Episode 14

1761 Kata
"Luapkan segala kesedihan kamu yang selama ini telah lama kamu pendam. Jangan kamu simpan lagi, itu hanya akan membuat hati kamu bertambah luka. Kita hanya perlu bersabar untuk menghadapinya." *** "Rizki, kamu bikin masalah apa lagi!? Hah!?" teriak Papah. "Masalah apa? Rizki gak bikin masalah apa-apa." elak Rizki. "Papah dengar, kamu sibuk main sekarang. Nilai kamu juga gak pernah ada perkembangan." ujar Papah. "Terserah deh Pah." ujar Rizki yang kemudian berjalan menuju kamarnya. "Anak tidak berguna!" teriak Papah. Rizki tak mempedulikan hal itu sama sekali. "Rizki! Kalau nilai kamu tidak ada kenaikan, kamu akan Papah pindahkan ke sekolah lain. Papah akan pindahkan kamu ke asrama, agar kamu tidak main-main. Kalau kamu terus saja seperti ini, mau jadi apa kamu!?" bentak Papah. "Terkadang aku berpikir, apakah aku benar-benar keturunan dari keluarga Mahendra ataukah aku hanya anak yang tak pernah diinginkan oleh Papah? Mengapa Papah sangat tidak suka padaku? Apakah memang aku saja yang terlalu bodoh hingga membuat Papah selalu berada di puncak amarah? Tapi, aku harus dapat menghentikan pemikiran ini. Bagaimanapun, kehidupanku akan tetap seperti ini. Takkan ada perubahan." "Kamu contoh dong Kakak kamu!" "Kenapa harus Kakak? Apakah tugas orang tua adalah mengadu domba kedua anaknya? Hal itu bukannya menumbuhkan semangat dalam persaudaraan, namun kebencian." *** "Tuan, ini minumnya? Kok murung gitu tuan? Nanti lekas tua loh." peringat pelayan. "Bukannya cepat tua kalo marah ya? Kok murung?" heran Rizki. "Emang gitu ya tuan? Aduh, bibi lupa kayaknya. Udah lah tuan, di minum dulu mumpung masih anget." tawari pelayan. "Makasih ya, bi." ucap Rizki. "Oh iya tuan, gak punya niat buat kenalin bibi sama temannya tuan?" tanya pelayan secara tiba-tiba yang membuat Rizki menyemburkan minuman yang tengah ia teguk ke arah wajah pelayan karena terkejut. "Agak manis tuan." ujar pelayan yang wajahnya kini basah. "Maaf banget bi, lagian bibi ada-ada aja, masa minta kenalin sama teman aku." ujar Rizki. "Ya kan siapa tau cocok sama anak bibi di kampung, gitu maksud bibi, tuan." jelas pelayan. "Kirain buat bibi, siapa tau selera bibi berondong." ujar Rizki seraya menahan tawa. "Tuan ada-ada saja, ya nggak mungkin lah. Tapi kalo ada yang mau gak ada salahnya kok." ujar pelayan. Rizki pun kembali tertawa mendengar perkataan pelayan itu. "Oh iya, di dapur ada ayam panggang loh tuan. Mau coba gak?" tawari pelayan. "Mau banget, bawa ke sini deh bi. Eh, sama sekalian bawa minuman yang baru ya bi." ujar Rizki. "Siap tuan." sahut pelayan. *** "Kalau begitu, saya ke kostan ya Bu. Terima kasih banyak untuk makanannya ya Bu. Saya permisi." pamit Anna. "Iya." sahut ibu penjual singkat. "Kasihan sekali ya, apa orang tuanya gak coba cari keberadaan dia?" batin ibu penjual. "Benar ya, ternyata memang hidup mereka lebih bahagia tanpa ada aku di sana. Sampai saat ini, tak pernah ada seseorang yang mencari keberadaan ku. Mungkin, aku memang bukan anak yang mereka inginkan." "Anna, kamu mau makan apa?" "Safira, kok kamu bisa ada di sini?" tanya Anna heran. "Aku tadi mampir dan rencananya aku mau bermalam beberapa hari di kostan kamu. Kamu gak keberatan kan? Aku gak enak sih sebenarnya." jelas Safira. "Gapapa sih. Aku juga gak ada teman di sini. Tapi, kamu harus masakin aku setiap hari." terima Anna. "Iya, aku juga kesepian di rumah. Jadi kan, lebih baik kalau kita saling menemani satu sama lain. Ya gak?" ujar Safira dengan senyuman kecil di wajahnya. Anna hanya menganggukkan kepalanya. "Oh iya, kita mau masak apa sekarang?" tanya Safira. "Kita liat aja deh di dapur adanya apa. Soalnya aku jarang masak, aku biasanya pesan. Apa pun bahan yang ada, itu yang kita masak." ujar Anna. "Iya, ayo kita cek." ajak Safira. "Yuk! Oh iya, aku sebentar lagi harus berangkat ke kafe, aku harus kerja. Kamu gapapa kan aku tinggal sendiri di sini?" tanya Anna cemas. "Gapapa, tenang aja. Kamu lebih baik siap-siap sekarang, nanti telat loh. Kamu kan pelayan baru, jadi jangan sampai bikin kesalahan sekecil apa pun." peringat Safira. "Siap, Safira! Aku siap-siap dulu ya. Tunggu aku pulang!" ujar Anna. "Iya, semangat kerjanya." ujar Safira menyemangati. "Pasti!" sahut Anna. Anna segera bersiap untuk berangkat bekerja. Safira pun mulai merapikan dapur dan menyiapkan bahan untuk memasak. Ia melihat di mana pun memang tidak ada sayur untuk makan. "Gak ada apa-apa, dia kayaknya emang gak pernah masak deh. Maklum sih, dia kan anak orang kaya. Jadi, jarang masak-masak kayak gini. Oh iya, aku harus bikin apa ya dari bahan-bahan ini? Apa aku belanja dulu? Tapi, kayaknya ini cukup deh. Aku potong-potong dulu aja deh. Nanti dia bakalan terkejut sama masakan aku. Harus spesial!" ujar Safira pada dirinya sendiri dengan penuh semangat. Ia mulai memotong wortel, kol, dan bahan lainnya. *** "Ini apa ya, mbak!?" bentak salah seorang pelanggan pada Anna. "Maaf, ada apa ya?" tanya Anna heran. "Ini minuman atau air cuci piring sih!? Gak enak banget, saya gak terima ya mbak. Pokoknya saya minta ganti rugi!" teriak pelanggan itu. "Maaf, tapi tugas saya hanya mengantarkan makanan ini ke atas meja pelanggan. Jadi, ini bukan urusan saya." jelas Anna. "Saya tidak peduli! Pokoknya kamu harus ganti!" teriak pelanggan. "Sepertinya anda sedang berbohong, sini saya coba." ujar Anna seraya menarik paksa gelas minuman itu dan segera mencicipinya, rasanya manis. "Tuh kan, rasanya manis, anda jangan coba-coba membohongi saya ya! Trik seperti ini sudah sering kali digunakan oleh pelanggan yang tidak mampu membayar seperti anda!" bentak Anna balik. "Kamu!" teriak pelanggan. "Apa!? Saya benar? Pergi sebelum saya laporkan anda ke pihak yang berwajib, ini termasuk dalam penipuan." ancam Anna. "Awas lo ya!" ancam pelanggan balik. Pelanggan itu segera membayar dan pergi karena ketakutan. "Cari masalah kok sama Anna, belum kenal ya." ujar Anna pada dirinya sendiri. "Anna, ada masalah apa?" tanya pelayan lainnya. "Tidak ada apa-apa, cuma pelanggan yang mau lari dari tanggung jawab." jawab Anna. "Kamu ada-ada aja. Sekarang kamu ambil pesanan ini ya, antar ke meja yang di sana." perintah pelayan itu. "Iya." turuti Anna. Anna pun segera mengantarkan pesanan itu dengan penuh semangat, Anna memang selalu bersemangat. *** "Selesai, sup buatan Safira. Aku ngapain lagi ya? Bosen banget, hari ada kan aku gak ngajar les. Aku bersih-bersih aja kali ya, sambil menunggu Anna pulang." ujar Safira pada dirinya sendiri. Tak lama, seseorang mengetuk pintu kostan Anna. Safira segera membukakan pintu itu. "Anna ada di dalam?" tanya seorang ibu. "Maaf, tapi Anna sedang tidak ada. Dia sedang bekerja di kafe, ada perlu apa ya? Ada yang ingin di sampaikan? Nanti akan saya sampaikan." ujar Safira ramah. "Tidak perlu, saya hanya ingin mengembalikan barang yang saya pinjam. Dia baik sekali, kamu temannya ya?" tanya ibu itu. Safira hanya menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu, saya permisi dulu ya. Rumah saya di depan sana. Jika ada waktu, boleh mampir." pamit ibu itu dengan senyuman kecil terlihat di wajahnya. "Iya, Bu." sahut Safira. Ibu itu pun segera berjalan ke arah rumahnya. Safira pun mulai berpikir. "Anna pasti orang yang sangat baik sekali ya, ia baik kepada siapa pun. Rafa pun pasti akan memilih Anna nantinya. Sudah lah, aku tidak perlu memikirkan hal itu. Aku lebih baik mulai bersih-bersih sekarang. Aku tidak punya banyak waktu." batin Safira. Ia pun segera merapikan kostan Anna dengan penuh semangat. Jam sudah menunjukkan pukul 19:00. Tak lama, ada seseorang yang mengetuk pintu. Safira pun senang karena berpikir Anna telah pulang, ia segera membukakan pintu dengan senyuman. "Anna?" "Safira, kamu kok bingung gitu?" tanya Anna. "Gapapa, kamu pasti lelah banget ya. Muka kamu penuh dengan keringat." ujar Safira yang segera menyeka keringat Anna dengan handuk yang ia genggam. "Oh iya, kamu masak apa?" tanya Anna yang sepertinya sudah sangat lapar. "Aku bikin sup spesial untuk kamu, langsung cobain yuk!" ajak Safira. Safira pun segera menghidangkan makanan yang telah ia buat. Aromanya memang terasa lezat, rasanya pun enak. "Enak banget." puji Anna. "Makasih." ucap Safira dengan senyuman senang terpancar di wajahnya. *** "Pak, kita belum telat kan?" tanya Safira pada satpam sekolah. "Tenang, masih lima menit lagi. Cepat masuk!" ujar pak satpam. Anna dan Safira pun segera berlari memasuki gerbang sekolah. "Kita jadi sering telat." ujar Anna. "Iya, tapi yang penting masih belum telat banget." ujar Safira. Tak lama, Rafa menghampiri mereka berdua. "Kalian kenapa? Kayak habis lari?" tanya Rafa. "Aku lari waktu turun dari angkot Kak. Lima menit lagi gerbang akan ditutup, tapi lelah banget." ujar Safira. "Kalian mau minuman gak? Aku bawa dua botol nih." tawari Rafa seraya memberikan botol berisi minuman manis dan segar kepada Anna dan Safira. "Makasih ya Kak." ujar Anna dan Safira. "Iya, sama-sama. Kalo gitu, aku ke kelas ya. Sampai jumpa." pamit Rafa seraya memberikan senyuman untuk Safira. Namun, Anna yang melihat senyuman Rafa langsung berpikir bahwa Rafa memberikan senyuman itu untuknya. Anna memang terlalu percaya diri. "Safira, kamu liat enggak?" tanya Anna. "Liat? Apa?" tanya Safira balik. "Kak Rafa senyum ke arah aku!" jelas Anna. "Senyum?" tanya Safira memastikan. "Iya, kamu enggak liat ya? Udah ah, mending kita ke kelas sekarang!" ajak Anna. "Iya juga, yuk!" turuti Safira. Mereka pun dengan cepat berlari ke arah kelas, namun mereka terhalang oleh Ghea dan teman-temannya. "Hei, adik kelas." ujar Ghea dengan senyum liciknya. "Maksud kamu apa ya, Ghea? Lebih baik kamu minggir deh, kita mau lewat." ujar Safira. "Apa lo bilang? Mau lewat!? Berani lo ya! Teman-teman, bagaimana kalau kita kasih mereka kejutan?" ujar Ghea pada teman-temannya. "Kejutan?" heran Anna. Teman-teman Ghea yang sedari tadi berdiri di belakang Anna dan Safira segera memukul mereka dengan sebuah pemukul besi. Anna dan Safira memang tidak mengetahui ada orang di belakang mereka sedari tadi. Anna dan Safira tergeletak pingsan. "Semuanya, ikat mereka. Dan jangan lupa untuk bawa mereka ke mobil gue!" perintah Ghea dengan senyuman licik. Teman-teman Ghea pun segera mengikat tubuh Anna dan Safira dan segera memasukkan mereka ke dalam mobil Ghea. "Bu, saya izin ya. Sepertinya badan saya kurang enak." ujar Ghea pada Guru. "Baik, kamu hati-hati." ujar Guru. Ghea pun dengan cepat memasuki mobilnya yang telah berisi Anna dan Safira. "Ini akibatnya bermain-main dengan gue, selamat menikmati kejutan." ujar Ghea. Ghea mengendarai mobilnya dengan kencang, ia akan membawa Anna dan Safira ke suatu tempat yang sulit ditemukan oleh siapa pun. Tak lama, Anna terbangun. "Ghea! Lo mau bawa kita ke mana?" tanya Anna. Ghea hanya tertawa. "Kenapa, kalian takut? Gue akan bawa kalian ke tempat yang enggak ada penghuninya satu pun." jelas Ghea. "Ghea! Lepasin kita!" teriak Anna. "Percuma lo teriak, ini bukan area jalan raya. Ini hutan, jadi gak perlu banyak bicara. Lo cukup diam dan nikmati kejutan yang udah gue siapkan." ujar Ghea. "Ghea! Lepasin!" teriak Anna. "Gue gak peduli kali! Lo mending urus temen lo deh, kasihan banget. sampai saat ini masih belum bangun." ujar Ghea. "Ghea! Lo mau bawa gue dan Safira ke mana sih!?" teriak Anna. —Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN