Episode 19

1726 Kata
"Papah? Mamah?" Wajah Anna sungguh kaget saat melihat kedua orang tuanya tengah berdiri di hadapannya. Orang tuannya melihat ia tinggal di kostan. "Anna! Jadi, kamu tinggal di sini!? Bikin malu keluarga saja!" bentak Papah. "Om? Maaf, tapi apa salahnya tinggal di kostan?" potong Safira. "Kamu lagi!" bentak Papah, "Tunggu, Anna seperti ini pasti karena ulah kamu kan!? Kamu kalo susah, susah aja. Gak perlu kamu ajak anak saya!" lanjut Papah. "Papah, cukup!" bentak Anna balik. "Udah, Pah. Anna, kita pulang ya sekarang. Mamah kangen sama kamu, nak." ujar Mamah seraya meneteskan air matanya. "Gak perlu!" ujar Anna. "Anna! Kamu jangan membangkang seperti ini!" bentak Papah. "Oke, aku pulang. Tapi, aku belum maafin Papah!" ujar Anna dengan tatapan tajam ia arahkan ke Papahnya. "Anna...," ucapan Safira yang kecil tak terdengar oleh Anna yang mulai berjalan ke arah mobil. "Nikmati kembali hidup kamu." "Aku harus pulang sekarang." ujar Safira yang kemudian berjalan ke arah rumahnya yang tidak terlalu jauh dari kostan. "Dek, kamu temannya Anna?" tanya ibu penjual yang tidak sengaja melihat Safira lewat. "Iya Bu, kenapa ya?" tanya Safira balik. "Anna sudah ikut orang tuanya pulang ya?" tanya ibu penjual. "Iya Bu, baru saja dia pulang sama orang tuanya." jawab Safira. "Ibu tuh dekat sekali sama Anna beberapa hari ini, ibu udah anggap dia seperti anak ibu sendiri. Kalau putri ibu masih hidup, dia pasti seusia Anna." ujar ibu penjual seraya meneteskan air matanya. Safira berjalan mendekati ibu penjual dan mulai menenangkannya. "Sabar ya Bu, orang tuanya juga pasti cemas sama keadaan Anna. memang anak ibu meninggal kapan dan kenapa?" tanya Safira. "Dia meninggal sepuluh tahun yang lalu, karena kanker. Ibu tidak punya uang untuk biaya perawatan dan kemoterapi." jawab ibu penjual. "Kanker?" tanya Safira memastikan. Ia pun mulai teringat akan ibunya. "Kehilangan itu memang menyakitkan, seseorang yang kita sayangi harus pergi." "Kok ibu jadi curhat. Kalau begitu, ibu lanjut kerja ya." ujar ibu penjual. "Iya Bu, saya juga permisi." pamit Safira. *** "Langit, bisakah kau turunkan hujan sekarang? Aku ingin mengeluarkan tangisanku tanpa ada satu pun orang yang melihat maupun mendengarnya." *** "Kak Rafa, aku mau ungkapin perasaan aku sama Kakak. Aku sebenarnya suka Kakak sejak dulu, tapi aku baru berani ungkapkan perasaan aku sekarang. Kakak mau jadi kekasih aku?" "Kamu s-serius? Mau banget lah. Aku juga suka kamu sejak dulu." "Janji gak akan tinggalkan aku?" "Janji, gak akan, sampai kapan pun." Bruk! "Kak, ngapain sih? Tidur sambil ngomong?" tanya Rizki. "Hah? Tidur? Ngomong?" heran Rafa yang baru saja terbangun dari tidurnya. "Kakak mimpi ya? Mimpi apa hayo?" goda Rizki. "Mimpi apa? Loh, kamu kok bisa masuk kamar Kakak?" tanya Rafa heran. "Jelas lah, orang kamar Kakak gak di kunci. Ngomong-ngomong, ini hari minggu kan? Kakak mau jalan-jalan gak?" tanya Rizki. "Jalan-jalan?" heran Rafa yang nyawanya masih belum terkumpul. "Kakak masih belum sadar? Kita jalan-jalan yuk!" ajak Rizki dengan senyuman penuh semangat. Rizki yang mulai kesal pun segera memukul tubuh atletis Kakaknya dengan bantal yang berada di sampingnya. "Kak! Bangun!" ujar Rizki. Rafa pun akhirnya bangun dan kemudian bersiap untuk mandi. Rizki memberikan handuk padanya. *** "Kamu kayak anak kecil banget." ujar Rafa yang melihat Rizki kegirangan saat berada di taman bermain. "Bukannya gitu, liat deh, lucu aja." ujar Rizki. "Hah? Lucu? Dan, kamu bisa gak sih, gak usah gandeng tangan Kakak kayak gini?" ujar Rafa. Rizki pun dengan cepat melepaskan gandengan tangannya dari Rafa. Wajahnya terlihat kesal. Tak lama, orang di sekitar mereka mulai memperhatikan mereka berdua. Orang-orang di sana seperti melihat dua pasangan yang sedang bertengkar. Dua pria ini memang sangat tampan, jadi pikiran orang-orang menjadi liar, padahal kan mereka saudara. Iya, saudara. "Rizki, ke sana yuk!" ajak Rafa. Rafa pun segera menarik Rizki pergi dari tempat itu. Ia mulai merasa aneh. "Kak, sebentar deh." ujar Rizki. Mereka pun menghentikan langkah. "Apa?" tanya Rafa. "Itu bukannya Kak Ghea ya?" ujar Rizki seraya menunjuk ke arah seorang wanita yang tengah berkutat dengan ponselnya. Rafa yang melihat hal itu pun segera menarik tangan Rizki menjauh dari keberadaan Ghea, mereka kini berada di tempat jualan bakso. "Mau pesan bakso, mas?" tanya penjual. "Boleh, dua mangkok ya." ujar Rafa. Mereka pun duduk di kursi yang sudah di sediakan. "Gak perlu lari juga kali, Kak." ujar Rizki. "Kakak malas aja ketemu Ghea." ujar Rafa yang masih waspada. Ia tak ingin melihat atau pun bertemu Ghea. "Makanya, nyatakan perasaan Kakak ke Safira. Pasti dia akan jaga jarak sama Kakak." ujar Rizki. "Urusan nanti lah." ujar Rafa, "Ngomong-ngomong, Safira suka tempat kayak gini gak ya?" tanya Rafa pada Rizki. "Suka lah, aku aja suka." ujar Rizki. "Hah? Kalo kamu suka apa hubungannya?" tanya Rafa bingung. "Ya, karena wanita suka apa yang aku suka." ujar Rizki dengan penuh percaya diri. "Terserah kamu aja lah." ujar Rafa. *** "Taman bermain?" "Iya, kamu gak suka?" tanya Anna. "Suka sih, tapi aku gak ada uang untuk ke sana." ujar Safira. "Tenang, aku yang traktir. Kamu siap-siap sekarang, mumpung libur." ujar Anna. "Iya deh, kamu maksa." ujar Safira. "Aduh, kamu juga mau." ujar Anna. "Iya, iya." Safira segera bersiap dan mengganti pakaiannya. Ia ingin tampil cantik, agar tidak membuat sahabatnya malu. *** "Emang, Papah dan Mamah kamu gak marah nanti?" tanya Safira mulai cemas. "Tenang aja, Mamah sama Papah lagi ada urusan bisnis, jadi mereka gak ada di rumah. Udah lah, ayo pergi!" ajak Anna. "Ya udah deh." turuti Safira. Mereka berdua pun segera menaiki mobil yang telah berisi sopir di dalamnya. "Ke taman bermain ya, Pak!" perintah Anna. "Siap, non!" ujar sopir. Sopir pun segera menghidupkan mobil dan mengendarainya. "Safira, kamu hebat banget! Peringkat Satu!? Aku speechless sih." puji Anna. "Kamu jangan puji aku kayak gitu, nanti aku melayang loh." ujar Safira. Mereka berdua pun akhirnya tertawa bersamaan. Mobil pun berhenti, mereka sudah sampai di taman bermain. "Anna, boleh ke sana gak?" tanya Safira seraya menunjuk ke sebuah tempat. "Yuk!" turuti Anna. Mereka pun segera berjalan ke arah tempat yang ditunjuk Safira tadi. "Safira, di sana...," Anna menghentikan ucapannya saat tiba-tiba saja seseorang menyiram pakaiannya dengan minuman. "Awh!" jerit Anna. "Aduh, maaf banget ya, sengaja." ujar Ghea dengan senyuman di wajahnya. "Wah, makin kurang ajar lo ya!" bentak Anna, "Kenapa sih, lo tuh suka banget cari masalah sama gue!? Lo gak bisa gitu liat gue bahagia sebentar aja!?" ujar Anna. "Gak bisa." sahut Ghea. "Udah, Anna, Ghea, cukup!" ujar Safira. Plak! "Ghea!" bentak Safira. "Anna, itu balasan untuk orang yang gak tau diri kayak lo!" bentak Ghea. "Anna, pipi kamu gak apa-apa kan?" tanya Safira cemas. Bibir Anna terlihat sedikit terluka karena tamparan Ghea. Namun, dengan cepat Anna melayangkan sebuah tamparan yang cukup keras pada wajah Ghea. Plak! Sebelum Ghea menghadap ke arahnya, Anna dengan cepat mendorongnya. Anna kemudian menampar wajahnya lagi dan menjambak rambut Ghea dengan kasar. Safira berusaha menghentikan mereka, namun gagal. "Anna, Ghea, cukup!" perintah Safira. Kemudian, Ghea menendang perut Anna hingga ia terjatuh. Akhirnya, mereka pun saling menjambak rambut satu sama lain. Hal itu tidak dapat dihentikan. *** "Kak Rafa, itu bukannya Safira ya? Terus, ada orang berantem?" tanya Rizki seraya menunjuk ke arah Safira. "Itu Anna dan Ghea, ayo kita ke sana!" teriak Rafa yang kemudian berlari dengan cepat ke arah Safira. Rafa pun menarik Safira untuk bersembunyi bersamanya di sebuah tempat. Rizki kebingungan sekarang, apa yang harus ia lakukan untuk memisahkan Ghea dan Anna. "Anna, awas lo ya!" "Ghea! Lo kurang ajar banget sih!" Ini bukan area sekolah, jadi Rizki tak dapat berbuat apa-apa. "Anna, Kak Ghea! Cukup! Ini tempat umum, kalian jangan kayak orang primitif gini dong! Malu-maluin!" ujar Rizki bermaksud memisahkan Ghea dan Anna. Namun, Anna dan Ghea tak menghentikan perbuatan mereka. "Aduh, ini anak berdua!" kesal Rizki. *** "Kak Rafa?" "Ssstt... Kamu jangan berisik, biar Rizki yang memisahkan mereka berdua, aku gak mau kamu terluka." ujar Rafa. "Iya." turuti Safira. Padahal, mereka tidak harus bersembunyi di sana. "Safira, kita ke sana yuk!" ajak Rafa seraya menunjuk ke arah pedagang gulali. "Gulali?" tanya Safira memastikan. "Iya, kamu gak apa-apa?" tanya Rafa. "Gapapa, aku suka kok." ujar Safira dengan sebuah senyuman kecil terlihat di wajahnya. Safira dan Rafa pun menghampiri pedagang gulali yang ditunjuk Rafa. "Bang, gulali dua ya." ujar Rafa. "Kamu sering ke sini?" tanya Safira. "Jarang sih, aku ke sini karena Rizki yang ajak aku." ujar Rafa. "Rizki suka tempat ini?" tanya Safira. "Kayaknya suka deh, tapi aku juga suka kok." ujar Rafa secara tiba-tiba, membuat Safira tersenyum. "Iya, aku tau kamu suka. Eh, maksud aku Kak Rafa suka." ujar Safira. "Panggil 'kamu' juga gapapa. Kita cuma beda satu tahun, kan? Panggil nama juga gapapa kok." ujar Rafa. "Tapi, aku gak enak kalo panggil nama. Soalnya Kakak kan kakak kelas aku." ujar Safira. "Senyaman kamu aja." ujar Rafa. Mereka pun segera menikmati gulali dan duduk di bangku taman. "Oh iya, Anna gimana ya?" tanya Safira cemas. "Kamu tenang aja, Rizki pasti dapat mengatasi semuanya." ujar Rafa. "Tapi, aku kayak gak yakin gini ya." ujar Safira masih cemas. "Udah, gak perlu dipikirkan." ujar Rafa. *** "Capek?" tanya Rizki saat melihat Anna dan Ghea menghentikan pertengkaran. "Awas lo! Urusan kita masih belum selesai!" ujar Ghea. "Apa lo!?" bentak Anna. "Udah kali ributnya, pakaian kalian udah kotor, rambut kalian berantakan. Mending pada pulang deh." perintah Rizki. Ghea pun segera pergi menuju mobilnya. "Pengecut lo! Urusan kita belum selesai dan lo pergi gitu aja? Sini lo!" teriak Anna. "Diem lo! Liat aja nanti!" teriak Ghea. "Anna, udah!" perintah Rizki. "Lebih baik kita ke sana." ujar Rizki seraya menunjuk bangku taman. "Oke." turuti Anna. Mereka pun segera duduk di bangku taman, Rizki memberi Anna sebotol minuman dingin. Anna pun menerimanya dengan senang hati dan segera meminumnya. "Makasih." ucap Anna. Rizki mengangguk. *** "Kak Rafa, kayaknya udah sore, aku pamit ya. Aku harus pulang sekarang." pamit Safira seraya bangkit dan mencari Anna. "Safira, tunggu!" ujar Rafa. "Kenapa?" tanya Safira penasaran. "Kamu pulang sama aku ya, nanti aku yang ngomong sama Anna." ajak Rafa. "Aku takut bikin Kakak repot, gak usah ya." tolak Safira. "Engga repot kok, bareng aku aja ya pulangnya, udah ayo!" ajak Rafa. Rafa segera menarik Safira ke mobilnya. Rafa kemudian mengirim sebuah pesan ke ponsel Rizki. *** Rizki, kamu pulang bareng Anna ya, Kakak harus antar Safira ke rumahnya. Kesempatan juga buat kamu, bilang aja kamu gak sama sopir ke sini. *** "Anna, aku pulang bareng kamu ya." ucap Rizki secara tiba-tiba pada Anna. "Pulang bareng?" heran Anna. "Iya, soalnya aku gak sama sopir ke sini. Mumpung ada kamu, aku ikut ya." ujar Rizki. "Tapi, Safira gimana?" —Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN