"Safira, kamu berangkat bareng Kak Rafa? Astaga!" ujar Rizki heboh.
"Iya, bisa gak usah heboh gak sih?" ujar Safira risih.
"Gak bisa, harus!" ujar Rizki.
"Terserah." kesal Safira.
"Oh iya, aku ke kelas dulu ya, sebentar lagi masuk nih." pamit Rizki.
"Iya, sampai nanti." ujar Safira.
Rizki melambaikan tangannya ke arah Safira, lambaian itu pun dengan cepat di balas oleh Safira.
***
"Hari ini, Anna tidak masuk sekolah?" tanya Guru.
"Iya, Bu." jawab semua siswa serempak.
"Baiklah. Sekarang kita akan melakukan praktik secara berpasangan, nama kelompok ibu yang atur, jadi jangan protes." ujar Guru.
"Pilih sendiri lah Bu." keluh seorang siswa.
"Kamu mau pilih kelompok kamu sendiri? Silakan ..., silakan kamu keluar dari kelas sekarang juga. Tidak perlu masuk di jam pelajaran saya lagi." ujar Guru.
"Si ibu mah...,"
"Ingat ya, jangan banyak protes! Baik, kelompok yang pertama ada Safira dan Ardi, kelompok yang kedua ada Valerie dan Asep, serta...," Guru pun segera memilih nama kelompok berdasarkan keinginannya sendiri, "Baik, ada yang tidak setuju dengan nama kelompok yang sudah ibu pilih?" tanya Guru.
"Engga lah, Bu! Kelompok saya bodoh semua." bisik salah seorang siswa. Teman yang berada di sampingnya pun segera memukulnya dengan buku catatan.
"Heh! Jangan asal ngomong!" bentak siswa lain.
"Apaan sih lu!? Emang bener kan?" bisik siswa itu.
"Jika semuanya setuju, kita akan mulai praktik hari ini." ujar Guru dengan penuh semangat, "Apakah kalian semua sudah siap untuk praktik hari ini?" tanya Guru.
"Siap, Bu!" ujar semua siswa dengan penuh dengan rasa semangat. Namun, ada beberapa juga yang terlihat malas.
"Permisi, Bu." ujar Safira.
"Iya, ada apa, Safira?" tanya Guru yang dengan cepat menoleh ke arah Safira.
"Saya boleh izin ke toilet sebentar, Bu?" tanya Safira.
"Silakan, tapi jangan lama-lama. Saya tunggu lima menit." ujar Guru.
"Terima kasih, Bu." ujar Safira yang segera berjalan menuju toilet.
"Aduh, perut aku kenapa sakit banget ya?" tanya Safira pada dirinya sendiri.
Safira terlihat mual-mual, ia sedari tadi hanya memegangi perutnya. Wajahnya kini terlihat pucat, ia terlihat lemas.
"Aku kenapa ya? Aku kayak mau ... mau p-pingsan...,"
***
"Ini sudah lebih dari lima menit, dan Safira masih belum kembali juga. Valerie, tolong kamu cek Safira ya, saya takut terjadi apa-apa sama dia." perintah Guru.
"Baik, Bu. Saya bakal cek keadaan Safira." turuti Valerie.
Valerie dengan cepat berjalan menuju ke toilet, saat sampai di sana, ia melihat pintu toilet terbuka dan ia pun mulai memasukinya. Saat ia masuk, ia pun dengan cepat melihat tubuh Safira yang sudah berbaring lemas di sana. Ia pun segera berlari menghampiri Guru.
"Bu, Safira ... Safira pingsan!" ucap Valerie.
"Apa? Safira pingsan? Segera bawa dia ke ruang UKS, secepatnya!" perintah Guru.
"Baik, Bu." turuti Valerie.
Valerie kembali ke toilet dan dengan cepat membawa tubuh Safira yang lemas ke ruang UKS.
"Aduh, Safira, kamu kenapa sih?" tanya Valerie pada Safira yang masih belum tersadar. Valerie segera meninggalkan Safira dan kembali ke kelas.
***
Bel istirahat telah berbunyi, Rizki terlihat sibuk mencari di mana keberadaan Safira. Ia tak dapat menemukannya.
"Maaf, liat Safira? Tau dia di mana sekarang?" tanya Rizki pada salah seorang teman sekelas Safira.
"Tau, di lagi di ruang UKS sekarang, gara-gara pingsan di toilet. Udah dari tadi sih dia di sana." jawab siswa itu.
"Oke, makasih ya." ujar Rizki.
"Sama-sama."
Rizki segera berlari menuju ruang UKS. Sesampainya di sana, ia pun langsung melihat Safira yang baru saja tersadar. Ia segera menghampirinya.
"Safira, kamu kenapa? Kamu baik-baik aja kan? Kamu sakit? Mau izin aja?" Rizki dengan penuh rasa khawatir, melontarkan segala pertanyaan.
"Rizki, satu-satu dong tanyanya." perintah Safira.
"Maaf, habisnya aku itu khawatir banget sama kamu. Kamu kok bisa pingsan sih?" tanya Rizki cemas.
"Aku juga gak tau, tadi itu perut aku tiba-tiba aja sakit." jawab Safira.
"Perut kamu sakit? Mual?" tanya Rizki.
"Iya, kayak gitu sih." jawab Safira.
"Kamu udah makan, kan? Atau kamu makan sesuatu yang mungkin bikin kamu sakit perut hari ini, ada?" tanya Rizki penuh selidik.
"Aku udah makan, tapi kalau makan sesuatu yang bikin sakit perut, aku kurang tau." jawab Safira.
"Kayaknya kamu salah makan deh, atau mungkin kamu masuk angin? Kamu udah minum obat?" tanya Safira.
"Belum." jawab Safira yang wajahnya terlihat masih pucat.
"Tunggu sebentar ya, aku beliin kamu obat sama makanan juga." ujar Rizki.
"Rizki, gak perlu!" tolak Safira, namun Rizki sudah bergegas pergi untuk membelikannya obat serta makanan.
"Yah, padahal kan, aku gak mau bikin Rizki repot." batin Safira.
Saat Rizki ingin kembali ke ruang UKS setelah membelikan Safira obat, ia tanpa sengaja berpapasan dengan Rafa, Kakaknya.
"Rizki, tunggu!" ujar Rafa.
Rizki menghentikan langkahnya.
"Kenapa, Kak?" tanya Rizki heran.
"Kamu bawa obat, untuk siapa?" tanya Rafa penasaran.
"Ini? Untuk Safira, atau ... Kakak mau bawain obat ini ke Safira?" tanya Rizki.
"Boleh." jawab Rafa dengan penuh rasa semangat yang tinggi.
"Nih." ujar Rizki seraya menyodorkan keresek berisi obat yang baru saja ia beli untuk diberikan kepada Safira.
"Kakak kasih ini ke Safira ya, dia ada di ruang UKS." ujar Rizki.
"Iya." sahut Rafa singkat.
Rafa bergegas ke ruang UKS dengan penuh semangat dan percaya diri.
"Safira, kamu gak apa-apa?" tanya Rafa cemas pada Safira yang masih terbaring di sana.
"Kak Rafa?" heran Safira.
"Ini obat untuk kamu, di minum ya. Biar kamu cepat sembuh dan kita bisa makan malam bersama lagi nanti." ujar Rafa.
"Makan malam bersama lagi? Boleh tuh." ujar Safira.
"Serius? Udah, minum dulu obatnya." perintah Rafa. Safira segera meminum obatnya secara perlahan.
"Kamu istirahat ya. Mau aku temenin atau sendiri di sini?" tanya Rafa secara tiba-tiba.
"Hah? Aku mau Kak Rafa di sini. Aku bosan kalo gak ada temen." ujar Safira.
Rafa segera mendekatkan tubuhnya pada Safira. Ia juga mendekatkan wajahnya pada Safira. Mata mereka kini saling bertemu, bertatapan. Kini, wajah mereka semakin bertemu, suasana begitu hening. Hingga akhirnya, Rizki memasuki ruang UKS.
"Ya ampun, Maaf, ganggu ya." ujar Rizki.
Safira dan Rafa yang mendengar itu pun segera menoleh ke arah Rizki dan menjauh satu sama lain.
"Kok menjauh sih? Kalian tadi mau ngapain coba?" tanya Rizki penuh selidik.
"Kita nggak mau ngapa-ngapain kok. Tadi itu cuma ada sesuatu di mata aku dan Kak Rafa bantu tiup. Itu aja kok." elak Safira. "Iya kan, Kak?" tanya Safira pada Rafa. Rafa diam sesaat.
"Hm, iya benar." ujar Rafa.
"Masa sih? Gak percaya tuh." ujar Rizki dengan wajah curiga.
"Terserah kamu deh mau mikir apa." ujar Safira.
"Kalian kenapa masih belum jadian sih? Cocok banget loh." ujar Rizki.
"Rizki!" bentak Safira.
"Apa sih? Kalau begitu, aku pamit deh. Takut ganggu dua orang yang lagi kasmaran." ujar Rizki dengan senyum penuh kecurigaan.
"Rizki! Berhenti dong!" perintah Safira.
"Di lanjut aja ya." ujar Rizki sedikit berbisik pada Safira dan Rafa.
Suasana di ruang UKS mendadak hening karena kejadian tadi.
"Hm, Kakak gak mau makan ini?" tawari Safira.
"Gak perlu, kamu aja yang makan." tolak Rafa.
"Gak apa-apa, masa cuma aku doang yang makan." ujar Safira.
"Ya udah, aku makan juga." turuti Rafa.
Mereka pun menikmati makanan berdua.
***
Sekarang sudah jam pulang sekolah, para siswa sudah menunggu di parkiran sekolah. Sementara Safira, ia tengah berjalan berdua bersama dengan seorang Rafa Ardhan Mahendra. Semua mata tertuju pada mereka berdua saat itu. Mereka menjadi pusat perhatian.
"Kak Rafa, aku risih deh. Kenapa mereka semua pada liatin kita kayak gitu sih?" tanya Safira.
"Udah, kamu gak perlu peduli sama mereka. Mending, kita cepetan jalan ke mobil aku ya." ujar Rafa.
"Iya, Kak."
Mereka berdua segera memasuki mobil Rafa. Safira terlihat diam.
"Safira, kamu kenapa?" tanya Rafa memastikan.
"Aku gak apa-apa, Kak." jawab Safira.
"Kok kamu dari tadi diam aja sih?" tanya Rafa.
"Aku cuma ingat Ibu aku aja Kak. Biasanya, kalau aku sakit, dia selalu rawat aku di rumah. Tapi sekarang, aku sendirian." ujar Safira.
"Safira, yang tegar ya." ujar Rafa, "Mulai sekarang, aku yang akan rawat kamu di rumah kalo kamu sakit." ujar Rafa.
"Apa? Kakak mau rawat aku?" tanya Safira dengan wajah tak percaya.
"Iya, kenapa?" tanya Rafa.
"Engga apa-apa sih. Aku cuma heran aja." ujar Safira.
"Heran, kenapa?" tanya Rafa lagi.
"Kakak kok mau rawat aku sih kalo sakit? Emang gak repot ya?" tanya Safira.
"Engga, kalo orang itu kamu." ujar Rafa.
"Udah sampai, Kak. Aku turun di sini ya. Terima kasih udah mau antar aku." ujar Safira dengan senyuman di wajahnya.
"Gak boleh mampir?" tanya Rafa.
"Hah? Mampir? Gak usah lah. Masa di rumah cuma ada kita berdua." ujar Safira.
"Ya udah, aku pulang ya." pamit Rafa seraya melambaikan tangannya ke arah Safira. Safira pun membalasnya.
"Harapan yang tadinya hilang, kini kembali datang. Semakin tinggi."
***
"Anna, kamu udah baik-baik aja kan?" tanya Mamah cemas.
"Mamah? Aku kenapa?" tanya Anna balik.
"Sayang, kamu udah baik-baik aja?" tanya Mamah memastikan.
"Iya, aku baik-baik aja kok. Emangnya aku kenapa?" tanya Anna balik.
"Kamu gak apa-apa. Kamu banyak-banyak istirahat aja ya." perintah Mamah. Anna mengangguk.
***
"Ghea, kamu udah baik-baik aja?" tanya Safira yang tengah menjenguk Ghea di rumah sakit. Ia memang teman yang sangat perhatian.
"Safira, gue udah baik-baik aja kok. Tapi, masih belum boleh pulang sih." ujar Ghea.
"Kamu yang sabar ya, nanti juga kamu pasti boleh pulang. Ini makanan untuk kamu, habiskan ya." perintah Safira.
"Makasih ya, Safira. Selama gue sakit, lo selalu perhatian banget sama gue. Coba kalo gue gak mau temenan sama lo sampai sekarang, mungkin gak ada yang akan jenguk gue di rumah sakit." ujar Ghea.
"Jangan bilang gitu, udah, habiskan makanannya." perintah Safira. Ghea menganggukkan kepalanya pelan.
Ghea mulai memakan makanan yang Safira berikan. Ia terlihat lapar.
"Ghea, kamu di sini makan gak sih?" tanya Safira memastikan.
"Makan, tapi satu hari cuma satu kali. Makanan di sini gak enak." ujar Ghea.
"Oh, ya udah, habiskan ya." perintah Safira.
"Lo gak mau makan juga?" tanya Ghea.
"Engga perlu, aku tadi udah makan di rumah." ujar Safira.
***
"Safira, aku akan buat hidup kamu menderita, tidak akan pernah ada kebahagiaan yang menghampiri kamu."
***
"Safira, kok lo baik banget sih sama gue, apa lo udah lupa sama perbuatan gue dulu?" tanya Ghea secara tiba-tiba.
"Ghea, yang lalu biarlah berlalu, kita liat aja yang sekarang. Kamu baik, aku juga baik sama kamu." jawab Safira.
"Gue salut deh sama lo." ujar Ghea.
"Kamu mau aku temenin di sini? Aku di rumah gak ada temen soalnya." ujar Safira.
"Mau, pakai banget. Oh iya, kalo lo perlu sesuatu, lo boleh bilang ya sama gue." ujar Ghea.
"Gak perlu." tolak Safira.
"Tenang, gue gak repot kok. Gue malah seneng kalo bisa bantu lo." ujar Ghea.
"Tapi, aku gak bisa terima bantuan dari orang lain, aku mau usaha sendiri. Jadi, kamu gak perlu pikirkan aku ya."
—Bersambung...