Episode 12

1756 Kata
"Belum sih kak, tapi kita berhenti di sini juga gak apa-apa, soalnya sebentar lagi juga sampai kok. Aku mau pulang sendiri aja." ujar Safira. "Aku antar sampai rumah kamu aja." ujar Rafa. "Gak perlu, Kak. Aku juga ada urusan lain. Di sekitar sini, jadi aku turun di sini aja ya, Kak. Maaf ya." pamit Safira. Rafa pun segera meminta sopir untuk menghentikan mobilnya. "Makasih, Kak. Aku pamit ya." pamit Safira. "Iya, hati-hati." sahut Rafa. Safira pun segera berjalan menuju rumahnya dengan wajah kecewa. Ia berpikir bahwa seseorang yang tengah mengisi hati Rafa saat ini adalah Anna, padahal Anna bukanlah orang yang maksud. "Selamat datang sepi, kita bertemu lagi saat ini." *** "Anna?" Anna segera menoleh ke arah sumber suara itu, dan ternyata itu adalah Safira. Safira terlihat sungguh terkejut saat melihat Anna. "Kamu kerja di kafe?" tanya Safira. "Safira? Hm...," Anna segera menarik tangan Safira dan membawanya ke depan pintu toilet. "Safira, kok kamu bisa ada di sini?" tanya Anna yang mulai takut karena Safira mengetahui keadaan ia saat ini. "Aku harus ajarin murid aku, aku kan guru les." jawab Safira dengan tenang. "Iya, aku kerja di kafe. Aku kabur dari rumah." ucap Anna secara tiba-tiba. "Kok bisa?" tanya Safira mulai khawatir. "Ceritanya panjang, pokoknya kamu harus harus jaga rahasia ini ya. Aku mohon." mohon Anna. "Aku gak akan cerita ke orang lain kok. Lagi pula kan, temen aku cuma kamu. Maaf ya Anna, aku harus ajarin murid aku dulu." pamit Safira. "Iya, makasih ya." ujar Anna seraya menghela napasnya perlahan. *** "Oh iya, soal mana yang kalian belum mengerti?" tanya Safira pada murid-muridnya. Safira kini menjadi guru les dengan tiga orang murid, itu semua berkat kepintarannya. "Ini Kak." ujar salah seorang murid seraya menunjuk ke soal yang tidak ia mengerti. "Oke, sebelumnya kalian harus buka halaman 54 ya, di situ ada penjelasan dengan cara pertama, untuk yang ada di soal itu, nanti akan Kakak ajari." ujar Safira. "Iya Kak." ucap para murid bersamaan. "Kakak ke belakang sebentar ya, kalian pelajari yang ini dulu. Nanti Kakak coba jelasin ya ke kalian." ujar Safira yang kemudian pergi ke toilet. *** "Anna, kamu sekarang tinggal di mana?" tanya Safira. "Aku tinggal di dekat sini, di kostan." jawab Anna. "Kapan-kapan aku boleh gak mampir ke kostan kamu? Aku pengen ngobrol sama kamu." ujar Safira. "Boleh kok." sahut Anna dengan cepat. *** "Kak, untuk yang ini gimana ya? Aku belum paham. Ajarin ya Kak." ujar salah seorang murid. "Iya, jadi kamu cukup ubah dari sini aja. Terus di kalikan dengan yang ini, lihat di contoh ini. Hanya di bedakan sedikit saja. Lihat, kamu udah bisa kan?" jelas Safira. "Paham Kak, makasih ya Kak." ujar murid itu. "Kalo untuk soal yang ini Kak, ini soal IPA yang nomor 44 bagaimana Kak?" tanya salah seorang murid. "Kamu cukup lihat yang ada di halaman 32, caranya mirip seperti yang ini, kamu harus pindahkan dulu yang ini ya." Waktu berlalu begitu cepat, semua murid Safira telah pulang ke rumah masing-masing, meninggalkan Safira yang masih duduk di kursi kafe. "Safira, kamu belum pulang?" tanya Anna. "Iya, aku mau pulang bareng sama kamu. Soalnya rumah aku juga gak jauh dari sini. Atau, aku main ke rumah kamu, gimana? Boleh gak?" usul Safira. "Boleh banget. Tapi, aku masih harus kerja. Sebentar lagi selesai kok, kamu gapapa harus nungguin aku dulu?" tanya Anna. "Gapapa, aku juga gak buru-buru kok. Santai aja." ujar Safira. Setelah 20 menit menunggu, akhirnya Anna dapat menyelesaikan semua pekerjaannya. "Safira, aku udah selesai. Ayo?" ajak Anna. "Udah? Ayo." sahut Safira. Mereka berdua pun segera berjalan menuju kostan Anna, di perjalanan mereka selalu tertawa, penuh kegembiraan. Tiba-tiba, ada tiga orang pria yang terlihat berjalan mendekati mereka berdua. Anna pun langsung menatap ke arah jam tangannya. Jam menunjukkan pukul 19:30. "Hei cantik!" "Kalian mau ngapain, hah!?" teriak Anna. "Anna, mereka siapa?" tanya Safira dengan suara lembutnya. "Gak mau ngobrol-ngobrol sama kita dulu, neng?" "Ngobrol? Mending kalian pergi deh, kita cuma mau lewat aja. Gak usah ganggu! Bisa!?" teriak Anna lagi. "Kalo gak bisa gimana? Kita kan pengen ngobrol, ngopi-ngopi dulu, ya gak?" "Iya, mendingan kita ngopi dulu cantik." Salah satu dari pria itu mulai menyentuh pipi Anna perlahan. "Maksud kalian apa ya!?" teriak Anna seraya melemparkan tangan pria yang menyentuh pipinya. Safira terlihat mulai merogoh tasnya dengan perlahan, sepertinya ia membawa sesuatu yang dapat menolongnya saat ini. Salah satu pria mulai berjalan mendekati Safira dan berniat mengelus lembut rambutnya, namun dengan sigap, Safira langsung menyemprotkan parfum ke arah wajah pria itu, Safira pun segera menyemprotkan parfum itu ke pria lainnya dengan cepat dan segera menarik Anna ke kostan nya. Mereka berdua segera berlari hingga akhirnya sampai di kostan Anna. "Huh! Ini kostan kamu?" tanya Safira seraya mengembuskan napasnya karena kelelahan. "Iya, aku lupa kalo udah malem gini rawan preman yang gangguin perempuan. Untung kamu bawa parfum. Makasih ya, Safira." ucap Anna seraya mengembuskan napasnya karena lelah berlarian. "Ya udah, mending kita masuk sekarang. Aku bermalam di kostan kamu ya. Aku jadi takut deh." ujar Safira yang mulai ketakutan. "Iya, ayo kita masuk." ujar Anna seraya membuka pintu kostan nya. "Safira, kamu mau makan? Aku ada makanan nih di kulkas. Ada camilan juga." ujar Anna. "Boleh tuh, aku juga haus." ujar Safira yang masih mengembuskan napasnya. "Sebentar ya, aku ambil minumannya dulu. Kamu pasti lelah banget kan? Ini." ujar Anna seraya membawa minuman dan camilan ke ruang tamu dan menikmatinya bersama Safira. Malam itu terasa menakutkan dan menyenangkan untuk mereka berdua. "Tapi, lucu gak sih? Kamu langsung semprot mukanya pakai parfum. Itu kocak banget sih." ucap Anna yang kemudian tertawa kecil karena kelucuan sahabatnya. "Iya, tapi aku takut loh sebenarnya. Makanya aku langsung tarik kamu." ujar Safira dengan wajah ketakutan, namun terlihat lucu dan membuat Anna ingin tertawa lagi. "Kok ketawa lagi sih?" tanya Safira heran. "Gapapa, muka kamu lucu banget kalo lagi takut, bikin aku pengen ketawa lagi. Kamu udah berhasil hibur aku banget sih." ujar Anna seraya menahan tawanya. "Oh gitu, emang aku lucu sih. Imut, gemesin lagi." puji Safira pada dirinya sendiri, ia mulai menyombongkan diri. "Hei, malah kegirangan dibilangin lucu." ujar Anna dengan tawanya yang telah terhenti. "Maaf." ujar Safira seraya menundukkan kepalanya. Mereka terus mengobrol, hingga jam menunjukkan pukul 22:00. Anna mulai menatap jam tangannya. Ia pun langsung mengajak Safira untuk tidur, agar tidak terlambat ke sekolah. "Safira, tidur yuk! Udah malem, agar besok kita tidak terlambat ke sekolah." ajak Anna. Safira pun menganggukkan kepalanya. "Ayo, aku juga udah ngantuk banget." turuti Safira. Mereka pun segera pergi ke kamar, mereka tidur berdua. *** Jam sudah menunjukkan pukul 05:30. Safira sudah terbangun sejak 30 menit yang lalu, ia sudah terbiasa bangun pagi sejak ibunya tiada. Ia harus membiasakan diri. Anna terlihat mulai membuka matanya dan terkejut saat melihat kamarnya sangat rapi dan bersih, serta telah tersedia makanan di dapur, ia kemudian melihat Safira dengan seragam sekolah. "Safira, kamu bangun jam berapa? Pagi banget bangunnya." heran Anna. "Aku udah biasa bangun pagi kok. Oh iya, kamu cepetan mandi. Nanti kita sarapan bareng ya. Agar tidak terlambat." ujar Safira yang kemudian menyiapkan makanan untuk sarapan. "Ya udah deh." *** "Anna, udah selesai sarapannya? Kita berangkat yuk sekarang." ajak Safira. "Yuk!" turuti Anna. Mereka berdua pun segera bersiap untuk berangkat ke sekolah, mereka menaiki angkot bersama. Setelah sampai, mereka segera berlari menuju gerbang sekolah. Karena 2 menit lagi, gerbang akan tertutup. "Huh, aku lelah banget kemaren." ujar Safira. Tiba-tiba saja, Ghea datang menghampiri mereka dengan langkah yang cukup cepat. "Kalian berdua mendingan jauh-jauh deh dari Rafa, gue liat kalian berdua bareng sama Rafa!" ancam Ghea. "Terus, kalo kita bareng sama Kak Rafa, apa urusannya sama lo ya!?" bentak Anna. "Berani banget sih lo!? Kalian liat ya, gue akan bikin hidup kalian menderita kalo sampai gue liat kalian berdua bareng sama Rafa lagi! Ingat itu! Cabut." ancam Ghea yang kemudian pergi meninggalkan Safira dan Anna. "Sok banget sih jadi orang!" kesal Anna. "Udah, mending sekarang kita ke kelas yuk, sekarang bukannya ada kuis ya?" ucap Safira. "Iya, aku juga males lama di sini." ujar Anna masih kesal dengan perbuatan Ghea. Mereka berdua segera berjalan ke arah kelas, sebelum sampai, Rizki dengan cepat menghampiri mereka. "Hai, teman." sapa Rizki pada mereka berdua. Rizki memang sangat lucu. "Rizki? Gak ke kelas?" tanya Anna. "Gak, aku mau ketemu kalian berdua." jawab Rizki dengan senyuman terlihat di wajahnya. "Rizki, aku mau ke kelas ya, kalian ngobrol aja berdua dulu." ujar Safira yang kemudian memasuki kelas. Rizki terlihat mulai bersemangat. "Anna, kamu gak ikut masuk?" tanya Rizki memastikan. "Mau masuk sih. Selamat tinggal." ujar Anna yang kemudian ikut memasuki kelas. "Susah banget sih berdua sama kamu, Anna. Apa aku gak pantas untuk mendapatkan wanita sepertimu?" batin Rizki dengan kekecewaan terukir di wajah tampannya. "Anna, kok kamu masuk ke kelas juga?" tanya Safira. "Iya, gak boleh?" ujar Anna dengan tatapan tajam ke arah Safira. "Bukannya gitu, Rizki gimana?" tanya Safira khawatir. "Dia ke kelasnya lah, aku mau belajar buat kuis. Dia juga mungkin ada urusan, kan?" ujar Anna. "Ya udah deh." ujar Safira. *** "Rafa, aku bawa makanan buat kamu, makan ya. Ini buatan aku sendiri loh. Istimewa banget buat kamu." tawari Ghea. "Maaf, tapi aku gak bisa terima ini. Mending, kamu kasih aja ke orang lain ya." tolak Rafa. "Tapi kan aku udah susah-susah buat ini untuk kamu. Terima ya, aku mohon banget deh." ujar Ghea memohon. "Maaf banget, aku juga gak terlalu suka." tolak Rafa kemudian pergi meninggalkan Ghea sendiri. "Rafa! Ih, nyebelin banget sih!" kesal Ghea. Ia memang sangat menyukai Rafa sejak 1 tahun yang lalu, namun Rafa tetap saja cuek terhadap dirinya. Namun ia bukan orang yang gampang untuk menyerah, ia akan melakukan apa pun agar keinginannya dapat terwujud sesuai keinginannya. "Rafa, liat aja, aku akan bikin kamu berlutut dihadapan aku." batin Ghea dengan senyuman licik nampak di wajahnya. "Argh!" Rafa terlihat berteriak, kakinya terkilir karena bermain basket. Ia segera dibawa ke ruang UKS. "Rafa, kamu tidak apa-apa?" tanya Guru. "Kaki saya sakit, Pak." ujar Rafa. "Baik, kamu istirahat dulu ya." ujar Guru yang kemudian meninggalkan Rafa seorang diri di UKS. "Maaf, Pak. Itu kenapa ya?" tanya Safira yang tidak sengaja melihat Rafa ke ruang UKS. "Rafa, kakinya terkilir." jawab Guru. "Boleh saya temui, Pak?" tanya Safira dengan wajah cemas. "Silakan." ujar Guru yang kemudian pergi meninggalkan Safira. Safira segera berlari menghampiri Rafa di ruang UKS. "Kak Rafa, baik-baik aja?" tanya Safira cemas. "Kaki aku terkilir, kamu bisa temenin aku di sini Safira?" tanya Rafa. "Bisa kok. Aku pasti temenin Kakak. Kakak pasti cepat sembuh." ujar Safira yang menimbulkan semangat tersendiri di dalam hati Rafa. Tak jauh dari tempat mereka berada, terlihat Anna menatap mereka dari kejauhan. —Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN