Episode 13

1751 Kata
"Aku pasti temenin. Kakak pasti cepat sembuh." Tak jauh dari tempat mereka berada, terlihat Anna menatap mereka dari kejauhan. Wajah Anna terlihat penuh rasa kekecewaan. Ia kemudian meninggalkan Safira dan Rafa. "Haus? Mau minum gak?" tawari Safira yang masih cemas. "Iya." sahut Rafa singkat. "Sebentar ya, biar aku ambil dulu. Kakak tunggu di sini dulu ya." ujar Safira. Pada saat Safira tengah keluar dari ruang UKS, tanpa sengaja ia menabrak Anna yang saat itu tengah membawa buku paket. Anna segera membereskan bukunya, Safira yang merasa bersalah pun ikut membantu Anna tuk membereskan bukunya. "Anna, aku minta maaf banget ya. Kamu mau aku bantu bawain?" tawari Safira dengan wajah cemas. "Gak perlu." ujar Anna dengan nada kesal dan langsung pergi membawa buku paket itu tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun pada Safira. Safira segera menoleh ke arah Anna dan menatap punggungnya. Ia tidak bermaksud membuat Anna kesal. "Anna kenapa ya? Padahal kan aku gak sengaja, gak biasanya dia marah kayak gitu." batin Safira. Akhirnya, Safira pun segera membelikan air minum untuk Rafa. Ia tak mempedulikan Anna untuk sementara. Karena ia saat ini hanya fokus terhadap kesehatan Rafa. "Kak, ini minumannya." ujar Safira seraya memberikan segelas air minum pada Rafa. Rafa pun segera meminumnya. "Makasih ya." ujar Rafa. "Iya Kak. Kakak perlu apa lagi? Biar aku ambilkan. Kakak perlu sesuatu gak?" tanya Safira. "Safira, aku cuma perlu kamu." ujar Rafa seraya menggenggam tangan Safira dengan lembut. Safira tak dapat membohongi perasaannya, ia sangat ingin merasakan ini. "Safira, aku mau bilang sesuatu sama kamu...," Safira tersadar, ia harus memikirkan perasaan sahabatnya. Ia kemudian melepaskan genggaman itu dan langsung berlari keluar ruang UKS dengan terburu-buru. Rafa tak dapat menghalanginya. *** Sesampainya di kelas, ia hanya dapat melihat Anna yang tengah duduk dengan perasaan kecewa terhadap dirinya. Anna hanya menatap wajah Safira dengan tajam. Safira kemudian menghampiri karena tak enak hati pada Anna. "Anna, aku gak bermaksud. Kamu gak marah sama aku kan?" tanya Safira memastikan. "Kamu pikir aja sendiri! Mana mungkin aku gak marah saat liat sahabat aku berduaan sama orang yang aku suka. Aku aku gak berhak marah sama kamu!" bentak Anna. "Anna, kamu jangan salah paham gini dong. Kamu harus dengerin penjelasan aku dulu. Tadi aku cuma khawatir aja sama Kak Rafa, aku liat dia dan aku cuma bantu dia aja. Gak lebih Anna. Aku gak ngapa-ngapain." jelas Safira. "Kamu beneran? Kamu gak bohong kan?" tanya Anna memastikan. "Iya, aku juga gak akan ganggu kamu sama Kak Rafa." ujar Safira. "Kamu janji kan?" tanya Anna masih kurang yakin. "Iya, aku gak mau persahabatan kita rusak cuma gara-gara hal ini." ujar Safira. Anna pun segera mendatangi Safira dan memeluknya dengan erat. "Safira, aku minta maaf ya udah tuduh kamu macem-macem. Aku cuma cemburu aja." ujar Anna. "Iya. Lagi pula, mana mungkin Kak Rafa suka sama orang kayak aku." ujar Safira. Anna mengeratkan pelukannya. "Udah, mau makan?" ajak Safira. "Iya, ke kantin yuk." ujar Anna. "Yuk." Mereka berdua pun segera berjalan ke arah kantin dengan perlahan. *** "Safira, aku mau bilang kalau aku itu suka sama kamu! Kenapa sesusah itu sih!?" teriak Rafa pada dirinya sendiri. Ia kesal lantaran Safira pergi begitu saja saat ia ingin mengungkapkan rasa cintanya. "Aku harus apa sekarang!?" pekik Rafa. Rafa hanya sendiri saat ini. *** "Rizki?" "Safira, kalian mau ke mana?" tanya Rizki dengan semangat. "Kita mau ke kantin, kamu?" tanya Safira balik. "Aku mau ikut kalian aja. Yuk!" ajak Rizki. "Hah?" bingung Anna. Namun, Rizki segera menarik Anna dan Safira ke kantin. Mereka pun segera memesan makanan dan duduk rapi, namun keheningan sungguh terasa di sana. "Hm, kok pada diem? Gak suka aku ikut gabung?" tanya Rizki memulai topik pembicaraan. "Bukan gak suka, kita cuma heran aja sama kamu. Emang kamu gak ada temen lain, selain kita?" ujar Safira. "Temen lain? Gak ada. Cuma kalian doang temen aku. Udah ya, gak perlu banyak tanya. Mendingan kita makan, udah lapar banget nih." rengek Rizki. "Iya deh." ujar Safira. Anna hanya menganggukkan kepalanya. *** "Ya ampun Rafa! Kamu gapapa kan? Udah ya, makan masakan aku sekarang." ucap Ghea. "Ghea, tapi aku...," "Makan! Nanti kamu kelaparan loh. Lagi pula, masakan aku itu enak kok. Kamu gak akan menyesal." ujar Ghea. Dengan semangat, Ghea segera menyuapi sesendok makanan pada Rafa dengan lembut. Rafa tak bisa berbuat apa-apa, lantaran kakinya masih terasa sakit. Ia hanya bisa menuruti keinginan Ghea yang tengah bersiap untuk menyuapinya. Rafa pun memakan masakan Ghea hingga habis. "Nah, enak kan? Makanya, kamu rasain dulu sebelum tolak makanan dari aku. Kamu tuh ya! Ini, minum sekalian." ujar Ghea yang merasa sangat cemas terhadap keadaan Rafa. Rafa hanya menganggukkan kepalanya. Tempat itu terasa canggung. Rafa tak mengeluarkan sepatah kata apa pun. "Rafa! Kamu kok dari tadi diem aja sih!? Ngomong kek, bilang aku cantik gitu, atau puji aku gitu. Jangan diem gini." ujar Ghea. "Iya, kamu baik." hanya kata itu keluar dari bibir seorang Rafa. Kemudian, suasana menjadi hening kembali. "Rafa, kalo gitu aku pamit dulu ya. Aku pengen ke kelas, sebentar lagi masuk. Kamu cepat sembuh ya, jangan kangen aku loh." ujar Ghea dengan penuh percaya diri. "Gak akan." bisik Rafa. Ghea pun segera meninggalkan Rafa karena harus memasuki ruangan kelasnya. *** "Eh, udah bel masuk ya. Aku ke kelas dulu ya, nanti semua makannya biar aku yang bayar. Sampai ketemu!" pamit Rizki. "Dia orangnya baik juga ya." ujar Anna. Safira tiba-tiba langsung menatap wajah Anna dengan tatapan tajam penuh selidik. "Safira! Kamu kenapa sih!?" bentak Anna. "Kamu suka Rizki?" tanya Safira memastikan. "Apaan sih!? Gak mungkin lah. Aku kan sukanya sama Kak Rafa, gak mungkin lah aku suka sama dia." elak Anna. "Masa sih?" tanya Safira dengan senyuman kecil di wajahnya. "Engga!" elak Anna, "Udah ah, aku mau ke kelas! Yuk! Nanti telat masuk kelas lagi!" ajak Anna dengan nada tinggi. "Iya, iya." turuti Safira. Mereka berdua segera memasuki kelas. Tak lama seorang guru datang memasuki kelas. "Selamat siang, semuanya. Ibu hanya ingin memberikan pengumuman. Mohon kepada para siswa yang sekiranya belum membayar uang spp untuk segera dilunasi, karena sebentar lagi sekolah akan mengadakan ujian. Hanya itu yang dapat ibu sampaikan saat ini, terima kasih untuk perhatiannya. Ibu permisi ya." ujar Guru. Wajah Anna terlihat mulai mengerut, ia takut tidak akan sanggup melunasi uang spp karena kini ia tidak tinggal bersama kedua orang tuanya. Safira yang melihat Anna pun langsung melontarkan pertanyaan. "Anna, kok muka kamu kayak sedih gitu. Kenapa? Ada masalah?" tanya Safira yang mulai khawatir. "Aku cuma mikir aja, apa aku sanggup bayar uang spp. Sedangkan untuk bayar kostan aja aku belum tentu mampu. Ditambah biaya makan aku. Gimana ya Safira?" Anna terlihat cemas. "Anna, kamu jangan pesimis gitu ya. Aku akan bantu kamu. Oh iya, kamu gak mau daftar beasiswa aja? Kamu kan pinter." usul Safira. "Iya juga ya, nanti aku coba deh. Makasih ya, Safira. Kamu itu benar-benar teman terbaikku." ujar Anna dengan wajah yang mulai ceria. *** "Kak Rafa? Udah mendingan?" tanya Anna yang tanpa sengaja bertemu di luar kelas. "Anna, kamu gak bareng Safira?" tanya Rafa dengan cemas meliputi wajahnya. "Engga, dia lagi di toilet. Kenapa ya Kak? Ada urusan?" tanya Anna. "Iya, ada hal penting yang harus aku utarakan sama Safira." jawab Rafa. "Ya udah, aku pulang duluan ya Kak." pamit Anna dengan senyuman kecil di wajahnya. "Iya." balas Rafa dengan senyuman kecil di wajahnya. Anna pun segera pergi meninggalkan Rafa. Dan Rafa segera menghampiri keberadaan Safira. Tak lama, Safira pun membuka pintu toilet itu. Wajahnya terlihat terkejut saat melihat Rafa yang tiba-tiba muncul di hadapannya. "Kak Rafa? Ngapain? Ini kan toilet wanita." ujar Safira yang terkejut. "Safira, aku mau bilang sesuatu sama kamu. Safira, aku gak tau harus mulai dari mana. Tapi yang pasti aku c...," perkataan Rafa terhenti karena tiba-tiba Ghea menghampirinya. "Rafa, ngapain kamu di sini? Lagi cari aku ya? Kangen?" tanya Ghea dengan penuh rasa percaya diri. Safira yang melihat hal itu pun segera meninggalkan mereka berdua. Ia sangat malas jika harus melihat wajah Ghea yang menyebalkan. "Ghea!" bentak Rafa. Tak lama, Rafa pergi menghampiri Safira. Namun, Safira segera menaiki angkot. "Rafa, kenapa sih?" heran Ghea. *** "Untung aja aku sekolah di sana dengan beasiswa, jadi untuk pembayaran spp, aku gak terlalu pikirin. Tapi Anna, dia harus tetap bayar uang spp, aku bisa bantu apa ya?" tanya Safira pada dirinya sendiri. *** Hai diary, Kini aku sudah mulai bangkit, pikiranku tak lagi sempit. Aku hanya berharap dapat menjalani hidupku dengan penuh keceriaan, aku tak ingin berteman dengan kesedihan. *** "Kamu baru pulang dari sekolah ya? Mampir dulu sini, makan. Lapar kan?" tanya penjual di rumah makan yang ada di depan kostan Anna. "Iya Bu." sahut Anna yang kemudian menghampiri rumah makan itu. "Mau makan apa? Ayam ya?" tanya Ibu penjual. "Tapi, saya belum ada uang Bu." ujar Anna dengan wajah kecewa. "Gak perlu bayar, untuk kamu gratis." ujar ibu penjual. "Jangan gratis lah Bu, saya gak enak. Masa setiap saya makan di sini, saya gak pernah bayar." ujar Anna. "Kamu jangan pikirkan itu. Dari pada perut kamu sakit? Lebih kamu makan dulu ya. Biar ibu siapkan." ujar ibu penjual. "Ya udah deh Bu. Tapi, gak perlu banyak-banyak." ujar Anna. "Iya." sahut ibu penjual. "Oh iya, kamu kok bisa kost di sana? Orang tua kamu jauh?" tanya ibu penjual. "Gak sih Bu." sahut Anna. "Terus kenapa? Kalo kamu mau cerita sama ibu gapapa kok. Ibu bisa jaga rahasia, dan mungkin bisa mengurangi beban masalah kamu." ujar ibu penjual. Ibu penjual itu segera memberikan sepiring berisi makanan dan segelas minuman untuk Anna. Ibu penjual itu lalu mulai mendekati Anna. "Kamu ada masalah ya? Cerita aja, gapapa." ujar ibu penjual. "Sebenarnya, saya kabur dari rumah. Saya dikunci selama 2 hari di kamar, mungkin akan lebih lama kalo saya gak kabur. Papah ingin saya selalu mendapat peringkat pertama dalam semua bidang pelajaran. Tapi, saya manusia. Saya punya kelemahan di beberapa mata pelajaran. Saya juga gak sanggup selalu jadi pelampiasan marah Papah saya. Saya gak kuat, Bu...," jelas Anna, ia mulai meneteskan air matanya saat menceritakan hal itu. "Kamu yang sabar ya. Yang kamu lakukan ini tidak ada salahnya. Kamu habiskan dulu ya makanannya. Buang air mata kamu. Tidak akan selamanya Papah kamu seperti itu, suatu saat nanti dia akan sadar bahwa yang sudah dia lakukan kepada kamu itu salah. Dia bukan orang tua yang baik." ujar ibu penjual seraya mengelus lembut punggung Anna. "Makasih ya, Bu. Sebelumnya, belum ada seorang pun yang bisa mengerti posisi aku. Aku cuma butuh perhatian, gak lebih." Anna semakin deras meneteskan air matanya. "Keluarkan semua kesedihan kamu. Gak perlu di pendam. Semua masalah ada saatnya pasti akan berlalu. Kita hanya perlu sabar." ujar ibu penjual. —Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN