"Aku hanya membutuhkan perhatian, rasa cinta dan kasih sayang dari orang-orang di sekitarku."
***
Rizki selalu dibandingkan dengan Kakaknya sejak 7 tahun yang lalu. Komentar negatif Papahnya sudah menjadi makanan sehari-hari untuknya.
7 tahun yang lalu,
"Iki, mau main bareng kakak gak?" tanya Rafa dengan senyuman manis tampil sempurna pada bibirnya.
"Mau dong kak." sahut Rizki yang langsung segera mengikuti kakaknya.
"Rizki, Rafa, udah dulu mainnya. Kita sarapan dulu." ajak Mamah.
"Oke, Mah." ucap Rizki dan Rafa secara bersamaan.
"Oh, iya. Mamah denger nilai bahasa Inggris kamu 100 ya. Selamat ya, Rizki. Rafa juga, nilai kamu di Olahraga : 100, Bahasa Inggris : 98, Bahasa Indonesia : 100, Matematika : 97. Wah nilai ujian kamu di atas 90 semua. Selamat ya, Mamah bangga sama kalian berdua." puji Mamah dengan semangat.
"Nilai aku yang lainnya berapa, Mah?" tanya Rizki yang penasaran akan nilai yang tidak disebutkan oleh Mamahnya.
"Sebentar ya, nilai kamu di Matematika : 85, Bahasa Indonesia : 95, nilai Olahraga kamu 78." jawab Mamah.
"Wah, nilai kita bagus ya." ujar Rafa seraya tersenyum ke arah Rizki.
"Iya." sahut Rizki.
"Apa!? Kenapa nilai Matematika kamu 8!? Kenapa tidak 9!? Nilai Olahraga kamu juga rendah sekali, mau jadi apa kamu!?" bentak Papah yang tiba-tiba saja datang entah dari mana.
"Pah, itu nilainya bagus kok. Cuma perlu banyak belajar lagi. Gak perlu marah-marah gitu lah." ucap Mamah menenangkan Papah yang tengah berada di puncak amarahnya.
***
Papah tidak pernah puas dengan nilai yang di dapat Rizki di sekolah. Ocehan Papah sudah menjadi makanan sehari-hari Rizki di rumah.
"Rizki, kamu lagi ngapain sayang?" tanya Mamah dari balik pintu kamar Rizki. Mamah memasuki ruangan kamarnya.
"Sayang, kamu tadi habis dari mana? Cerita sama Mamah dong, mamah jadi pengen tau deh." ujar Mamah.
"Aku tadi habis dari rumah temen aja kok, Mah." jawab Rizki.
"Gak biasanya loh kamu main ke rumah temen." ujar Mamah.
Rizki memang tidak pernah main ke rumah seorang teman, karena ia menutup diri untuk bergaul dengan orang lain. Itu ajaran Papahnya, ia tidak boleh main. Belajar adalah cara bermain yang tepat untuknya.
"Lagi pengen aja, Mah." ujar Rizki datar.
"Ya udah kalo kamu gak mau cerita, gapapa. Oh iya, kamu udah makan belum? Makan dulu gih." ujar Mamah.
"Udah kok, Mah. Udah kenyang." sahut Rizki.
"Ya udah, kamu istirahat ya. Mamah mau keluar dulu. Kamu yang sabar ya, sayang." ujar Mamah seraya mengelus lembut rambut putranya.
"Iya, mah." sahut Rizki dengan senyuman tipis terpancar di wajahnya.
***
"Hm, kamu mau makan bareng gak?" tanya Anna pada Safira. Namun, Safira hanya membeku tak menjawab ajakan Anna.
"Safira, kamu kenapa sih!?" Anna mulai kesal dan berteriak.
"Eh iya, kenapa Anna?" Safira tersadar.
"Safira, kamu dari tadi ngapain sih? Ngelamun? Mikirin apa?" tanya Anna mulai cemas.
"Gak mikirin apa-apa kok. Aku cuma lagi capek aja." sahut Safira lemas.
"Makan yuk! Laper nih." ujar Anna.
"Yuk." turuti Safira.
Mereka segera berjalan ke arah kantin, namun langkah Anna tiba-tiba saja terhenti.
"Kok berhenti?" tanya Safira. Anna tak menggubrisnya.
"Anna! Kenapa!?" pekik Safira.
"Maaf, itu cowok yang aku suka." ujar Anna seraya menunjuk ke arah seseorang yang tengah sibuk dengan ponselnya.
"Itu...," ucapan Safira terhenti.
Orang yang ditunjuk oleh jari Anna tak lain adalah idaman para wanita di sekolah itu, Rafa Ardhan Mahendra.
"Kak Rafa?" tanya Safira memastikan.
"Kamu kenal? Ganteng kan?" Anna terlihat tersenyum penuh rasa bahagia.
"Iya." sahut Safira datar.
"Harapanku kini telah pupus, segalanya telah musnah. Aku hanya dapat membeku dalam kesedihanku, itu salahku, terlalu berharap padamu."
"Anna, dia pasti memilih bersamamu. Aku tahu akan hal itu"
"Oh iya, kita mau ke kantin kan? Maaf ya, aku lupa." ujar Anna seraya menarik tangan Safira ke arah kantin.
"Anna, jadi dia yang kamu ceritain kemarin? Dia cowok yang kamu suka?" tanya Safira memastikan.
"Iya, dia orangnya. Bantu aku dapetin dia ya." ujar Anna secara tiba-tiba.
"Hah? Iya...,"
"Hatiku sakit, namun aku pun tak dapat berbuat apa-apa. Hanya kepedihan yang dapat aku tahan. Apa sikap yang harus aku tampilkan? Kepedihan atau turut bahagia? Mungkin, langit tengah menyadarkan diriku. Sadar dari segala mimpi yang hanya akan tetap menjadi mimpi."
"Safira, kamu mau ke rumah aku kan? Besok kan minggu. Bisa kan ke rumah?" tanya Anna seraya tersenyum senang ke arah Safira.
"Bisa kok." Safira membalas senyuman Anna.
"Senyuman ini bukan tentang rasa bahagia, namun rasa pedih yang tak dapat terbuka."
***
Hai diary,
Mungkin aku bukanlah seseorang yang dapat memiliki dirimu, tapi aku berharap dapat selalu berada di dekatmu walau bagai angin yang berlalu. Takkan pernah menetap.
***
"Permisi!"
"Maaf, siapa ya?" tanya pelayan.
"Safira, temennya Anna di sekolah." jawab Safira sopan.
"Oh, masuk non. Non Anna masih di dalam kamar, bibi panggil dulu ya. Non duduk dulu di sini." ujar pelayan itu.
Safira segera duduk di sofa yang berwarna cokelat gelap itu. Tak lama, seorang wanita paruh baya menghampirinya.
"Kamu temen Anna ya?" tanyanya.
"Iya, Tante. Saya Safira." ujar Safira memperkenalkan dirinya pada ibu Anna.
"Mau minum apa? Kalian mau belajar kelompok ya?" tanya Mamah.
"Iya, Tante." sahut Safira singkat.
"Mungkin Anna bentar lagi keluar dari kamarnya, sabar ya. Dia memang jarang keluar kamar. Ibu ambilkan jus mangga, mau ya?" tawari Mamah.
"Gak perlu repot Tante. Aku air putih aja gapapa kok." tolak Safira sungkan.
"Gak perlu sungkan gitu dong, Tante ambilkan bentar ya, sambil nunggu Anna keluar dari kamarnya." ujar Mamah.
"I-iya deh Tante." turuti Safira.
Tak lama, Mamah segera membawakan minuman sejuk untuk Safira. Sesuai ucapannya, Mamah membawakan jus mangga.
"Jadi ngerepotin." ujar Safira.
"Engga kok. Oh iya, kamu berteman sama Anna sudah berapa lama?" tanya Mamah.
"Kalo berteman belum lama sih, Tan. Baru satu bulanan. Soalnya aku kurang deket juga sama orang di sekolah. Tapi kalo kenal, aku tau Anna udah lama. Soalnya kan dia terkenal di sosial media." jelas Safira.
"Gak juga ah. Lagian Anna juga gak pernah punya temen. Baru kamu yang dia bawa ke rumah, semoga kamu bisa jadi temen yang terbaik ya buat Anna." ucap Mamah.
"Iya, Tan...," ucapan Safira terhenti saat melihat Anna mulai menuruni tangga secara perlahan.
"Safira, Hei! Kamu beneran dateng ke rumah aku, aku pikir kamu gak bakalan dateng loh." ujar Anna.
"Tante tinggal dulu ya." ujar Mamah seraya meninggalkan Safira dan Anna di ruang tamu.
"Aku dateng kok, soalnya aku lagi gak sibuk." ucap Safira.
"Ke kamar aku aja yuk." ajak Anna seraya menarik lengan Safira dan membawanya ke kamar.
"Duduk di sini." Anna menepuk kasurnya lembut, mempersilakan Safira mendudukinya.
"Iya." turuti Safira.
"Kita kapan sih mulai sedeket ini? Kamu biasanya gak mau deket sama aku." ujar Anna dengan wajah cukup kecewa.
"Bukannya gitu, kamu kan cewek populer di sekolah. Sedangkan aku, cuma orang yang kayak gak ada. Mana mungkin aku bisa jalan bareng kamu." ujar Safira merendah.
"Jangan bilang gitu lah. Lagian aku gak pernah milih-milih temen kok." ujar Anna.
"Hm, aku mau tanya sesuatu sama kamu." ujar Safira tiba-tiba yang menimbulkan tanya di benak Anna.
"Apa?" tanya Anna mulai penasaran.
"Kamu kenal Kak Rafa kapan? Kok kamu bisa suka sama dia?" tanya Safira penasaran.
"Jadi, ceritanya itu...,"
3 hari yang lalu,
"Tolong! Buka! Siapa yang kunci pintu toilet sih!?" pekik Anna.
Brak!
Pintu toilet terbuka, dan orang yang membukakan pintu itu tentu saja Rafa, seorang pahlawan yang muncul tepat pada saat dibutuhkan.
Jantung Anna langsung berdebar kencang saat melihat wajah Rafa dari jarak 5 sentimeter.
"M-makasih ya...," ucapan Anna terhenti saat Rafa membuka bibirnya.
"Lain kali hati-hati ya." Rafa segera pergi menjauh dari Anna. Anna masih menatap punggung Rafa dari kejauhan. Rasa cinta mulai tumbuh dalam hatinya semenjak saat itu.
***
"Ya ampun, kalian ketemunya gak terduga banget ya." ujar Safira yang masih menahan rasa pedih dalam dadanya.
"Iya kan, romantis banget gak sih? Dia tuh tipe aku banget. Kira-kira dia cocok gak sih pasangan sama aku?" tanya Anna tiba-tiba.
"Hah? C-cocok banget lah, kamu cantik dia ganteng. Pas banget kalo jadi pasangan." ujar Safira menambah kebahagiaan Anna.
"Non, sudah mau makan?" tanya pelayan.
"Belum deh, bi. Bentar lagi ya." sahut Anna.
"Iya, non." ucap pelayan seraya pergi meninggalkan Safira dan Anna.
"Oh iya, kita belajar biologi yuk. Aku ambil bukunya sebentar ya." ujar Anna seraya mencari buku paketnya.
"Iya." sahut Safira datar.
"Anna!" teriak Papah membuat Safira terlonjak.
"Anna, itu suara siapa?" tanya Safira.
"Itu Papah aku. Udahlah gak perlu didengerin." ujar Anna seraya memutar bola matanya karena kesal.
Tak lama, Papah memasuki kamar Anna tanpa mengetuk dan mulai mengeluarkan ocehannya.
"Anna! Siapa dia!? Kamu jangan sibuk main ya, belajar!" perintah Papah.
"Bukan urusan Papah! Keluar dari kamar aku sekarang, aku perlu belajar!" pekik Anna.
Safira hanya terdiam, ia bingung harus melakukan apa. Ia tak tau Papah Anna seperti itu, ia hanya tau Mamah Anna baik hati.
"Kamu! Keluar dari rumah saya!" bentak Papah seraya menunjuk ke arah Safira.
Safira yang melihat hal itu pun segera keluar dari kamar Anna dengan terburu-buru.
"Eh, Safira. Kok buru-buru, kenapa?" tanya Mamah yang kaget karena melihat Safira berlarian di tangga.
"Anna, kamu udah mulai membangkang sama Papah, itu semua gara-gara temen kamu yang status sosialnya rendah itu kan!?" teriak Papah kasar pada Anna.
"Safira, kayaknya Papahnya Anna lagi marah banget. Kamu mending sekarang pulang dulu ya, Tante bukannya mau ngusir loh." ujar Mamah.
"Iya, Tante. Aku permisi dulu ya." pamit Safira.
"Papah gak usah ikut campur sama urusan aku! Mau lakuin apa pun juga itu hak aku, Papah gak berhak buat larang pilihan aku! Keluar dari kamar aku sekarang!" pekik Anna.
Papah segera keluar dari kamar Anna. Namun, Papah dengan sengaja mengunci pintu kamar Anna dari luar dan membawa kuncinya. Saat Anna ingin keluar dari kamarnya, ia langsung tersadar bahwa Papahnya telah mengunci pintu kamarnya.
"Papah! Buka!" jerit Anna. Namun, tak ada seorang pun yang membukakan pintu itu untuknya.
***
"Papah, kamu yang udah kunci pintu kamar Anna? Kok kamu tega banget sih, Pah? Dia kan anak kita." ujar Mamah.
"Kamu jangan manjain dia ya, biarin aja dia dikunci. Biar dia itu gak berani membangkang Papah lagi." sahut Papah.
"Tapi gak gini caranya, Pah." ujar Mamah.
"Papah gak peduli!" bentak Papah kasar.
Papah segera pergi ke kamarnya tak peduli dan tak merasa bersalah atas perbuatan yang telah ia lakukan.
"Kamu tega banget sih sama Anna." ucap Mamah seraya meneteskan air matanya perlahan.
"Buka! Buka pintunya, tolong!" pekik Anna seraya memukul-mukul pintu kamarnya dengan kasar. Namun, tentu saja tidak ada yang dapat membuka pintu itu sekeras apa pun ia mencoba.
"Pah! Aku mohon buka pintunya!" jerit Anna seraya meneteskan air matanya. Menandakan rasa sakit tengah ia rasakan saat itu juga.
—Bersambung...