Episode 11

1744 Kata
"Kami dari pihak rumah sakit. Kami ingin memberitahukan sesuatu tentang ibu anda." "Ibu saya, kenapa!?" tanya Safira mulai cemas. "Ibu anda ... Ibu anda ..." suster itu tak mampu mengeluarkan kata-kata dari bibirnya secara tiba-tiba. Ia mendadak berhenti berbicara. "Halo, suster! Ada apa dengan ibu saya!? Jawab!" jerit Safira. "Ibu anda sudah tiada. Ibu anda sudah tidak tertolong lagi karena belum melakukan kemoterapi sama sekali. Maaf, kami tidak dapat membantu apa-apa." penjelasan suster itu berhasil membuat Safira gemetar, badannya lemas, ia mulai meneteskan air matanya tanpa sadar. Cobaan apa lagi yang sedang ia hadapi saat ini? "Ibu...," Safira terisak. Anna yang melihat Safira pun langsung menghampirinya. "Safira, kamu kenapa? Kok kayak lemas banget gini sih? Kan udah aku bilang, kalo kamu belum benar-benar sehat, kamu izin aja." ujar Anna cemas "Anna...," Safira mendadak menghentikan ucapannya. "Kenapa!? Kamu mau izin, mau pulang? Iya?" tanya Anna cemas. "I-ibu aku ... Udah enggak ada...," ucap Safira dengan tubuhnya yang masih lemas. "Apa!? Ibu kamu meninggal!?" tanya Anna. "I-iya...," sahut Safira dengan air mata yang semakin deras mengalir. Anna pun langsung melebarkan matanya, ia sangat terkejut. *** "Dokter, di mana ibu saya sekarang!?" teriak Safira pada dokter yang menangani ibunya. "Mari ikut saya. Kamu yang tabah ya." ucapan Dokter itu semakin membuat tubuh Safira lemas. Safira pun segera mengikuti Dokter itu. Mereka berjalan ke ruangan yang bertuliskan "Kamar Mayat". Di sana, Safira terus mengalirkan air matanya, ia tak dapat menahan hal itu. Anna terlihat tengah berjalan mendekatinya. Ia pun ikut meneteskan air matanya secara perlahan. "Ibu...," ucap Safira sambil menahan air matanya. "Safira, kamu yang sabar ya. Kamu harus bisa ikhlasin ibu kamu pergi, ini udah takdirnya. Aku tau ini pasti sulit, tapi kamu harus kuat ya buat ibu kamu." ucap Anna seraya mengelus lembut punggung Safira yang tengah terpuruk. "T-tapi ... I-bu aku ... Aku gak bisa...," isak Safira sambil mencengkeram seragamnya karena tak sanggup menahan tangisnya. "Safira...," ucap Anna menenangkan Safira, ia pun ikut menangis melihat itu. Ia tak dapat membayangkan sesulit apa Safira saat ini. "Ibu...," isak Safira yang kemudian pergi keluar dari ruangan itu karena tidak sanggup melihat ibunya yang akan tidur untuk selamanya, meninggalkan rindu yang membekas dalam hati Safira. "Andai aja aku bisa dapat uang untuk kemoterapi secepat mungkin. Ibu pasti masih di sini. Ini semua salah aku." Kepergian ibunya meninggalkan rasa bersalah yang membekas di hati Safira saat ini. Dalam saat sulit seperti ini, hanya Anna yang dapat menguatkannya. "Safira, kita pulang yuk. Kamu butuh istirahat dari semua ini." ajak Anna. Safira pun langsung berdiri dan mengikuti Anna. Ia sangat terpukul oleh kepergian ibunya, namun ia tidak boleh terus-menerus terpuruk, ia harus dapat melanjutkan hidup tanpa ibunya. "Ini semua karena aku. Aku gak sanggup bayar biaya kemoterapi ibu...," sebelum Safira menyelesaikan perkataannya, Anna segera menghentikannya. "Safira, dengerin aku ya. Ini semua bukan salah kamu, ini udah takdir. Kamu harus percaya bahwa ada kebaikan diantara segala musibah ini. Ingat, kamu harus bisa tetap kuat untuk ibu kamu. Jangan terus berkutat pada kesedihan ini." ucap Anna seraya menggenggam tangan Safira dan menatap matanya. Anna memang sahabat terbaik untuknya, namun apakah kebaikan itu akan tetap ada nantinya? "Makasih ya Anna, kamu udah temenin aku. Kamu adalah satu-satunya sahabat terbaik untukku. Tetap seperti ini ya...," pinta Safira. "Pasti, aku akan selalu seperti ini untuk kamu. Yang kuat." sahut Anna. *** "Ternyata memang benar, badai takkan pernah berlalu untukku. Sekejam inikah dunia untukku? Apakah kebahagiaan takkan pernah datang, bahkan untuk menyapaku? Sepi kini adalah temanku, dan aku benci itu." *** Hai diary, Semua kesedihan ini sangat membekas di hati. Aku selalu dihantui sepi, kini takkan ada lagi sapaan pagi. Aku kini tinggal sendiri, takkan ada seorang pun yang dapat menemaniku. Selamat tinggal senja, aku kini takkan dapat dimanja. Kini hanya aku, di sini. *** Satu minggu berlalu begitu cepat, namun kerinduan tak hilang dalam waktu singkat. "Hei, apa kabar?" "Baik." jawab Anna saat menatap wajah seseorang yang sedang menyapanya. "Kok lemas gitu sih jawabnya?" tanya Rizki sambil mendekatkan wajahnya ke mata Anna. "Ih! Apaan sih? Aku emang gapapa kok. Ngomong-ngomong, kamu liat Safira gak? Aku dari tadi cari dia ke mana-mana tapi tetap aja gak ketemu." tanya Anna cemas. "Liat, dia tadi ke toilet. Tapi, mukanya sedih gitu. Dia juga gak balas sapaan aku. Kenapa dia?" tanya Rizki penasaran. "Ini udah satu minggu semenjak kepergian ibunya, kasihan dia." jawab Anna. "Hm, kok kamu gak pernah ada setiap aku samperin ke rumah?" pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulut Rizki. "Aku gak ada di rumah." jawab Anna dengan cepat. "Terus, kamu di mana?" tanya Rizki. "A-aku di ... Di...," Anna menghentikan ucapannya dan suasana menjadi canggung. "Di mana, Anna?" tanya Rizki lagi. "Udah lah, bukan urusan kamu. Aku harus samperin Safira, kamu mau ikut gak?" ajak Anna. Tanpa berpikir panjang, Anna langsung berlari dan diikuti oleh Rizki. Mereka menghampiri Safira yang tengah berada di toilet wanita. "Safira, kamu gapapa?" tanya Anna cemas. "Anna? Rizki, kan? Kalian kok bisa ada di sini?" tanya Safira seraya menghapus air matanya. "Aku tuh khawatir sama kamu, Safira." jelas Anna. "Tapi, aku gapapa Anna. Kamu gak perlu khawatir sama aku." sahut Safira dengan nada lembutnya. "Tapi kan tetap aja, Safira." ujar Anna. "Udah, aku gapapa. Aku cuma lagi pengen sendiri aja." ujar Safira. "Tunggu, aku dicuekin di sini. Dan, aku udah jadi temen kalian kan? Kita bertiga udah jadi temen kan?" ucap Rizki tiba-tiba. "Temenan? Kamu mau jadi temen aku?" tanya Safira memastikan. "Iya, emang kenapa? Gak boleh ya?" tanya Rizki mulai resah. "Boleh kok. Aku cuma heran aja kenapa kamu mau jadi temen aku. Pasti karena Anna, ya?" tanya Safira seraya menatap wajah Anna. Anna pun langsung menggelengkan kepalanya. "Engga! Gak gitu kok. Aku emang pengen jadi temen kalian aja." elak Rizki. "Hm, gitu ya? Kamu yang waktu itu di perpustakaan bukan sih? Kayaknya aku pernah ketemu kamu deh." ujar Safira. "Iya, kita emang pernah ketemu sebelumnya." ujar Rizki, "Sekarang, mending kita ke kantin aja yuk." ajak Rizki. "Boleh tuh, aku juga udah lapar." ucap Safira. "Iya deh, yuk!" ujar Anna. Mereka bertiga pun segera berjalan menuju kantin dengan semangat. "Temanku bertambah satu. Hm, lucu sekali. Kini aku memiliki teman pria." "Kalian temenan udah lama?" tanya Rizki. "Belum lama juga sih, belum sampai satu tahun." ujar Safira. "Oh." singkat Rizki. Mereka lanjut menikmati makanan, waktu istirahat masih cukup lama. "Hm, emang bener ya, kalian pintar di semua mata pelajaran? Termasuk matematika? Olahraga?" tanya Rizki tiba-tiba. "Aku lumayan ngerti lah matematika, tapi olahraga, aku angkat tangan deh." ucap Safira. "Aku juga, kita gak pinter di mata pelajaran olahraga. Dan aku sama Safira juga kurang lancar di mata pelajaran bahasa asing." sambung Anna. "Kalo bahasa asing aku jagonya, tapi di mata pelajaran matematika terutama olahraga, aku gak bisa banget." ujar Rizki. "Ternyata kelemahan kita semua sama ya, di matematika." ujar Safira seraya tersenyum kecil. "Bisa begitu ya, kita emang cocok banget bertiga. Sahabat untuk selamanya?" ucap Rizki tiba-tiba. "Gak janji deh ya." ucap Safira dengan senyuman kecil. "Kok gitu sih?" ucap Rizki kecewa. Anna yang melihat hal itu pun langsung tersenyum kecil. Mereka bertiga pun tertawa, mereka mulai akrab. Mereka bertiga kini sahabat, apakah untuk selamanya? *** "Safira, kamu gapapa?" tanya Rafa sambil menarik lengan Safira dengan pelan. "Kak Rafa? Aku gapapa kok." ujar Safira. "Aku dengar, ibu kamu meninggal ya? Aku turut berduka cita ya." ujar Rafa dengan wajah cemas masih terukir di wajahnya. "Udah satu minggu sih, Kak." ujar Safira. "Kak Rafa, segitu khawatirnya. Kalian berdua deket?" tanya Anna secara tiba-tiba. Rizki sudah tidak bersama mereka berdua, karena kelas mereka berbeda. "Engga deket. Kita cuma sekedar kakak dan adik kelas aja kok, iya kan Kak?" elak Safira. "I-iya...," sambung Rafa. "Hancur sudah harapanku tuk dapat memiliki kamu." "Kak, kita permisi ke kelas ya. Jam pelajaran udah mau di mulai." pamit Safira seraya menarik lengan Anna yang masih tidak dapat berpaling dari wajah tampan Rafa. Mereka pun segera memasuki ruangan kelas. "Safira, kok kamu langsung tarik aku gitu aja sih? Padahal kan, Kak Rafa...," Anna belum selesai berucap, Safira segera membuka mulutnya. "Kan sebentar lagi, pembelajaran udah mau berlangsung. Kalo kita telat gimana? Maaf deh kalo kamu marah." ujar Safira. "Iya juga sih. Aku minta maaf ya, aku gak bermaksud marah kok sama kamu." ujar Anna. "Iya." singkat Safira. *** "Hai, Anna. Kamu tumben banget gak di jemput sopir. Mau aku antar pulang gak?" tawar Rizki. "Gak perlu, aku bisa pulang sendiri." tolak Anna, ia tak ingin Rizki tahu bahwa ia kini tidak tinggal di rumahnya lagi. "Seriusan?" tanya Rizki memastikan. "Beneran, aku gak mau ngerepotin kamu. Lagi pula, aku lagi pengen naik angkutan umum." ujar Anna. "Ya udah deh, sampai jumpa." pamit Rizki seraya melambaikan tangannya pada Anna. "Aku belum bisa ceritain hal ini ke orang lain. Mungkin, aku juga sebentar lagi akan pulang ke rumah." *** "Safira, kamu mau pulang bareng aku engga?" tanya Rafa yang muncul secara tiba-tiba dari belakang Safira. "Kak Rafa? Kakak emang belum pulang ya?" tanya Safira balik. "Belum lah, makanya aku ajak kamu pulang bareng. Mau pulang bareng aku gak?" ajak Rafa dengan sebuah senyuman kecil nampak di wajahnya. "Hm, mau gak ya?" ujar Safira. "Mau dong, mau ya? Masa kamu gak mau pulang bareng sama aku?" mohon Rafa. "Iya deh, aku mau." terima Safira. Senyuman manis muncul di wajah Rafa, ia pun segera menarik lengan Safira pelan. Rizki dan Rafa memang membawa mobil secara terpisah, Rafa membawa mobil sendiri dan Rizki di antar-jemput oleh sopir. "Kak Rafa, aku mau tanya sesuatu, boleh gak?" tanya Safira secara tiba-tiba. "Tanya apa? Tanya aja, gapapa." ujar Rafa. "Hm, tipe pasangan Kak Rafa kayak gimana sih?" tanya Safira yang berhasil membuat Rafa melebarkan matanya karena terkejut akan pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Safira. "Kok kamu nanya kayak gitu?" tanya Rafa balik. "Ya, aku penasaran aja. Kalo Kakak gak mau jawab juga gapapa kok. Gak ada unsur pemaksaan." ujar Safira. "Tipe pasangan ya? Gak ada sih. Yang penting dia baik dan apa adanya. Dan, yang paling penting dia udah ada di dalam hatiku." ucapan Rafa berhasil membuat Safira menyerah untuk mendapatkan hatinya. "Baik? Apa adanya? Dan ada di dalam hatinya? Aku gak mungkin ada di dalam hatinya, Anna pasti orang yang sedang Kak Rafa cintai saat ini. Anna orangnya kan baik banget. Dia cocok banget sama tipe pasangan Kak Rafa. Kayaknya, aku benar-benar harus mundur mulai saat ini." "Safira, kok diem aja sih?" tanya Rafa cemas. "Gapapa kok, Kak. Kita turun di sini aja ya." ujar Safira. "Emang udah sampai?" tanya Rafa. "Belum, tapi kita berhenti di sini aja ya, Kak. Sebentar lagi sampai kok." ujar Safira. —Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN