"Ayah, aku mohon balikin uangnya sekarang. Itu untuk ibu." ujar Safira memohon lagi.
"Gak akan Ayah balikin. Ibu kamu juga gak bakal sembuh pakai uang ini. Ngerti kamu?" ujar Ayah.
"Ayah, tolong balikin." mohon Safira seraya meneteskan air matanya. Ia terisak.
"Gak bakal!" bentak Ayah seraya mendorong Safira yang sedari tadi menggenggam lengannya.
Ayah menjatuhkan Safira ke lantai dengan kasar. Kemudian, Ayah membawa seluruh uang itu dan meninggalkan Safira seorang diri.
"Ayah!" jerit Safira, namun tak mendapatkan balasan apa pun dari Ayah.
Ayah memang tidak peduli dengan ibu dan Safira, ia hanya peduli pada uang mereka. Saat perlu uang, ia akan kembali ke rumah. Namun, saat telah mendapatkan uang, ia akan kembali bersenang-senang tanpa mempedulikan anak dan istrinya.
***
"Sayang, kamu minta maaf ya sama Papah kamu. Papah cuma butuh maaf kamu aja kok, setelah itu Papah akan bukakan pintu kamar kamu." ujar Mamah berbisik dari balik pintu kamar Anna.
"Gak akan! Aku gak akan pernah minta maaf sama dia sampai kapan pun, dia yang harusnya minta maaf sama aku. Aku tersiksa karena dia, Mah." sahut Anna seraya menahan isaknya.
"Anna, kamu ngalah dong sama Papah kamu." ujar Mamah.
"Ngalah? Itu cuma buat orang lemah. Dia yang salah, dia yang harus minta maaf." ujar Anna bersikeras, "Oh iya, kenapa bukan Mamah aja yang buka pintu kamar aku? Mamah gak berani kan sama Papah, Mamah selalu dukung Papah. Kayaknya aku gak lebih penting ya dari pada Papah." kesal Anna.
"Anna! Jaga ucapan kamu! Dia itu Papah kamu!" bentak Mamah.
"Bukan! Dia bukan Papah aku!" jerit Anna.
"Anna, kamu dewasa sedikit dong." ujar Mamah.
"Dewasa? Udahlah Mah. Kalo Mamah gak peduli sama aku, ya udah. Aku juga gak butuh perhatian palsu Mamah." ujar Anna yang berhasil membuat Mamah kesal.
"Anna, jangan bicara seperti itu! Mamah ini orang yang melahirkan kamu!" teriak Mamah.
"Terserah. Aku gak peduli!" ujar Anna.
"Anna!" pekik Mamah.
***
"Rafa, kita akan mengadakan pertandingan basket antar sekolah menengah, tolong kamu siapkan anggota tim kamu. Kita harus menang melawan sekolah lain." ujar Guru Olahraga.
"Baik, Pak. Saya pasti akan memenangkan pertandingan basket lagi." sahut Rafa dengan penuh semangat.
"Semuanya kita harus mulai latihan dengan serius sekarang. Jangan ada main-main." perintah Guru.
"Baik, Pak." ucap seluruh siswa.
"Semuanya, kita harus menang di pertandingan basket nanti. Kita mulai latihan sekarang!" ujar Rafa.
Safira menghampiri Rafa, ia melihat tim basket latihan. Ia semakin terpuruk karena Ayahnya, hanya Rafa yang dapat ia temui saat ini.
"Sebentar ya." ujar Rafa pada timnya.
"Kak Rafa...," ujar Safira lemas.
"Safira, kamu kenapa?" tanya Rafa khawatir.
"Udahlah, gak penting. Aku cuma mau liat Kakak latihan basket kok." elak Safira.
"Hm, ya udah deh kalo gitu. Duduk di sana deh." ujar Rafa seraya menunjuk ke arah tempat yang memang diperuntukkan untuk seseorang duduk.
"Aku gak akan cerita ke Kak Rafa, aku takut bakal nyusahin dia. Lagi pula, aku gak boleh terlalu dekat sama Kak Rafa. Aku gak mau hubungan pertemanan aku sama Anna rusak cuma gara-gara hal ini." batin Safira.
Safira terlihat murung, ia hanya terdiam sedari tadi. Ia sesekali menundukkan kepalanya, hal itu membuat Rafa menghampirinya. Rafa terlihat mulai cemas akan keadaan Safira. Ia pun mengajukan sebuah pertanyaan.
"Safira, kamu lagi ada masalah? Cerita aja." ujar Rafa.
Safira mulai mengangkat kepalanya.
"Gak ada kok kak. Aku cuma kurang enak badan aja." sahut Safira mengelak.
"Kamu sakit? Mau ke UKS?" tawari Rafa.
"Engga perlu Kak. Kakak latihan aja, nanti juga enakan lagi kok badan aku." tolak Safira seraya memperlihatkan senyuman tipisnya.
"Ya udah, kamu baik-baik aja ya." ujar Rafa, kemudian melanjutkan latihan basketnya.
***
"Keluarga pasien ini terlalu lama memberikan biaya untuk administrasi, saya takut pasien ini tidak dapat tertolong lagi." ujar salah seorang dokter di rumah sakit.
"Mungkin keluarga pasien sedang dalam masalah krisis ekonomi, Dok." ujar dokter lainnya.
"Iya, semoga saja secepatnya biaya administrasi dapat segera di lunasi." ujar dokter itu.
"Dokter, apakah tidak terlalu lama kita mengambil tindakan? Saya khawatir pasien ini akan mengalami kondisi yang semakin parah." ujar dokter lainnya.
"Ya, mau bagaimana lagi? Keluarga pasien belum memberikan biaya administrasi sedikit pun. Kita tidak mungkin dapat mengambil tindakan untuk saat ini." ujar dokter itu.
"Semoga saja pasien dapat bertahan dalam waktu yang cukup lama ya, Dok." ujar dokter lainnya.
"Saya harap begitu." ujar dokter itu.
***
"Tunggu, apa aku harus lompat dari jendela kamarku? Anna, kamu harus berpikir realistis, jika kamu jatuh, kamu akan mengalami luka. Tapi, apakah ini jalan satu-satunya untukku keluar dari rumah ini? Kesempatan mungkin tidak datang dua kali." batin Anna seraya menatap serius ke arah jendela yang berada di kamarnya.
Ia pun segera menyiapkan kain yang ada di kamarnya untuk diikatkan di jendela agar ia tidak harus melompat saat turun ke bawah. Ia pun segera menuruni kamarnya melalui jendela dengan perlahan. Dan, hasilnya tidak sia-sia, ia keluar dari rumahnya dengan selamat. Ia pun segera meninggalkan rumahnya dengan membawa sedikit pakaian, peralatan sekolah, seragam sekolah, dan lainnya yang ia butuhkan. Tidak ketinggalan, ponselnya pun pasti ia bawa.
"Anna, kamu harus minta maaf saya Papah kamu!"
Ucapan itu selalu membayanginya. Mengapa ia yang harus minta maaf? Ini semua bukan salahnya.
"Sesusah itu untuk mengakui kesalahan, Pah?" batin Anna dengan kesedihan tengah terukir di wajah cantiknya.
***
Hai diary,
Apakah keadilan tengah dipakai di dunia ini? Jika iya, mengapa aku tidak dapat merasakan keadilan itu? Apakah aku tak berhak tuk mendapatkannya?
***
"Kepalaku kenapa mendadak pusing seperti ini? Rasanya ingin terjatuh saat ini. A-aku sudah tidak tahan...,"
"Safira!" teriak Rafa.
Semua orang bergegas membawa Safira ke ruang UKS.
"Safira kenapa ya?" tanya Rafa cemas.
"Dia cuma kecapekan aja, harus banyak istirahat. Dia juga terlalu banyak pikiran, tolong dikurangi." jawab orang yang memeriksanya.
"Baik, nanti saya sampaikan." ujar Rafa.
***
"Tapi, aku harus ke mana sekarang? Aku harus tinggal di mana mulai sekarang? Aku jalan dulu aja lah." ujar Anna seraya membawa tas.
Saat Anna sedang berjalan, dari kejauhan terlihat angkot tengah melintas. Ia pun segera menghentikan angkot itu.
"Angkot!" teriak Anna.
Anna pun segera menaiki angkot itu. Namun, di dalam sana tidak seperti yang Anna bayangkan. Di dalam angkot itu panas, sesak, dan bau dari orang sekitar sangat menyengat.
Tak lama, seorang pria muda mendekatinya.
"Cantik, mau jadi pacar Abang gak?" ujarnya seraya mengelus wajah Anna dengan tangan kotornya. Wajah Anna terlihat mulai kesal, namun ia tidak ingin menimbulkan keributan di dalam angkot itu.
"Diem aja nih, sapa kali...," belum selesai pria itu berucap, Anna yang semakin kesal langsung memukul wajah pria itu dengan kasar.
"Bisa diem? Ganggu!" ancam Anna. Ia kembali duduk di tempatnya. Pria itu kini terlihat diam dan pindah tempat duduk.
***
"Safira, udah sadar?" tanya Rafa saat Safira mulai membuka matanya dengan perlahan.
"Kak, kok aku bisa di sini?" tanya Safira penasaran.
"Tadi kamu pingsan, jadi aku dan temen-temenku bawa kamu ke sini. Udah, kamu istirahat aja ya." ujar Rafa perhatian.
"Iya, makasih Kak." ujar Safira.
"Sama-sama." balas Rafa.
***
"Kost?" Seorang Anna kost?
"Per bulannya berapa ya, Bu?" tanya Anna seraya menatap isi dompetnya.
"850.000 rupiah, ini yang termurah di sini." ujar ibu kost.
"Kalo bayarnya akhir bulan bisa Bu?" tanya Anna lagi.
"Bisa, tapi harus ada DP-nya dulu ya." ujar ibu kost.
"Iya, Bu. Ini 500.000 rupiah." ucap Anna seraya memberikan uang dari dompetnya. Terlihat, di dalam dompet hanya tersisa selembar uang kertas.
"Baik, saya terima ya. Ini kuncinya." ujar ibu kost seraya memberikan kunci kamar kost padanya.
"Iya." singkat Anna.
Anna pun segera memasuki kamar itu dan langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk itu. Ia lelah dan lapar.
"Apa aku cari makan sekarang?" tanya Anna pada dirinya sendiri. Ia memang lapar sejak kemarin.
Tak jauh dari kost-an nya ada sebuah rumah makan, nampaknya hidangan di sana harganya murah. Ia yang lapar pun segera mendatangi rumah makan itu dengan uang yang ia punya.
"Mau makan apa?" tanya penjual.
"Apa aja deh, yang harganya di bawah 20.000 rupiah." sahut Anna.
"Baik, saya siapkan ya. Kamu duduk di sana. Oh iya, kamu baru pindah ke sini ya? Soalnya saya baru liat kamu sekarang." ujar penjual.
"Iya, saya baru aja sewa kost di depan." sahut Anna.
"Ini pesanannya. Di sini semua makanannya murah kok, tenang aja." ujar penjual.
"Iya. Ibu jualan di sini udah lama?" tanya Anna memulai topik pembicaraan.
"Udah lama, dari jaman ibu SMA. Ibu bantu orang tua jualan, sekarang ibu yang nerusin rumah makan ini. Oh iya, ini minumnya." ujar penjual seraya memberikan segelas air putih pada Anna.
"Tapi, kalo kamu kost di depan hati-hati loh ya, soalnya kalo malam suka banyak preman lewat buat gangguin perempuan. Ibu saranin kalo keluar jangan malam-malam." peringat penjual.
"Emangnya di sini rawan ya Bu?" tanya Anna mulai penasaran.
"Iya, rumah makan saya saja sudah saya tutup dari jam 5 sore, saya gak mau buka malam-malam. Takut ada preman-preman atau orang jahat berkeliaran." jelas penjual.
"Iya, Bu. Saya pasti hati-hati kok. Oh iya Bu. Semua berapa ya?" tanya Anna setelah selesai menikmati semua hidangannya.
"Udah, kamu gak usah bayar. Anggap aja ini sebagai ucapan selamat datang. Lagi pula, jarang anak baru yang mau ngobrol sama ibu." ujar penjual.
"Masa sih Bu? Memang harga termurah kost di sana 850.000 rupiah ya Bu?" tanya Anna memastikan.
"Iya, memang mahal kok. Udah lama harganya segitu, dulu sih 800.000 rupiah aja, tapi naik. Ya, namanya juga untuk kebutuhan ekonomi. Oh iya, kamu kuliah? Atau sekolah?" tanya penjual.
"Saya kelas 11 SMA." jelas Anna.
"Oh, masih SMA toh? Saya kira sudah kuliah." ujar penjual.
"Belum, Bu. Hm, kalau begitu saya permisi ya Bu. Soalnya pengen beresin barang-barang dulu." pamit Anna seraya bangkit dari duduknya dan bergegas ke arah kostnya.
"Iya, sering-sering ke sini." ujar penjual.
"Pasti Bu." sahut Anna.
"Duh, aku capek banget. Aku harus istirahat, besok aku ke sekolah seperti biasa." ujar Anna pada dirinya sendiri.
"Adil? Apakah itu masih ada? Karena aku tak pernah tahu rasanya."
***
"Anna, kamu kok dari tadi gak jawab Mamah sih? Kamu kenapa sayang?" tanya Mamah seraya mengetuk pintu kamar Anna.
"Anna ke mana ya? Apa jangan-jangan dia lagi kenapa-napa? Pah! Sini!" teriak Mamah memanggil Papah.
"Ada apa sih, Mah? Malam-malam begini teriak-teriak?" tanya Papah kesal.
"Pah, anak kita ... Dia dari tadi gak jawab aku. Aku takut dia kenapa-napa, dia kan belum makan dari kemarin. Buka kamarnya ya, Pah." jelas Mamah cemas.
"Paling dia lagi akting. Pasti dia tahan gak makan berhari-hari." ujar Papah tak percaya.
"Pah! Buka! Papah jangan egois gini dong, tolong sekali aja ngertiin dia." mohon Mamah.
"Iya! Papah buka sekarang. Mamah selalu aja belain dia, kenapa sih!?" kesal Papah seraya membuka kunci pintu kamar Anna dengan perlahan.
"Bagaimana, Pah?"
—Bersambung...