Episode 27

1727 Kata
"Pak! Pak! Jangan ditutup dulu gerbangnya!" pinta Safira yang terlihat ngos-ngosan. "Safira, kamu baru datang?" tanya satpam sekolah. "Iya, Pak. Saya belum telat kok, masih ada lima menit lagi." ujar Safira. "Iya, silakan masuk." perintah satpam. "Terima kasih, Pak." ujar Safira yang segera memasuki gerbang dan pergi ke perpustakaan. "Safira, kamu di sini juga?" tanya Rafa yang tanpa sengaja bertemu dengan Safira di perpustakaan. "Iya, aku mau baca buku Kak." ujar Safira. "Kamu mau baca buku apa? Aku bantu cariin ya. Bareng?" ajak Rafa. "Boleh, Kak." turuti Safira. Mereka berdua segera mencari buku yang ingin Safira baca. Rafa terus memperhatikan Safira sedari tadi. "Kak Rafa, katanya mau bantu aku, tapi dari tadi kok cuma liatin aku aja sih?" tanya Safira. "Hah? Aku gak liatin kamu kok. Aku cuma liat-liat buku aja." elak Rafa. "Masa sih?" ucap Safira tak percaya. "Kalo gak percaya, ya udah." ujar Rafa. Saat Safira ingin menggapai sebuah buku, tangannya tak sampai, ia mencoba melompat, namun ia terpeleset dan Rafa segera menangkapnya. Mereka bertatapan sesaat. Setelah itu, Rafa melepaskan pelukannya. "Maaf." ujar Rafa. "G-gak apa-apa." sahut Safira cepat. "Biar aku aja yang ambil bukunya. Yang mana?" ujar Rafa. "Yang atas itu, Kak. Yang sampulnya warna hijau muda." jelas Safira. Rafa pun segera mengambil buku yang diberitahukan oleh Safira. "Yang ini, bukan?" tanya Rafa memastikan. "Iya, yang itu." ujar Safira. "Nih." ujar Rafa seraya memberikan buku itu pada Safira. "Makasih, Kak. Kalo gitu, aku ke kelas dulu ya." pamit Safira. "Iya." sahut Rafa singkat. Safira segera berjalan ke arah kelasnya seraya masih mengingat kejadian tadi. "Aduh, aku malu deh." batin Safira. Saat Safira berjalan, tiba-tiba saja seseorang menghentikannya. "Heh! Lo berani-beraninya ya, deket sama Kak Rafa!" teriak orang itu. "Maaf, kamu siapa ya, aku gak kenal." ujar Safira yang terus melangkah maju. Tiba-tiba saja, orang yang menghentikan langkahnya tadi menarik rambut Safira dengan kasar dan menjatuhkannya ke lantai dengan sangat keras. "Lo jangan berani-beraninya ya deketin Kak Rafa gue!" ancam orang itu. Saat orang itu membalikkan badannya dan mulai berjalan, Safira dengan cepat menarik kakinya hingga orang itu terjatuh ke lantai, Safira bangkit dan mulai mendekati orang itu. "Kita sama-sama kelas 11, gak usah belagu!" ujar Safira seraya menarik dagu orang itu menggunakan jari telunjuknya. Safira kemudian berjalan kembali menuju kelasnya. "Awh!" jerit orang itu. Safira hanya tersenyum mendengarnya. Safira mulai memasuki kelasnya dan membaca buku yang di ambilkan oleh Rafa tadi. Ia terlihat begitu senang. "Safira, kamu udah sehat?" tanya Valerie yang tiba-tiba saja datang menghampiri Safira yang tengah duduk dan berkutat pada bukunya. "Udah kok, Valerie." jawab Safira. "Bagus deh, ini ada minuman buat kamu." ujar Valerie seraya memberikan sebotol minuman dingin pada Safira. "Buat aku? Makasih ya." ujar Safira. "Iya, aku boleh duduk di samping kamu?" tanya Valerie. "Duduk di samping aku? Silakan." ujar Safira. Valerie pun segera mengambil bangku dan duduk di sebelah Safira. "Safira, aku mau tanya deh sama kamu." ujar Valerie mulai terlihat serius. "Tanya apa? Kayaknya serius banget." ujar Safira. "Kamu sama Anna ada masalah apa sih? Cowok?" tanya Valerie penasaran. "Kok kamu tanya itu?" tanya Safira balik. "Aku cuma heran aja, kamu jarang ngobrol lagi sama Anna. Bahkan, kalian selalu masing-masing." ujar Valerie. "Iya, sebenarnya aku sama Anna lagi ada masalah." jelas Safira. "Masalah apa? Karena apa?" tanya Valerie yang masih penasaran. "Ada lah, kamu gak perlu tau." ujar Safira. "Kok gak perlu tau sih? Kasih tau aja, kenapa? Aku penasaran tau." ujar Valerie. "Udah lah, Valerie. Aku gak mau bahas ini." ujar Safira yang langsung mengalihkan pandangannya ke buku. "Ya udah deh, aku gak maksa. Aku permisi ya." ujar Valerie seraya berjalan keluar dari ruang kelas dengan perlahan. "Iya." sahut Safira singkat. *** Sekarang adalah jam istirahat, Safira segera keluar dari kelasnya dan berjalan menuju kantin dengan masih berkutat pada bukunya. Tiba-tiba saja seseorang menariknya dan langsung memeluknya. Tak lama, orang itu segera melepaskan pelukannya dengan perlahan. "Kalo jalan liat-liat dong. Ada kulit pisang tuh, untung gak jatuh." ujar orang itu. Safira mengangkat wajahnya dan melihat wajah orang yang baru saja memeluknya. "Rizki?" "Kenapa? Ganteng?" tanya Rizki seraya tertawa kecil, "Hati-hati makanya. Mau ke kantin? Bareng yuk!" ajak Rizki. "Yuk!" turuti Safira dengan penuh semangat. "Aku tadi liat kamu di perpustakaan sama Kak Rafa, berdua. Kalian udah jadian ya?" tanya Rizki secara tiba-tiba. "Engga, itu cuma, Kak Rafa bantu aku ambil buku. Buku ini." jelas Safira seraya menunjukkan buku yang ia baca tadi. "Ya ampun, kenapa gak jadian aja sih?" tanya Rizki. "Rizki, udah deh. Bahas itu mulu, makan aja deh." ujar Safira dengan wajah malu-malu. "Ya ampun, malu-malu." ujar Rizki. "Apaan sih, Rizki!?" kesal Safira. "Iya, iya. Maaf. Ngomong-ngomong, Kamu masih marah sama Anna? Eh, maksud aku, Anna masih marah sama kamu?" tanya Rizki. "Kayaknya sih, soalnya dia masih belum sekolah kan sampai hari ini." ujar Safira. "Kayaknya dia cuma lagi butuh waktu buat sendiri aja deh. Sebentar lagi, dia pasti berhenti buat marah sama kamu." ujar Rizki. "Mungkin." sahut Safira singkat. *** "Anak-anak, kita akan mengadakan kuis hari ini, 30 menit untuk 25 soal. Silakan ambil kertas yang ada di meja bapak, masing-masing." perintah Guru. Semua siswa segera mengambil kertas yang ada di meja Guru dan bergegas mengerjakan kuis. Safira dan Valerie terlihat sudah mengisi beberapa soal, sementara yang lain, terlihat masih menulis data diri mereka. 25 menit sudah berlalu, Safira sudah mengumpulkan kertas kuis sejak 5 menit yang lalu. "Pak, saya sudah selesai." ujar Valerie. Semua siswa segera mengerjakan kuis tanpa melihat soal lagi. 29 menit sudah berlalu, semua siswa sudah mengumpulkan kertas kuis. "Baik, semuanya sudah selesai. Kalau begitu, bapak permisi ya." pamit Guru. "Baik, Pak." ujar semua siswa bersamaan. "Safira, kamu kalo ngerjain soal gak pakai mikir dulu ya?" "Materi di buku udah nempel di otak kamu semua ya?" "Engga gitu juga." jawab Safira malu-malu saat teman sekelasnya bertanya. *** "Safira, pulang bareng yuk!" ajak Rafa yang tiba-tiba saja datang menghampiri Safira. "Kak Rafa, bikin kaget deh." ujar Safira. "Maaf, mau pulang bareng aku lagi?" ajak Rafa. "Mau, yuk!" ujar Safira seraya menarik lengan Rafa ke mobilnya. "Safira, kok kamu yang tarik tangan aku, kan ini mobil aku." ujar Rafa. "Ya, gak apa-apa. Biar cepet aja gitu." ujar Safira. "Ya udah, ayo masuk!" ajak Rafa seraya memasuki mobilnya. Safira pun ikut masuk ke mobil Rafa. "Mau langsung pulang ke rumah?" tanya Rafa. "Iya lah. Emang mau ke mana?" tanya Safira balik. Rafa menatap Safira dan mulai tersenyum. "Kak Rafa, jangan macam-macam ya." ujar Safira seraya menutupi dirinya menggunakan tangan. "Safira, Safira. Emang aku mau apa coba? Pikiran kamu tuh ya." ujar Rafa. "Ya, maaf. Emang kalo gak pulang ke rumah. Aku mau ke mana coba?" tanya Safira. "Makan? Makan bareng aku." ujar Rafa. "Kak Rafa ajak aku makan?" tanya Safira memastikan. "Iya, mau?" tawari Rafa. "Tapi, Kak Rafa yang bayar kan?" tanya Safira dengan malu-malu. "Tenang aja." ujar Rafa. "Oke, yuk! Tapi, tempatnya aku yang pilih." ujar Safira. "Oke." turuti Rafa. "Berhenti, di sini aja." ujar Safira, Rafa pun segera menghentikan mobilnya. "Di sini?" tanya Rafa memastikan. "Iya, di sini." jawab Safira. "Bakso? Mi ayam?" ujar Rafa yang sedang membaca menu makanan. "Mbak, pesan bakso dua porsi ya." ujar Safira. "Siap, ditunggu mbak." "Kamu suka makan di sini?" tanya Rafa. "Ya, aku suka banget makan di sini. Selain makanannya enak, harganya juga murah." ujar Safira. "Ini baksonya. Itu pacarnya ya mbak?" bisik penjual bakso pada Safira. "Belum, mbak." bisik Safira. Penjual bakso itu hanya mengangguk. "Cobain deh, enak tau. Emang Kak Rafa belum pernah makan bakso?" tanya Safira. "Pernah, 3 tahun yang lalu. Udah lupa rasanya kayak gimana." jawab Rafa. "3 tahun lalu?" tanya Safira heran. "Iya, soalnya libur sekolah, aku coba makan bakso. Tapi, semenjak masuk sekolah lagi, aku kan sibuk buat belajar, latihan basket, dan lain-lain. Jadi, gak ada waktu buat makan bakso atau main." jelas Rafa. "Tapi, sekarang Kakak sama aku makan bakso." ujar Safira. "Iya, soalnya aku sempetin." ujar Rafa. "Oh." ujar Safira singkat. Mereka pun segera menikmati bakso yang sudah Safira pesan tadi. "Gimana, enak?" tanya Safira. "Enak kok." jawab Rafa. "Eh, Kak. Rumah aku udah deket banget dari sini, jadi Kakak kalo mau langsung pulang juga gapapa kok." ujar Safira. "Seriusan?" tanya Rafa. "Iya, serius." jawab Safira. Bakso yang mereka makan telah habis. "Udah habis, aku pulang duluan ya." pamit Rafa. "Iya, makasih juga buat traktirannya." ujar Safira. Rafa melambaikan tangannya pada Safira. Lambaian tangan itu pun di balas cepat oleh Safira. Saat Rafa mulai jauh, Safira bergegas pulang ke rumahnya. "Lumayan, udah kenyang. Di rumah gak perlu masak deh, paling masak buat nanti malam." ujar Safira seraya tersenyum malu-malu. *** "Mah, aku mau sekolah besok." ujar Anna. "Kamu yakin udah baik-baik aja?" tanya Mamah memastikan. "Aku yakin, Mah." ujar Anna. "Ya sudah, nanti Mamah bilang sama sopir ya. Kamu istirahat dulu hari ini." perintah Mamah. "Iya, Mah." turuti Anna. "Kamu makan siang dulu deh." perintah Mamah. "Suruh bibi aja buat antar makan siang ke kamar aku ya, Mah." ujar Anna. "Iya, nanti Mamah suruh bibi." ujar Mamah. Anna segera berjalan menaiki tangga dan memasuki kamarnya. Tak lama, pelayan memasuki kamarnya. "Non, ini makan siangnya." ujar pelayan seraya menaruh nampan berisi makan siang ke atas meja belajar Anna. "Iya, makasih ya bi." ujar Anna. "Iya, non." ujar pelayan. Anna segera menikmati makan siangnya dengan lahap. "Safira, tunggu aku ya." batin Anna. *** "Safira, lo ke sini lagi?" tanya Ghea. "Iya. Tapi, aku gak bawa makanan." ujar Safira. "Gapapa lagi, gue gak peduli soal makanan. Yang penting lo jenguk gue, itu udah nomor satu." ujar Ghea. "Ghea, so sweet." ujar Safira. "Ih, apaan sih? Gimana lo sama Rafa?" tanya Ghea secara tiba-tiba. "Apa? Rafa?" tanya Safira heran. "Iya, kalian udah jadian?" tanya Ghea. "Engga." jawab Safira dengan cepat. "Mukanya gak usah gitu juga kali. Tegang banget lo sama gue. Gue udah gak peduli soal lo sama Rafa lagi kok. Berteman sama lo aja, gue udah seneng pakai banget." ujar Ghea. "Seriusan?" tanya Safira memastikan. Ghea menganggukkan kepalanya pelan. "Oh iya, aku harus pulang. Aku mau masak buat makan malam nih. Sampai ketemu besok ya." pamit Safira. "Iya, makasih ya udah mau jenguk." ujar Ghea. "Santai aja, kita kan sekarang teman. Susah senang, sama-sama." ujar Safira. Safira keluar dari ruangan Ghea dan pulang ke rumahnya menaiki angkot. "Aku harus gimana ya, uang udah mau habis. Aku harus kerja apa lagi coba? Ngajar les, udah gak ada murid lagi. Apa aku kerja jadi pelayan aja ya?" batin Safira. "Hidup memang sulit ditebak, sangat rumit untuk dijalani." —Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN