Episode 5

1726 Kata
"Bantu apa?" "Tolong ambil bola basket di gudang, soalnya anak kelas 12 bakal latihan basket sekarang. Aku harus latihan cheers. Jadi, aku gak bisa ke gudang sekarang. Tolong bantu aku yah. Please!" mohon siswa kelas 12 itu. "Tapi ini udah jam pulang." tolak Safira secara halus. "Tolongin banget deh ya. Udah ya, aku harus buru-buru." ujarnya yang kemudian berlari. "E-eh!" Safira berteriak, namun tak digubris. Safira sepertinya hanya bisa menuruti perintah dari kakak kelasnya itu. Ia kemudian bergegas untuk menuju ke gudang. Gudang itu terlihat berdebu, sepertinya tak pernah dibersihkan. Safira beberapa kali batuk di gudang itu. Ia mencari di mana letak bola basket itu. Tiba-tiba, dari luar pintu gudang terlihat Rafa tengah menatap jam di tangannya, kemudian melangkah maju memasuki gudang dengan santai. Safira yang tengah mencari bola tanpa sengaja menginjak lantai yang basah, lantai itu licin. Setelah memasuki gudang, Rafa langsung melihat Safira yang sedikit lagi menginjak lantai basah itu. Rafa pun tak tinggal diam saat mengetahuinya. Ia segera berlari dan menarik tubuh Safira ke dalam pelukannya. Safira terperanjat dan melebarkan matanya. Ia menatap wajah Rafa yang terlihat penuh akan rasa khawatir. Safira yang menyadari siapa orang yang telah menolongnya pun langsung sedikit menjaga jarak. Ia tahu Rafa adalah idola di sekolah itu, Safira tidak cukup percaya diri. Ia takut akan menjadi bahan pembicaraan satu sekolah. Hal itu akan berdampak buruk pada Rafa nantinya, ia tak ingin hal itu terjadi. "Makasih ya kak. Hampir aja aku jatuh tadi." ujar Safira dengan menundukkan kepalanya. "Iya sama-sama. Ngomong-ngomong, kamu ngapain di sini? Bukannya udah jam pulang sekolah ya?" tanya Rafa sembari menyeka keringat yang berjatuhan di dahinya. "I-itu ... A-anu ...," jawab Safira terbata-bata, tubuhnya terlihat mulai gemetar, entah apa yang terjadi padanya saat itu. "Apa? Kamu kenapa?" tanya Rafa sembari mendongakkan wajah Safira. Safira menatap wajahnya sesaat, lalu memalingkan wajahnya. "Aku di suruh buat ambil bola basket. Untuk anak kelas 12 yang lagi latihan." sahut Safira dengan nada bicara yang cukup cepat. Mereka masih berada pada posisinya masing-masing. Rafa hanya bisa melihat rambut gadis itu, wajahnya tertutup karena menunduk. "Bolanya mana?" tanya Rafa lagi. "B-belum ketemu kak." sahut Safira yang masih tidak berani untuk menatap wajah Rafa. Tanpa mereka berdua sadari, tiba-tiba saja pintu gudang tertutup dengan kencang. Sepertinya seseorang mengunci pintu gudang. Rafa yang mendengar hal itu segera berlari menuju pintu gudang dan berteriak. "Hei! Kok dikunci sih!? Buka!" teriak Rafa seraya memukul pintu itu dengan kuat. Namun, tak ada hasil. Karena pintu gudang itu sangat kuat. "Ergh!" pekik Rafa. Safira lagi-lagi hanya diam tak mampu mengucapkan sepatah kata apapun. "Siapa sih yang kunci pintunya barusan!? Ergh!" pekik Rafa kesal. "Kak, gimana kalo kita cari jendela atau apa gitu untuk keluar? Kalo lewat pintu gak akan bisa." saran Safira yang memberanikan diri untuk berbicara dan menatap wajah Rafa. Rafa yang mendengar perkataan Safira pun langsung menoleh, mata mereka langsung bertemu. "Jendela? Di mana?" tanya Rafa yang mulai cemas. "Kakak jangan cemas dulu. Aku yakin kita pasti bisa keluar dari sini kok. Yang pertama, kita harus tenang dulu." ujar Safira seraya menarik dan membuang napasnya perlahan. Rafa yang melihat hal itu pun segera menuruti Safira. Rafa menarik dan membuang napasnya dengan perlahan. Rafa terlihat mulai tenang, Safira kemudian berkeliling di gudang itu. Namun, tak membuahkan hasil. Mereka tak menemukan jendela yang terbuka, semua jendela tertutup oleh kayu yang dipaku. "Gak ada. Terus kita harus gimana?" tanya Rafa kembali cemas. Safira terlihat tengah memikirkan cara untuk dapat segera keluar dari gudang itu dengan cepat. "Wait, Kakak bawa handphone kan?" tanya Safira sembari menatap Rafa. "Iya. Oh iya, kita hubungin guru olahraga. Sebentar." Rafa segera mengambil ponselnya yang berada di saku celana dan dengan cepat menghubungi guru olahraga. Safira terlihat menggerak-gerakkan bibirnya. Ia terlihat deg-degan saat berada di dekat Rafa. Namun, panggilan Rafa tak diangkat sama sekali. Sepertinya guru olahraga itu sedang tidak berada dekat dengan ponselnya saat itu. Raut wajah Rafa terlihat kembali kesal. Ia duduk di sebuah kursi yang terlihat berdebu. Safira mendekati Rafa dan mengelus punggungnya pelan. "Sabar ya kak. Aku yakin kita bisa keluar. Kita harus optimis!" ujar Safira untuk menyemangati Rafa. Sebuah senyuman kecil mulai nampak dari wajah tampan Rafa. Ia mengangguk pelan. Safira pun ikut duduk di kursi yang berdebu itu. Mereka hanya terdiam, keduanya tak ada yang memulai percakapan. Gudang itu sangat sunyi. Namun, Safira tidak dapat membohongi perasaannya, ini adalah saat yang menyenangkan untuk dirinya. Lalu, bagaimana dengan perasaan Rafa? "Kalian ngapain disini!?" pekik salah seorang siswa kelas 12 yang tengah latihan basket. Safira dan Rafa yang sedari tadi terdiam diri, tidak menyadari bahwa seseorang dari luar telah berhasil membuka pintu gudang. "E-eh, kita ga ngapa-ngapain." Rafa segera berdiri dan dengan cepat berlari keluar dari gudang itu. "Kamu juga ngapain masih di sini!? Ini kan udah jam pulang sekolah, keluar sana!" teriak siswa itu. "I-iya kak." Safira keluar dari gudang itu dengan cepat. Ia juga berjalan keluar gerbang sekolah dan pulang ke rumahnya untuk berganti pakaian. Setelah itu, ia harus mengajar les. "Siapa sih yang kunci pintu gudang? Penasaran deh. T-tapi, aku kok seneng ya. Salah gak sih?" ujar Safira sembari tersenyum tipis. "Aduh, aku mikir apaan sih? Ada-ada aja deh." ujar Safira sembari memukul kepalanya pelan. Safira berjalan sembari memainkan tas yang ia kenakan. Ia terlihat begitu ceria karena kejadian tadi. Entah apa yang ia pikirkan. *** "Tatapan matamu telah berhasil membuatku jatuh dalam khayalanku." "Safira, mikirin apa sih!? Aku kan harus ngajar les sekarang. Aku siap-siap dulu deh." ujarnya, "Semoga uang untuk ibu secepatnya terkumpul." lanjut Safira. Kring... Kring... Kring... Nada dering ponsel Safira berbunyi, nomor yang tengah menghubunginya tak bernama. Ia segera mengangkat panggilan itu. "Halo, Fira?" suara itu samar-samar menyapa Safira. "Iya, ini siapa ya?" tanya Safira mulai penasaran. "Kamu pasti lupa ya?" tanya suara itu sekali lagi. "Maaf, tapi ini siapa ya? Saya bener-bener gak kenal." sahut Safira cepat. "Ini Om Andi." jawab suara itu yang membuat wajah penasaran Safira menjadi sebuah senyuman penuh keceriaan. "Om Andi? Apa kabar? Aku kangen banget loh. Udah berapa lama coba?" Safira tak henti melontarkan pertanyaan pada Om Andi. "Hei, tenang dulu. Om denger, Ibu kamu lagi sakit ya?" pertanyaan yang keluar dari bibir Om Andi membuat Safira yang mulanya tersenyum menjadi berubah murung seketika. Pertanyaan itu berhasil membuatnya terdiam, lemas tak berdaya. "Fira, Om salah ngomong ya? Kok kamu diem aja sih?" tanya Om Andi yang mulai gelisah. Tanpa sadar, air mata Safira kembali mengalir, menetes di tepat pipinya. "Gak apa-apa kok Om Andi. Bener, ibu lagi sakit sekarang." sahut Safira seraya menahan isakannya. "Hm, maaf banget ya. Om gak bisa nemuin kamu di sana dan gak bisa bantu keuangan kamu juga. Om juga di sini lagi butuh uang. Kamu yang tabah aja ya, Fira." perkataan itu seketika membuat Safira berhenti mengeluarkan air matanya. "Gak apa-apa kok Om. Maaf banget ya Om, aku harus matiin dulu teleponnya, soalnya aku masih ada urusan juga." ujar Safira segera memutuskan panggilan secara sepihak. Ia menarik napasnya perlahan untuk menenangkan dirinya. "Safira, kamu harus tenang! Harus semangat!" ujar Safira seraya menampilkan senyuman manisnya. Ia kembali berjalan. *** "Hai, adek." sapa Safira dengan senyuman manis terukir di wajahnya. "Kak Safira! Kangen deh, kita belajar lagi yuk kak." anak itu membalas senyuman Safira. "Iya, kamu kesulitan di pelajaran apa sekarang? Matematika lagi? Bahasa Inggris?" tanya Safira mulai semangat. "Aku kesulitan di soal yang ini, yang nomor 27. Padahal udah aku coba pakai rumusnya tapi tetap saja gak ketemu jawabannya, Kak." keluh anak itu. "Kamu harus ubah ke bentuk ini dulu, liat deh contohnya, kamu kurang tambah ini. Udah paham sekarang? Coba deh kamu kerjain lagi." jelas Safira. "Oh iya kak, aku kerjain dulu deh ya." ujar anak itu bersemangat. "Semua perjuangan kerasku ini hanyalah untukmu, Ibu." batin Safira. "Ini bener gak kak jawabannya? Tapi, aku masih belum mengerti bagaimana cara mendapatkan jawaban ini." ujar anak itu seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ini itu hasil dari sini, kamu juga salah di sini. Coba kerjain lagi deh. Kamu coba inget cara yang ini, lebih gampang buat diinget." ujar Safira. "Oh gitu ya kak. Ngomong-ngomong, Kakak udah punya pacar belum sih?" tanya anak itu secara tiba-tiba. "Loh, kok kamu nanya gitu?" tanya Safira balik. "Gapapa sih kak, aku cuma penasaran aja." ucap anak itu. Anak itu memang sudah cukup akrab dengan Safira, karena Safira mengajar dengan ramah dan penuh kesabaran. Ia bukan guru les yang galak, jadi tidak heran jika ia dengan mudahnya menjinakkan hati anak-anak. Namun, apakah kebaikannya juga akan mampu menjinakkan hati seseorang yang ia cinta? "Hm, kakak udah makan belum?" tanya anak itu lagi. "Makan? Belum sih, Kakak langsung ke sini habis pulang sekolah." jawab Safira jujur, "Oh iya, ibu kamu gak ada di rumah? Kok dari tadi sepi sih?" lanjut Safira. "Iya kak, ibu lagi ada arisan. Kakak mau ini gak?" ujar anak itu seraya menjulurkan sebuah kotak berisi makanan. "Apa ini?" tanya Safira. "Tadi aku dikasih itu sama temen aku, tapi aku udah kenyang. Kakak makan aja, jangan laper-laper, nanti sakit loh kak." ujar anak itu bijak. "Iya, makasih ya." ujar Safira sambil tersenyum. "Sama-sama, Kak Safira." balas anak itu dengan bersemangat. "Hm, kak...," ujar anak itu, namun ia terhenti karena ibunya pulang. "Kamu mau bilang apa tadi?" tanya Safira penasaran. "Eh, Safira. Kamu udah dateng ke sini? Udah makan belum?" tanya ibu. "Hm, iya bu. Ini baru mau makan bu." jawab Safira dengan senyuman. "Ya udah, kalo gitu ibu ke belakang dulu ya." ujar ibu itu. "Oh iya, kamu tadi mau bilang apa sama Kakak?" tanya Safira yang masih penasaran. "Gak jadi deh kak, kapan-kapan aja." ujar anak itu. "Ya udah deh, kita sampe mana tadi? Jadi, kamu udah ngerti buat yang nomor ini?" tanya Safira lagi. "Sekarang yang nomor 32 kak, aku belum ngerti cara buat cari hasilnya." ujar anak itu penuh rasa keingintahuan yang tinggi. "Sebentar, untuk yang ini...," *** "Aku hanya ingin ada seseorang yang dapat mengerti posisiku saat ini." *** "Anna, Papah dapat laporan kalau kamu itu lagi dekat dengan orang yang status sosialnya berbeda jauh dari keluarga kita. Apa itu benar!?" teriak Papah kasar. Namun, Anna tak menggubris perkataan Papahnya sedikitpun, ia tidak peduli sama sekali dengan apa pun yang dikatakan oleh Papahnya, karena itu pasti hanya ocehan yang dapat membuatnya kesal. "Anna! Jawab Papah! Jawab Anna!" teriak Papah semakin keras. "Terus, kenapa? Apa salahnya, Pah!?" tanya Anna balik dengan nada cukup keras. Ia menatap Papahnya sesaat, lalu dengan cepat menaiki tangga menuju kamarnya. "Apa salahnya kamu bilang!? Hah!?" bentak Papah kasar. —Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN