Episode 8

1726 Kata
"Mengapa ini harus terjadi padaku? Mengapa aku harus ada di dunia ini?" *** "Kenapa Papahnya Anna kasar banget ya? Oh iya, aku harus ngajar les kan sekarang. Aku langsung ke sana aja deh." ujar Safira berbicara sendiri. Ia kemudian berjalan ke tempat mengajar les. Ia sangat membutuhkan pundi-pundi rupiah. "Kak Safira!" sapa anak itu. "Hai, kita belajar apa sekarang?" tanya Safira. "Kak, aku mau ngasih sesuatu buat Kakak." ujar anak itu berbisik secara tiba-tiba. "Apa?" tanya Safira mulai penasaran. "Ini." anak itu memberikan sebuah kertas yang terlihat berisi sesuatu. "Apa ini?" tanya Safira lagi. "Kakak bukanya nanti aja pas udah sampe rumah. Sekarang Kakak simpen aja dulu." perintah anak itu. "Iya deh. Sekarang kita belajar apa?" tanya Safira. "Ini kak, tugas bahasa Inggris dan matematika nomor 26-32." ujar anak itu seraya menunjuk ke arah soal yang ia maksud. "Oke, kalo untuk yang nomor 26 kamu ini udah bener cuma salah di akhirannya aja, harusnya bukan kayak gini. Coba kamu liat Kakak, ingetin ya. Kamu udah mulai menguasai loh, tinggal banyak latihan aja." ujar Safira menyemangati. "Iya, Kak. Kalo yang ini?" *** "Heh! Ngelamunin apaan sih!?" ujar Rizki yang membuat Rafa terlonjak. "Iki, bikin kaget Kakak aja kamu tuh." ujar Rafa kaget. "Maaf Kak. Lagi mikirin apa sih? Kayaknya penting banget." tanya Rizki mulai penasaran. "Gak mikirin apa-apa kok." jawab Rafa mengelak. "Kakak udah punya pacar belum sih? Jawab jujur ya, aku gak bakal kasih tau Papah kok. Janji." ujar Rizki penasaran. "Pacar? Belum ada sih. Tapi, Kakak suka...," ucapan Rafa terhenti saat adiknya mulai mengoceh. "Kakak punya gebetan, siapa? Cantik gak? Inisialnya bukan 'A' kan? Siapa Kak?" Rizki melontarkan segala pertanyaan yang ingin ia ketahui. "Satu-satu kali nanyanya. Inisialnya ... Ada lah." ujar Rafa yang membuat Rizki semakin penasaran. "Kak, siapa?" tanya Rizki lagi. "Ada deh, kamu gak perlu tau." ujar Rafa. "Kakak ih." kesal Rizki. "Jangan cemberut gitu dong, nanti juga Kakak kasih tau kalo udah jadian." ujar Rafa. "Kelamaan." ujar Rizki kemudian pergi ke kamarnya. Rafa hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya karena melihat adiknya cemberut. "Apakah cintaku 'kan berbalas?" *** "Ini apa sih?" Safira kemudian membuka kertas yang diberikan anak itu. Ia membukanya dengan perlahan, ternyata isinya adalah uang tunai senilai 3.000.000 rupiah. Entah apa reaksi yang harus ia tampilkan. "Hah? Ini uang banyak banget. Apa aku balikin lagi aja ya, aku gak enak. Tapi kan, aku lagi perlu uang juga. Apa aku simpen aja ya uangnya?" Safira mulai bingung harus berbuat apa dengan uang yang ia genggam saat ini. "Aku simpen di rumah dulu aja kali ya. Urusan balikin atau gimana biar besok aja." ujar Safira seraya berjalan perlahan ke arah rumahnya. Sesampainya di rumah, Safira segera membersihkan segala ruangan yang ada di rumahnya tanpa terkecuali, ia menyimpan uang pemberian anak itu di bawah kasurnya. Ia berharap uang itu akan membantu pengobatan ibunya. "Kayaknya uang ini aku simpen aja deh. Kan lumayan untuk bantu biaya kemoterapi ibu. Semoga dengan uang ini, ibu cepat sembuh." ujar Safira. Safira kemudian memasak untuk makan malamnya. Makan malam tanpa ibunda tercintanya untuk kesekian kali, tentu membuat hati Safira terluka. Hanya rindu yang dapat dirasa. "Besok aku harus ke rumah sakit." ujar Safira pada dirinya sendiri. "Akankah badai berlalu begitu cepat? Apakah ini jalan menuju bahagia, atau cobaan yang lainnya? Aku masih belum mengerti ini semua." *** "Kenapa sih!? Kenapa aku harus lahir di keluarga ini!? Bukan keluarga seperti ini yang aku harapkan untuk menjalani kehidupan. Aku hanya ingin pengertian, bukan kemarahan. Aku hanya ingin pembelaan, bukan penenang." Anna masih meneteskan air matanya. Anna hanya dapat terisak. Teriakan tak berarti di rumah ini, jeritan takkan mengubah apa pun. Papah yang egois, Mamah yang hanya bisa diam, cobaan apa lagi yang harus ia rasakan? Haruskah kepergian menjadi jalan. "Mungkinkah aku harus menghilang dari dunia ini selamanya? Aku bosen hidup kayak gini, penuh kepalsuan. Kepedihan terus kurasakan." ucap Anna dengan perut mulai kelaparan. Kalian pikir Papah akan membukakan pintu untuknya makan? Tentu saja tidak, hukuman Papah tidak berhenti di situ. Siapa pun tidak boleh membuka pintu kamar Anna dengan alasan apa pun. Ia tidak peduli dengan apa pun tentang Anna jika amarahnya telah di ujung tanduk. Anna hanya dapat meratapi nasib malangnya. *** Safira tengah sibuk membaca buku catatannya di kantin, ia terlihat duduk sendiri. Sebab Anna tidak masuk sekolah. "Hei! Sendiri aja nih, satpam lo gak nemenin?" ganggu salah satu siswa. Safira hanya memandangi bukunya, ia tidak pernah mau peduli dengan lingkungan di sekelilingnya, sebab ia tak ingin mendapat masalah. "Heh!" teriak Ghea, ia menghampiri Safira karena melihatnya tengah duduk sendiri di kantin. Safira tak menggubrisnya sedikit pun. Ghea yang kesal pun langsung menarik buku catatan yang tengah berada di tangan Safira dengan kasar, ia melemparnya ke lantai. Tatapan para siswa kini terarah kepada mereka berdua. Safira segera mengambil bukunya yang berada di lantai, saat tangannya sedikit lagi menyentuh buku, Ghea segera menginjak buku itu. Kejahatannya telah ia mulai saat ini. Safira bangkit dan melebarkan tatapannya pada Ghea. "Balikin buku aku!" teriak Safira. "Apa? Balikin? Ambil aja sendiri." ujar Ghea dengan nada menghina. "Ghea! Minggir!" teriak Safira. "Gak mau, gimana dong?" ujar Ghea dengan tawaan kecil. "Ghea!" teriak Safira dengan lebih keras, namun hanya dibalas tawaan kecil oleh Ghea yang sama sekali tidak peduli terhadap Safira. Safira dengan cepat mendorong tubuh Ghea ke lantai, hingga menimbulkan suara. Bruk! Semua mata kini tertuju ke arah Safira yang dengan sengaja mendorong tubuh Ghea ke lantai. Safira segera mengambil bukunya dan kembali berdiri, ia mulai melangkahkan kakinya menuju kelas. Namun, Ghea dengan cepat bangkit dan menarik rambut Safira dengan kasar. "Awh!" teriak Safira kesakitan. "Berani lo dorong gue barusan!? Hah!? Lo harus gue kasih pelajaran!" ancam Ghea dengan jambakan yang semakin kasar. Ia menjatuhkan Safira ke lantai dan segera mengambil segelas minuman es teh manis yang ada di kantin, kemudian ia dengan sengaja menumpahkan segelas teh itu ke tubuh Safira. Teh itu mengenai rambut, wajah, serta seragam sekolahnya. Orang-orang di sekitar hanya dapat melihat kejadian itu, namun tak ada seorang pun yang berniat membantu Safira atau memisahkan mereka berdua. "Rasain lo!" hina Ghea. Tak berhenti di situ, Safira yang mulai berada di puncak amarahnya pun langsung menarik kaki Ghea dan menjatuhkannya ke lantai untuk yang kedua kali. Ia mengambil segelas minuman dan menumpahkan ke arah Ghea, seluruh seragamnya basah. Safira lalu membalikkan tubuhnya dan segera berjalan menuju toilet untuk membersihkan seragamnya. "Kurang ajar! Awas aja lo!" ancam Ghea. Namun, tak mendapat jawaban apa pun dari Safira. *** Saat tengah berjalan menuju toilet, Safira terhenti saat melihat Rafa menghampirinya. "Kok seragam kamu basah? Biar aku bantu lap ya." ujar Rafa cemas. "Gak perlu Kak, aku gapapa kok." sahut Safira seraya memasuki toilet wanita. Rafa hanya menunggu di pintu toilet, ia ingin mengatakan sesuatu pada Safira. Tak lama, Safira keluar dari toilet. "Kok masih nungguin sih Kak? Kenapa?" tanya Safira mulai penasaran. "Aku mau bilang sesuatu sama kamu." ujar Rafa. "Mau bilang apa, Kak?" tanya Safira penasaran. "Aku mau bilang kalau sebenernya...," ucapan Rafa terhenti saat bel masuk sudah berbunyi. "Udah bel masuk, aku pergi ke kelas dulu ya. Sampai nanti." pamit Safira. "Iya, sampai nanti." ujar Rafa seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Akankah perasaan cinta ini dapat tersampaikan pada ia yang kusuka?" *** "Safira, bapak ingin tanya sama kamu." ujar Kepala Sekolah. Saat itu, Kepala Sekolah memasuki ruangan kelas Safira karena ingin memberikan sebuah pengumuman. "Tanya apa, Pak?" tanya Safira. "Kok nilai kamu mulai turun ya kalo bapak liat-liat, apa kamu lagi ada masalah?" tanya Kepala Sekolah. "Engga kok, Pak. Mungkin saya kurang maksimal aja belajarnya, saya akan usahakan nilai saya naik lagi, Pak." ujar Safira mengelak. "Ya sudah kalau begitu, tapi jangan sampai semakin turun ya. Kalau nilai kamu makin turun, beasiswa kamu bisa dicabut dari sekolah. Jadi, kamu harus usahakan nilai kamu naik terus. Semangat ya." ujar Kepala Sekolah menyemangati, "Kalau begitu, bapak permisi, belajar yang rajin semuanya." pamit Kepala Sekolah. Safira mulai termenung, ia tengah pusing memikirkan ibunya dan sekarang ditambah dengan nilainya yang tiba-tiba menurun. Apa lagi usaha yang harus ia lakukan? *** "Pah, Anna kan harus sekolah." ujar Mamah. "Biarin aja, tunggu sampai dia minta maaf sama Papah. Papah gak akan bukain pintu kamar itu." ujar Papah. "Pah, Mamah mohon bukain pintu kamar Anna ya. Dia belum makan loh dari kemarin." mohon Mamah. "Engga, Papah tidak peduli sama anak itu." tolak Papah. "Pah...," "Cukup, Mah! Udah cukup kamu belain dia, dia gak pantes mendapat belaan. Ini semua karena ulah dia sendiri." ujar Papah seraya pergi meninggalkan rumah. "Pah!" teriak Mamah seraya menahan air matanya untuk menetes. *** "Setelah sampai rumah, aku harus ke rumah sakit. Aku antar uang itu untuk membiayai kemoterapi ibu. Semoga dengan uang itu, ibu bisa sembuh." ujar Safira berharap. "Hei!" sapa Rizki. Safira menghentikan langkahnya. "Ada apa ya?" tanya Safira. "Kamu temennya Anna kan?" tanya Rizki balik. "Iya, kenapa memangnya?" tanya Safira. "Kamu tau Anna lagi di mana sekarang? Kenapa dia gak masuk sekolah?" tanya Rizki cemas. "Kurang tau." ujar Safira. "Oh gitu, mau aku anterin gak?" tawari Rizki. "Gak perlu." tolak Safira, ia memang tidak bisa menerima bantuan dari orang lain. "Udah gapapa. Mau ya?" tawari Rizki lagi. "Ya udah." tolakan itu akhirnya menjadi penerimaan. Rizki segera membukakan mobilnya dan mempersilakan Safira naik. "Kamu suka Anna?" tanya Safira secara tiba-tiba. "Hm, bisa dibilang gitu lah." ujar Rizki. "Tapi, maaf banget nih ya. Anna udah suka sama orang lain." ujar Safira yang membuat Rizki terlonjak dan menghentikan mobilnya secara mendadak. "Kok berhenti sih?" tanya Safira kaget. "Anna suka sama siapa?" tanya Rizki secara tiba-tiba. "Hm, kamu tau lah cowok paling populer di sekolah." ujar Safira. "Jangan bilang, Kak Rafa orang yang dia suka." ujar Rizki. "Iya, Kak Rafa orang yang dia suka." ucapan Safira langsung membuat Rizki melebarkan bola matanya. Rizki mengembuskan napasnya. "Kenapa? Kamu yang sabar aja ya." ujar Safira seraya mengelus punggung Rizki secara perlahan. "Gak bisa, gak mungkin!" teriak Rizki tak terima akan ucapan Safira. "Tapi sayangnya, itu kenyataan." ujar Safira membuat Rizki semakin frustasi. "Hm, udah sampai. Aku turun ya. Makasih tumpangannya." pamit Safira seraya meninggalkan Rizki yang tengah dilanda patah hati. *** "Aku harus ambil uangnya sekarang...," Safira segera menghentikan ucapannya saat melihat ayahnya tengah menggenggam uang yang sepertinya adalah uang miliknya. "Ayah, itu uang yang ada di bawah kasur aku kan?" tanya Safira memastikan. "Iya, 3.000.000 rupiah." ujar Ayah seraya menampilkan senyumnya. "Ayah, balikin uangnya sekarang. Itu uang untuk pengobatan ibu." ujar Safira memohon. "Gak, ini uang untuk Ayah senang-senang." ujar Ayah dengan senyuman kecil. —Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN