling berkenalan. Rizki menatap mata Anna dengan tatapan tajam. Safira hanya bisa memperhatikan mereka berdua yang saling bertatapan. Safira mulai memalingkan pikirannya menuju kejadian tadi, ia lagi-lagi memikirkan Rafa. Ia mulai tersenyum sendiri. Anna akhirnya sadar dan menarik kembali tangannya. Rizki langsung terkejut dan menarik tangannya kembali juga. "Kalau begitu, aku permisi ya." "Iya, terima kasih ya." Anna menoleh ke arah Safira lagi, ia menggelengkan kepalanya dan menepuk bahu Safira kembali. "Heh! Melamun terus! Baca bukunya!" teriak Anna. "Oh iya, maaf. Aku baca kok." Safira mulai membalik setiap lembaran halaman di buku yang ia baca. Ia membaca buku mata pelajaran. Anna juga mulai kembali membaca bukunya. Bel masuk sudah berbunyi, mereka bergegas untuk kembali masuk ke kelas dengan cepat. "Safira, kamu udah belajar buat kuis hari ini?" tanya Anna sembari berlari. "Belajar sih. Tapi, emang ada kuis lagi? Kuis apa?" tanya Safira balik. "Bahasa Prancis." jawabnya. Akhirnya mereka sampai di kelas tepat waktu, mereka duduk di bangku masing-masing. Guru segera memasuki ruang kelas. "Siang, hari ini saya akan mengadakan kuis untuk mata pelajaran bahasa Prancis, 15 soal, kerjakan dalam waktu 40 menit. Jika sudah melewati 40 menit, saya tidak akan terima lembar jawaban kalian. Silakan dikerjakan! Tidak perlu ribut dan banyak berkomentar, karena saya tidak suka keributan." Semua anak langsung bersiap mengerjakan kuis. Mereka berpikir dengan cepat. Waktu sudah berlalu 15 menit. "Bu, saya sudah selesai." ujar Anna. "Saya juga." lanjut Safira. "Kalian sudah yakin tidak ada yang salah dengan jawabannya?" tanya Guru. "Yakin, bu." Mereka berdua segera mengumpulkan lembar jawabannya. "Safira, mau pulang bareng enggak?" ajak Anna. "Gak perlu lah. Aku bisa naik angkot." tolak Safira. "Mau dong, aku mohon." "Hm. Iya deh." Jam sekolah sudah berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 15:00, mereka segera keluar dari kelas dan berlari menuju keluar sekolah. "Safira, ayo masuk." ajak Anna masuk ke dalam mobilnya. Mobil Anna sangat nyaman dan mewah, ia diantar dan dijemput oleh sopir. Kehidupan yang sempurna. "Anna, enak banget ya jadi kamu. Naik mobil mewah, populer, pinter juga. Aku iri deh." puji Safira. "Gak lah. Ada juga aku kali yang iri sama kamu. Hidup kamu itu menyenangkan dan bebas." ucapnya. "Mana mungkin kamu iri sama aku." Safira memperhatikan dengan saksama setiap sudut mobil Anna. Ia terlihat sangat terpukau dengan mobil milik Anna. "Eh, by the way. Rumah kamu yang mana?" tanya Anna. "Masih lurus. Sebentar lagi sampai kok." jawabnya. Mobil terus berjalan lurus mengikuti arahan dari Safira. Mereka terus mengobrol di sepanjang jalan. Akhirnya, mereka pun tiba di rumah Safira. Mobil pun terhenti. Safira pun segera turun dari mobil dengan perlahan. "Safira, sampai ketemu di sekolah." "Iya." Mobil berjalan maju lagi. Safira membuka pintu rumahnya perlahan, rumah ini terasa sangat sepi. Biasanya, setiap ia pulang sekolah, ibunya selalu bertanya 'Gimana sekolahmu?'. Kini, pertanyaan itu tak lagi terdengar di telinganya. Ia kini hanya bisa mendengar embusan angin. "Ibu, aku rindu akan suaramu yang selalu menanyakanku, kini suara itu hilang. Hanya tertinggal embusan." "Akankah suara itu kembali menyapaku? Aku harap akan begitu." Safira segera mengganti pakaiannya dan pergi mengajar les. "Sore, maaf ya kakak dateng ke sini sore, soalnya kakak harus sekolah dulu." "Gapapa kok, kak. Untuk soal ini gimana ya kak?" "Yang mana? Nomor 16?" "Iya, dengan yang nomor 17 juga kak." "Jadi, ini harus dikeluarkan dulu akarnya." Safira terus mengajari anak ini les. Ia tak pernah kenal mengeluh, ia hanya ingin kesembuhan dari ibunya. "Kak, sekarang kita belajar bahasa Inggris ya kak." ucapnya. "Iya, yang mana?" Anak itu memberikan buku catatannya kepada Safira, ia menunjuk soal yang ia kurang mengerti. "Jadi, untuk yang ini..., " Hari semakin larut, jam sudah menunjukkan pukul 20:40, Safira masih terlihat semangat untuk mengajari anak itu. "Aku udah ngerti sekarang, kak. Terima kasih ya." "Iya, sekarang udah larut malam. Kakak pamit ya. Kamu harus pahami lagi materi yang sudah kakak ajarkan ya. Sampai ketemu di les berikutnya." "Iya, kak." —Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN