"Malam semakin kelam, aku tak sanggup menghadapi kegelapan.
Yang ku nanti hanya cahaya pagi,
saat gelap tak lagi mengelilingi."
"Safira, bangun!"
Suara sapaan ibunya di setiap pagi mulai terdengar di telinganya.
"Safira, kamu harus berangkat ke sekolah sekarang, nanti telat loh!"
Safira terbangun. Ia terbangun dari mimpinya. Ia bermimpi melihat ibunya tersenyum bahagia bersamanya. Namun sayangnya, itu semua hanyalah mimpi, itu ilusi.
Ia menatap jam. Saat ini sudah pukul 06:15, saatnya ia untuk bangun dan bersiap untuk berangkat ke sekolah.
Ia segera bangun dan memasuki kamar mandi, ia menggosok giginya dan bersiap untuk sarapan. Ia memasak sarapan untuk dirinya sendiri. Ibunya saat ini masih berada di rumah sakit. Ia hanya dapat rindu, namun takkan dapat tuk bertemu.
"Ibu, aku rindu. Namun, itu semua hanya semu. Aku janji akan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya agar ibu segera keluar dari rumah sakit. Aku janji ibu." Safira meneteskan air matanya perlahan tanpa sengaja.
"Ibu...," isak Safira.
***
Hai diary,
Aku kini hanya tinggal sendiri, mengapa seperti ini? Aku tak berani, tidak berani tuk menghadapi sepi.
***
"You are the best mom for me."
"Aku sekarang harus berangkat ke sekolah, gak boleh sampai telat." ujar Safira pada dirinya sendiri.
***
"Pak!" teriak Safira.
Gerbang sekolah hampir saja ditutup saat itu juga. Namun, pak satpam menghentikan pergerakan tangannya. Ia kembali membuka gerbang sekolah untuk Safira. Safira memang tidak telat, hanya beberapa hitungan detik lagi, ia tak akan bisa memasuki sekolah.
"Untung kamu belum telat, ayo cepat masuk!" perintah pak satpam.
"Iya, terima kasih ya pak." ujar Safira.
Safira segera berlari memasuki gerbang dan berlari menuju ke kelasnya dengan cepat.
"Safira?" pertanyaan itu timbul dari bibir Anna saat itu juga.
Safira tepat memasuki kelas saat guru belum masuk ke dalam kelas. Ia melangkah maju perlahan dan duduk di bangkunya.
"Tumben telat, kenapa?" tanya Anna.
"Aku bangun kesiangan." jawab Safira terengah-engah.
"Untung guru belum masuk. Nanti ke perpustakaan bareng yuk!" ajak Anna.
"Iya. Eh, tumben ajakin aku ke perpustakaan. Biasanya ngajak ke kantin." ujar Safira merasa aneh.
"Karena...," Anna tak melanjutkan perkataannya.
"Apa hayo? Ada yang kamu suka di sana?" tanya Safira asal bicara.
"Hm...," Anna berdeham karena malu.
"Bener kan? Ya udah deh, kita ke perpustakaan." ujar Safira.
Anna tersenyum kegirangan karena Safira menuruti keinginannya.
Guru memasuki ruangan kelas.
"Anak-anak sekarang kita akan mempelajari Sistem Pencernaan Makanan, silakan dibuka buku materinya. Saya tidak akan menjelaskan dua kali, jadi tolong dengarkan dengan baik dan catat poin pentingnya." jelas guru.
"Baik, bu." jawab semua siswa berbarengan.
Semua siswa mulai mendengarkan penjelasan guru dan mencatat.
Jam pelajaran telah habis. Saatnya istirahat, yaitu saat untuk Safira dan Anna ke perpustakaan. Mereka segera bergegas keluar kelas dengan antusias.
"Kamu suka sama siapa?" tanya Safira penasaran.
"Yang pasti, aku suka liat dia di perpustakaan." jelasnya.
Anna tersenyum kegirangan. Hatinya bagai dikelilingi kebahagiaan.
Safira terlihat bahagia saat Anna tersenyum. Entah apa yang ia rasakan saat itu.
"Terima kasih telah membuatku merasa bahagia, Anna." gerutu Safira riang, "Entah mengapa, saat aku di dekatmu ketenangan mulai menghampiriku. Seketika, kerinduan terhadap ibuku terlupakan sesaat saat melihat senyummu." lanjutnya.
"Kau telah aku anggap menjadi temanku saat ini, jangan pernah tinggalkan aku, Anna."
Ia menatap Anna lagi dan lagi.
"Tapi, hari ini dia gak ada di perpustakaan. Apa aku telat ya." wajah Anna mendadak cemberut.
"Mungkin, kitanya aja yang datangnya ke duluan." ujar Safira menenangkan Anna yang terlihat murung.
"Mungkin sih." sahut Anna yang masih cemberut.
"Kita tunggu aja lah. Duduk sini." ajak Safira.
"Iya deh." jawab Anna sembari menampakkan wajah masamnya itu.
Mereka duduk di sebuah kursi yang memang diperuntukan untuk dua orang saja.
"Jangan cemberut terus dong, senyum dikit." ujar Safira.
"Males tau." sahut Anna kecewa.
Tak lama, terlihat seorang pria muda yang cukup tampan. Nampaknya itu adalah siswa kelas 12.
"Anna! Anna!" panggil Safira sambil menepuk-nepuk bahu Anna pelan.
"Apa?"
"Itu bukan?" tanya Safira memastikan.
Anna menoleh ke arah pria itu, ia mulai memperhatikan pria itu dari kepala hingga ujung sepatunya.
"Dia emang ganteng sih, tapi bukan dia orangnya." ucap Anna yang kembali cemberut.
"Mungkin dia hari ini gak berangkat sekolah. Kita balik ke kelas aja yuk!" ajak Safira.
"Iya deh." sahut Anna yang masih murung.
Mereka kembali berjalan. Di tengah-tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Ghea Marcela. Dia adalah kakak kelas yang terkenal sangat judes sekaligus galak. Ghea ditakuti oleh setiap adik kelas, terutama para siswi. Safira tak sengaja menabrak Ghea, hingga permen yang berada di bibir Ghea terjatuh ke lantai. Mata Ghea melebar, ia terlihat sangat kesal.
"Aduh, maaf banget ya kak." ucap Safira yang tanpa sengaja menabrak Ghea.
"Apa!? Maaf!? Enak aja ya Lo!" teriak Ghea memekik, "Lo harus ganti permen gue lah!" teriak Ghea.
"Apa? Ganti? Permen gini doang juga!" bentak Anna balik.
"Berani lo ya!?" teriak Ghea.
"Kenapa, miskin lo? Beli permen aja gak sanggup. Biasa malakin adek kelas lo ya!? Malu tau gak!" hina Anna.
Safira segera menghentikan Anna dan membawanya pergi, ia takut akan terjadi pertengkaran fisik di sana.
"Gak sopan banget sih tuh anak!" gerutu Ghea karena kesal.
"Anna adalah gadis yang pemberani, berbeda dengan diriku yang melihat seseorang saja, ingin menghilang dari dunia rasanya. Andai saja aku adalah dirinya." batin Safira.
"Safira, ke kantin aja yuk." ajak Anna.
"Oke. Mau makan apa emang?" tanya Safira.
"Terserah deh. Aku lapar banget soalnya." ucap Anna sambil mengelus lembut perutnya yang telah lapar.
"Ya udah deh." turuti Safira.
Mereka kemudian berjalan menuju kantin dengan perlahan. Sesampainya mereka di kantin. Ibu kantin pun menghampiri mereka.
"Mau pesan apa?" tanya Ibu kantin.
"Yang biasa aja, bu." jawab Safira sopan.
Anna terlihat murung, wajahnya muram karena tak bertemu dengan pria yang ia idamkan.
Di sisi lain, Rafa terlihat mendatangi Safira. Namun, Safira tak menyadari akan hal itu. Rafa tersenyum memandangi Safira yang terlihat cemas karena Anna yang begitu murung. Anna hanya cemberut dan tak ingin berbicara sepatah kata pun, berbeda dengan Anna yang selalu berbicara tanpa membiarkan orang lain memotongnya, Safira rindu Anna yang ceria seperti itu.
Safira hanya terus mengelus punggung Anna pelan karena cemas.
"Kamu yang sabar ya, Anna. Kan masih ada besok." ucap Safira menenangkan Anna yang masih murung.
Anna yang sedari tadi hanya diam, langsung menjawab perkataan Safira.
"Iya juga sih. Tapi, aku aja belum tau namanya. Tapi denger-denger sih, dia itu idola di sekolah ini." jelas Anna dengan penuh semangat.
"Idola? Kita kayaknya kurang gaul deh, baru tau sekarang. Karena sibuk belajar mulu kali ya" ujar Safira seraya terkekeh pelan, yang kemudian diikuti oleh Anna. Anna mulai menaikkan senyumannya. Ia terlihat ceria lagi seperti biasanya.Ya
"Aku senang melihatmu sebahagia ini."
"Udah ah, makan yuk. Udah pengen diisi nih perut." ajak Safira sembari mengelus perutnya pelan.
Anna yang melihat itupun tanpa sengaja melebarkan senyumannya. Safira yang melihat Anna pun ikut tersenyum juga.
"Senyummu menghilangkan sedihku."
***
"Anna, kamu segitu terkenalnya ya. Aku iri deh sama kamu." ujar Safira tiba-tiba, membuat Anna yang tengah minum langsung tersedak.
"Eh, Kok kamu jadi batuk-batuk gitu sih? Hm, aku salah ngomong?" tanya Safira khawatir akan keadaan seseorang yang peduli padanya itu.
"Engga, aku cuma kaget aja. Kok kamu bisa bilang gitu, kamu gak perlu iri sama aku. Yang ada, aku kali yang iri sama kamu. Hidup kamu itu bebas." ujar Anna.
Safira hanya tersenyum mendengar ucapan Anna barusan.
"Gak mungkin lah kamu iri sama aku. Kamu ada-ada aja deh" ujar Safira.
Tak lama, ada seseorang yang menghampiri mereka.
"Kak Anna, aku salah satu pengikut Kakak. Boleh minta foto bareng gak? Aku penggemar Kakak." ujar salah seorang siswa kelas 10.
"Iya, boleh banget." sahut Anna menuruti.
Safira hanya tersenyum tipis. Ia takkan pernah dianggap ada di sana.
"Kakak cantik banget yah aslinya." puji orang itu.
"Makasih loh pujiannya." balas Anna.
"Tuh kan, sampe segitunya orang minta foto sama kamu. Kamu itu ya udah cantik, pinter, baik, terkenal, kaya lagi. Idaman banget." puji Safira.
"Engga gitu juga, Safira. Yang kamu lihat, belum tentu begitu nyatanya." ujar Anna yang membuat Safira terkekeh pelan.
"Kata-kata kamu...," Safira menghentikan ucapannya saat mendengar bel masuk telah berbunyi.
"Udah masuk, cepet banget sih." gerutu Anna.
Mereka bergegas memasuki ruangan kelas. Di sana terlihat guru kimia tengah berjalan memasuki kelas.
"Anak-anak, tugas yang bapak suruh untuk kerjakan sudah selesai?" tanya Pak Guru.
"Belum, Pak."
"Perasaan gak ada tugas deh Pak."
"Bukannya gak ada tugas ya Pak?"
"Saya ada urusan, Pak. Gak sempet ngerjain."
"Tugas yang itu ya, Pak. Haduh, belum lagi."
"Banyak sekali alasan kalian! Selalu membuat saya kesal. Anna, Safira, sudah dikerjakan tugasnya?" tanya Pak Guru dengan nada lembut.
"Sudah kok, Pak. Tinggal di koreksi." jawab Anna dengan memberikan senyuman.
"Saya juga sudah, Pak." lanjut Safira.
"Ini nih juara sekolah kita, tidak seperti kalian yang kerjanya hanya bermalas-malasan saja. Mau jadi apa kalian ini?" ujar Pak Guru.
Jam pembelajaran sudah berlalu selama 120 menit, bel pulang telah berbunyi. Semua siswa segera keluar dari ruangan kelas. Safira dan Anna terlihat berjalan ke arah parkiran.
Tak lama, Anna menepuk bahu Safira.
"Safira, kita belajar kelompok di rumah aku yuk. Gak perlu belajar kelompok juga sih. Main aja juga gapapa." ajak Anna yang menatap riang ke arah Safira. Safira terdiam sejenak tuk memikirkan jawaban yang harus ia katakan saat itu juga.
Anna menjentikkan tangannya ke depan mata Safira. Yang nampak masih diam pada posisi berdirinya.
"Hei! Kok diem?" teriak Anna.
Safira mengerjapkan matanya beberapa kali, hingga akhirnya ia tersadar dari lamunannya.
"Bisa sih kayaknya." sahut Safira yang kaget karena ulah Anna.
"Oke. Kalo gitu aku pulang duluan ya. Kamu beneran gak mau pulang bareng sama aku, Safira?" tanya Anna seraya menatap kukunya yang terlihat indah dengan perpaduan warna merah muda dan putih.
Safira menggelengkan kepalanya pelan. Anna lanjut berjalan ke arah mobilnya.
"Anna, belajar kelompoknya kapan?" Bibir Safira tiba-tiba mengeluarkan pertanyaan itu.
Anna dengan cepat menoleh ke arah Safira dan mulai menggerakkan bibirnya untuk menjawab pertanyaan itu.
"Sabtu atau minggu. Pokoknya kalo kamu gak sibuk aja, intinya sebisa kamu lah kapan. Aku pulang ya, dah!" ujar Anna seraya melambaikan tangannya.
Safira menganggukkan kepalanya dengan pelan. Anna pun segera memasuki mobilnya dan melambaikan tangan serta tersenyum pada Safira.
"Anna, kamu kenapa mau kenal sama orang seperti aku sih? Aku heran sama pemikiran kamu." batin Safira.
Safira yang baru saja ingin melangkah maju, seketika langsung menghentikan langkahnya karena mendengar seseorang baru saja memanggil namanya.
"Safira!" ucap orang itu sembari ngos-ngosan, "Kamu bisa bantu aku gak?" sambungnya.
"Bantu apa? Harus banget aku emang?" tanya Safira heran.
—Bersambung...