"Baik anak-anak, ini adalah hari terakhir kita di sini, jadi besok kita sudah pulang. Dan, hari ini kalian bebas ngapain aja." ujar Guru, semua siswa bersorak kegirangan.
"Safira, jalan-jalan bareng yuk!" ajak Rafa.
"Jalan-jalan?" heran Safira, ia berpikir sejenak.
"Mau ya?" ujar Rafa. Safira mengangguk.
"Liat deh, di sana ada danau." ujar Rafa seraya menarik tangan Safira dan berlari menuju danau yang ia tunjuk.
"Kak Rafa!" bentak Safira.
"Maaf ya, aku suka liar danau soalnya." ujar Rafa dengan wajah sedihnya.
"Eh, aku gak bermaksud marah kok." ujar Safira dengan wajah merasa bersalah.
"Gak apa-apa. Aku tau kamu gak suka dekat dengan aku, kan?" tanya Rafa.
"Bukan gitu Kak, aku cuma kaget aja. Lagi pula, aku yang harus kesal sama Kakak." ujar Safira.
"Loh, kenapa?" tanya Rafa bingung.
"Kakak tuh cuma bisa kasih harapan." ujar Safira yang akhirnya pergi meninggalkan Rafa sendirian.
"Safira! Kok aku ditinggal lagi sih?" keluh Rafa.
***
"Anna, kamu mau di tenda aja?" tanya Rizki.
"Iya, aku lagi gak mau kemana-mana." jawab Anna.
"Kamu mau makanan? Mau aku ambilkan?" tawari Rizki.
"Gak perlu, aku juga lagi gak mau makan." tolak Anna.
"Ayolah Anna, jangan di tenda terus. Keluar yuk, kita ke danau yang ada di sana?" ajak Rizki seraya menunjuk ke arah danau.
"Gak ah." tolak Anna.
"Anna, ke sana yuk!" ajak Rizki.
"Rizki, aku cuma pengen istirahat aja. Aku gak mau ngapa-ngapain." jelas Anna.
"Tapi, pemandangannya bagus banget loh, sayang banget kalo dilewatin." ujar Rizki.
"Pemandangannya bagus? Ya udah, ke sana aja. Gak usah ganggu aku." ujar Anna.
"Aku mau ke sana sama kamu." ujar Rizki.
"Kenapa harus sama aku?" tanya Anna.
"Ya, aku mau sama kamu aja ke sananya." jawab Rizki.
"Gak ada alasan lain?" tanya Anna.
"Udah lah, ke sana yuk!" ajak Rizki yang masih berusaha membujuk Anna.
"Rizki, aku gak mau." tolak Anna lagi.
"Oke, aku pergi sendiri aja." ujar Rizki yang segera berlari ke danau.
***
"Rizki?"
"Safira, kamu gak sama Kak Rafa?" tanya Rizki.
"Gak, aku sendiri di sini." jawab Safira.
"Mau aku temenin?" tanya Rizki.
"Hah?" heran Safira.
"Mau minuman?" tawari Rizki seraya memberikan sebotol minuman dingin pada Safira.
"Boleh. Kamu gak bareng Anna?" tanya Safira balik.
"Gak, dia pengen sendiri di tenda aja." jawab Rizki dengan wajah mulai kecewa.
"Kamu masih cinta sama Anna? Kamu masih berharap sama dia?" tanya Safira.
"Tentu, aku akan selalu berharap." jawab Rizki.
"Rizki, berharap aja gak cukup. Kamu harus terus terang soal perasaan kamu ke dia lah. Perempuan itu gak suka nunggu." ujar Safira.
"Percuma aja, aku tau dia suka sama Kak Rafa, aku gak akan bisa bersaing dengan Kak Rafa." jelas Rizki.
"Rizki, kamu harus optimis dong." ujar Safira menyemangati Rizki.
"Terima kasih, Safira." ujar Rizki.
"Ngomong-ngomong, Kak Rafa udah bilang suka sama kamu?" tanya Rizki.
"Hah? Suka?" tanya Safira bingung.
Rizki baru tersadar akan apa yang ia ucapkan barusan.
"Ya, siapa tau aja Kak Rafa mulai jatuh hati sama kamu? Dia bilang cinta sama kamu?" tanya Rizki mengalihkan perhatian Safira.
"Belum, kayaknya gak akan pernah." ujar Safira yang mulai kecewa.
"Tapi aku yakin, Kak Rafa pasti akan jatuh cinta sama kamu. Suatu hari nanti, dia pasti akan bilang cinta sama kamu." ujar Rizki.
"Kamu tuh ya, sok tau." ujar Safira tak mempercayai perkataan Rizki.
"Safira, aku ke sana sebentar ya." ujar Rizki.
"Iya." sahut Anna singkat.
Rizki pun segera meninggalkan Safira di dekat danau sendirian. Terlihat, di dekat danau, Anna tengah berjalan-jalan.
"Aku bosan sekali." ujar Anna pada dirinya sendiri.
"Eh, tunggu, itu Safira kan?" tanya Anna pada dirinya sendiri.
"Safira, kenapa kamu tega sama aku sih?" batin Anna, ia masih kesal terhadap Safira.
Anna terlihat mulai berjalan mendekati Safira, ia berjalan dengan perlahan. Kemudian, ia dengan cepat mendorong tubuh Safira ke danau. Ia tau bahwa Safira tak dapat berenang.
"Maafkan aku, Safira. Tapi, kamu memang pantas dapat ini." batin Anna.
"TOLONG!"
"TOLONG!!"
"TOLONG!!!"
Safira mulai berteriak meminta pertolongan, berharap seseorang segera membantunya saat mendengar teriakannya. Namun, tak ada seorang pun yang melewati danau.
"Anna, kamu dari tadi aku cariin loh." ujar Rizki. Anna hanya diam dan terus berjalan.
"Anna kenapa sih? Aneh banget." batin Rizki dengan wajah bingung.
"TOLONG!!!" teriak Safira yang masih berharap seseorang menolongnya.
"Hei! Kenapa lo?" tanya Ghea yang tidak sengaja berpapasan dengan Anna. Namun, Anna hanya diam dan terus berjalan tanpa mempedulikan sekitarnya.
"Di tanya malah diem aja." kesal Ghea.
"TOLONG!!!" teriak Safira.
"Tunggu, kayak ada suara orang minta tolong, tapi siapa ya?" heran Ghea.
"TOLONG!!!"
"Kayaknya dari danau, gue harus cari bantuan!" ujar Ghea yang bergegas mencari seseorang untuk meminta bantuan. Saat berlari, Ghea tanpa sengaja berpapasan dengan Rafa, ia pun segera menarik lengan Rafa.
"Ghea, kenapa?" tanya Rafa heran.
"I-itu ... Ada suara orang minta tolong, kayaknya perempuan deh, suaranya dari danau." jelas Ghea.
"Perempuan? Danau?" Rafa berpikir sesaat, sebelum akhirnya ia berlari menuju danau dan Ghea mengikutinya.
"TOLONG!!!"
"Safira, kamu tenang ya!" perintah Rafa.
Rafa dengan cepat menceburkan dirinya ke danau dan segera mengangkat tubuh Safira ke pinggir danau.
"Safira?" heran Ghea.
Tubuh Safira menggigil, ia tak mampu mengucapkan sepatah kata apa pun.
"Safira, kamu baik-baik aja kan? Siapa yang bikin kamu jatuh ke danau?" tanya Rafa dengan wajah cemas dan kesal.
"A-aku ... g-gak t-tau, Kak." jawab Safira dengan tubuh yang masih kedinginan.
"Bukan Ghea, kan?" tanya Rafa memastikan.
"Aku? mana mungkin!" elak Ghea.
"Ghea, kamu tolong bawa Safira ke tendanya ya." perintah Rafa.
"Apa? Bawa dia? Aku?" heran Ghea.
"Aku mohon sama kamu, kamu gak kasihan apa sama dia?" mohon Rafa.
"Iya deh." turuti Ghea dengan wajah masih kesal.
"Safira, kok lo bisa masuk ke dalem situ sih? Bikin susah gue aja deh!" kesal Ghea.
Ghea mungkin jahat, namun saat seseorang membutuhkan bantuannya, ia akan dengan senang hati menolongnya. Dengan catatan, lupakan hari ini.
"Safira, lo gak apa-apa kan? Lo masuk ke danau bukan gara-gara gue loh ya. Lo jatuh sendiri?" tanya Ghea. Ia mendadak menjadi dekat dengan Safira.
"Kak Ghea, Safira kenapa?" tanya Rizki yang tiba-tiba saja datang.
"Dia jatuh ke danau. Gue juga gak tau siapa yang bikin dia kayak gitu." ujar Ghea.
"Bukan Kakak, kan?" tanya Rizki penuh selidik.
"Kenapa sih, semua orang pada tuduh gue yang bikin Safira jatuh, gue emang jahat ya, tapi ... tapi ... ya, pokoknya kali ini bukan gue, serius." jelas Ghea seraya menampilkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Iya deh, terus siapa dong yang bikin Safira kayak gini?" tanya Rizki pada dirinya sendiri.
"Tau ah, gue balik ke tenda ya. Lo urusin si Safira, gue gak mau ribet. Goodbye." pamit Ghea.
"Iya, Kak. Terima kasih juga udah bawa Safira ke sini." ujar Rizki.
"Sama-sama. Tapi, masalah gue sama dia belum selesai." ujar Ghea.
"Iya!"
"Safira, kamu kenapa bisa jatuh ke danau?" tanya Rizki.
"Aku gak tau, tapi yang pasti, ada orang yang sengaja dorong aku. Tapi, aku gak bisa liat siapa dia. Yang aku liat, dia perempuan." jelas Safira.
"Perempuan? Kak Ghea?" tanya Rizki memastikan.
"Kayaknya bukan deh, soalnya baju mereka beda. Aku cuma bisa liat bagian belakangnya aja." ujar Safira.
"Udah lah, yang penting kamu baik-baik aja sekarang." ujar Rizki.
"Iya." sahut Safira singkat.
"Oh iya, Kak Rafa mana?" tanya Rizki penasaran.
"Gak tau." jawab Safira cepat.
Tiba-tiba saja Rafa muncul dan segera memberikan Safira segelas minuman hangat.
"Kak Rafa?"
"Safira, kamu minum ya, biar badan kamu hangat." perintah Rafa.
"Kak Rafa dari mana aja?" tanya Rizki penasaran.
"Kakak tadi habis dari rumah warga sekitar sini buat bikinin Safira teh hangat." jelas Rafa.
"So sweet." ujar Rizki dengan wajah imut miliknya.
"Apaan sih?" heran Rafa.
"Aku tinggal ya, aku gak mau cuma jadi nyamuk di sini." ujar Rizki.
"Rizki, kamu di sini aja." ujar Safira secara tiba-tiba.
"Kenapa?" heran Rizki.
"Aku gak mau berduaan." jawab Safira dengan cepat.
"Hah?" bingung Rizki.
"Oh iya, aku mau tanya sama kamu." ujar Safira pada Rizki.
"Tanya apa?" ujar Rizki.
"Anna ke mana ya? Selama di sini, aku jarang ketemu dia deh. Padahal biasanya kita selalu berdua." ujar Safira.
"Aku juga belum liat sih, di tendanya juga gak ada." ujar Rizki.
***
"Baik, semuanya sudah kumpul? Sekarang kita akan pulang. Jadi, silakan kalian menaiki bis dengan perlahan ya. Jangan sampai ada yang tertinggal." ujar Guru.
Semua siswa segera menaiki bis dengan perlahan dan satu-persatu.
Rizki duduk di samping Safira, Rafa duduk di samping Ghea, dan Anna duduk dengan Valerie.
"Anna, kamu gak mau duduk sama aku?" tanya Safira.
"Gak." jawab Anna singkat.
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu gak mau duduk sama Kak Rafa? Bukannya kamu suka sama dia?" tanya Rizki.
"Aku cuma takut. Aku takut semakin berharap." jawab Safira.
"Kamu yang sabar aja ya, menurut aku, Kak Rafa belum cukup berani buat terus terang kalau dia sebenarnya suka sama kamu juga." ujar Rizki.
"Emang iya? Aku gak mau terlalu berharap, Rizki. Aku cuma pengen Kak Rafa bahagia dengan pilihannya sendiri." ujar Safira.
"Udah lah."
Di sisi lain, Ghea duduk terlalu dekat dengan Rafa.
"Ghea, geser sedikit dong. Kamu terlalu dekat sama aku, sempit." ujar Rafa.
"Emang iya? Kayaknya gak sempit kok." elak Ghea.
"Ghea, serius." kesal Rafa.
"Iya, iya. Maaf." ujar Ghea.
"Aku gak sanggup melihat semua ini."
***
Dua hari kemudian.
"Anna!" panggil Safira.
Anna menoleh ke arah Safira.
"Kamu tuh kenapa sih? Gak bisa dihubungin, kamu selalu menghindar dari aku, apa kamu udah lupa sama janji kamu sendiri? Bersahabat selamanya." ujar Safira.
"Safira, kamu pernah mikir gak sih, kalo ini semua salah kamu sendiri?" ujar Anna ketus.
"Maksud kamu? Aku gak ngerti." ujar Safira.
"Gak ngerti? Kamu pikir aja sendiri. Aku tuh gak ngerti ya sama kamu, Safira." ujar Anna.
"Apa ini semua karena Kak Rafa? Aku itu...," sebelum Safira berhasil menyelesaikan perkataannya, Anna sudah memotong perkataan itu.
"Apa? aku tau, kamu juga cinta kan sama Kak Rafa? Gak perlu ngelak lagi." ujar Anna ketus.
"Anna aku...,"
Anna segera pergi menjauh dari Safira.
"Safira, kamu ngapain di sini?" tanya Rizki heran.
Rizki tiba-tiba saja menghampiri Safira.
"Aku cuma ... Ini semua salah aku, Rizki." ujar Safira.
"Salah kamu? kenapa?" tanya Rizki heran.
"Aku tau Anna cinta sama Kak Rafa, tapi aku ... aku malah gak bisa jaga perasaan dia." ujar Safira seraya meneteskan air matanya.
"Safira, ini semua bukan salah kamu." ujar Rizki.
"Enggak, ini semua salah aku Rizki. Ini semua salah aku!" ujar Safira dengan air mata yang semakin deras mengalir.
"Safira, kamu gak perlu keluarin air mata kamu untuk sesuatu yang enggak kamu lakuin. Ini semua bukan salah kamu. Nanti aku akan ngomong sama Anna ya, kamu tenang dulu." ujar Rizki.
"Rizki...," isak Safira.
"Safira, kamu tenang dulu."
—Bersambung...