Episode 23

1732 Kata
"Aku yang salah karena terlalu berharap pada dunia." *** "Safira!" panggil Rafa. "Kak Rafa? Kenapa?" tanya Safira heran. "Safira, kita makan yuk. Ada yang mau aku omongin sama kamu, penting banget." jawab Rafa. "Makan?" heran Safira. "Hm, maksud aku bukan sekarang. Kita makan malam? Gimana?" ajak Rafa. "Makan malam?" heran Safira. "Iya, kamu mau kan makan malam sama aku? Malam ini. Aku jemput kamu nanti malam, jam 7 ya?" ajak Rafa. "Iya." terima Safira. "Serius? Kamu mau makan malam bareng aku?" tanya Rafa memastikan. "Iya. Kalo tanya lagi, aku batalin makan malam sama Kakak." ujar Safira. "Iya, aku gak akan tanya lagi. Makasih ya, Safira." ujar Rafa. "Makasih untuk?" tanya Safira. "Karena kamu mau makan malam sama aku. Kenapa? Salah ya?" tanya Rafa dengan wajah yang terlihat cemas. "Gak salah sih. Gak perlu makasih, aku mau karena pengen makan gratis aja kok." ujar Safira yang kemudian berjalan meninggalkan Rafa. "I-iya gapapa juga sih." ujar Rafa dengan wajah kecewa sekaligus senang. "Kak Rafa ajak aku makan malam? Mau ngomong penting? Apa jangan-jangan ... Safira! Jangan terlalu berharap dulu, jangan sampai kamu lebih sakit hati!' batin Safira. *** "Ada apa nih? Perasaan kamu dari tadi senyum-senyum terus, kenapa sih?" tanya Rizki penasaran. "Mau tau aja atau mau tau banget, nih?" tanya Safira seraya tertawa kecil. "Ada yang baru dapet pacar nih." ujar Rizki. "Apaan sih? Engga gitu. Aku cuma lagi senang aja." ujar Safira. "Senang karena baru dapet pacar kan?" tanya Rizki seraya tertawa kecil. "Bukan! Bukan pacar." ujar Safira. "Terus apa dong? Udah baikan sama Anna?" tanya Rizki. "Aku harap sih, tapi bukan baikan sama Anna. Kak Rafa, kamu tau gak sih!?" ujar Safira dengan sedikit menjerit. "Safira!" bentak Rizki. "Maaf, habisnya aku bahagia banget hari ini. Kamu tau kenapa?" tanya Safira lagi. "Kenapa? Aduh, jangan bikin penasaran gini dong, Safira." ujar Rizki. "Kak Rafa ajak aku makan malam dan dia mau ngomongin hal penting." ujar Safira seraya tersenyum malu-malu. "Ya ampun, kayaknya bentar lagi mau jadian nih, jangan lupain temen loh." ujar Rizki. "Apaan sih? Belum tentu juga kan, Kak Rafa ajak aku makan untuk menyatakan cinta, siapa tau untuk hal lain." ujar Safira. "Iya juga sih, tapi kamu harus percaya diri. Malam ini kamu harus tampil sempurna!" ujar Rizki penuh semangat. "Sempurna gimana maksudnya?" heran Safira. "Kamu gak perlu pikirin itu, pokoknya kamu harus ikut aku nanti sore, oke?" tanya Rizki dengan perasaan senang. "Iya." sahut Safira cepat. "Bagus, sekarang kita mau ke mana?" tanya Rizki. "Kelas? Udah ya, kamu balik ke kelas kamu." usir Safira. "Safira, kamu usir aku?" tanya Rizki dengan wajah kecewa. "Iya. Kan sebentar lagi masuk. Nanti kamu telat." ujar Safira yang kemudian berjalan ke kelasnya meninggalkan Rizki. "Safira, Safira." batin Rizki. *** Saat Safira duduk di bangkunya, terlihat Anna mulai memasuki ruangan kelas. Safira yang melihat Anna pun memberanikan dirinya untuk menyapa Anna. Ia mulai bangkit dari duduknya. "Anna!" sapa Safira. Namun, Anna hanya memalingkan wajahnya dan duduk di bangku yang jauh dari Safira. Ruangan kelas sangat sepi saat ini, karena ini masih pagi. Anna mulai berkutat pada buku catatannya. Sementara Safira, ia terus menatap Anna yang hanya menunduk dan tak menatap Safira kembali. "Anna...," Setelah beberapa menit, Guru pun mulai memasuki kelas dengan perlahan. "Selamat pagi, semuanya. Hari ini kita akan mencatat bab 6, tolong di buka bukunya ya. Dan, tolong perhatikan saat saya sedang menjelaskan materinya." perintah Guru. "Baik, Bu." Bangku Anna kini ditempati oleh Valerie, namun, Safira sangat merindukan sosok Anna. "Safira, Anna kenapa pindah ke tempat aku?" tanya Valerie. "Aku enggak tau." jawab Safira. Valerie hanya mengangguk. "Dan, saya tidak ingin ada suara selain suara saya di kelas ini. Tolong jangan ribut ya." perintah Guru. "Iya, Bu." Kelas berjalan dengan lancar, sekarang adalah jam istirahat, semua siswa dengan cepat berjalan ke kantin. Namun, Safira terlihat masih berkutat pada buku catatannya. Tak lama, Rizki memasuki ruangan kelasnya dengan sebuah cokelat di genggaman tangannya. "Hai, Anna. Kamu mau cokelat enggak? Aku sengaja beliin ini buat kamu." tawari Rizki dengan senyuman manis di wajahnya. Anna mengangkat wajahnya, ia menatap Rizki sesaat. "Cokelat? Buat aku? Gak usah, aku lagi gak makan, makanan yang manis." tolak Anna. Rizki pun memalingkan wajahnya, ia menatap Safira sesaat dan memberikan cokelat itu pada Safira. "Cokelat?" heran Safira. "Ambil aja, untuk kamu." ujar Rizki. "Terima kasih ya, Rizki." ujar Safira. Rizki segera keluar dari ruangan kelas itu. Safira menatap Anna sesaat, lalu keluar dari ruangan kelas untuk menghampiri Rizki. "Rizki!" panggil Safira. "Safira? Kamu kok di sini?" tanya Rizki heran. "Aku mau ketemu kamu lah." jawab Safira. "Ketemu aku?" heran Rizki. "Iya, kan temen aku sekarang cuma kamu. Aku gak bisa ngobrol lagi sama Anna." ujar Safira. "Iya juga, emang Anna seriusan gak mau ngomong sama kamu lagi? Satu kata pun?" tanya Rizki. "Gak. Bahkan, sekarang aku gak bisa denger suara dia lagi." jawab Safira. Tak lama, Rafa datang menghampiri Safira dan Rizki. Terlihat, ia membawa sebuah bunga dan boneka beruang. "Hai, Safira." sapa Rafa. "Kak Rafa?" Safira melihat tangan Rafa yang memegang bunga dan boneka. "Itu untuk siapa, Kak?" tanya Safira secara tiba-tiba, "Eh maaf, aku kepo banget ya? Gak perlu di jawab juga kok Kak, pertanyaan aku barusan." ujar Safira. "Kenapa? Penasaran ya? Ini buat kamu." jawab Rafa seraya memberikan bunga dan boneka itu pada Safira. Tak lupa, ia pun menampilkan senyuman manisnya. "Buat aku?" tanya Safira memastikan. Rafa menganggukkan kepalanya. "Aduh, aku gak mau jadi nyamuk." rengek Rizki. "Oh iya, aku masih ada urusan. Aku cuma mau kasih kamu ini, aku permisi ya." pamit Rafa. Saat Rafa memalingkan wajahnya, Safira dengan cepat menarik tangan Rafa. Mereka bertatapan sesaat. "Terima kasih untuk bunga dan bonekanya, Kak." ujar Safira. "Iya, sama-sama." balas Rafa yang kemudian pergi meninggalkan Rizki dan Safira. "Aduh, udah mulai menuju ke jenjang pacaran nih." ujar Rizki. "Apaan sih? Eh, ke kantin yuk, aku lapar." ujar Safira. "Oke." turuti Rizki. *** "Aku kangen Anna marahin aku." ujar Rizki. "Lucu, ya?" tanya Safira. "Iya, dia tuh lucu. Tapi sekarang, dia bahkan gak mau deket-deket sama aku." ujar Rizki dengan raut wajah kecewa. "Ini pesanannya." ujar ibu kantin seraya memberikan pesanan Safira dan Rizki. "Kita ke perpustakaan gak nanti?" tanya Safira. "Boleh sih, aku juga kangen baca di sana." ujar Rizki. "Kangen? Bukannya kita belum lama ke sana ya?" tanya Safira. "Iya sih, udah minum dulu." ujar Rizki. Mereka pun segera menikmati pesanan dan kemudian pergi ke perpustakaan. Sesampainya di sana, mereka bertemu dengan Anna. Ia terlihat tengah berkutat pada buku yang sedang ia baca. "Anna? Kita masih harus masuk?" tanya Safira pada Rizki saat melihat Anna. "Gak apa-apa lah, masuk aja. Lagi pula, kita gak ganggu Anna sama sekali kan? Kita juga perlu baca buku yang ada di sini." ujar Rizki, Safira pun menuruti Rizki. Mereka berdua pun segera memasuki perpustakaan dengan tenang. "Kamu mau baca apa? Novel?" tanya Rizki. "Boleh sih." ujar Safira dengan tawa kecil. *** "Safira, mau pulang bareng aku gak?" ajak Rafa. Tak jauh dari keberadaan Safira dan Rafa, Anna terlihat tengah memperhatikan mereka. Safira pun dengan cepat mengarahkan pandangannya pada Anna. "Anna? Apa kamu masih marah sama aku karena ini?" batin Safira. Wajah Anna terlihat sangat kesal saat melihat Rafa menghampiri Safira, bahkan saat Rafa mengajak Safira untuk pulang bersamanya. Tak lama, Anna meninggalkan tempat itu dengan wajah yang masih sangat kesal. "Kakak tadi ajak aku pulang bareng kan?" tanya Safira memastikan. "Iya, kamu mau kan?" tanya Rafa. "Iya, aku mau. Sekarang?" Safira pun dengan cepat menaiki mobil Rafa. "Safira, nanti malam ya." ujar Rafa mengingatkan. "Iya Kak, aku ingat. Gak perlu di bahas terus juga kan?" ujar Safira. "Iya, maaf." ujar Rafa yang segera mengendarai mobilnya dengan perlahan. "Kamu ... Hm, aku udah beliin baju untuk kamu buat nanti malam. Ada di dekat situ." ujar Rafa. "Apa? Baju? Di mana?" tanya Safira. "Di samping kamu." ujar Rafa. "Plastik ini?" tanya Safira memastikan. "Iya." jawab Rafa. "Ya ampun, sampai beliin baju buat aku. Emang malam ini spesial banget ya?" tanya Safira dengan wajah ceria. "Iya dong, spesial banget. Kamu buka deh." perintah Rafa. "Sebentar ya, aku buka dulu." ujar Safira. Safira pun segera membuka plastik itu dan melihat isinya, wajahnya pun terlihat sangat senang saat melihat baju yang ada di dalamnya. Baju itu indah. "Gimana, kamu suka?" tanya Rafa. "Engga." jawab Safira dengan cepat. Wajah Rafa yang tadinya ceria, kini berubah menjadi kecewa. "Enggak suka? Ya udah, nanti aku balikin aja." ujar Rafa dengan wajah kecewa. "Engga mungkin aku gak suka, maksud aku." ujar Safira seraya tertawa pelan. "Safira, aku kira kamu beneran gak suka loh." ujar Rafa yang wajahnya kini ceria kembali. "Suka kok. Aku suka banget malah. Makasih loh ya, kamu udah repot-repot beliin aku baju segala." ujar Safira. "Iya, sama-sama." balas Rafa. "Kak Rafa, rumah aku udah sampai loh." ujar Safira. "Oh iya, sampai kelewatan." ujar Rafa. "Kenapa, Kak? Mikirin aku ya? Sampai gak fokus gitu." ujar Safira dengan tawa kecil. "Iya ... Eh, enggak kok." ujar Rafa yang akhirnya membuat Safira tertawa terbahak-bahak. "Kakak lucu banget deh." ujar Safira, "Aku turun di sini ya, Kak. Terima kasih banget udah mau antar aku pulang." ujar Safira seraya turun dari mobil Rafa. Safira pun melambaikan tangannya pada Rafa. Rafa pun membalas dengan melambaikan tangannya juga pada Safira. "Hm, apakah malam ini akan berjalan dengan semestinya?" *** "Safira, kamu gak titip dagangan lagi sama ibu?" tanya seorang ibu penjaga warung. "Engga Bu, aku gak sempat bikin dagangan lagi. Sibuk belajar." sahut Safira. "Oh. Rajin-rajin ya belajarnya, semoga kamu sukses. Gak mau mampir dulu, makan di sini?" tawari ibu penjaga warung. "Tapi, aku gak ada uang Bu." ujar Safira. "Aduh, kamu gak perlu pikirkan itu. Kamu gak perlu bayar, gratis. Sini, makan dulu!" perintah ibu penjaga warung. "Gak ngerepotin Bu?" tanya Safira. "Engga kok." ujar ibu penjaga warung. Safira pun dengan cepat menikmati makanan yang telah disajikan oleh ibu penjaga warung. "Makasih ya Bu, makanannya." ujar Safira. "Iya, kamu sekarang pulang, ganti pakaian ya." ujar ibu penjaga warung. "Iya, Bu." balas Safira. Safira pun segera memasuki rumahnya dan mencoba pakaian yang diberikan oleh Rafa, baju itu indah, sangat cantik. "Ya ampun, ini aku? Aku cantik banget ya ternyata." batin Safira. Safira terus menatap dirinya di cermin, ia sangat cantik memakai baju itu. "Nanti malam aku harus tampil sempurna, aku harus bikin Kak Rafa terpesona dengan kecantikan aku." ujar Safira pada dirinya sendiri. Hari semakin berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 18:30. "Sebentar lagi, Safira! Aku udah gak sabar buat makan malam bareng Kak Rafa." ujar Safira pada dirinya sendiri. Tok! Tok! Tok! —Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN