"Terus, kenapa? Apa salahnya, Pah!?"
"Anna, kamu gak mikir apa? Kalo reputasi kamu menurun gimana!? Kamu gak peduli sama popularitas kamu apa!? Hah!?" teriak Papah seraya mengikuti jalan Anna.
"Aku gak peduli, Pah!" pekik Anna yang berhenti berjalan. Ia menoleh ke Papahnya.
"Gak peduli? Pokoknya kamu harus jauhin anak itu, secepatnya!" perintah Papah, "Dan, satu lagi! Kamu jangan sibuk main-main. Kamu harus dapat peringkat satu lagi di semester ini. Jika turun, Papah akan memberikan kamu hukuman yang berat!" lanjut Papah.
Anna mengepalkan tangannya, ia memalingkan wajahnya dan segera masuk ke kamarnya.
"Anna! Ingat kata Papah barusan!" teriak Papah.
***
"Non, sudah waktunya makan siang." ujar Pelayan memperingati.
"Bawa ke kamar aja, bi. Aku males turun ke bawah." ujar Anna yang tengah sibuk membalik dan membaca halaman di buku mata pelajarannya.
"Baik, non." sahut Pelayan itu.
Pelayan itu segera membawakan makanan untuk Anna. Ia meletakkan makanannya di atas meja belajar Anna. Di sana terlihat ada nasi dengan ayah goreng di atasnya disertai dengan jus mangga.
Anna segera menikmati makan siangnya. Ia sebenarnya sangat menyayangi Papahnya, namun terkadang, ia juga kerap kesal dengan perbuatan Papahnya yang sangat berlebihan dan sangat mengekang dirinya. Hanya Mamahnya lah orang yang memahami dirinya untuk saat ini.
"Anna, kamu gak mau makan bareng?" tanya Mamah yang memasuki kamar Anna tanpa permisi. Hal itu memang sudah biasa. Anna segera menoleh ke arah Mamahnya perlahan.
"Engga, Mah." sahut Anna dengan muka masamnya.
"Anna, perkataan Papah barusan itu gak perlu kamu masukin ke hati ya." ujar Mamah seraya mendekati Anna dan mengelus punggungnya, "Kamu sabar aja ya, Anna." lanjut Mamah.
Mamah kemudian keluar dari kamar Anna dan menutup pintu dengan pelan. Ia pun tak lupa memberikan senyuman tipis untuk putri kesayangannya itu. Anna pun membalas senyuman Mamahnya.
"Aku berharap hidupku sebebas orang lain. Tak perlu diatur seperti ini." batin Anna.
Duk!
Anna segera menoleh ke arah jendela kamarnya. Namun, ia terlihat sangat tidak peduli akan suara-suara yang mengganggu dirinya.
Duk!
Bunyi itu berulang. Sepertinya ada seseorang yang sengaja melempar sebuah batu kecil ke arah jendela kamarnya. Anna mulai berdiri. Ia melihat ke bawah jendela kamarnya. Terlihat seorang pria tengah berdiri di sana, tak lama pria itu menoleh ke arah Anna. Pria itu tak lain dan tak bukan adalah Rizki.
"Rizki, kamu ngapain!?" teriak Anna. Rizki hanya melambaikan tangannya seraya tersenyum menatap Anna.
Anna memutar bola matanya dan kemudian bergegas menuruni tangga kamar dan keluar dari rumahnya.
"Ngapain? Tau rumah aku darimana? Kok kamu bisa di sini sekarang?" serang Anna dengan tiga pertanyaan sekaligus.
"Satu-satu dong kalo mau nanya. Aku tau rumah kamu karena aku cari tau. Aku salah satu pengikut kamu loh." jawab Rizki seraya mengukir senyuman tipis di bibirnya.
"Oh, tapi jangan masuk ke dalem ya." ujar Anna secara tiba-tiba.
"Loh, kenapa?" heran Rizki.
"Papah aku gak suka aku bawa temen ke rumah, terutama cowok. Jadi, mending kita jalan-jalan aja kemana gitu." jelas Anna.
"Jalan-jalan kemana emang?" tanya Rizki yang mulai penasaran.
"Hm, ikut aku aja deh. Aku ganti baju dulu sebentar. Tungguin ya!" Anna segera berlari memasuki rumahnya dan berganti pakaian.
"Akhirnya, bisa jalan-jalan berdua bareng Anna." batin Rizki.
Anna terlihat tengah berjalan mendekati Rizki, ia terlihat sangat anggun saat mengenakan pakaian dan sepatu hak tinggi berwarna hitam dan putih dengan sebuah tas kecil berwarna hijau gelap.
"Ini yang kamu pakai waktu itu kan? Aku liat postingan kamu. Kalo liat langsung lebih cantik ya." puji Rizki.
"Apaan sih, udah ayo!" perintah Anna.
"Buru-buru banget sih, tuan putri." ujar Rizki.
"Udah deh ah. Nanti ketahuan Papah aku bisa diomelin panjang kali lebar." ujar Anna kesal.
"Maaf deh, ya udah yuk kita berangkat." ajak Rizki seraya mempersilakan Anna memasuki mobilnya yang berwarna merah terang itu.
"Kita mau kemana sih, Anna?" tanya Rizki masih penasaran.
"Ke tempat makan, ada deh. Tapi jangan kasih tau siapa-siapa tentang tempat ini ya. Tempat ini khusus buat aku aja, aku gak suka banyak orang yang dateng ke sana." jelas Anna.
"Iya deh yang banyak penggemar." sahut Rizki.
"Apaan deh. Udah cepetan!" ujar Anna kesal.
Mereka sampai di sana. Tempat itu sangat sederhana dan juga sepi dari pengunjung.
"Anna, kamu yakin mau makan di sini?" tanya Rizki memastikan.
"Yakin lah, emang kenapa? Kamu gak yakin?" tanya Anna balik.
"Yah aku sih ikut kamu aja deh. Aku yakin sama pilihan kamu." sahutnya.
Mereka segera duduk dan memesan. Tak jauh dari keberadaan mereka, terlihat Safira tengah membawa sebuah buku dan sepertinya ia berjalan mendekati Anna dan Rizki.
Anna menolehkan matanya, ia tersadar bahwa ada Safira di sana. Ia tidak ingin Safira berpikir macam-macam tentang mereka berdua, akhirnya Anna menarik lengah Rizki dan berlari ke arah mobil.
"Eh, makanannya belum habis." gerutu Rizki yang tengah lahap menikmati hidangannya.
Mereka bersembunyi di balik tanaman hijau yang ada di dekat tempat makan itu.
"Bu, saya mau nitip dagangan boleh gak? Nanti kalo laku saya nitip di sini lagi. Ini harga dari saya satunya 1.500 rupiah aja." ujar Safira.
Tak hanya menjadi guru les, Safira juga kini membuat kue untuk menambah penghasilannya.
"Boleh, nanti kalo misalkan mau nitip lagi di sini aja." ucap ibu itu.
"Makasih ya bu, kalo gitu saya permisi dulu." pamit Safira.
***
"Anna, itu bukannya temen kamu yang di perpustakaan kan?" tanya Rizki tiba-tiba.
"Iya, dia Safira." sahutnya.
"Ngapain harus sembunyi? Kamu pengen berduaan bareng aku di sini? Kotor tau." celetuk Rizki.
"Bukan gitu, udah ah. Ayo kita ke sana lagi." ajak Anna.
"Lah, kok kamu gak jelas banget sih." gerutu Rizki.
Mereka segera menghampiri hidangan itu dan menikmatinya.
"Kamu yakin ini bakal enak?" tanya Rizki tak percaya.
"Gak percaya? Cobain aja sih." sahut Anna.
"Iya sih, enak." ujar Rizki.
"Tuh, kan. Enak kan?"
Rizki hanya membalas pertanyaan Anna dengan sebuah anggukan yang berarti iya.
"Oh iya, kamu tadi ke rumah aku mau ngapain?" tanya Anna dengan cepat.
"Gak mau ngapa-ngapain sih, cuma pengen ketemu kamu aja." sahut Rizki seraya meminum teh manis yang ada di hadapannya.
"Oh, kirain ada hal penting." ujar Anna.
"Gak ada. Lagian, ngeliat kamu sama makan berdua gini kan hal penting buat aku." ujar Rizki.
"Apaan deh." kesal Anna.
"Anna, emangnya kamu suka belajar banget ya?" tanya Rizki.
"Iya. Kalo gak belajar aku bisa diusir dari rumah kali." jawab Anna.
"Kok gitu?" tanya Rizki lagi.
"Kamu banyak banget pertanyaan ya." ujar Anna mulai kesal.
Rizki hanya membalas dengan senyuman tersenyum.
"Maaf deh." ujar Rizki.
"Maaf mulu dari tadi, bosen. Hm, pulang yuk!" ajak Anna.
"Lah, kok sebentar banget sih? Kan aku masih pengen berduaan sama kamu." keluh Rizki.
"Kalo lama-lama nanti aku diomelin Papah. Udah yuk!" balas Anna.
"Papah kamu gak seru banget sih." gerutu Rizki.
Mereka segera menghampiri mobil Rizki dan menaikinya. Rizki pun segera mengendarai mobilnya secara pelan-pelan.
"Anna, kamu itu udah punya pacar belum sih?" tanya Rizki secara tiba-tiba. Anna menoleh ke arahnya.
"Kok nanya gitu sih?" kesal Anna.
"Ya, gapapa sih. Jawab aja lah." sahut Rizki.
"Gak ada, aku itu gak boleh pacaran. Yang ada diusir dari rumah." jelas Anna.
"Orang tua kamu serem banget ya, mainnya usir-usir." ujar Rizki.
"Ya, gitu deh." balas Anna.
Tak lama, sampailah mereka di rumah Anna. Di sana tak terlihat siapapun. Anna segera berjalan memasuki rumahnya. Tiba-tiba, Rizki menahannya dengan sebuah pertanyaan.
"Besok?" tanya Rizki.
"Apaan yang besok, Rizki?" tanya Anna balik dengan nada rendah.
"Jalan berduaan lagi." sahut Rizki.
"Hah? Aku sibuk, gak bisa." jawab Anna seraya memalingkan wajahnya dan masuk ke dalam rumah. Ia pun segera menutup pintu rumahnya sebelum Papah melihat dirinya.
"Anna...," ucapannya terhenti. Rizki segera memasuki mobilnya dan mengendarainya.
***
"Anna, dari mana aja kamu? Baru aja Papah bilang ke kamu untuk jangan sibuk main, Papah gak mau nilai kamu turun!" bentak Papah saat Anna mulai memasuki pintu rumahnya.
"Bukan urusan Papah ya aku mau ngapain aja!" teriak Anna.
"Anna!" teriak Papah seraya menarik lengan Anna dengan kasar hingga membuatnya tangannya memerah.
"Lepasin, Pah. Sakit!" teriak Anna kesakitan.
"Ngelawan kamu ya! Pasti ini karena temen kamu yang miskin itu kan!?" teriak Papah seraya mengangkat tangannya dan bersiap untuk melayangkan sebuah tamparan pada wajah mulus Anna.
"Tampar, Pah! Tampar aku!" jerit Anna seraya menatap Papahnya kesal.
Papah menghentikan aksinya.
"My life is my choice, not your choice! (Hidupku adalah pilihanku, bukan pilihanmu!)" pekik Anna lalu pergi menaiki tangga menuju ke kamarnya. Papah hanya dapat terdiam membeku.
Brak!
Anna menutup pintu kamarnya dengan kasar. Hingga membuat semua orang menjadi kaget.
***
"Rafa, kamu hebat banget ya." ujar Mamah.
"Bener, Mah. Kamu selalu saja mendapatkan nilai di angka 99 dan 100, harusnya kamu itu sekolah di luar negeri loh. Kenapa coba, kamu masih mau sekolah di Indonesia?" puji Papah pada Rafa.
"Engga gitu juga lah, Pah. Oh iya, Rizki mana Pah? Kok dari tadi kayaknya aku gak ada liat dia ya." ucap Rafa mulai khawatir pada adiknya.
Raut wajah Papah seketika mengerut, ia terlihat tidak ingin mendengar nama itu keluar dari mulut anak kesayangannya. Ia terlalu membenci Rizki.
"Kenapa sih kamu pakai acara nanyain dia segala? Kamu gak perlu terlalu peduli lah sama anak itu, dia juga gak ada tuh usaha buat Papah bangga." ujar Papah.
"Jangan bilang gitu lah, Pah. Walau bagaimanapun dia tetap adik aku dan anak Papah sama Mamah. Papah juga harus bisa menyayangi Rizki sama seperti menyayangi aku." ujar Rafa.
"Udahlah gak usah urusin dia. Mending urus anak kebanggaan Papah yang satu ini...," ucapan Papah terhenti saat Rizki memasuki rumah itu. Suasana menjadi senyap.
Rizki sudah tau hal ini akan terjadi. Ia hanya menatap Rafa, Papah, dan Mamahnya sesaat, lalu segera bergegas memasuki kamarnya tanpa berbicara sepatah kata pun.
Di dalam lubuk hati yang terdalam Rafa, ia sangat sayang pada adiknya. Namun, ia tak dapat berbuat apa-apa saat Rizki tengah dilempari dengan berbagai ocehan oleh Papahnya. Karena ia tak mungkin melawan kehendak Papahnya, ia hanyalah seorang anak yang harus berbakti pada kedua orang tuanya.
***
"Selalu aja gini, selalu karena aku. Selalu aku yang salah, yang gak dianggap, kenapa aku harus dilahirkan di keluarga ini sih!?" kesal Rizki, "Aku gak benci Kakak, aku cuma iri sama semua perhatian yang Kakak dapet, kasih sayang Papah, Mamah, bahkan semua orang cinta sama Kakak. Kenapa gak ada yang cinta sama aku? Peduli sama aku? Kenapa!? Segitu gak berharganya aku di mata orang-orang!?" lanjut Rizki dengan wajah yang memasam.
"Kapan ada orang yang peduli sama aku? Kapan ada orang yang mau nerima aku. Apa aku gak pantes buat dapetin semua kebahagiaan itu!? Apa cuma sakit hati yang bisa aku rasain seumur hidupku!?" ujar Rizki seraya menahan air matanya yang sepertinya akan menetes.
"Akankah kesedihan ini berganti keceriaan. Atau semua kebahagiaan akan tetap jadi khayalan?"
—Bersambung...