Tubuh Ghea langsung terdorong ke belakang saat Anna melepaskan cengkeraman tangannya. Tubuhnya pun jatuh ke jalan. Saat ia berada di tengah jalan, tiba-tiba saja sebuah mobil lewat dan menabrak tubuh Ghea.
Brak!
"Anna!"
Anna yang mendengar suara Ghea pun dengan cepat mengedarkan pandangannya. Kini pandangannya tertuju pada Ghea. Tubuhnya penuh luka akibat tertabrak oleh mobil. Dan, ini semua terjadi karena Anna dengan sengaja mendorong tubuhnya. Anna hanya bisa terdiam saat melihat hal itu. Ia sangat terkejut, ia tidak sengaja.
Semua orang terlihat mulai mengerumuni tubuh Ghea yang sudah lemas tak berdaya lagi. Darah di mana-mana. Anna sudah tidak ada lagi di sana.
"Kak Rafa, itu rame-rame kenapa ya? Kita liat yuk!" ajak Safira.
"Buat apa sih? Udah, di sini aja." perintah Rafa.
"Tapi, aku penasaran, Kak. Kita liat aja yuk!" ajak Safira lagi. Rafa pun segera menyetujui permintaan Safira.
"Ya sudah, kita ke sana sekarang." ujar Rafa.
Mereka berdua pun bergegas menghampiri kerumunan, saat mereka berdua melihat korban tabrak lari itu, betapa terkejutnya mereka saat mengetahui siapa itu.
"Ghea!" ujar Rafa.
"Ya ampun, panggil ambulans!" perintah Safira pada Rafa.
"Iya, iya." turuti Rafa.
Rafa pun dengan cepat menghubungi ambulans. Tak lama, mobil ambulans datang dan dengan cepat membawa tubuh Ghea yang sudah lemas.
Rafa dan Safira pun dengan cepat menaiki mobil dan mengendarainya, mereka berdua pergi ke rumah sakit di mana Ghea di rawat saat ini.
"Dok, tolong segera lakukan tindakan." perintah Safira dengan wajah cemas.
"Baik, tolong tunggu di luar." ujar Dokter.
Dokter segera menangani Ghea.
"Kak Rafa, kenapa bisa jadi begini sih!?" kesal Safira.
"Kamu yang tenang ya, Safira." ujar Rafa berusaha menenangkan Safira.
***
"Anna! Kamu kenapa langsung pergi aja tadi!?" bentak Papah.
"Aaaargh! Aaaargh!" jerit Anna.
"Anna, kamu kenapa?" tanya Mamah khawatir.
"Aku perlu ke kamar sekarang, Mah. Tolong jangan ganggu aku." perintah Anna.
"I-iya." turuti Mamah.
Anna pun dengan cepat menaiki tangga dan memasuki kamarnya, ia pun dengan cepat mengunci pintu.
"Anna! Papah belum selesai bicara!" bentak Papah. Namun, Anna sama sekali tak mendengar ocehan Papahnya itu.
"CUKUP!!" jerit Anna.
"Anna, kamu kenapa?" tanya Mamah cemas.
"Anna! Kamu jangan sembunyi begitu! Keluar sekarang!" perintah Papah dengan kasar.
"Udah, Pah." ujar Mamah mencoba menenangkan Papah.
"Anna!" teriak Papah.
Anna terlihat mulai meneteskan air matanya. Ia tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Ia masih syok karena kejadian tadi, lebih tepatnya, kesalahan yang baru saja ia perbuat.
"Kenapa!? Kenapa!?" jerit Anna.
Ia mulai mengacak-acak barang miliknya, kamarnya kini cukup berantakan karena ulahnya. Tak lama, pelayan datang dan memasuki kamarnya.
"Non, ini minumannya." ujar pelayan seraya membawakan minuman.
"Enggak! Bukan aku! BUKAN!!" jerit Anna.
"Non, kenapa?" tanya pelayan memastikan keadaannya.
"BUKAN!!" jerit Anna semakin keras.
"Tuan, Nyonya!" panggil pelayan.
Mamah yang mendengar panggilan itu pun segera menghampirinya.
"Kenapa, bi?" tanya Mamah memastikan.
"Non Anna dari tadi teriak-teriak terus, Nya. Kenapa ya?" ujar pelayan.
"Anna, kamu kenapa nak?" tanya Mamah memastikan.
"Bukan aku!" jerit Anna.
Mamah segera menghampiri Anna dan mengelus lembut punggungnya, Mamah berniat menenangkan putri kesayangannya itu.
"Anna, kalau kamu ada masalah, cerita sekarang sama Mamah ya." ujar Mamah.
"Bukan aku! Bukan!" jerit Anna.
"Sayang, kamu jangan kayak gini dong. Kamu kenapa sih?" tanya Mamah yang berusaha tenang melihat putrinya seperti itu.
***
"Yang tabrak Ghea siapa!?" tanya Safira pada dirinya sendiri dengan nada kesal.
"Safira, kamu harus tenang sekarang. Ghea jadi korban tabrak lari, kita di sini gak ada yang tau siapa pelakunya." jelas Rafa dengan nada pelan pada Safira.
"Aku gak nyangka dia akan seperti ini, padahal aku baru aja dekat sama dia." ujar Safira.
"Kamu dekat sama Ghea?" tanya Rafa heran.
"Iya, semenjak Anna jauh dari aku, Ghea semakin dekat dengan aku. Aku juga gak tau sih kenapa gitu." jelas Safira.
"Bisa begitu ya." heran Rafa.
"Aku gak tau sih, tapi semenjak itu, aku jadi ngerasa dekat aja sama Ghea. Tapi, aku gak tau isi hati dia gimana." ujar Safira.
Tak lama, Dokter menghampiri Safira dan Rafa. Safira dan Rafa pun segera bangkit dari duduk mereka.
"Bagaimana keadaan Ghea, Dok?" tanya Safira memastikan.
"Kondisinya saat ini masih syok." jelas Dokter.
"Kita udah boleh ketemu dia, Dok?" tanya Safira.
"Kalian sudah bisa menemuinya, tapi dia masih belum bisa mengeluarkan sepatah kata pun karena dia masih sangat syok, jadi tolong jangan paksa dia untuk mengingat hal-hal yang membuatnya seperti sekarang." perintah Dokter.
"Baik, Dok." turuti Safira.
Safira dan Rafa pun segera menemui Ghea.
"Ya ampun, Ghea. Kamu baik-baik aja kan sekarang? Aku khawatir banget loh sama kamu." ujar Safira. Ghea hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Kamu mau makan?" tawari Safira. Ghea dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Ghea, kamu sekarang istirahat ya. Aku sama Kak Rafa harus pulang dulu." ujar Safira, Ghea hanya mengangguk.
Mereka berdua pun segera keluar dari ruangan itu dan pergi ke mobil. Mereka dengan cepat memasuki mobil dan Rafa pun segera mengendarai mobilnya menuju rumah Safira.
"Hidup ini aneh ya, musuh bisa berubah menjadi teman, dan teman menjadi musuh." ujar Rafa.
"Iya, dan hal itu juga bikin aku tambah bingung harus percaya siapa sekarang." ujar Safira.
"Kamu cukup percaya aku aja." ujar Rafa dengan penuh rasa percaya diri yang tinggi.
"Kak Rafa, jangan terlalu percaya diri." ujar Safira.
"Kenapa?" heran Rafa.
"Nanti jatuh." ujar Safira dengan cepat.
"Aku udah jatuh sih, jatuh hati sama kamu." ujar Rafa.
"Kak Rafa! Oh iya, emang orang tua Ghea ke mana? Maaf kalau aku lancang." tanya Safira penasaran.
"Orang tua Ghea itu sibuk, jarang di Jakarta, mereka urus bisnis di luar negeri." ujar Rafa.
"Kakak dekat banget sama Ghea?" tanya Safira memastikan.
"Cukup dekat sih, kita udah berteman sejak kelas 10." ujar Rafa.
"Udah cukup lama sih. Kakak pernah punya perasaan sama Ghea?" tanya Safira memastikan.
"Gak pernah. Aku cuma sayang sama dia sebagai sahabat." ujar Rafa.
"Beneran?" tanya Safira memastikan.
"Iya. Kenapa? Kamu cemburu?" tanya Rafa penuh rasa percaya diri.
"Engga. Aku enggak cemburu!" elak Safira bersikeras.
"Masa sih? Aku yakin banget kamu tuh cemburu." ujar Rafa masih dengan penuh rasa percaya diri.
"Engga! Pokoknya enggak!" elak Safira.
"Cemburu, pokoknya cemburu." ujar Rafa yang membuat Safira kesal.
"Aku turun nih, sekarang juga." ancam Safira kesal.
"Iya, iya. Maaf deh." ujar Rafa dengan wajah berubah kecewa. Safira hanya tertawa melihat respon Rafa.
"Ngomong-ngomong, Kak Rafa kan banyak perempuan yang deketin, kenapa Kak Rafa mau dekat-dekat sama aku dari pada perempuan lain?" tanya Safira dengan wajah mulai serius.
"Safira, kamu serius tanya ini sama aku?" tanya Rafa yang mencoba mengalihkan perhatian Safira, namun itu gagal.
"Udah, jawab aja!" perintah Safira.
"Karena ... karena a-aku c-ci...,"
"Argh!" pekik Safira.
"Safira, kamu kenapa!?" tanya Rafa cemas.
"T-tadi, ada kucing yang lewat. Hampir Kakak tabrak." ujar Safira.
"Kucing?" tanya Rafa memastikan.
"Iya, kucing. Aduh, maaf ya, aku pasti bikin Kakak kaget, kan?" ujar Safira.
"Iya, gapapa." ujar Rafa.
"Eh, Kak. Kita udah sampai. Aku turun di sini ya, terima kasih udah mau anterin aku sampai rumah, dengan selamat." ujar Safira dengan senyuman terlihat di wajahnya.
"Santai aja. Aku pulang ya." pamit Rafa. Safira menganggukkan kepalanya pelan. Rafa pun segera mengendarai mobilnya.
"Hari ini adalah hari penuh kebahagiaan dan keburukan untukku."
***
"Kenapa sih, Mah!?" bentak Papah kesal.
"Anak kita Pah, anak kita kayaknya ngalamin sesuatu deh." ujar Mamah.
"Ngalamin apa? Kamu jangan aneh-aneh deh." ujar Papah.
"Papah liat aja sendiri." perintah Mamah.
Papah pun segera melihat kondisi Anna yang sedari tadi hanya berbicara sendiri dan seperti tidak mendengarkan orang lain.
"BUKAN!! BUKAN AKU!!" jerit Anna berulang.
"Anna, kamu kenapa sih!?" bentak Papah.
"Pah, kayaknya dia lagi butuh waktu sendiri. Kita keluar dulu aja kali ya." ujar Mamah.
"Terserah deh!" kesal Papah.
Mamah dan Papah pun segera keluar dari kamar Anna.
***
"Aku harus masak gak ya?" tanya Safira pada dirinya sendiri.
***
Hai diary,
Mengapa semua jadi seperti ini? Seseorang yang dekat denganku. Aku jadi takut, aku tak ingin nantinya teman-temanku dalam keadaan bahaya karena aku.
***
Kring... Kring... Kring...
"Halo?" suara samar-samar itu segera menyapa Safira.
"Iya, ada apa?" tanya Safira.
"Kalian tadi habis makan malam, kan?" tanya Rizki yang penasaran.
"Iya. Kan udah cerita sama kamu." ujar Safira.
"Ngomong-ngomong, makan malamnya lancar? Terjadi sesuatu gak?" tanya Rizki memastikan.
"Terjadi sesuatu? Sesuatu apa?" tanya Safira heran.
"Bukan gitu, maksud aku, Kak Rafa gak nyatain cinta sama kamu?" tanya Rizki.
"Nyatain cinta? Gak sih. Padahal yang aku tunggu-tunggu itu." ujar Safira.
"Hm, makan malamnya lancar?" tanya Rizki.
"Lancar sih, tapi pas kita keluar, kita liat Ghea kecelakaan." ujar Safira.
"Kecelakaan? Maksudnya?" tanya Rizki mulai penasaran.
"Ya gitu, tabrak lari, dia di tabrak mobil." ujar Safira.
"Apa!? Kok bisa!?" tanya Rizki.
"Aku juga kurang tau kejadiannya." ujar Safira.
"Ya udah kalo gitu, aku matiin ya teleponnya." ujar Rizki.
"Iya." sahut Safira singkat.
Rizki pun dengan cepat mematikan panggilan itu. Safira terlihat mulai memasak untuknya sarapan.
***
"Anna kenapa sih, Pah?" tanya Mamah masih khawatir.
"Udah lah, Mah. Dia paling cuma alasan aja, dia gak mau perjodohan itu." ujar Papah tak percaya pada Anna.
"Tapi, kalo itu beneran gimana Pah?" tanya Mamah khawatir.
"Dia cuma perlu istirahat." ujar Papah.
"Bi, kalau terjadi apa-apa sama Anna, beritahu saya ya." perintah Mamah pada pelayan.
"Baik, Nya." sahut pelayan.
"Kalau begitu, saya permisi." ujar Mamah yang langsung pergi ke kamarnya.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 06:30, dan Safira sudah selesai menyiapkan perlengkapan sekolahnya, ia pun sudah sarapan. Sekarang saatnya untuk ia berangkat ke sekolah.
"Udah semua, aku berangkat ke sekolah sekarang." ujar Safira pada dirinya sendiri.
Saat Safira membuka pintu, terlihat seorang pria tengah berdiri di hadapannya.
"Kak Rafa?"
"Pagi, aku antar ke sekolah yuk." ujar Rafa.
"Ke sekolah? Ya udah yuk." turuti Safira.
Mereka berdua pun segera menaiki mobil Rafa. Rafa terlihat penuh semangat saat itu. Mungkin, Safira penyebabnya.
"Kak Rafa dari tadi senyum terus, kenapa?" tanya Safira memastikan.
"Gak apa-apa, aku cuma liat muka kamu aja." ujar Rafa.
"Muka aku? Kenapa? Jelek ya?" tanya Safira mulai khawatir akan wajahnya.
"Engga kok, bukan begitu. Kamu cantik." ujar Rafa berniat menenangkan Safira.
"Hah!? Cantik, aku cantik?" tanya Safira memastikan.
"Iya, kamu gak ngerasa apa?" tanya Rafa balik.
"Engga sih, masa sih, Kak?" tanya Safira memastikan.
"Iya. Udah ah, pengen di puji terus ya?" tanya Rafa.
"Engga, bukan gitu." wajah Safira terlihat kesal saat mendengar pertanyaan Rafa yang baru saja ia lontarkan.
"Safira, kamu marah?" tanya Rafa memastikan.
"Engga, cuma kesal aja." ujar Safira dengan wajah cemberut.
"Ya udah, iya. Kamu itu cantik, pakai banget. Jangan marah lagi ya, cantik." ujar Rafa berniat membuat Safira tersenyum, dan tak lama, wajah Safira terlihat kembali berseri.
"Terima kasih loh atas pujiannya." ujar Safira. Rafa menganggukkan kepalanya pelan.
—Bersambung...