Episode 16

1745 Kata
"Safira, kamu baik-baik aja kan? Tunggu, Kak Rafa? Kakak yang cari Safira?" tanya Anna. Rafa pun mengangguk. "Makasih ya, Kak." ujar Safira. "Sama-sama, kita langsung pulang aja?" tanya Rafa. "Iya, kita lebih baik langsung pulang sebelum malam." ujar Safira. Mereka semua pun segera menaiki mobil dan Rafa segera mengendarai mobilnya. "Aku gak masuk kerja hari ini, apa aku akan dipecat? Atau potong gaji?" batin Anna. "Anna pasti cemas tentang pekerjaannya." batin Safira. Rizki hanya menatap Anna, ia begitu mengangumi Anna, namun tak dapat mengungkapkan isi hatinya karena ia merasa tidak pantas mencintai seorang Anna yang begitu cantik, baik, dan terlebih ia juga terkenal dan pintar. Anna tidak terlalu mempedulikan perasaannya pada Rafa saat ini, ia lebih memikirkan pekerjaannya terlebih dahulu. Ia juga sangat peduli terhadap Safira, sahabatnya. "Tunggu, kok arah kamu tunjukkan dari tadi kayaknya bukan arah ke rumah kamu deh Anna." ujar Rizki secara tiba-tiba, Anna pun tersadar bahwa Rizki memang mengetahui letak rumahnya. "Hah? I-itu, aku sekarang tinggal di rumah teman aku. Dia kost di sini, aku ada urusan soalnya." ujar Anna. "Oh, ya udah." sahut Rizki. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju kostan Anna. Anna dan Safira turun dari mobil Rafa dengan cepat. "Safira, kamu turun bareng Anna?" tanya Rafa heran. "Iya, aku juga ada urusan bareng Anna." ujar Safira. "Oke, kalau begitu, aku sama Rizki pulang ya." ujar Rafa. "Iya. Terima kasih sekali lagi ya, Kak." ujar Safira. "Iya." sahut Rafa singkat. Rafa dan Rizki pun segera menaiki mobil dan pulang ke rumah mereka, karena hari pun sudah semakin malam. Safira dan Anna pun memasuki pintu kostan dan Anna segera menutup pintu. "Aku masih gak habis pikir ya sama si Ghea! bisa-bisanya dia bawa kita ke hutan hingga kaki aku terluka kayak gini! Liat aja, aku akan balas dia dengan lebih parah!" kesal Anna. Anna terus mengomel karena kesal pada Ghea, ia memang tak menyangka bahwa Ghea akan melakukan hal semacam itu. "Anna, kamu tenang ya. Lebih baik sekarang kita makan, aku tadi pagi udah masak sesuatu buat makan malam." ujar Safira seraya menyiapkan makanan untuk makan malam. "Yuk, aku juga lapar banget sejak tadi siang." ujar Anna. Mereka pun segera menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh Safira. "Safira, ini enak banget loh. Kamu kok bisa masak seenak ini sih? Cerita dong!" ujar Anna. "Karena aku suka bantu Ibu aku masak saat usia aku masih 9 tahun, dari sana aku banyak belajar tentang masak. Dan, saat ibu di rawat di rumah sakit, aku jadi masak makanan aku sendiri, jadi aku terbiasa masak makanan enak." ujar Safira dengan tetesan air mata tumpah di pipinya. "Safira, aku minta maaf ya. Kamu pasti jadi ingat ibu kamu. Lebih baik kamu ajari aku masak ya, nanti?" ujar Anna dengan senyum bahagia mulai muncul di wajahnya. "Bisa, tapi ada syarat." ujar Safira. "Syarat? Apa?" tanya Anna. "Aku bisa tinggal di sini semau aku, boleh? Untuk biaya kostnya aku bisa bantu kamu kok, tenang aja." ujar Safira. "Boleh banget, kita akan selalu bersama sampai kapan pun. Iya kan?" ujar Anna. "Mungkin, aku gak tahu masa depan kita nanti. Aku gak janji." ujar Safira yang membuat wajah Anna mulai nampak kecewa. "Safira, dari pada kita bosan, lebih baik main games, bagaimana? Kamu setuju?" usul Anna. "Main games? Apa?" tanya Safira yang terlihat heran. "Truth or Dare?" usul Anna. "Boleh sih, tapi pakai handphone?" tanya Safira. "Iya, aku mulai ya." ujar Anna. Anna segera menyiapkan ponselnya dan memulai permainan. putaran pertama mengarah pada Safira. "Safira! Truth or Dare?" tanya Anna dengan senyuman di wajahnya. "Truth?" sahut Safira dengan wajah yang penasaran akan pertanyaan apa yang akan ia dapatkan. "Oke. Kamu harus jawab jujur ya, siapa nama pacar atau mantan pertama kamu?" tanya Anna dengan semangat. "Gak ada, aku gak pernah pacaran sama sekali hingga saat ini. Aku gak di perbolehkan pacaran sama orang tua aku." jawab Safira. "Masa sih?" tanya Anna yang masih tak percaya dengan ucapan Safira. "Aku serius Anna. Lagi pula gak ada cowok yang suka sama aku, sama sekali!" sahut Safira. "Serius kamu? Wanita secantik kamu gak ada yang suka? Parah banget sih." ujar Anna. "Emang gitu kenyataannya. Sekarang giliran aku ya." ujar Safira. Safira segera memulai permainan. "Anna! Truth or Dare?" tanya Safira. "Truth lah." ujar Anna dengan penuh semangat. "Jawab jujur, pertanyaannya, kamu pernah gak merasa cemburu sama sahabat kamu sendiri? Aku?" tanya Safira. "Gak pernah, masa aku cemburu sama kamu." jawab Anna. Anna pun segera memulai permainan lagi. "Safira! Truth or Dare?" tanya Anna. "Truth?" jawab Safira. "Siapa orang yang kamu suka saat ini? Gak boleh inisial, harus nama lengkap!" ujar Anna. "Eh, Anna. kamu udah mulai ngantuk gak sih? Aku udah ngantuk loh, aku udah pengen tidur." ujar Safira. "Iya, aku juga ngantuk loh." ujar Anna. Mereka pun segera bersiap untuk tidur. Tak lama, Anna terlihat telah tertidur pulas. Namun, Safira masih terlihat belum tertidur sama sekali. "Apakah perasaan cintaku dan perasaanmu padaku sama? Entahlah, aku hanya dapat menunggumu." *** "Safira, ke kantin gak?" tanya Anna. "Gak ah, kamu ke kantin sendiri aja. Aku lagi sibuk banget soalnya." ujar Safira. "Hm, ya udah. Aku ke kantin ya." ujar Anna. "Iya." jawab Safira singkat. Anna pun dengan cepat keluar dari ruangan kelas dan menuju kantin. Safira terlihat masih berkutat pada buku catatannya, ia harus belajar karena sebentar lagi sekolah akan mengadakan ujian bagi para siswa. Nilainya tidak boleh rendah, karena ia masuk sekolah ini melalui jalur beasiswa, jadi ia harus benar-benar serius untuk ini. "Hai, Safira!" Suara seorang pria terdengar menusuk di telinga Safira, sepertinya, ia mengenal suara itu. "Rizki? Kamu ngapain di sini?" tanya Safira heran. "Gak apa-apa, aku cuma mau ketemu kamu aja. Kamu lagi ngapain? Kayaknya sibuk banget dari tadi." ujar Rizki. "Iya, aku harus belajar." ujar Safira. "Siswa pintar mah harus belajar yah." ujar Rizki. "Bukannya gitu, aku kan masuk sekolah ini karena mendapat beasiswa, jika nilai aku turun, beasiswa aku bisa dicabut." jelas Safira. "Oh, pantes aja kamu serius banget sama sekolah. Ngomong-ngomong, Anna ke mana?" tanya Rizki. "Anna tadi ke kantin." jawab Safira. "Hm, Rizki...," "Kenapa?" tanya Rizki heran. "Aku mau tanya sesuatu sama kamu, kamu kok bisa bareng Kak Rafa kemarin? Kamu kenal Kak Rafa? Dekat?" tanya Safira. "Kak Rafa itu Kakak kandung aku, jelas aku dekat sama dia. Kenapa?" tanya Rizki balik. "Kakak kandung? Kalian saudara?" tanya Safira memastikan. "Ya iyalah, emang kenapa?" tanya Rizki lagi. "Aku masih gak percaya deh. Kalian beda berapa tahun?" tanya Safira penasaran. "Hanya satu tahun saja." jawab Rizki cepat. "Tunggu, kita seumuran ya?" tanya Safira yang akhirnya membuat Rizki tertawa. "Iya lah Safira, kita kan sama-sama kelas 11, jelas lah kita seumuran. Kamu ada-ada saja deh." ujar Rizki dengan tawa kecil. "Iya juga, duh aku jadi pusing deh karena keseringan belajar." ujar Safira kesal. "Jangan salahkan belajarnya juga kali. Oh iya, aku samperin Anna ya." ujar Rizki. "Tunggu, aku curiga deh. Kamu mau temenan sama kita karena Anna kan? Kamu suka Anna kan?" tanya Safira penuh selidik. "Gak kok." sahut Rizki seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Jawab jujur, iya juga gapapa kok. Aku bisa jaga rahasia." ujar Safira. "Iya, aku suka Anna sejak kita ketemu waktu di perpustakaan." ungkap Rizki. "Oh, aku bisa bantu kamu loh. Cara terbaik untuk mendekati Anna adalah, kamu harus cool." ujar Safira secara tiba-tiba. Rizki dengan perlahan mulai mendekati Safira. "Safira, kamu serius?" tanya Rizki mulai serius. Safira yang mendengar pertanyaan itu hanya tertawa. "Bercanda lah, Anna kayaknya gak suka sama kamu deh. Tapi, kamu harus sabar, cinta butuh waktu." ujar Safira. "Ya ampun, Safira! Aku udah percaya juga." ujar Rizki kesal. "Maaf, maaf. Udah sana, kamu temui Anna." usir Safira. "Iya." jawab Rizki singkat. Rizki segera berjalan ke arah kantin. *** Hai diary, Aku bingung, kisah cintaku termasuk ke dalam segi apa? Andai cinta tidak serumit ini, mungkin aku saat ini sudah bahagia bersama orang yang kucinta. Takkan ada rasa tak percaya. *** "Kak Rafa?" "Safira, kamu mau ambil buku? Mau aku bantu?" tawari Rafa. "Iya, Kak. Aku gak sampai." ujar Safira. Rafa segera mengambil buku untuk Safira. Setelah itu, mereka berdua akhirnya duduk bersamaan di perpustakaan. "Safira, kaki kamu udah baik-baik aja?" tanya Rafa yang masih cemas. "Udah kok." jawab Safira singkat. "Safira, kamu suka apa sih?" tanya Rafa. "Suka apa?" heran Safira. "Hm, maksud aku barang kesukaan kamu, apa? Atau makanan kesukaan kamu?" jelas Rafa. "Oh, barang? Aku suka semua sih, tapi lebih ke bunga dan boneka. Kalo makanan? Cokelat. Itu aja." ujar Safira dengan wajah penuh pikir. "Cokelat?" tanya Rafa memastikan. "Iya, emang kenapa Kak? Mau beliin aku ya?" tanya Safira secara tiba-tiba, seketika suasana menjadi canggung. "Eh, aku bercanda kok. Kakak gak perlu pikirin. Kakak pasti mau beliin itu buat perempuan yang Kakak suka kan?" tanya Safira. "I-iya...," sahut Rafa. "Ngomong-ngomong, Kakak saudara Rizki ya?" tanya Safira memastikan. "Iya, kita saudara kandung." jelas Rafa. "Aku mau tanya, Kakak ada perasaan sama aku? Atau Anna?" tanya Safira secara tiba-tiba, mendadak Rafa terdiam. Rafa pun gengsi untuk menjawab 'iya', akhirnya ia menjawab 'tidak'. "Suka kamu? Enggak lah, Anna? Enggak juga lah. Kalian kan adik kelas aku." ujar Rafa yang menjaga gengsinya. Padahal, ini adalah saat yang tepat untuknya mengungkapkan perasaan cintanya. "Maaf ya, aku kurang sopan." ujar Safira. "Gapapa, santai aja." sahut Rafa. "Aduh, kenapa aku bilang enggak sih, tapi kan aku malu bilang suka sama Safira atau pun Anna. Kalau sampai ditolak kan aku jadi gak berani ketemu Safira lagi. Aduh, pusing!" batin Rafa. *** Hai diary, Kini rasaku benar-benar punah, takkan lagi aku munculkan harapan yang hanya menimbulkan sebuah kesakitan. *** "Kak, kalau begitu aku permisi ya, aku mau ke kelas." pamit Safira. "Oh, iya." sahut Rafa singkat. Safira pun segera meninggalkan Rafa dengan segala penyesalannya. "Rasa sakit ini akan tetap terasa, saat ini aku putus asa." *** "Anna, kamu diem aja? Gak ada yang mau kamu ungkapkan gitu sama aku?" tanya Rizki secara tiba-tiba pada Anna, bukan senyuman yang ia dapat, hanya tatapan tajam penuh kekesalan yang dapat ia lihat. "Apa sih!?" kesal Anna. "Gak mau ungkapkan perasaan cinta kamu ke aku?" ujar Rizki tanpa rasa bersalah. "Apa? Gak usah aneh-aneh deh!" ucap Anna yang sepertinya sedang kesal. "Bercanda, boleh duduk di sini?" tanya Rizki. "Silakan, tempat umum kok." ujar Anna. "Terima kasih." ujar Rizki. Anna tiba-tiba bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Rizki yang baru saja duduk di sampingnya. "Anna? Loh, kok aku sendirian?" rengek Rizki. Anna tak menggubrisnya, ia hanya terus berjalan menuju kelas. Tak lama, ia melihat Safira yang juga memasuki kelas dengan wajah kecewa. "Safira, kamu kenapa? Kok cemberut gitu?" tanya Anna cemas. Safira tak menggubrisnya, ia hanya duduk dan membeku. "Safira?" —Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN