"Bagaimana, Pah?" tanya Mamah yang masih terlihat sangat cemas akan keadaan putri satu-satunya itu.
Pintu kamar terbuka, ruangan itu diselimuti kegelapan, tak ada cahaya satu pun di sana.
"Kok gelap gini sih!? Anna! Hidupkan lampunya!" teriak Papah.
Papah pun segera menghidupkan lampu kamar putrinya dan betapa kagetnya ia saat melihat putrinya sudah tidak ada lagi di sana. Apa yang tengah terjadi?
"Pah, Anna bagaimana?" tanya Mamah khawatir.
"Mah, anak itu kabur lewat jendela kamarnya. Papah gak habis pikir, dia bisanya hanya bikin pusing saja." kesal Papah.
"Apa? Kabur? Ke mana?" tiga pertanyaan itu langsung terlontar dari bibir Mamah.
"Papah gak tahu. Papah juga gak peduli, terserah dia aja!" kesal Papah seraya berjalan menjauh dari kamar Anna dan diikuti oleh Mamah.
"Anna, kamu ke mana sih sayang? Mamah khawatir banget sama kamu ... Kamu cepat pulang ya." ujar Mamah pada dirinya sendiri.
***
Terlihat, semua orang langsung tertawa saat Safira mulai berjalan ke arah mejanya. Ia pun heran akan hal itu, ia bergegas menghampiri mejanya dan betapa kagetnya ia saat melihat sebuah coretan bertuliskan "Perempuan murahan!", coretan itu sangat tebal, tidak mudah untuk dihilangkan. Safira hanya dapat terdiam dan duduk di mejanya dengan tenang.
Selang beberapa detik, guru pun sampai di kelas itu.
"Anak-anak, pembelajaran kita hari ini adalah tugas praktik. Jadi, tolong pakaian kalian segera di ganti. Ibu tunggu 15 menit dari sekarang." ujar ibu. Semua siswa segera bersiap untuk mengganti pakaian, kecuali Safira. Guru yang melihat hal itu pun langsung menghampirinya.
"Safira, kamu kenapa? Kenapa tidak ikut berganti pakaian seperti siswa yang lain?" tanya ibu Guru.
"Saya engga bawa baju ganti Bu. Dan badan saya juga kurang enak. Boleh izin ke UKS gak Bu?" tanya Safira yang berharap mendapat anggukan.
"Baik, kamu istirahat ya." ujar ibu seraya mengelus bahu Safira pelan.
"Apa aku akan kuat menghadapi semua ini? Semakin hari, semua orang semakin senang melihat hidupku menderita. Kesedihanku adalah lelucon untuk mereka, apakah kebahagiaan tak pantas tuk kudapatkan? Apakah ini penderitaan abadi yang harus selalu ku hadapi?"
"Hai, aku telat."
Suara itu terdengar jelas dari balik pintu kelas, suara seseorang yang sangat Safira kenal, Anna.
"Anna?" Safira menatap tajam ke arah Anna.
"Safira, aku telat banget ya? Aduh, padahal aku biasanya gak pernah telat loh. Pembelajaran udah di mulai?" tanya Anna dengan raut wajah penuh penasaran.
"Udah, kamu ganti baju, ada tugas praktik." jelas Safira.
"Kamu? Gak ikut praktik?" tanya Anna.
"Aku gak bawa baju ganti dan aku juga kurang enak badan. Ini aku mau ke UKS." sahut Safira dengan wajah pucat.
"Ya ampun, aku temenin kamu aja deh. Nanti aku izin, sini biar aku bantu kamu jalan." ujar Anna.
"Iya deh." sahut Safira seraya mengangkat badannya yang memang lemas.
Mereka berdua pun bergegas pergi ke UKS, saat sampai di sana betapa kagetnya Anna dan Safira setelah melihat orang yang tengah berbaring dengan menutup mata menggunakan lengannya.
"Kak Rafa?"
Ternyata orang itu tak lain adalah Rafa, ia terlihat pucat dengan sebuah perban kecil berada di dahinya.
"Kak Rafa kenapa? Sakit apa?" Anna langsung meninggalkan Safira dan menghampiri Rafa.
Safira yang melihat hal itu pun langsung membaringkan tubuhnya. Ia bingung harus berbuat apa, ia ingin menghampiri Rafa namun ia pun juga tak enak hati pada Anna. Ini sangatlah rumit.
"Apakah ini cinta segitiga atau diriku saja yang mengharapkan seseorang yang mungkin akan menjadi milik sahabatku nantinya. Ini rumit dan sakit. Haruskah aku mengalah? Atau memang aku sudah kalah dari awal?"
"Aku gak apa-apa. Hm, Safira kenapa itu? Dia sakit?" tanya Rafa yang khawatir akan keadaan Safira.
"Iya, dia kurang enak badan." sahut Anna, "Oh iya, Kakak kenal Safira? Dari mana?" tanya Anna mulai penasaran.
"Aku pernah ketemu dan kenalan sama dia." sahut Rafa sambil menatap Safira yang membelakanginya.
"Salahkah aku mencintaimu? Atau aku salah karena tak sanggup mengungkapkan perasaan ini?"
"Kak Rafa, aku Anna. Udah tau belum sih? Kakak tau aku gak?" tanya Anna.
"Aku tau, kamu terkenal kok." sahut Rafa.
"Hm...," Anna terlihat mulai tersipu.
"Kamu gak temenin Safira? Kok malah di sini?" tanya Rafa lagi.
"Kenapa? Kakak gak suka ya aku ada di sini?" ucapan Anna berhasil membuat Rafa menoleh ke arahnya.
"Bukan gitu. Tapi kan kamu harusnya temenin Safira, dia kasihan loh sendiri gitu." ujar Rafa yang akhirnya membuat Anna bangkit dari duduknya.
"Iya, aku ke sana dulu ya Kak." ucap Anna seraya menampilkan senyuman cantiknya. Rafa menjawab pertanyaan itu dengan sebuah anggukan kecil.
"Safira, maaf ya aku tadi ke sana. Kamu butuh sesuatu gak? Haus?" tanya Anna mulai perhatian.
"Engga kok. Aku gapapa kalo kamu tinggal sendiri, aku tau ini kesempatan bagi kamu untuk mulai dekat dengan Kak Rafa kan? Aku bisa jaga diri aku sendiri kok. Kamu gak perlu khawatir sama aku ya." ujar Safira, Anna pun tersenyum mendengar perkataan sahabatnya.
"Emang gak salah ya aku sahabatan sama kamu. Kamu itu baik, bijak, bisa ngertiin sahabatnya lagi. Tapi aku bakal temenin kamu di sini, kamu yang paling penting." ujar Anna, Safira yang mendengar hak itu pun langsung menunjukkan senyumannya. Anna pun membalas senyuman itu.
"Safira, kamu jangan sakit lama ya...," batin Rafa.
"Anna, kamu kenapa gak sekolah kemarin? Sakit?" tanya Safira.
"Gak sakit, cuma ada urusan keluarga aja." ujar Anna.
"Hm, maaf ya, gara-gara aku, kamu jadi dimarahin sama Papah kamu. Emang salah ya, orang yang mau jadi temen aku? Apa seburuk itu dekat dengan aku?" ujar Safira yang membuat Anna menggelengkan kepalanya.
"Engga! Engga! Semuanya bukan salah kamu, Papah aku emang kayak gitu orangnya. Kamu gak perlu masukin hati ya. Sekarang mending kamu minum dulu nih." ujar Anna seraya memberikan segelas air dingin kepada Safira.
"Iya." singkat Safira.
"Safira, aku harap kita gak akan terpisah oleh keadaan. Hal apa pun gak akan pernah bisa memisahkan persahabatan sejati kita." batin Anna.
"Anna, kamu pernah mikir gak sih? Persahabatan kita gak akan berjalan selama yang kita pikirin? Mungkin, sebentar lagi akan retak...," ucapan Safira terhenti saat Anna menutup mulut Safira dengan jari telunjuknya.
"Jangan bilang begitu. Aku akan tetap bertahan untuk persahabatan kita." ucap Anna seraya meneteskan sedikit air matanya.
"Kamu nangis?" tanya Safira seraya ikut meneteskan air mata.
"Safira, kamu janji untuk selalu ada buat aku dan selalu dukung mau aku kan? Aku juga akan gitu." ujar Anna seraya menggenggam tangan Safira dengan lembut. Safira mengangguk.
***
"Kamu serius udah mendingan? Gak mau istirahat aja?" tanya Anna cemas.
"Gak, aku udah sehat kok." ujar Safira.
Tiba-tiba, Ghea terlihat menghampiri mereka berdua dengan langkah kaki yang cepat.
"Safira!" teriak Ghea sambil menghentikan langkahnya.
"Apa!?" bentak Anna.
"Lo satpamnya kan? Baru muncul lo? Tapi sayangnya, gue gak ada urusan sama lo, jadi lo mending minggir aja!" teriak Ghea pada Anna.
"Minggir? Lo siapa gue?" ujar Anna.
"Gue gak punya masalah sama lo ya. Lo mendingan sekarang pergi, sebelum gue bikin lo berdua kenapa-napa!" ancam Ghea.
Anna berjalan mendekati Ghea, ia berbisik.
"Gue gak takut sama lo...," bisik Anna.
"Wah, nyari masalah lo!" pekik Ghea.
"Kalo iya, kenapa!? Lo takut!?" teriak Anna sambil tertawa kecil.
Ghea yang kesal pun langsung mengeluarkan saus yang ada di dalam tasnya, ia telah mempersiapkan itu sejak tadi untuk membalas Safira. Ia pun segera menumpahkan saus itu ke seragam Anna. Seragamnya kini kotor.
Semua mata tertuju ke arah mereka bertiga saat Anna membalas perbuatan Ghea.
Plak!
Tamparan itu sangat kuat mengenai pipi Ghea hingga memerah, bibirnya kini sedikit berdarah. Jika Anna telah emosi, ia akan melakukan apa pun.
"Gue ingetin sekali lagi ya, lo gak usah macem-macem sama gue, atau Lo mau kejadian tadi terulang!" ancam Anna seraya berbisik pada Ghea, ia langsung menarik lengan Safira dan pergi meninggalkan Ghea. Ghea sangat malu, karena biasanya ia yang melakukan hal itu pada orang lain. Namun, kini ia diperlakukan seperti itu. Mungkin itu balasan atas perbuatannya selama ini.
***
"Ngeselin banget ya tuh orang! Rasanya kurang gue tampar dia, harusnya dua kali sih...," ocehan Anna terhenti saat Safira mulai berbicara.
"Udah, sabar." ujar Safira.
"Gimana mau sabar coba!? Dia kerjaannya nyari masalah terus! Bikin orang emosi tau gak!? Kenapa gak di keluarin dari sekolah aja sih!?" Anna terus saja mengoceh. Safira hanya menggelengkan kepalanya.
"Seragam kamu udah bersih nih, balik ke kelas?" ajak Safira.
"Iya, aku cuci tangan sebentar ya." sahut Anna.
Setelah Anna selesai mencuci tangan, mereka segera pergi ke kelas.
***
"Kalian berdua! Kenapa bisa telat? Kalian bukannya anak teladan di kelas ini ya? Ayo cepat masuk!" ujar Guru.
"Iya Bu, tadi kita habis dari UKS, soalnya dia sakit. Terus baju saya juga tadi sempat kotor, jadi saya membersihkan baju saja dulu Bu. Maaf atas keterlambatan kita berdua Bu." ujar Anna seraya menunjuk ke arah Safira.
"Iya, Bu. Ini gak ada unsur kesengajaan kok Bu." lanjut Safira.
"Baik, silakan duduk. Jangan diulangi lagi ya!" peringat Guru.
"Baik Bu, kita berdua janji untuk tidak akan mengulanginya lagi." ujar Anna dan Safira hampir bersamaan.
"Bagus." singkat Guru, "Sekarang kita akan melanjutkan catatan kemarin. Siapkan buku kalian." lanjut Guru.
"Akankah sepi ini datang kembali? Aku tak ingin menyambutnya sama sekali."
Waktu berlalu begitu cepat, Safira dan Anna bersiap untuk jam istirahat kedua. Mereka berjalan menuju kantin.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Anna.
"Terserah kamu. Aku ikut aja." sahut Safira.
"Kamu mah jawabnya gitu terus." kesal Anna.
"Gak boleh ya? Soalnya aku juga gak tau pengen makan apa. Jadi, kamu aja yang pesan, nanti aku pasti makan kok." jelas Safira.
"Iya deh. Aku pesan dulu ya." ujar Anna.
Ibu kantin segera menyiapkan hidangan untuk mereka berdua, hidangan itu nampak sangat lezat, namun tidak biasanya Anna memesan makanan yang harganya terbilang cukup murah. Karena biasanya ia ingin menikmati hidangan yang terbilang cukup mahal. Safira yang melihat hidangan itu pun langsung memberanikan diri untuk bertanya pada Anna.
"Anna, tumben banget kamu pesan makanan yang murah? Biasanya yang cukup mahal, kamu lagi kenapa?" tanya Safira penasaran.
"Lagi ... Eh ... Gapapa kok, cuma lagi pengen aja, bosen kan yang mahal terus...," jawab Anna terbata-bata. Safira tahu, Anna pasti sedang dalam masalah.
"Hm, aku kira kamu lagi ada masalah. Mending, kita langsung makan aja yuk. Nanti dingin lagi." ajak Safira.
Anna yang mendengar ajakan Safira pun segera menyantap makanan itu dengan perlahan. Safira terlihat tidak menyentuh makanannya sama sekali, padahal dia yang barusan mengajak makan, ia terlihat sedang melamun.
"Safira! Safira, Hei!" teriak Anna. Teriakan Anna barusan membuat Safira terkejut dan tersadar dari lamunannya.
"Kenapa?" Safira tersadar.
"Kamu dari tadi ngelamun aja, bukannya kamu yang tadi ngajak aku buat makan? Ayo, makan!" perintah Anna.
"Maaf ya, aku tadi kepikiran sesuatu. Tapi, gak penting lah." ujar Safira.
Safira pun langsung menyantap makanannya. Namun, ponselnya tiba-tiba berdering, ada panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Safira pun langsung menerima panggilan itu.
"Halo, ini siapa ya?" Safira penasaran.
"Kami dari pihak rumah sakit. Kami ingin memberitahukan sesuatu tentang ibu anda." jelas orang itu.
"Ibu saya, kenapa?"
—Bersambung...