Episode 20

1830 Kata
"Safira pulangnya gimana dong?" "Safira udah pulang duluan, dia ada yang bawa pulang." ujar Rizki. "Hah? Sama siapa? Kok kamu tau sih?" tanya Anna bingung. "Udah lah, kamu gak perlu pikirin. Safira juga udah di jalan sekarang." ujar Rizki. "Iya deh, kamu boleh ikut." turuti Anna. "Terima kasih." ujar Rizki dengan senyuman manis bersemi di wajahnya. Rizki dan Anna pun segera menghampiri mobil dan menaikinya. *** Suasana di mobil Rafa begitu canggung, tak ada seorang pun yang memulai obrolan hingga akhirnya Safira menatap wajah Rafa dalam-dalam. "Safira, kamu kenapa?" tanya Rafa heran. "Kak Rafa, Kalo memang Kakak gak suka sama aku, kenapa Kakak masih mau dekat sama aku? Aku jadi bingung." ujar Safira. Rafa mulai berpikir harus menjawab pertanyaan itu dengan kalimat apa, "Maaf kalau Kakak gak suka sama pertanyaan aku, Kakak juga gak harus jawab kok." ujar Safira. "Enggak, bukan begitu Safira." ujar Rafa. "Maaf Kak, sebentar lagi udah mau sampai. Berhenti di sini aja." ujar Safira secara tiba-tiba. "Kok berhenti di sini? Di depan rumah kamu lah." ujar Rafa. "Engga perlu Kak, aku gak mau terlalu lama berharap dengan sesuatu yang akhirnya takkan pernah bisa aku gapai." ucap Safira. Rafa pun segera menghentikan mobilnya. Ia berniat menggenggam tangan Safira, namun Safira dengan cepat turun dari mobilnya dan berjalan menuju rumah. "Safira, kamu...," perkataan itu belum sempat terucap. "Aku salah. Aku yang salah karena terlalu berharap dan tak melihat akhir." *** "Anna, kamu benar-benar suka sama Kak Rafa? Atau hanya untuk menambah popularitas?" tanya Rizki secara tiba-tiba. "Kenapa kamu tiba-tiba tanya itu?" tanya Anna balik. "Aku penasaran aja, gak harus jawab sih." ujar Rizki yang merasa tak enak pada Anna karena pertanyaannya. "Aku juga bingung sama perasaan aku. Aku cuma pengen Kak Rafa jadi milik aku sepenuhnya, tapi aku gak bisa hilangin rasa itu walaupun aku tau Kak Rafa gak suka aku." ujar Anna. "Kamu obsesi? Rasa ingin memiliki itu bukan cinta, tapi obsesi terhadap sesuatu hal." jelas Rizki. "Tapi, aku gak ngerti perasaan aku sendiri Rizki." ujar Anna yang kemudian mulai menangis. "Anna, kamu kenapa sedih?" tanya Rizki cemas, "Perkataan aku tadi nyakitin kamu?" tanya Rizki. Anna tiba-tiba saja langsung bersandar di bahu Rizki. "Anna, kamu gapapa?" tanya Rizki. Anna hanya terus menangis tanpa sebab. Tak lama, mobil berhenti tepat di rumah Rizki. Ya, mereka sudah sampai. "Anna, aku udah sampai di rumah. Aku turun di sini ya." pamit Rizki. Anna kemudian menyeka air matanya dan mulai menjauh dari Rizki. *** "Lagi-lagi aku bikin Safira kecewa! Kenapa sih!?" kesal Rafa pada dirinya sendiri. Ia mulai memukuli bantal yang ada di kamarnya. "Kak, kenapa?" tanya Rizki yang mendengar pukulan itu. "Gapapa." jawab Rafa singkat. *** Hai diary, Apakah sebuah kerikil dapat bersanding dengan sebuah mutiara? Sesulit itukah berharap dengan sesuatu yang tidak pasti? Aku benci, namun tak sanggup untuk pergi. *** "Ibu, begitu rumitnya hidupku saat ini. Tak ada seorang pun yang dapat menemaniku. Kesedihan hanya dapat aku pendam, kebahagiaan bagai angin yang berlalu." ujar Safira pada dirinya sendiri. Ia kemudian mulai meneteskan air matanya perlahan, air mata itu mengenai sebuah buku yang bertuliskan 'Diary Safira'. *** Beberapa hari kemudian. "Kak Anna, boleh foto bareng?" "Iya." sahut Anna. "Anna, aku ke toilet sebentar ya." ujar Safira. Anna hanya mengangguk. Dari kejauhan, terlihat Ghea tengah memperhatikan Safira yang mulai berjalan ke toilet. "Tunggu, aku harus membuat sebuah kejutan hari ini!" batin Ghea. *** Terlihat, Safira meninggalkan tasnya di depan toilet. Di luar tasnya ada sebuah botol yang berisi minuman, Ghea dengan cepat mengambil botol itu dan membukanya. Ia kemudian memasukkan sebuah obat pencahar pada minuman Safira. Tak lama, Safira keluar dari toilet dan sepertinya ia ingin minum. Namun, tiba-tiba saja seseorang berlari dengan cepat ke arah Safira dan membuat botol minumannya tumpah, tak tersisa air sedikitpun. "Aduh, gagal lagi!" batin Ghea. "Perhatian semuanya!" tiba-tiba saja ada suara dari lapangan. Semua siswa segera menghampiri suara itu. "Sekolah akan mengadakan Summer Camp! Di mohon untuk semua siswa agar segera menyiapkan segala perlengkapan untuk acara ini. Demikianlah pengumuman hari ini, semuanya kembali ke kelas." ujar Kepala Sekolah. "Baik, Pak." ucap semua siswa. Semua siswa segera kembali ke kelas mereka masing-masing. "Anna, kamu ikut?" tanya Safira. Anna mengangguk. "Kita berangkat bareng?" tanya Safira. "Kayaknya gak bisa deh, soalnya aku berangkat bareng orang tua aku. Mereka ada urusan di sana." ujar Anna yang kemudian pergi meninggalkan Safira sendirian. "Oke." ujar Safira singkat. *** "Anak-anak, semuanya udah pada datang?" tanya Guru. "Sudah, Bu." ujar semua siswa. "Baik, kalau begitu semuanya masuk ke dalam bis." perintah Guru. "Sudah masuk semuanya?" tanya Guru. "Sudah, Bu." ujar semua siswa. "Kak Rafa?" "Aku duduk di samping kamu, gapapa kan?" tanya Rafa yang sudah duduk di samping Safira. "Gapapa." sahut Safira dengan cepat. "Aku minta maaf sama kamu soal yang kemarin dan sebelumnya, aku gak bermaksud gitu Safira. Aku itu...," "Udah, Kak. Aku cuma berharap, Kakak gak ngasih aku harapan lagi." ujar Safira. "Apa?" heran Rafa. Safira hanya terdiam. Suasana di dalam bis sangat senyap. "Baik anak-anak, kita sudah sampai. Silakan turun semuanya." ujar Guru. Semua siswa mulai menuruni bis dengan perlahan, semua orang terlihat gembira. "Selamat bersenang-senang ya, sebentar lagi kita ada permainan. Kalian bisa keliling dulu, atau beristirahat sebentar." ujar Guru. Semua siswa mulai bepergian masing-masing. Anna terlihat menyendiri pergi menjauh dari kerumunan. Ia terlihat sibuk mencari kayu bakar. Tak lama, Rizki melihatnya dan kemudian membantunya. "Rizki? Kamu ngapain?" tanya Anna. "Aku mau bantuin kamu." ujar Rizki. "Apaan sih? Gak perlu lah." ujar Anna. "Udah gapapa." ujar Rizki yang masih membantu Anna. "Terserah deh." ujar Anna. *** "Safira, kamu haus?" tanya Rafa. Safira menggeleng. "Mau minum gak? Aku bawa minuman kok." ujar Rafa. Namun, Safira tak mempedulikannya. "Safira, kamu kok dari tadi diem aja sih?" tanya Rafa. "Udah lah, Kak. Gak perlu ganggu aku." ujar Safira dengan raut wajah kesal. "Maaf ya, tapi aku gak bisa jauh dari kamu." ujar Rafa. "Apa artinya gak bisa jauh dari aku? Kamu aja gak suka sama aku." ujar Safira dengan raut wajah masih kesal. "Safira, aku gak...," Safira terus berjalan menjauh dari Rafa. "Safira! Berhenti!" perintah Rafa. Safira terus berjalan tanpa memedulikan Rafa. Tiba-tiba saja seekor ular muncul di hadapan Safira, ular itu hampir berada dekat dengan kaki Safira. Safira melihat ke bawah dan ia pun sangat terkejut saat melihat ular di dekat kakinya. Ia kemudian langsung berlari mundur dan menabrak Rafa. Ia hampir terjatuh, namun Rafa segera menangkapnya. Mereka bertatapan sesaat, sebelum akhirnya Safira bangkit dan kembali menjauh dari Rafa. Tanpa mereka sadari, ternyata sedari tadi Anna sudah melihat apa yang mereka lakukan. Raut wajah Anna menjadi masam. Rizki yang melihat Anna pun segera menghampirinya. "Kamu ngapain sendirian di bawah pohon? Nanti kesambet loh." ujar Rizki. Namun, Anna tak menghiraukannya. Anna hanya diam dan berbalik menatap Rizki, lalu pergi dengan cepat. "Anna, mau ke mana lagi?" tanya Rizki seraya mengikuti Anna. *** "Baik, permainan kali ini adalah memasukkan bola ke dalam keranjang. Jadi, kelompok mana pun yang memasukkan bola paling banyak ke dalam keranjang, itulah pemenangnya. Kita pembagian tim dulu ya, ini tidak sesuai kelas. Jadi, ibu acak saja ya." ujar Guru. "Iya, Bu." ucap semua siswa. "Tim yang pertama ada Safira dan Rafa, yang kedua ada Anna dan Rizki, satu tim berjumlah dua orang ya, selanjutnya ada...," Anna mengangkat tangannya. "Saya keberatan Bu! Saya mau tukar kelompok sama Safira." ujar Anna. "Aku?" heran Safira. "Maaf, tapi kelompok tidak dapat di ubah." ujar Guru. Semua siswa segera bersiap. "Oke, mulai!" Anna dan Safira pun mulai melemparkan bola ke dalam keranjang. Safira dan Anna sama-sama cepat. "Cepat sekali! Baik, waktunya sudah selesai!" ujar Guru, "Kita akan lihat, kelompok mana yang berhasil memasukkan bola paling banyak. "Anna dan Rizki: 1,2,3—17. Dan, Safira dan Rafa: 1,2,3—19. Valerie dan Ghea: 1,2,3—16. Dan, kelompok yang menang adalah kelompok Safira dan Rafa!" ujar Guru. "Lo sih! Jadi kalah kan!" kesal Ghea pada Valerie. "Maaf, Kak." ujar Valerie. Hari semakin berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 20:38. "Anna, kamu kedinginan?" tanya Rizki perhatian. "Engga." jawab Anna cepat. Rafa terlihat mulai mendekati Safira yang seperti tengah kedinginan. Ia membawa segelas minuman hangat. Safira terlihat tengah menyatukan kedua telapak tangannya. Rafa kemudian memberikan segelas minuman hangat pada Safira. "Maksudnya?" heran Safira. "Kamu kedinginan kan? Minum nih." tawari Rafa dengan sebuah senyuman. "Gak perlu, makasih." tolak Safira. "Tapi...," Anna dengan cepat menghampiri Rafa dan mengambil segelas minuman hangat yang diberikannya pada Safira. "Anna, kok kamu ambil?" tanya Rafa. "Safira bilang dua gak mau, kan? Jadi, buat aku aja ya Kak." ujar Anna. "Ya udah, ambil aja." ujar Rafa. "Safira, kamu gak mau ke sana dulu gitu?" tanya Anna seraya memberikan kode untuk Safira segera pergi dari sana. Safira hanya mengangguk. Ia kemudian berjalan menjauhi Rafa dan Anna. Namun, Rafa dengan cepat menarik lengannya. "Safira, kamu di sini aja ya." ujar Rafa. Wajah Anna berubah menjadi kesal lagi. Ia kemudian melemparkan gelas minuman yang ia genggam. Lalu, ia pergi menjauh dari Rafa dan Safira. "Anna...," "Udah, biarin aja lah." ujar Rafa. "Kakak kenapa sih?" tanya Safira. "Aku gapapa." jawab Rafa cepat. *** "Anna, kamu mau minum ini?" tawari Rizki. "Aku gak butuh." ucap Anna yang kemudian memasuki tendanya. "Anna kenapa ya?" batin Rizki. *** "Rafa, ini tempat kelas 11, kamu ngapain di sini? Mending kamu bareng aku aja ya." ajak Ghea. "Aku gak mau." tolak Rafa dengan cepat. "Kamu kenapa sih, Rafa!?" kesal Ghea. "Aku kenapa? Aku gapapa. Aku malas aja di sana, aku mu di sini." ujar Rafa. "Oke, Safira! Lo pergi deh sekarang, gue mau duduk berdua sama Rafa." ujar Ghea. "Enak aja, aku gak mau!" ujar Rafa. "Ghea! Gak usah usir aku ya, aku gak akan pergi dari sini. Kenapa gak kamu aja yang pergi? Ganggu banget deh." ujar Safira dengan wajah masamnya. "Wah, kurang aja nih anak! Sini lo!" ujar Ghea yang tiba-tiba saja langsung menjambak rambut Safira dengan kasar. "Ghea!" bentak Rafa. Rafa dengan cepat menarik tangan Ghea dari rambut Safira. Rambut Safira kini berantakan, wajahnya terlihat kesal. "Ghea! Berantakan!" bentak Safira. "Gue gak peduli, awas aja lo ya!" ancam Ghea yang kemudian pergi meninggalkan Rafa dan Safira. "Kakak juga, kenapa gak pergi bareng Ghea aja sih!? Aku jadi dijambak, kan!" omel Safira. "Tapi, aku maunya sama kamu. Gimana dong?" tanya Rafa. "Kak Rafa! Tau ah, aku kesal!" ujar Safira yang kemudian berjalan memasuki tendanya. "Loh, Safira, kok masuk ke tenda sih? Aku sama siapa di sini? Temenin dulu dong, Safira! Safira!" rengek Rafa. Namun, Safira tak menggubris perkataannya. "Safira, kenapa kamu tega banget sih sama aku!? Apa salah aku sama kamu? Selama ini aku udah baik banget loh sama kamu, tapi kenapa kamu malah kayak gini sama aku? Hah!?" *** "Retak, segalanya kini telah rusak. Hilang, rasaku mungkin musnah. Jatuh cinta itu rumit, sangat sulit." *** "Kurang ajar banget sih tuh anak! Awas aja, gue bales lo!" ujar Ghea pada dirinya sendiri. "Ghea, lo kenapa sih? Dari tadi gue liat lo marah-marah terus deh. Gak jelas banget." ujar salah seorang temannya. "Gue gapapa, cuma ada masalah sedikit aja." ujar Ghea. "Jangan keseringan marah, nanti makin tua loh." "Makin tua? Emang sekarang gue udah tua apa? Gila lo!" umpat Ghea. —Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN