Episode 24

1728 Kata
Safira yang mendengar suara ketukan itu pun dengan cepat membuka pintu rumahnya. "Safira, kamu cantik banget sih." puji Rafa. "Kakak juga kok, ganteng banget." balas Safira. "Iya, kita cocok banget." bisik Rafa. "Kita berangkat sekarang?" tanya Safira. "Oke, yuk!" ajak Rafa. Mereka berdua pun dengan cepat menaiki mobil Rafa. "Kak, kita mau makan di mana sih?" tanya Safira penasaran. "Ada lah, nanti juga kamu tau kok tempatnya." jawab Rafa. "Ya udah deh." ujar Safira. "Ngomong-ngomong, kamu suka aku ... Eh, kamu suka makan malam dengan aku?" tanya Rafa yang mendadak salah tingkah. "Aku suka kok." jawab Safira. "Suka aku? Eh, iya. Aduh, aku kenapa sih?" tanya Rafa pada dirinya sendiri. "Bisa diatur." ujar Safira. "Hah? Gimana?" tanya Rafa. "Engga." jawab Safira dengan cepat. Suasana mendadak senyap di mobil Rafa. *** "Anna, kita ada rencana buat makan malam bareng temen Papah, kamu harus ikut ya. Kamu mau di kenalin ke anak temen Papah, siapa tau cocok." ujar Mamah. "Makan malam? Sekarang?" tanya Anna memastikan. "Iya, kamu siap-siap ya, 20 menit lagi kita akan ke sana." perintah Mamah. "Apa? 20 menit? Dan, Mamah baru bilang sama aku sekarang?" kesal Anna. "Iya, soalnya Papah barusan telepon Mamah. Mamah juga baru tau sekarang." ujar Mamah. "Papah tuh ya! Kenapa gak dari tadi sih!?" kesal Anna. Anna yang kesal itu pun segera mengganti pakaiannya, karena jika ia tidak datang. Papahnya pasti akan murka dan melakukan segala cara untuk membuatnya tersiksa. "Baju yang bagus gak sih? Atau yang ini aja?" Anna terlihat tengah sibuk memilih pakaian yang akan ia kenakan pada makan malam nanti. "Anna, sudah?" tanya Mamah memastikan. "Belum." sahut Anna yang masih sibuk mencari pakaian. "Anna, 2 menit lagi." peringat Mamah. Tak lama, Anna bergegas dari kamarnya. Saat ia mulai menuruni tangga, ia terlihat sangat cantik dengan pakaian yang ia kenakan saat ini. "Anna, kamu cantik banget. Pasti dia langsung suka sama kamu." puji Mamah. "Masa sih, Mah? Biasa aja kok." elak Anna dengan senyum malu-malu. "Udah, ayo kita berangkat." perintah Mamah. "Iya, Mah." turuti Anna. Mamah dan Anna pun segera menaiki mobil dengan cepat. Mobil pun mulai berjalan dengan perlahan. "Mah, emang anak temen Papah itu seumuran aku?" tanya Anna penasaran. "Mamah denger sih umurnya 18 tahun, dia mahasiswa di salah satu universitas bergengsi di Jakarta." jelas Mamah. "Ganteng gak, Mah?" tanya Anna. "Kenapa, kamu penasaran ya?" tanya Mamah dengan tawa kecil. "Iya, Mah. Aku kan gak mau sama cowok yang biasa-biasa aja." ujar Anna dengan penuh percaya diri. "Kayaknya sih gitu, Mamah juga belum pernah liat kok." ujar Mamah. "Aduh, penasaran deh." ujar Anna seraya memikirkan siapa pria yang akan ia temui nanti. *** "Bagaimana, Pak?" "Saya sih setuju-setuju saja, tergantung anak-anak." ujar Papah, "Ngomong-ngomong, anak bapak di mana ya? Sejak tadi, saya belum liat." ujar Papah. "Hm, sepertinya dia sedang dalam perjalanan ke sini, Pak. Kita tunggu saja ya, dia memang sibuk orangnya." Mereka pun mulai berbincang secara panjang lebar. Mereka pun membahas tentang perjodohan antara anak-anak mereka. *** "Di sini?" tanya Safira memastikan. "Iya, kita makan malam di sini. Kamu suka sama tempatnya? Kalo enggak, kita bisa cari tempat yang lain kok." ujar Rafa. "Enggak perlu, aku suka tempat ini kok." ujar Safira seraya menampilkan senyuman manisnya. "Oke, kita duduk?" tanya Rafa. "Iya, langsung duduk aja." jawab Safira. Mereka berdua pun langsung duduk dan Rafa mulai memesan makanan. "Safira, aku boleh tanya sesuatu sama kamu?" tanya Rafa. "Boleh, mau tanya apa?" "Ya ampun, Kak Rafa mau bilang kalo ... Ah! Jangan terlalu percaya diri dulu!" batin Safira. "Impian kamu apa?" tanya Rafa. "H-hah? Impian aku?" tanya Safira heran. "Iya, kalo gak mau jawab juga gak apa-apa." ujar Rafa. "Aku pengen jadi dokter." ujar Safira. "Dokter? kenapa?" tanya Rafa. "Supaya aku bisa membantu menyembuhkan penyakit banyak orang. Aku juga pengen membantu mereka secara sukarela, aku gak mau nasib mereka sama kayak Ibu aku." ujar Safira. Tak lama, Safira mulai meneteskan air matanya karena teringat akan ibunya yang telah tiada. Rasa kehilangan itu masih ada. "Safira, kamu yang tenang ya. Maaf juga ya, karena pertanyaan aku, kamu jadi sedih kayak gini." ujar Rafa dengan raut wajah kecewa. "Gak apa-apa kok, aku cuma ingat Ibu aja. Kok jadi sedih gini sih? Kita makan?" ujar Safira seraya menyeka air matanya. "Iya, makan sekarang." sahut Rafa. Mereka berdua segera menikmati hidangan itu dengan perlahan. *** "Perjodohan?" Tak lama, Anna terlihat mulai memasuki tempat makan malam yang telah diberitahukan oleh Papah. "Anna?" "Pah, aku boleh duduk?" tanya Anna dengan nada sopan. "Silakan. Ini putri saya, namanya Anna." ujar Papah. "Dia sangat cantik." puji teman Papah. Mamah dan Anna dengan cepat duduk di dekat Papah. "Maaf, berapa usia kamu?" tanya teman Papah. "16 tahun, Om." jawab Anna. "Masih sangat muda, dia juga sangat berprestasi di sekolahnya." ujar Papah. "Papah yang aku liat sekarang, beda banget sama Papah yang aku liat di rumah. Dunia sekarang penuh kepalsuan ya. Aku jadi gak bisa percaya sama orang lain, selain diriku sendiri." "Mah, Pah, aku permisi ke toilet ya." izin Anna. "Tentu." ujar Papah. Anna pun dengan cepat pergi ke toilet. "Bisa-bisanya ya, sok baik kayak gitu. Pakai acara puji aku segala lagi. Emang sekeren apa sih anak Om itu? Kalo sampai biasa aja, aku akan pergi dari sini. Terserah deh, mau Papah marah kek, aku gak peduli." ujar Anna pada dirinya sendiri. "Permisi." suara samar-samar menyapa telinga Anna. Suara itu nampak sangat asing bagi Anna, itu sepertinya suara seorang pria. Anna berbalik dan melihat siapa orang itu. Itu adalah seorang pria dengan rambut cokelat yang indah serta tubuhnya wangi. "Eh, tunggu! Ngapain kamu disini? Kamu pasti mau...," "Kamu liat deh di luar, tulisannya toilet pria bukan wanita. Kamu bisa keluar, sekarang?" tanya pria itu. "Dia cukup tampan!" Anna dengan cepat melihat keluar, dan ternyata itu adalah toilet pria. "Ya ampun, malu-maluin banget deh aku!" kesal Anna pada dirinya sendiri. Anna kembali duduk di tempatnya dengan rasa malu. Tak lama, pria itu keluar dari toilet dan duduk tepat di depan Anna. "Kamu?" heran Anna. Pria itu hanya tersenyum melihat respon Anna. "Jangan bilang kalau dia anak Om?" tanya Anna memastikan. "Tepat sekali, kalian sudah saling kenal?" tanya teman Papah. "Engga, Pah. Kita baru aja ketemu tadi, enggak sengaja." jawab pria itu. "Ya ampun, aku malu banget sama dia." batin Anna seraya menggigit bibirnya. *** "Kamu mau pesan lagi?" tawari Rafa. "Enggak perlu, aku udah kenyang banget." tolak Safira seraya mengelus lembut perutnya. "Kita pulang sekarang." ujar Rafa. "Sekarang? Kita jalan-jalan dulu aja gimana?" ajak Safira dengan penuh semangat. "Jalan-jalan?" tanya Rafa memastikan. Safira mengangguk dengan wajah ceria. "Boleh, ke mana?" tanya Rafa. "Di sekitar sini aja, biar gak bosen." ujar Safira. "Di sekitar sini?" heran Rafa. "Iya, kita jalan. Jalan kaki maksud aku." ujar Safira. "Oh, jalan kaki." ujar Rafa yang telah mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Safira. *** "Apa? Perjodohan? Aku masih 16 tahun, Pah." tolak Anna. "Anna, kamu jangan bikin malu Papah kayak gini, kamu terima aja perjodohan ini." bisik Papah pada Anna. "Aku ikut Papah aja sih, terserah Papah." ujar pria itu. "Aku enggak terima perjodohan ini! Aku aja belum kenal siapa dia, sekali ketemu langsung di jodohin? Wah banget." ujar Anna. "Anna! Jaga bicara kamu ya!" bisik Papah. "Sekali enggak, pokoknya tetap enggak! Saya permisi, Om." pamit Anna seraya berjalan keluar dari restoran. "Anna! Sebentar ya, Pak." pamit Papah. Papah dengan cepat menarik lengan Anna kasar, sebelum Anna keluar dari restoran itu. "Anna! Kamu kenapa tolak perjodohan itu sih!? Pokoknya, kamu harus kembali ke sana dan terima perjodohan itu! Itu dapat membantu melancarkan bisnis Papah!" bentak Papah. "Membantu melancarkan bisnis Papah? Aku gak peduli, itu bukan urusan aku! Papah urus aja urusan Papah sendiri, gak usah bawa-bawa aku!" bentak Anna balik. "Anna, tolong dong. Sekali aja kamu turuti kemauan Papah." ujar Papah. "Apa, Pah? Sekali aja? Sejak usia aku 8 tahun aku udah turuti semua kemauan Papah! Dan, itu semua gak berarti kan buat Papah!? Papah udah bikin aku menderita!" bentak Anna. "Anna, tolong jangan...," "Jangan apa, Pah!? Aku udah capek ya, sama kelakuan Papah!" bentak Anna yang dengan cepat pergi keluar restoran. "Anna! anak itu." kesal Papah. *** "Jalan?" "Iya, jalan kaki." sahut Rafa. "Kak, di sana ada bangku taman, ke sana yuk!" ajak Safira dengan penuh semangat. "Apa pun yang kamu mau." turuti Rafa. Mereka berdua segera duduk di bangku taman itu, berdua, hanya berdua. "Bintangnya indah, ya?" tanya Rafa pada Safira. "Iya, kayak aku." ujar Safira yang memuji dirinya sendiri. Rafa yang mendengar hal itu pun langsung tersenyum. "Kenapa Kak, kok senyum-senyum gitu? Aku lucu ya?" tanya Safira dengan penuh percaya diri. "Iya, kamu lucu banget." jawab Rafa. Safira terlihat mulai tersenyum malu-malu. Dari kejauhan terlihat Anna tengah berjalan mendekati bangku taman. "Papah tuh ya! Ngeselin banget!" kesal Anna. Anna tanpa sengaja melihat Safira dan Rafa yang tengah duduk berdua di bangku taman, wajahnya terlihat bertambah kesal. "Mereka berdua, ngapain sih pake acara berduaan di situ segala! Bikin aku tambah kesal aja! Safira, aku akan bikin perhitungan sama kamu, liat aja nanti." batin Anna. Safira terlihat mulai kedinginan, karena baju yang ia kenakan cukup tipis. Rafa yang menyadari hal itu pun segera melepaskan jas yang ia pakai dan memberikannya pada Safira. "Ini, pakai. Kamu pasti kedinginan kan?" tanya Rafa perhatian. "Iya, Kak. Terima kasih." ujar Safira yang segera memakai jas pemberian dari Rafa. "Emang Kakak gak kedinginan apa?" tanya Safira cemas. "Udah, kamu pakai aja." perintah Rafa. Safira mengangguk pelan. "Mereka malah makin mesra! Awas aja ya!" batin Anna. Tak jauh dari keberadaan Anna, terlihat Ghea tengah bersiap menaiki mobilnya, namun ia terhenti saat melihat Anna. "Itu Anna kan? Aku semperin deh." batin Ghea. Anna terlihat tengah bersiap untuk melemparkan sarang lebah yang baru saja ia ambil kepada Safira dan Rafa. Namun, sarang lebah itu jatuh karena ia tak mampu menggenggamnya. "Anna, lo ngapain di sini?" tanya Ghea seraya memegang bahu Anna. Tak lama, Ghea pun melihat Safira dan Rafa yang tengah duduk berdua di bangku taman. Anna kini mengarahkan pandangannya pada Ghea. "Anna, lo mau ngapain? Pasti lo mau berbuat sesuatu yang gak bener kan?" tanya Ghea. "Bukan urusan lo." ujar Anna. "Anna, lo jangan macam-macam deh." perintah Ghea. "Ghea, apaan sih lo!?" Ghea yang sedari tadi mencengkeram tangan Anna pun langsung terdorong ke belakang saat Anna melepaskan cengkeraman tangannya. Saat ia jatuh ke jalan, tiba-tiba saja ada mobil yang lewat dan langsung menabraknya. "Anna!" panggil Ghea. Anna mengedarkan pandangannya dan dengan cepat melihat Ghea, kini tubuh Ghea penuh luka, hal itu disebabkan oleh Anna. Anna yang jahat. —Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN