"Ghea! Gue dan Safira mau lo bawa ke mana sih!? GHEA!!" pekik Anna dengan kasar.
"Udah, lo cukup nikmatin kejutan dari gue! Gak perlu banyak tanya!" teriak Ghea.
Kemudian, Safira pun terbangun.
"Anna, kok kita bisa di sini? Ini di mana?" tanya Safira.
Ghea dengan cepat menghentikan mobilnya karena sudah sampai di tempat yang ingin ia tuju. Ghea pun segera mengeluarkan Anna dan Safira dari mobilnya dengan kasar, ia kemudian mendorong Anna dan Safira hingga terperosok ke jurang yang agak tinggi.
"Selamat menikmati semalam di hutan." ujar Ghea yang segera menaiki mobilnya dan kembali mengendarai mobilnya.
Kaki Anna dan Safira terluka karena terkena bebatuan kecil yang tajam. Mereka mencoba melepaskan tali yang digunakan untuk mengikat mereka dengan bebatuan tajam itu. Hutan ini sepertinya sangat jauh dari tempat mereka.
"Anna, kita harus apa sekarang?" tanya Safira dengan wajah khawatir yang sangat terlihat.
"Safira, kamu tenang dulu ya. Aku akan cari cara agar kita dapat keluar dari hutan ini secepat mungkin dan selamat." ujar Anna seraya mengelus lembut punggung Safira yang sangat terlihat khawatir.
Anna mencoba berdiri, namun kakinya sakit. Ia tak dapat berdiri untuk saat ini.
"Kaki kamu luka?" tanya Safira cemas.
Safira segera membuka tas dan mencari sesuatu yang dapat menutup luka pada kaki Anna. di hutan ini tidak ada sinyal. Safira segera membalut kaki Anna yang terluka dengan sebuah kain.
"Safira, kok kamu bawa itu?" tanya Anna.
"Aku memang selalu bawa benda-benda yang sepertinya tidak berguna, namun akan dibutuhkan nantinya. Sedia payung sebelum hujan." ujar Safira yang masih membalut luka Anna.
"Tapi, kaki kamu juga terluka." ujar Anna.
"Tenang, nanti luka aku juga akan aku balut. Tapi, kamu yang lebih penting." ujar Safira, Anna yang mendengar hal itu pun langsung terharu. Anna tersenyum.
"Udah selesai, kamu bisa bantu balut luka aku?" tanya Safira.
"Iya, aku balut ya." ujar Anna.
Luka mereka telat terbalut oleh kain. Mereka pun mencoba untuk berdiri. Namun, tetap saja terjatuh beberapa kali. Anna menatap jam tangannya. Ini sudah pukul 10:00, dan mereka masih belum dapat berdiri. ia harus bekerja pukul 13:30. Jika tidak masuk, mungkin ia akan dipecat.
"Apa kita bisa pulang?" tanya Anna tiba-tiba.
"Tentu saja bisa, hanya perlu waktu." ujar Safira.
"Kita harus apa sekarang?" tanya Anna.
***
"Safira?"
"Tidak masuk Bu, Safira dan Anna." sahut seorang siswa.
"Kenapa? Izin?" tanya Guru.
"Tidak Bu." sahut siswa.
"Tidak mungkin Safira dan Anna tidak sekolah tanpa adanya keterangan. Ada apa ya?" batin Guru heran.
"Kalau begitu, kita lanjutkan pembelajaran kita yang kemarin ya. Ibu ingin keluar sebentar, kalian cukup mencatat poin pentingnya saja ya." ujar Guru.
Guru pun segera keluar dari ruangan kelas dan menemui Kepala Sekolah.
"Pak, Anna dan Safira tidak masuk sekolah tanpa keterangan." ujar Guru itu tiba-tiba.
"Apa? Safira dan Anna? Tidak mungkin mereka tidak sekolah tanpa keterangan, apakah mereka telat?" tanya Kepala Sekolah.
"Mungkin, Pak. Saya permisi ke ruangan kelas, Pak." ujar Guru itu lagi.
"Baik, silakan." sahut Kepala Sekolah.
"Sepertinya ada masalah." batin Kepala Sekolah.
Jam Istirahat sudah tiba.
"Apa? Anna dan Safira tidak masuk sekolah? Bukannya tadi aku liat dia ya." bingung Rafa.
"Kak Rafa, ngapain di kelas 11?" tanya Rizki.
"Cari seseorang." jawab Rafa.
"Oh." singkat Rizki.
"Rizki, tolong izinin Kakak ya, soalnya Kakak harus pergi sekarang." ujar Rafa.
"Iya, Kak." sahut Rizki.
Rafa segera menaiki mobilnya dan mengendarainya dengan kecepatan penuh. Ia menghentikan mobilnya saat sampai di rumah Ghea, ia tahu Ghea punya masalah dengan Anna dan Safira. Ia pun memasuki rumah Ghea secara diam-diam. Setelah sampai di ruang tamu, ia bersembunyi.
"Mereka berdua gak akan bisa pulang. Gue bahagia banget gak ada mereka." ujar Ghea.
***
"Eh, tunggu. Mereka bilang Safira dan Anna gak sekolah tanpa keterangan? Kayaknya Kak Rafa tahu sesuatu, aku harus ikutin Kak Rafa." ujar Rizki.
Rizki segera menaiki mobilnya dan segera meminta sopir untuk mengantarkannya mengejar Rafa. Rafa sempat bilang ingin menemui Ghea, dan Rizki telah izin pada sekolah.
Rizki menghentikan mobilnya tepat di rumah Ghea, ia segera turun dan menemui Ghea.
"Ghea, di mana Safira sekarang!?" tanya Rafa dengan nada kasar.
"Aku gak tau lah, itu bukan urusan aku." elak Ghea.
Rafa yang telah berada di puncak amarah pun segera menarik lengan Ghea dengan kasar.
"Di mana Safira sekarang!?" ulangi Rafa.
"Aku benar-benar gak tau, Rafa." ujar Ghea.
"Aku gak percaya, jawab jujur atau aku laporkan kamu ke kantor polisi dengan tuduhan penculikan." ancam Rafa.
"Oke, oke! Mereka aku buang ke hutan yang jauh banget dari sini!" ujar Ghea.
"Di mana itu?" tanya Rafa.
"Aku juga gak ingat, pokoknya jauh dari sini." ujar Ghea.
"Oke, dan jangan sampai ini terjadi lagi!" ancam Rafa.
Rizki yang melihat hal itu pun segera bertanya pada Kakaknya.
"Kak Rafa, Anna di mana sekarang?" tanya Rizki secara tiba-tiba.
"Rizki, kami ngapain di sini?" tanya Rafa balik.
"Kakak pasti tahu keberadaan Anna dan Safira, kan? Aku ikut Kakak." ujar Rizki.
"Oke, kita pergi sekarang!" ajak Rafa.
Rizki dan Rafa segera menaiki mobil dan Rafa segera mengendarai mobilnya dengan kecepatan maksimum.
"Apa? Di hutan? Ini semua pasti ulah Kak Ghea, kan?" tanya Rizki. Rafa mengangguk.
Setelah sampai di hutan, Rafa dan Rizki berkeliling mencari keberadaan Anna dan Safira, juga sesekali mereka berteriak memanggil Anna dan Safira.
"Anna!"
"Safira!"
***
Anna dan Safira dari kejauhan tengah berjalan dengan memegang sebuah tongkat kayu, masing-masing. Saat mereka berjalan, tiba-tiba ada sebuah ular besar yang tiba-tiba saja jatuh dari atas pohon di tengah-tengah mereka. Mereka yang melihat hal itu pun segera berlari untuk menyelamatkan diri. Mereka akhirnya berpisah mulai dari sana. Mereka berlari semakin jauh dari tempat masing-masing.
"Tunggu, Safira! Kamu di mana!?" teriak Anna, namun tak ada balasan dari Safira, karena mereka sudah terlalu jauh berpisah.
***
"Rizki, bagaimana kalau kita mencari Anna dan Safira berpencar? Agar peluang ketemunya lebih tinggi." usul Rafa.
"Iya, Kak. Kalau begitu, aku ke sana dan Kakak ke sana ya." ujar Rizki.
Mereka pun segera berpencar semakin jauh terpisah.
***
"Anna! Kamu di mana sih!?" teriak Safira. Suasana mulai dingin.
"Apa yang harus aku lakukan, aku sudah tersesat dan saat ini aku harus berpisah dengan Anna? Aku benci hal ini!"
"Anna! Kamu dengar aku tidak!? Tolong jawab aku Anna!" teriakan Safira semakin kencang, namun tetap saja tidak terdengar oleh Anna karena posisi mereka yang semakin jauh.
Sudah beberapa jam mereka terpisah, jam sudah menunjukkan pukul 14:15. Hari cepat sekali berlalu dan mereka belum juga bertemu.
"Safira! Kamu dengar suara aku gak? Kamu di mana!?" teriak Anna, "Apa kita berdua udah terpisah terlalu jauh ya?" lanjut Anna.
"Anna!" teriakan itu terdengar tidak terlalu jauh dari posisi Anna.
"Siapa di sana!? Anna di sini!" teriak Anna.
"Anna!? Aku akan ke sana! Tunggu!"
Tak lama, seseorang datang menyentuh punggung Anna dengan lembut.
"Rizki? Kamu kok bisa ada di sini?" tanya Anna heran.
"Kamu jangan pikirkan ya. Yang penting sekarang, kamu udah ketemu dan lebih baik kita ke mobil, yuk!" ajak Rizki.
"Ke mobil? T-tapi, Safira...,"
"Kamu gak perlu pikirkan Safira ya, dia udah ada uang cari juga kok. Mending sekarang kita ke mobil, sebelum malam." ujar Rizki. Anna hanya mengangguk.
Anna dan Rizki pun segera berlari menuju mobil Rafa.
Tak jauh dari keberadaan mereka, Rafa tengah sibuk mencari Safira, ia terus-menerus berteriak namun suaranya tak terdengar oleh Safira.
"Safira!" teriak Rafa.
Tak ada balasan apa pun dari Safira, Rafa terus berjalan ke dalam hutan, ia menelusuri berbagai pepohonan rimbun dan terus berteriak memanggil nama Safira.
"Safira!"
Tak lama, ada balasan suara dari seseorang.
"Aku di sini!"
Rafa yang mendengar hal itu pun langsung berlari ke arah sumber suara.
"Safira!?"
"Aku di sini! Siapa pun tolong ke sini!"
Tak lama, Rafa pun sampai di tempat keberadaan Safira, ia yang cemas pun langsung memeluk tubuh kecil Safira.
"K-kak Rafa?" heran Safira.
"Safira, untung saja aku bisa bertemu kamu. Kamu tau gak sih? Aku cemas banget sama kamu." ujar Rafa.
"Cemas?" Safira masih heran mendengar ucapan Rafa. Ia hanya membeku saat Rafa terus memeluk dirinya, jauh dalam lubuk hati Safira, ia sangat senang.
Namun, apakah ini benar? Ia terus berpikir bahwa Rafa mencintai Anna, namun saat ini ia mengubah pikirannya.
"Apakah ia mencintaiku?"
Pertanyaan itu terus menggangu pikirannya, namun ini bukan saatnya untuk memikirkan hal-hal semacam itu.
"Oh iya, Anna bagaimana? Kita harus cari Anna Kak!" ujar Safira yang cemas akan Anna.
"Gak perlu, Anna udah ada yang cari, sekarang lebih baik kita ke mobil, yuk!" ajak Rafa.
Rafa mengulurkan tangannya pada Safira. Safira pun menerima uluran tangan itu dengan senang hati, ia pun tersenyum.
Setelah mereka telah berjalan cukup jauh, tiba-tiba saja ada hujan lebat yang mengguyur mereka. Rafa pun menarik lengan Safira dan berlari menuju pohon besar untuk berlindung dari hujan bersama Safira.
Dari sisi lain, Anna dan Rizki telah berada di dalam mobil. Jadi, mereka berdua takkan terkena hujan.
"Rizki, hujan! Safira bagaimana?" tanya Anna cemas.
"Mungkin, Safira sedang berteduh dari hujan. Kamu jangan terlalu khawatir ya. Kamu mau minum? Aku ada minuman untuk kamu." ujar Rizki seraya memberikan sebotol minuman pada Anna.
***
"Hujan, bagaimana ini? Aku enggak bawa jaket lagi." ujar Safira. Rafa yang mendengar hal itu pun langsung memeluk tubuh Safira secara tiba-tiba, Safira langsung melebarkan matanya karena terkejut dengan apa yang baru saja Rafa lakukan.
"Kak Rafa?" heran Safira.
"Kamu tadi bilang enggak bawa jaket kan? Kalo kamu kedinginan cukup peluk aku aja, pasti hangat." ujar Rafa.
Safira benar-benar tak dapat berkata apa pun, ia sangat terkejut sekaligus bahagia saat ini. Ia bingung harus berbuat apa sekarang.
"Kak Rafa kok bisa tau aku ada di sini?" tanya Safira heran.
"Kamu gak perlu pikirin itu, yang penting aku berhasil temukan kamu dan sekarang kita berdua." ujar Rafa.
"Semakin aku berusaha menghilangkan rasa ini, semakin aku cinta padamu. Aku yakin perasaanku tak salah."
Senyuman pun terpancar di wajah manis Safira. Rafa menatap wajah Safira tajam.
"Apakah ini saatnya? Ini saat untukku mengungkapkan perasaan ini?" batin Rafa.
"Kak Rafa kenapa? Kok liatin aku gitu banget? Ada yang aneh ya dari aku?" tanya Safira heran.
"Safira, aku udah gak sanggup tahan perasaan ini. Aku...," perkataan Rafa seketika terhenti karena tiba-tiba saja ada seekor ular yang jatuh dari pohon besar itu.
"Ular!" teriak Safira ketakutan.
"Ular? Kamu tenang ya." ujar Rafa. Rafa segera mengambil sebuah ranting kayu dan mengusir ular itu. Akhirnya, ular itu pun segera pergi meninggalkan mereka.
"Kak, hujannya udah berhenti. Kita lanjut ke mobil yuk!" ajak Safira.
"Ya udah, yuk!" turuti Rafa.
"Apakah alam semesta tak mengizinkan aku mengungkapkan rasa ini? Aku tak akan mencobanya lagi jika begitu."
Rafa pun menyerah tuk mengungkapkan isi hatinya karena tak pernah tersampaikan.
Mereka pun akhirnya sampai di mobil, Safira terlihat senang saat melihat Anna. Anna dan Safira pun segera berpelukan.
—Bersambung...