Episode 17

1741 Kata
"Lagi-lagi, aku merasa kecewa pada seseorang setelah Ayah dan Ibu." *** Tiba-tiba saja, Rizki mulai memasuki kelas mereka, dan menatap wajah Safira dan Anna penuh rasa penasaran. "Safira, kamu kenapa? Ada masalah, cerita aja!" ujar Rizki. Safira terlihat masih diam dan menundukkan kepalanya. "Rizki, kamu kok masuk ke sini? Kelas kamu di mana?" tanya Anna. "Anna, kok kamu tinggalkan aku sih tadi?" tanya Rizki dengan tatapan kecewa. "Gapapa, malas aja sama kamu. Bosan!" ujar Anna. "Hah?" heran Rizki. "Gak perlu banyak tanya! Lebih baik kamu ke kelas deh sekarang, ini bukan urusan kamu!" perintah Anna dengan kasar. "Baiklah." ujar Rizki dengan pikiran yang masih penasaran. Rizki segera meninggalkan ruangan kelas Anna dan Safira. "Safira, kamu gak mau cerita sama aku?" tanya Anna yang masih cemas. Safira mengangguk dengan lemas. "Safira, apa pun masalah kamu, kamu harus bisa hadapi dengan tenang dan sabar ya." ujar Anna. Safira hanya mengangguk. "Aku permisi ya, mungkin kamu perlu waktu untuk sendiri." ujar Anna yang segera keluar dari ruangan kelas. "Rasa percayaku pada akhir bahagia kini sudah tiada. Mungkinkah akhir kisah cintaku akan berakhir menyakitkan?" *** "Aduh, Safira pasti marah sama aku sekarang. Apa yang harus aku lakukan? Kenapa aku jawab enggak sih?" Rafa sibuk mengomel pada dirinya sendiri. "Kak, kenapa?" ujar Rizki yang tiba-tiba saja muncul di belakang Rafa. "Rizki?" "Kakak kenapa? Ada masalah?" tanya Rizki cemas. "Hm, kamu teman Safira kan? Safira sekarang di mana? Dia sedih?" tanya Rafa memastikan. "Kayaknya sih dia lagi sedih, soalnya dia diam aja dari tadi. Ditanya juga gak di jawab." ujar Rizki, hal itu membuat Rafa semakin cemas akan keadaan Safira. Ia sangat menyesal atas jawaban yang ia lontarkan. Namun, apa yang bisa ia lakukan saat ini? Ia tak bisa berpikir. "Jangan bilang, Kakak yang bikin dia sedih?" ujar Rizki secara tiba-tiba. Rafa mulai melebarkan matanya. "Sebenarnya ... I-iya...," jawab Rafa. Rizki yang mendengar jawaban dari Rafa pun langsung menatap wajah Rafa dengan tatapan tajam sekaligus bingung. "Oke, lebih baik sekarang Kakak minta maaf deh. Safira sepertinya hanya membutuhkan kata maaf dari Kakak, dan mungkin ungkapkan sesuatu untuk bikin dia bahagia, tapi kalau bisa jujur dan dari hati. Itu saran dari aku." ujar Rizki dengan wajah serius. Rafa mulai memikirkan perkataan Rizki, namun ia benar-benar tidak bisa mengungkapkan apa pun tentang perasaannya pada Safira, ia takut akan membuat Safira lebih sedih lagi. "Ngomong-ngomong, Orang yang Kakak suka itu Safira ya? Ungkapkan saja perasaan Kakak. Dia pasti juga senang kok." ujar Rizki dengan senyuman di wajahnya. "Ungkapkan perasaan?" heran Rafa. Rizki mulai mendekati Rafa dan berbicara dengan nada rendah. "Kak, Safira itu suka sama Kakak. Jelas, dari dia tatap Kakak, senyum-senyum sendiri pas liat Kakak, itu semua tanda orang lagi jatuh cinta." jelas Rizki. "Tapi, dia kayaknya selalu menjauh dari aku?" ujar Rafa yang masih bingung. "Pasti karena suatu alasan, Kak. Kakak harus percaya pada diri Kakak sendiri. Jangan sampai Kakak menyesal nantinya, dan juga jangan bikin seseorang terlalu lama menunggu. Karena menunggu itu sakit." ujar Rizki serius. "Kamu kok bijak banget hari ini, kamu kenapa sih?" tanya Rafa heran. "Intinya, jangan pilih cinta yang bertepuk sebelah tangan." ujar Rizki. Rizki pun dengan cepat menarik lengan Rafa dan membawanya pada Safira, namun sebelum sampai di sana, mereka tak sengaja bertemu dengan Anna. "Kak Rafa?" ujar Anna yang kaget melihat Rafa dan Rizki. "Kak, aku mau bilang sesuatu, bisa ikut sebentar?" tanya Anna. Rizki hanya diam tak berkata apa-apa. Anna pun dengan cepat menarik lengan Rafa dan membawanya ke sebuah tempat yang cukup sepi. Tanpa mereka sadari, Rizki sedari tadi sudah mengikuti mereka berdua karena penasaran tentang apa yang akan dikatakan Anna. "Kak Rafa, aku mau ngomong serius sama Kakak. Sejak aku ketemu Kakak, pertama kali, aku udah benar-benar jatuh cinta sama Kakak. Kakak mau jadi pacar aku kan?" tanya Anna. "A-apa?" Rafa mulai heran. Rizki terlihat sangat kaget dengan pernyataan Anna. Ia yang sudah menunggu untuk menyatakan cintanya pada Anna, kini hanya bisa merasakan sakitnya hati yang terluka. "Kita memang tak pantas bersama, aku yang terlalu berharap lebih padamu." "Anna, tapi...," "Kakak gak bisa? Kenapa? Aku kurang apa, Kak?" tanya Anna dengan wajah yang kecewa. Tak lama, Ghea tiba-tiba saja datang menghampiri Anna dan Rafa karena melihat Rizki yang tengah mendengarkan obrolan mereka. "Kalian ngapain? Rafa, ke kantin bareng yuk!" ajak Ghea secara tiba-tiba. "Ghea, kamu ngapain di sini?" heran Rafa. "Aku mau ketemu kamu lah, aku kangen banget sama kamu. Ngomong-ngomong, perempuan ini ngapain?" tanya Ghea. "Lo kemarin udah buang gue ke hutan. Dan sekarang, lo masih gak ada niat untuk minta maaf gitu?" ujar Anna seraya mulai berjalan mendekati Ghea. "Minta maaf, sama lo? Gak ada gunanya." ujar Ghea. Anna hanya tersenyum dan dengan cepat melayangkan sebuah pukulan ke wajah Ghea dengan keras. "Lo tau gak sih!? Lo udah bikin kaki gue luka!?" bentak Anna. "Kurang ajar ya lo!" teriak Ghea. "Kenapa? Gak suka lo!?" bentak Anna. "Iya lah!" teriak Ghea. Ghea pun dengan cepat memukul wajah Anna hingga bibirnya sedikit terluka. "Wah, cari masalah lo sama gue!" Anna yang berada di puncak amarah pun dengan cepat mendorong tubuh Ghea hingga terjatuh. Ghea pun dengan cepat menendang kaki Anna hingga terpeleset. Rizki yang melihat hal itu pun segera melapor ke kepala sekolah. Rafa dengan cepat pergi ke kelasnya karena jam masuk sudah di mulai. *** "Kalian! Kenapa sih harus bertengkar dan juga memakai kekerasan!? Kalian udah mencoreng nama baik sekolah ini, paham!?" bentak Kepala Sekolah. "Dia yang mulai duluan, Pak!" ujar Ghea seraya menunjuk ke arah Anna. "Kok gue? Dia yang mulai duluan, Pak. Dia udah bikin kaki saya luka!" ujar Anna. "Itu salah lo sendiri ya!" elak Ghea. Anna dan Ghea pun akhirnya menjambak rambut mereka satu sama lain. Kepala Sekolah yang melihat itu segera memukulkan sebuah rotan ke meja dengan kuat. Plak! "Kalian bisa diam tidak! Terlebih lagi kamu, Anna! Kamu itu kan siswi terbaik dari kelas 11, bagaimana kamu bisa melakukan hal semacam ini!?" bentak Kepala Sekolah. "Saya tidak akan melakukan hal ini tanpa adanya alasan, Pak. Dia sudah mencoba mencelakai saya dan juga Safira." jelas Anna. "Bohong! Saya tidak pernah melakukan hal itu, Pak." elak Ghea. "Baik, semuanya tolong diam. Dengan berat hati, saya harus menjatuhkan skors selama satu minggu kepada kalian berdua. Dan juga, kalian harus saling bermaafan sekarang!" perintah Kepala Sekolah. "Gak mau, Pak." ucap mereka bersamaan. "Ayo, bermaafan! Atau mau saya tambah hukuman kalian!?" bentak Kepala Sekolah. Anna dan Ghea pun mulai berjabat tangan dengan wajah saling tidak suka. "Tulus tidak maafnya?" tanya Kepala Sekolah. "Tulus, Pak." ujar mereka secara bersamaan. "Baiklah, sekarang kalian bisa keluar." ucap Kepala Sekolah. Anna dan Ghea pun dengan cepat keluar dari ruangan Kepala Sekolah dan menuju ruangan kelas mereka masing-masing. Mereka bertatapan sesaat, wajah mereka terlihat sama-sama kesal. *** "Anna, kamu udah kasih tau orang tua kamu tentang keadaan kamu sekarang?" tanya Safira secara tiba-tiba. "Kok kamu tanya gitu?" tanya Anna balik. "Aku cuma khawatir aja sama kamu, bukannya lebih baik kamu pulang ya, mungkin aja orang tua kamu lagi cariin keberadaan kamu." ujar Safira. "Safira, aku gak akan pernah mau ketemu mereka lagi, mereka yang bikin aku menderita, sekarang aku bisa bahagia tanpa mereka. Jadi, kamu gak perlu khawatir sama keadaan aku." ujar Anna. *** "Kamu menang di kejuaraan basket lagi. Selamat ya, kebanggan Papah." puji Papah. "Selamat ya, Rafa. Oh iya, adik kamu belum pulang?" tanya Mamah cemas. "Pasti sibuk main." ujar Papah dengan wajah tidak suka. "Papah, jangan bilang gitu ah." ujar Mamah. "Rizki, dia masih ada urusan di sekolah. Mungkin, pulangnya agak terlambat." ujar Rafa. "Rafa, Mamah punya sesuatu buat kamu. Sebentar ya." ujar Mamah seraya memberikan sebuah kotak kecil. Rafa pun dengan perlahan membuka kotak itu, isinya adalah sebuah jam tangan yang cukup mahal dan juga merupakan jam favorit Rafa. "Jam tangan? Makasih ya, Mah." ujar Rafa. "Iya." jawab Mamah singkat. *** "Anna masih belum pulang, Pah. Kita cari dia ya, Mamah khawatir." ujar Mamah. "Tenang aja, dia pasti pulang kalau perlu uang." ujar Papah sinis. "Papah! Aku sudah lelah sama sikap kamu! Aku mau cari anak aku." ujar Mamah. "Gak perlu! Kalau aku bilang gak usah, ya gak usah! Kamu udah mulai membangkang seperti anak kamu itu ya!" bentak Papah. "Aku cuma khawatir sama anak aku, apa itu salah, Pah!?" ujar Mamah. "Sudah cukup kamu bela dia. Dia harus belajar mandiri dari sekarang. Kalau dia tidak berada di rumah ini, itu bagus." ujar Papah. "Papah!" kesal Mamah. Namun, Mamah hanya dapat mengikuti perkataan suaminya. Ia hanya berharap agar Anna secepatnya pulang ke rumah dalam keadaan yang baik-baik saja. *** "Anna, kamu mau ikut aku ke kafe? Kalo kamu bosan di rumah, kamu bisa ikut." ajak Anna. "Iya, aku mau ikut." turuti Safira. "Kita siap-siap sekarang? Yuk!" ujar Anna. Mereka pun segera bersiap untuk berangkat ke kafe, tempat di mana Anna bekerja. Sesampainya di kafe, Anna langsung mendapat omelan dari atasannya. "Anna! mengapa kamu kemarin tidak masuk kerja tanpa izin dari saya? Kamu ini baru bekerja dengan saya, tolong jangan membuat kesalahan apa pun. Gaji kamu akan saya potong dua puluh persen. Itu hukuman buat kamu!" bentak atasan Anna. "Maaf, Pak. Tapi, saya telat karena ada suatu kecelakaan, jadi saya gak sempat izin juga sama bapak. Tolong banget, jangan potong gaji saya ya, Pak. Saya harus membayar biaya sekolah, kostan, dan keperluan sehari-hari." mohon Anna. "Baik, saya mengerti posisi kamu saat ini. Tapi, jangan kamu ulangi lagi ya. Kamu hanya saya berikan satu kali kesempatan lagi. Silakan, kamu harus bekerja lagi." ujar atasan Anna. "Terima kasih banyak, Pak." ujar Anna. Anna pun dengan segera memulai pekerjaannya dengan penuh semangat. Safira yang melihat Anna pun segera membantunya karena merasa bosan berdiam diri. "Safira, kamu ngapain?" tanya Anna yang heran. "Aku mau bantu kamu lah." ucap Safira. "Safira, kamu ngapain bantu aku? Mending kamu duduk aja deh." ujar Anna. "Anna, aku bosan banget kalau harus selalu duduk. Aku lebih baik bantu kamu aja ya." ujar Safira. "Tapi...," "Udah, aku bantuin kamu." ujar Safira. "Terserah deh." turuti Anna. Mereka pun bekerja dengan penuh semangat. Hari semakin berlalu, jam telah menunjukkan pukul 19:30. "Udah selesai semua kerjaannya?" tanya Safira. "Sedikit lagi sih, tinggal bersihin ini." ujar Anna seraya menunjuk meja. "Kamu semangat banget ya." ujar Safira. "Harus lah." ujar Anna. *** "Rizki, Mamah punya sesuatu untuk kamu." ujar Mamah seraya memberikan sebuah kotak kecil. "Apa ini, Mah?" tanya Rizki penasaran. "Kamu buka aja, lihat isinya." ucap Mamah dengan wajah senang. "Mamah, baik banget sih." ujar Rizki dengan senyuman mulai terpancar di wajahnya. "Udah, buka dulu aja. Kamu liat isinya." ujar Mamah. Rizki pun segera membuka kotak itu dan seketika wajahnya terkejut. —Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN