Episode 18

1726 Kata
"Handphone?" "Iya, itu untuk kamu. Mamah tau kamu mau ganti yang baru kan? Handphone lama kamu sudah mulai rusak. Tapi, kamu gak berani cerita ke Mamah." ujar Mamah. "Tapi, Papah pasti marah sama aku." ujar Rizki dengan wajah yang berubah menjadi kecewa. "Tenang, Papah kamu gak tau apa-apa kok soal ini. Kamu cukup diam. Udah ya, Mamah mau masak buat makan malam." ujar Mamah yang langsung pergi ke dapur. "Terima kasih banyak, Mamah." batin Rizki. *** "Anna, kamu pasti lapar banget kan? Makan yuk!" ajak Safira dengan penuh semangat. "Iya." jawab Anna singkat. Mereka pun segera menyiapkan makan malam dan makan bersama. "Makasih ya udah bantuin aku." ujar Anna. "Santai aja, lagi pula aku bosan kalo harus diam terus." ujar Safira. "Pokoknya makasih." ujar Anna. *** "Rizki, udah pulang?" tanya Rafa dengan wajah girang. Rizki mengangguk. "Kamu udah makan?" tanya Rafa. "Udah kok. Hm, aku ke kamar dulu ya Kak." ujar Rizki. Ia pun segera memasuki kamarnya dengan dengan wajah datar. Saat pintu kamar mulai tertutup, wajah datarnya kini menjadi kebahagiaan. Ia tersenyum menatap pemberian dari Mamahnya. "Aku takkan pernah melupakan semua hal baik yang telah kau lakukan padaku, Mamah." *** Satu minggu kemudian, saat Anna dan Ghea sudah kembali bersekolah. "Pagi, semuanya." "Hm, aku kira kamu udah selesai." ujar Anna. "Belum, sebentar lagi. Aku sedang tidak dapat berpikir." sahut Safira. "Biasanya kamu yang berpikir paling cepat." ujar Anna dengan wajah bingung. "Itu kan biasanya. Hari ini aku lagi malas banget mikir." ujar Safira. "Sudah, semuanya? Silakan dikumpul." ujar Guru. Semua siswa segera mengumpulkan selembar kertas yang berisi jawaban untuk kuis harian. "Safira, ke kantin?" tanya Anna. "Boleh, yuk." turuti Safira. Mereka berdua segera berjalan menuju kantin dengan wajah ceria. Tak lama, seorang pria dari kelas 12 menghampiri mereka. "Anna, kenapa kamu jarang unggah sesuatu di media sosial?" tanya pria itu. "Emang kenapa ya, Kak?" tanya Anna heran. "Aku kangen liat unggahan terbaru kamu." ujar pria itu. "Maaf, maksud Kakak apa ya? Aku masih belum mengerti." ujar Anna. "Sayang, aku telah mengikuti media sosial kamu sejak dulu. Kamu gak mau kasih hadiah buat aku? Jadi, pacar aku?" ujar pria itu dengan menyentuh lembut wajah Anna. Anna pun dengan cepat menarik kasar tangan pria itu. Ia pun menampar wajahnya hingga memerah. "Kamu kasar sekali, aku suka itu." ujar pria itu semakin nekat. Ia mulai membelai rambut Anna dan mencoba memeluk tubuh Anna. Namun, Safira yang melihat hal itu segera memukulkan tasnya ke punggung pria itu. "Ini apaan sih!?" bentak pria itu pada Safira. Safira pun dengan cepat menarik Anna untuk pergi menuju kantin. Tak hanya sampai di sana, pria itu terus mengikuti mereka hingga ke kantin. "Dia masih ikutin kita." bisik Safira. "Aduh, dia mau ngapain sih!?" heran Anna. "Kayaknya dia stalker deh. Dia penggemar berat kamu." ujar Safira. "Tapi, aku malas banget deh." ujar Anna. Pria itu berjalan dengan cepat hingga berada di samping Safira. Safira segera menghentikan langkahnya. "Kakak mau ngapain sih!? Gak perlu ikutin kita, bisa gak!?" bentak Safira. "Urusan gue sama dia ya, bukan sama lo!" bentak pria itu balik. "Tapi, yang sopan bisa?" tanya Safira dengan merendahkan suaranya. "Bukan urusan lo!" teriak pria itu. Pria itu pun mulai berjalan mendekati Anna dan segera memeluknya dengan erat. Ia pun membelai rambut Anna. "Lepas!" jerit Anna, namun pelukan itu sangat kencang hingga membuat Anna sulit untuk bernapas. Safira yang melihat hal itu pun segera memukul pria itu dengan tasnya, namun pukulan dari tas itu tak ada rasanya. "Lepasin! Sakit!" jerit Anna semakin kencang, namun tempat mereka saat ini cukup sepi, jadi tak ada satu pun orang yang mendengarkan mereka. "Kak! Lepasin Anna!" teriak Safira seraya memukul pria itu dengan kayu yang berada di dekatnya. Pria itu kini telah berada di puncak amarahnya, ia melepaskan Anna dan dengan cepat mendorong tubuh Safira hingga menghantam lantai. Bruk! "Safira!" kaget Anna. Rizki tiba-tiba saja datang dan melihat kejadian itu, tanpa berpikir panjang ia segera pergi ke ruangan Kepala Sekolah dan berniat untuk melaporkan kejadian itu. *** "Kamu serius?" tanya Kepala Sekolah memastikan. "Saya serius, Pak. Kita langsung temui aja mereka." ajak Rizki. "Baik." turuti Kepala Sekolah. Kepala Sekolah dan Rizki pun segera menghampiri Anna dan Safira. Saat Kepala Sekolah melihat kejadian itu, ia segera memarahi pria itu. "Kamu akan mendapatkan hukuman! Kamu saya skors selama satu minggu, tolong perbaiki sikap kamu!" bentak Kepala Sekolah. "Saya gak ngapa-ngapain, Pak!" elak pria itu. "Saya tidak mempercayainya, jika kamu masih tidak mau mengakui kesalahan kamu sendiri, hukuman kamu akan saya tambah, mau kamu!?" bentak Kepala Sekolah. "Baik, Pak!" ujar pria itu seraya menundukkan kepalanya. "Safira, kamu gak apa-apa kan?" tanya Anna cemas. Anna segera menarik Safira agar dapat bangkit. Rizki mendekati mereka berdua. "Kalian gak apa-apa? Terutama, kamu Anna?" tanya Rizki seraya menatap wajah Anna. Anna pun berbalik menatapnya. "Aku?" heran Anna. "Iya, pria itu gangguin kamu kan?" tanya Rizki memastikan. "Iya sih, aku gak apa-apa, terima kasih ya." ucap Anna dengan senyuman. "Iya, aku cuma bantu laporin aja kok." ujar Rizki. "Kita jadi ke kantin gak sih?" tanya Safira secara tiba-tiba. Hal itu membuat Anna dan Rizki tertawa. "Iya, jadi kok. Kamu mau ikut juga, Rizki?" tawari Anna. "Pasti, aku ikut." ujar Rizki dengan wajah kegirangan. Mereka bertiga pun segera berjalan menuju kantin dengan penuh semangat. "Ngomong-ngomong, kok kamu bisa diganggu sama orang tadi?" tanya Rizki. "Gak tau, kayaknya dia kenal aku dari akun media sosial." jawab Anna. "Wajar sih, kamu kan banyak pengikut di media sosial. dia pasti stalker." ujar Rizki. "Rizki!" bentak Anna dengan tatapan tajam. Tak lama, Rafa datang menghampiri mereka dan segera menyapa. "Hai, kalian bertiga aja?" sapa Rafa. "Kak Rafa?" ucap Safira heran. "Safira, aku minta maaf soal yang kemarin ya, aku gak bermaksud." ujar Rafa. "Gapapa Kak, aku ngerti." ujar Safira. "Anna, kamu mau temenin aku sebentar?" ajak Rizki. "Ke mana? Engga ah, ada Kak Rafa di sini, aku gak enak." tolak Anna. "Aku cuma sebentar aja kok di sini, aku permisi ya." pamit Rafa dengan sebuah senyuman manis ia tampilkan. "Andai kau mengerti perasaan ini, aku mungkin takkan pernah merasa sakit hati. Namun, aku mengerti mengapa kau seperti ini. Sudah lah, keinginanku hanya dapat menjadi mimpi dan tetap akan begitu." Rizki segera menghampiri Rafa dan berbicara serius padanya. "Kak, kenapa gak bilang aja sih? Kayaknya Safira nunggu Kakak buat bilang cinta sama dia." ujar Rizki. "Maksud kamu apa? Gak mungkin lah." ujar Rafa tak percaya. Rizki menghentikan langkah Rafa dan menatap tajam ke arahnya. "Kak, jangan plin-plan gini dong. Kakak bilang suka sama dia, ini saat yang terbaik buat Kakak ungkapkan perasaan Kakak sama dia! Kakak kenapa sih!?" kesal Rizki. "Aku gak pernah bilang...," "Udah Kak, dari wajah Kakak aja udah terlihat kalau Kakak mencintai seorang Safira. Kakak gak usah ngelak, kenapa gak Kakak ungkapin aja sih perasaan Kakak sama Safira!?" bentak Rizki. "Rizki, cukup ya kamu teriak sama Kakak kayak gitu! Kenapa gak kamu aja yang ungkapin perasaan kamu sama Anna!? Kamu juga gak berani, kan? Kakak nunggu waktu yang tepat untuk ungkapin semuanya, Kakak mau nunggu Safira lebih tenang, kalo langsung Kakak ungkapkan sekarang, mungkin dia akan menganggap Kakak gak serius sama dia!" bentak Rafa balik. Rafa kemudian melanjutkan perjalanannya tanpa mempedulikan adiknya yang saat ini hanya dapat terdiam membeku. "Tapi, Anna mencintaimu Kak. Aku hanya ingin dia tahu bahwa Kakak tidak mencintainya, melainkan mencintai Safira." *** "Heh! Lo yang udah bikin gue di skors selama satu minggu, lo harus minta maaf sama gue!" ujar Ghea. Anna kemudian bangkit dari duduknya. "Kenapa? Mau cari masalah lagi lo sama gue!? Ingat ya, yang harus minta maaf itu lo, bukan gue! Gue akan balas perlakuan lo lebih dari yang lo lakuin ke gue dan Safira!" bentak Anna. Ghea dengan cepat menjambak rambut Anna kasar. "Ghea! Sakit!" jerit Anna. Anna mencoba melepaskan tangan Ghea dari rambutnya dan akhirnya berhasil. Ia dengan cepat mengambil segelas air dan menumpahkannya ke pakaian Ghea. Tak hanya berhenti di situ, ia juga mendorong tubuh Ghea hingga menghantam lantai. Bruk! "Lo gak usah sok sama gue! Lo gak tau siapa gue!? HAH!?" bentak Anna. "Kurang ajar lo ya! Gue gak akan pernah minta maaf sama lo! Dan, tunggu balasan gue selanjutnya!" teriak Ghea. Safira segera menarik Anna menjauh dari Ghea. "Anna, udah! Nanti kamu bisa dapat masalah lagi." ujar Safira. "Anna! Safira! Awas kalian berdua!" ancam Ghea yang langsung melarikan diri dari hadapan Anna dan Safira. "Apa lo!?" bentak Anna. "Udah!" perintah Safira, "Kamu harus bisa menenangkan diri dulu, Anna." lanjut Safira seraya mengelus lembut punggung Anna. "Iya, Safira." sahut Anna yang sudah mulai reda dari amarahnya. "Kita ke kelas aja yuk!" ajak Safira. Anna kemudian mengangguk dan mulai berjalan mengikuti Safira menuju ke ruangan kelas mereka. "Nanti aku bantuin kamu di kafe lagi ya, aku sangat bosan sekali. Aku udah gak jadi guru les, dan gak ngapa-ngapain." keluh Safira. "Iya, tapi jangan terlalu capek ya." ujar Anna. "Iya, kamu tenang aja." ujar Safira. *** "Safira, selamat ya, kamu peringkat pertama di kelas 11 semester pertama. Selanjutnya, Anna di peringkat kedua, dan Valerie di peringkat ketiga. Safira dan Anna, nilai kalian hampir sempurna, hanya satu kesalahan." ujar Guru. "Iya, Bu." ujar Safira. "Dan kalian, jangan malas-malasan ya, contoh Safira, Anna, dan Valerie, nilai kalian banyak yang di bawah KKM. Ingat, jika nilai kalian tidak ada perubahan, kalian bisa jadi tidak naik kelas. Kalau begitu, ibu permisi ya. Pertahankan prestasi kalian, kalau bisa tingkatkan! Semangat!" ujar Guru. "Siap, Bu!" ucap semua siswa. Guru pun dengan cepat keluar dari ruangan kelas. Semua siswa pun segera keluar dari ruangan kelas, karena bel pulang sudah berbunyi. "Safira, kita masak apa lagi ya? Ajarin aku jangan lupa ya." ujar Anna. "Siap, Bu." ujar Safira dengan tawa kecil. *** "Kuncinya mana ya?" Anna segera mencari kunci pintu kostan, ia lupa menyimpannya di mana. Ia merogoh tasnya. "Anna, kuncinya ada gak? Belum ketemu? Gak ketinggalan di sekolah, kan?" tanya Safira mulai cemas. "Tunggu, sebentar...," Setelah lama mencari, Anna pun akhirnya menemukan kunci pintu kostan dan ia pun bersiap membuka pintu. "Anna, ketemu?" tanya Safira. "Iya, baru aja ketemu. Ternyata terselip di tas aku, di dekat buku catatan." ujar Anna. Pintu kostan pun terbuka perlahan. "Akhirnya, ayo masuk!" ajak Anna dengan senyuman tampil di wajahnya. "Ayo!" turuti Safira dengan senyuman juga tampil di wajahnya. Mereka segera memasuki kostan, namun langsung mereka terhenti saat suara seseorang mulai terdengar di telinga mereka. "Anna!" Anna dan Safira yang mendengar suara itu pun segera menoleh ke arah belakang, dan betapa kagetnya mereka berdua saat melihat siapa yang memanggil Anna. —Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN