"Aku gak bisa tenang!" jerit Safira.
"Kamu harus tenang, kamu gak bisa sedih kayak gini hanya gara-gara Anna. Ini kesalahpahaman. Kamu gak perlu pikirin." ujar Rizki.
Tiba-tiba, Rafa datang menghampiri Safira dan Rizki.
"Safira, kamu kenapa? Kenapa kamu sedih kayak gini?" tanya Rafa cemas.
"Kak Rafa, ini karena Anna." ujar Rizki.
"Anna? Kenapa dia?" tanya Rafa.
"Dia marah sama Safira karena Kakak selalu dekat-dekat dengan Safira. Dia cemburu." jawab Rizki.
"Cemburu?" bingung Rafa.
"Dia udah bilang kalo dia suka sama Kakak, kan? Dan, dia masih suka sama Kakak walaupun dia tau kalo Kakak gak cinta sama dia." ujar Rizki.
"Apa?" Rafa terkejut.
"Safira, udah!" perintah Rizki. Safira pun dengan cepat menyeka air matanya menggunakan tangan dan berhenti menangis.
"Aku mau pesan minum. Aku ke kantin dulu ya." ujar Safira.
"Ya udah, tapi jangan sedih lagi ya." ujar Rafa dengan senyuman manis. Safira mengangguk.
***
"Bu, pesan es teh manis satu ya." ujar Safira.
"Siap!" sahut ibu kantin dengan penuh semangat.
Tak jauh dari keberadaan Safira, terlihat Anna yang sedang berjalan menuju kantin. Tak lama, ia menghentikan langkahnya.
"Safira?"
Safira tak menyadari hal itu. Ia hanya berkutat pada bukunya seraya menunggu pesanannya datang.
"Bu, ada orang yang cariin tuh." ujar Anna.
"Siapa?" tanya ibu kantin penasaran.
"Gak tau, orangnya di sana." jawab Anna seraya menunjuk ke arah seseorang. Ibu kantin pun segera menghampiri orang yang ditunjuk Anna tadi.
Setalah ibu kantin pergi, Anna pun dengan cepat memasukkan obat yang sudah kedaluwarsa ke dalam minuman es teh pesanan Safira. Anna yang tadinya bersifat protagonis, kini merubah sifatnya menjadi antagonis.
Semua perubahan sikapnya berdasar dari kedekatan Safira dengan Rafa. Begitu hebatnya cinta, dapat merubah segalanya, bahkan sifat baik seseorang.
"Safira, yang aku lakukan ini adalah balasan dari kesalahan kamu sendiri."
"Loh, anak tadi ke mana?" heran ibu kantin saat kembali ke kantinnya.
"Safira? Ini minumannya." ujar ibu kantin seraya memberikan segelas es teh manis pada Safira.
Namun, saat Safira ingin meminum es teh manis itu, Ghea dengan cepat menghentikannya.
"Jangan di minum!" teriak Ghea.
"Kenapa?" heran Safira. Ghea segera menghampirinya dan dengan cepat menumpahkan es teh manis miliknya.
"Loh, kok di tumpahkan sih?" tanya Safira.
"Es teh itu udah di campur sama obat." jawab Ghea.
"Obat? obat apa sih? Aku gak ngerti." ujar Safira.
"Ya, gue juga gak tau obat apa. Tapi yang pasti, ada orang yang sengaja masukin obat ke dalam minuman lo." jelas Ghea.
"Siapa?" tanya Safira heran.
"Gue gak tau, gue cuma liat punggungnya. Pas gue mau deketin, dia udah lari duluan. Dia perempuan sih." jawab Ghea.
"Tunggu, itu bukan kamu yang suruh kan?" tanya Safira penuh selidik.
"Safira, ya kali gue yang suruh. Kalo gue yang suruh, kenapa gue kasih tau lo coba? Aneh deh lo." ujar Ghea.
"Ya, siapa tau kan? Ngomong-ngomong, sejak kapan kamu mau ngobrol sama aku? Apalagi sampai peduli sama aku? Kamu gak lagi...,"
"Aduh, udah deh. Gue lagi gak mau ribut sama lo, lagian kan, gue gak ada masalah sama lo. Gue cuma ada masalah sama si Anna doang, tapi udah selesai sih." ujar Ghea.
"Iya juga sih." ujar Safira.
"Tapi, gue gak pernah liat lo bareng sama dia lagi, kenapa?" tanya Ghea.
"Ada masalah." ujar Safira.
"Safira, sebenarnya gue pengen jujur sama lo, waktu itu gue pernah masukin obat pencahar ke minuman lo, tapi gagal." ujar Ghea.
"Apa? obat pencahar?" tanya Safira.
"I-iya ... itu ... tapi yang dorong lo ke danau atau masukin obat ini bukan gue ya." ujar Ghea.
"Iya." balas Safira singkat.
"Tapi, gue sebenernya gak mau punya masalah sama lo, semenjak Summer Camp, gue jadi pengen dekat sama lo." ujar Ghea.
"Ghea, kamu kenapa? Sakit?" heran Safira.
"Apaan deh lo? Udah ah, gue permisi." ujar Ghea seraya melambaikan tangannya.
"I-iya." jawab Safira yang masih heran, "Dia kenapa sih?" heran Safira.
***
"Baik, hari ini kita akan membuat kelompok untuk tugas presentasi. Kelompok yang pertama ada Safira, Anna, dan juga Valerie." ujar Guru seraya membagikan nama-nama kelompok.
"Gila, kelompok pertama juara semua."
"Mereka presentasi gak perlu mikir deh."
"Andai, gue masuk di kelompok mereka bertiga."
Wajah semua siswa terlihat kurang percaya diri untuk mengalahkan kelompok pertama. Dan, tiba-tiba saja Anna mulai bersuara.
"Maaf Bu, saya keberatan di kelompok satu, saya mau pindah." ujar Anna.
"Kenapa?" tanya Guru.
"Saya bosan berkelompok dengan mereka, Bu." ujar Anna.
"Baik, kamu ingin bertukar dengan kelompok mana?" tanya Guru.
"Kelompok dua, Bu." ujar Anna.
"Demi apa? dia mau satu kelompok sama gue!?" bisik seorang siswa.
"Baik, siapa yang mau masuk di kelompok satu?" tanya Guru pada anggota kelompok dua.
Terlihat, dua siswa mengacungkan tangan mereka.
"Kamu, Asep, silakan masuk ke kelompok satu." ujar Guru.
Semua siswa segera menyiapkan materi untuk presentasi.
"Safira, ini kita bahas juga?" tanya Valerie.
"Kita ringkas aja, nanti kita tambah dengan ini." ujar Safira.
Safira dan Valerie terlihat sangat sibuk menyiapkan materi untuk presentasi, sedangkan Asep, dia hanya duduk dan berkutat dengan ponselnya.
Di sisi lain, Anna terlihat menatap Safira dengan tatapan tajam dan penuh kekesalan.
"Baik semuanya, presentasi kita mulai, dari kelompok satu, yakni Safira, Valerie, dan Asep." ujar Guru.
Kelompok satu terlihat sangat tenang dan penuh semangat saat presentasi. Kelompok ini mendapat nilai A.
"Baik, selanjutnya, kelompok dua." ujar Guru.
Kelompok dua terlihat sangat berantakan, kecuali Anna.
"Kelompok dua mendapat A, karena Anna menyampaikan materi dengan jelas." ujar Guru.
***
"Anna, tunggu! Aku mau minta maaf sama...,"
"Apa!? Mau minta maaf apa!?" bentak Anna.
"Aku...,"
"Udah Safira, cukup! Aku udah gak peduli lagi, terserah kamu aja ya." ujar Anna yang langsung meninggalkan Safira sendirian.
"Anna...,"
"Diem!" bentak Anna.
***
Hai diary,
Mengapa semuanya berubah? Apakah aku masih harus tetap tabah?
Kini, sahabat terbaikku menjauhiku. Namun, seseorang yang menjadikanku seorang musuh, kini mencoba dekat denganku.
Ternyata benar, roda itu berputar.
***
"Safira, makan?" ajak Rizki.
"Boleh sih, aku juga lapar banget." turuti Safira.
"Kamu mau makan apa? Ke kantin? Bakso gimana, aku yang traktir." ujar Rizki.
"Mau banget, apalagi gratis." ujar Safira seraya tertawa kecil.
"Safira, kamu tuh ya." ujar Rizki.
Mereka segera berjalan ke arah kantin, sesampainya di sana, mereka melihat Anna yang tengah duduk sendirian.
"Apa kita harus samperin Anna?" tanya Safira.
"Gapapa ya." ujar Rizki.
"Aku takut dia menjauh lagi dari aku, udah lah, kita pergi aja. Aku gak mau ganggu dia." ujar Safira.
"Ya udah." turuti Rizki.
Mereka pun berjalan ke perpustakaan.
"Kamu suka baca buku apa?" tanya Rizki.
"Novel." ujar Safira.
"Novel? Aku kira kamu cuma baca buku pelajaran doang." ujar Rizki seraya tertawa menatap wajah Safira.
"Aku juga manusia kali." ujar Safira dengan wajah cemberut.
"Maaf." ujar Rizki.
"Oh iya, kamu gak bareng Anna lagi?" tanya Safira. Rizki menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Safira penasaran.
"Anna diemin aku terus semenjak Summer Camp, aku takut ganggu dia." ujar Rizki.
"Hm, yang sabar ya." ujar Safira.
"Gapapa kok. Kayaknya Anna lagi butuh waktu untuk sendiri." ujar Rizki.
***
"Malam ini sungguh terasa sepi."
Kring... Kring... Kring...
"Halo, siapa?" tanya Safira bingung.
"Halo, Safira ... Ini Om Andi. Kamu gak simpan nomor telepon Om, ya?" jawab Om Andi dengan suara samar-samar.
"Iya Om, aku lupa buat simpan nomor Om. Kenapa ya, Om?" tanya Safira.
"Om dengar, ibu kamu sudah meninggal ya? Kayaknya, Om akan ke sana dalam waktu dekat ini." ujar Om Andi.
"Iya, Om." jawab Safira.
"Fira, kamu masih berada di rumah kamu yang dulu, kan?" tanya Om Andi.
"Masih kok, Om." jawab Safira.
"Jadi, Om pasti bisa ketemu kamu, kan? Om tutup teleponnya ya, Om masih ada urusan. Om cuma mau bilang itu aja." ujar Om Andi.
"Iya, Om." sahut Safira.
"Om Andi ke sini? Aku jadi gak enak deh. Padahal kan, aku bukan siapa-siapa buat dia." batin Safira.
***
"Anna, kamu kenapa diam saja sedari tadi?" tanya Mamah khawatir.
Kemudian, Anna memukul meja belajarnya dengan sangat keras hingga mengeluarkan suara yang cukup keras.
Brak!
"Bukan urusan Mamah!" bentak Anna.
"Anna, jaga bicara kamu!" bentak Papah. Papah tiba-tiba saja datang.
"Kenapa, Pah!? Mau hukum aku? Kunci aku di kamar? Atau mau usir aku dari rumah ini!? Apa, Pah!?" bentak Anna kasar.
"Anna! Kamu makin kurang ajar ya, sama orang tua!" bentak Papah.
"Aku makin kurang ajar? Ini semua karena didikan Papah!" bentak Anna.
"Anna!" bentak Papah seraya berniat untuk melayangkan sebuah tamparan pada pipi putrinya.
"Papah mau tampar aku? Tampar, Pah!" bentak Anna, "Aku udah capek ya sama kelakuan Papah!" ujar Anna yang kemudian berlari ke kamarnya, lalu dengan cepat mengunci kamarnya.
"Anna!" teriak Papah.
"Udah, Pah." ujar Mamah menenangkan.
"Anak kamu tuh, makin hari makin kurang ajar. Jangan terlalu di manja lah." ujar Papah.
"Iya, Pah." turuti Mamah.
***
"Aku memang salah, tapi bukan berarti aku harus mengalah dengan sesuatu yang menurutku lebih salah."
***
Kring... Kring... Kring...
Sebuah panggilan tak dikenal masuk ke ponsel Safira. Safira segera membuka ponselnya.
"Nomor tidak dikenal? Siapa ya? Apa Om Andi? Tapi, nomor Om Andi udah aku simpan di kontak. Apa aku angkat aja ya?" tanya Safira pada dirinya sendiri.
Safira pun dengan cepat mengangkat panggilan itu, suara samar-samar pun muncul.
"Halo." suara samar-samar itu menyapa Safira, itu suara seorang wanita.
"Ini suara perempuan, apa Anna? Dia ganti nomor?" batin Safira.
"Iya, halo. Ini dengan siapa ya?" tanya Safira penuh selidik.
"Aduh, lo udah lupa sama suara indah gue?" tanyanya balik.
"Hah? Siapa sih?" heran Safira.
"Ghea Marcela! lo gak perlu banyak tanya deh, gue cuma mau ngomong sesuatu sama lo." ujar Ghea.
"Ghea? Mau ngomong apa?" tanya Safira.
"Gue curiga yang dorong lo ke danau dan yang kasih minuman lo obat itu si Anna." ujar Ghea.
"Anna? Gak mungkin lah. Dia kan sahabat aku, mana mungkin dia tega sama aku kayak gitu." ujar Safira tak percaya.
"Safira, lo jangan terlalu percaya sama dia lah. Lagi pula, orang kayak dia tuh kalo udah suka sama orang, bakal lakuin cara apa pun untuk bikin saingannya pergi. Dan, saingannya sekarang itu lo. Jelas banget kan motifnya?" jelas Ghea.
"Tapi, aku masih belum yakin deh." ujar Safira masih tak percaya.
"Terserah lo deh, dia sama gue aja bisa kasar, apalagi lo! Orang kayak lo gampang banget buat di singkirkan." ujar Ghea.
"Maksud kamu?" tanya Safira heran.
"Maksud gue, dia pasti mikir lo itu gampang banget buat di singkirkan. Karena dia tau lo itu baik. Dan, dia bakal manfaatin kebaikan lo untuk menghancurkan lo!" ujar Ghea.
"Aku masih belum yakin sih." ujar Safira.
"Intinya, dia itu bisa jadi baik dan licik. Tergantung situasinya. Safira, gue matiin dulu ya, gue ada urusan. Sampai ketemu." pamit Ghea yang segera memutuskan panggilannya.
"Anna, apakah kamu sejahat itu? Atau aku yang bodoh karena terlalu percaya kamu orang yang baik?"
—Bersambung...