Episode 28

1827 Kata
"Pagi semuanya." sapa Guru. "Pagi, Pak." ujar semua siswa berbarengan. "Kalian hari ini mau materi atau kuis? Mumpung bapak lagi baik hati, jadi Bapak tanya nih." ujar Guru. "Hah? Serius boleh milih, Pak?" "Materi aja, Pak. Biar lebih paham." "Pasrah aja, Pak." "Boleh enggak perlu dua-duanya, Pak?" Respon para siswa sangat beragam, ada yang senang, biasa saja, dan terlihat lesu. "Baik, setelah saya mendengarkan saran dari para siswa, saya putuskan untuk mengadakan kuis. Silakan di ambil lembar jawabannya. Ingat, tidak boleh mencontek dan jangan ribut. 30 soal, dikerjakan dalam waktu 35 menit." ujar Guru. "Perasaan gak ada yang milih kuis." "Bapak curang nih." "Terus, buat apa di tanya??" Semua siswa mendadak kesal dan mulai cemberut. Kelas menjadi hening saat para siswa mengerjakan kuis. "Kalian gak ada niat buat kasih bapak kado?" tanya Guru yang sedang duduk santai di bangkunya. "Kado buat apa, Pak?" tanya Valerie. "Emang bapak ulang tahun?" tanya siswa lain. "Nggak sih, kasih kado emang harus ulang tahun?" tanya Guru. "Hari Guru, Pak?" "Bukan sih, Bapak cuma lagi pengen kado aja." ujar Guru. "Ya ampun, Bapak!" Kelas sudah berjalan selama 90 menit, bel istirahat sudah berbunyi. Semua siswa segera keluar dari ruangan kelas dengan serempak. "Kalian gak ada niat buat kasih Bapak kado?" tanya Guru berulang kali. "Gak ada, serius deh, Pak." "Ya sudah kalau begitu." ujar Guru dengan wajah kecewa. Saat Safira berjalan keluar dari ruangan kelasnya, terlihat Rafa sudah bersiap untuk menghampirinya. "Safira!" sapa Rafa. "Kak Rafa, ada apa?" tanya Safira heran. "Aku mau ajak kamu makan malam, kamu mau?" tanya Rafa. "Bisa sih, Kak." ujar Safira. "Oke. Aku cuma mau bilang itu aja sih." ujar Rafa. "Hah? Itu aja?" heran Safira. "Oh iya, aku jemput kamu jam 7 malam ya." ujar Rafa. Safira hanya mengangguk. Kemudian, Rafa segera berjalan menjauh darinya. Safira terlihat bingung dengan tingkah laku Rafa. Tidak biasanya ia seperti itu. Namun, di sisi lain, ia juga sangat senang dengan ajakan dari Rafa itu. *** "Hai, Safira!" sapa Rizki dengan senyuman ceria muncul dari wajahnya. "Rizki, mau makan juga?" tanya Safira. "Tumben di kantin sendirian." ujar Rizki. "Ya gitu." ujar Safira. "Mau ditemenin?" tanya Rizki. "Silakan duduk." ujar Safira mempersilakan, "Bilang aja pengen duduk di sini, iya kan?" tanya Safira. "Kalo boleh jujur sih, emang iya." ujar Rizki dengan senyum malu-malu. "Oh iya, malam ini, Kak Rafa ajak aku makan lagi." ujar Safira secara tiba-tiba. "Seriusan? Selamat ya, semoga Kak Rafa dapat mengutarakan isi hatinya padamu." ujar Rizki. "Iya, aku harap begitu." ujar Safira. "Ngomong-ngomong, kamu nanti pulang bareng Kak Rafa?" tanya Rizki. "Kayaknya sih. Emang kenapa?" tanya Safira. "Engga apa-apa sih. Penasaran aja." ujar Rizki. "Oh iya, pasti nanti malam, kalian gak cuma berdua." ujar Rizki secara tiba-tiba. "Loh, kenapa gitu?" tanya Safira heran. "Ya, tunggu aja." ujar Rizki. "Hm, aku jadi curiga deh." ujar Safira penuh selidik. "Apaan sih? Safira!" ujar Rizki. "Bercanda." ujar Safira dengan tawa kecil. "Oh iya, sebentar lagi masuk. Aku ke kelas ya." pamit Rizki. "Iya." ujar Safira singkat. Rizki segera meninggalkan Safira yang tengah duduk sendirian di kantin. Ia masih menikmati es teh manis miliknya. Tak lama, bel masuk pun berbunyi. Safira segera berlari menuju kelasnya. *** "Baik, hari ini, kita akan mempelajari limit fungsi aljabar, silakan di buka bukunya." ujar Guru, "Jika sudah di buka, silakan kalian baca dan pahami, jika masih tidak mengerti, kalian bisa tanyakan pada saya." perintah Guru. "Baik, Bu." ujar semua siswa berbarengan. "Hm, kalian sudah sarapan?" tanya Guru. "Sudah, Bu." ujar semua siswa berbarengan. "Kalau sudah, kenapa kalian terlihat begitu lemas hari ini? Apa karena kalian tidak menyukai mata pelajaran saya? Jika tidak suka, silakan keluar." ujar Guru. "Suka kok, Bu. Kita cuma lagi lemas aja." ujar salah seorang siswa. "Baik, saya maklumi. Jika kalian sudah selesai membacanya, silakan untuk di catat. Yang menurut kalian penting." perintah Guru. Semua siswa segera mencatat pada buku tulis mereka masing-masing. Semuanya terlihat sangat serius, entah mengerti ataupun tidak. Suasana sangat hening, Safira juga terlihat sangat fokus pada pekerjaannya. "Waktu mencatat kalian hanya tersisa 15 menit lagi, setelah itu, ibu akan memberikan kalian tugas untuk di kerjakan di rumah." ujar Guru. Setelah pembelajaran yang melelahkan ini terhenti, bel pulang pun segera berbunyi. Safira segera keluar dari ruangan kelasnya dan berlari menuju mobil Rafa dengan cepat. "Safira, kamu ngapain lari-lari?" tanya Rafa. "Gak apa-apa sih, olahraga. Ayo cepat kita pulang!" ujar Safira yang terlihat cukup lelah. "Kamu keringetan loh." ujar Rafa yang kemudian segera menyeka keringat Safira menggunakan sapu tangan yang ada di genggamannya. "Kak Rafa?" Jantung Safira kini berdetak sangat kencang saat mereka berdua berada semakin dekat. "Kak Rafa, udah!" perintah Safira. Rafa menghentikan pergerakannya. Ia mulai berjalan mundur. "Lebih baik, kita pulang sekarang. Gimana?" ajak Safira. "Iya, itu lebih baik." ujar Rafa. Mereka berdua pun segera menaiki mobil. Safira terlihat memejamkan matanya. Ia sangat gugup saat itu. Tapi, tiba-tiba saja, Rafa menggenggam tangannya. "Safira, kamu kenapa?" tanya Rafa yang memperhatikan dirinya sedari tadi, tanpa ia sadari. Safira dengan cepat melepaskan tangannya dari genggaman Rafa, karena ia semakin gugup. "Hm, maaf." ujar Rafa. "Mending, kita jalan aja." ujar Safira. Rafa segera mengendarai mobilnya dengan perlahan. Ia sangat heran dengan tingkah laku Safira barusan. Apa yang terjadi sebenarnya. "Kak Rafa, aku mau tanya sesuatu deh sama Kakak." ujar Safira secara tiba-tiba. "Tanya aja." ujar Rafa. Safira mulai mengembuskan napasnya dengan perlahan, rasa gugupnya pun perlahan mulai mereda. "Kita makan malamnya cuma berdua?" tanya Safira memastikan. "Bertiga sih." ujar Rafa. Safira sungguh terkejut saat mendengar jawaban Rafa barusan. "Bertiga!?" tanya Safira terkejut. "Iya, Rizki ikut soalnya. Dia bilang bosen di rumah, tapi yang makan malam cuma kita berdua kok, dia ikut aku keluar aja." jelas Rafa. "Oh gitu." *** "Safira, kalo gitu, aku pamit ya." pamit Rafa. "Iya." sahut Safira singkat. "Jangan lupa makan malam kita." ujar Rafa mengingatkan. "Tenang aja, aku pasti ingat kok." ujar Safira seraya melambaikan tangannya pada Rafa, begitupun sebaliknya. Rafa perlahan mulai menjauh dari Safira, ia mulai memasuki mobilnya dan pergi. "Aku gak sabar deh buat malam ini, apa Kak Rafa akan menyatakan cintanya? Ya ampun, aku benar-benar enggak sabar!" batin Safira, ia sungguh menantikan makan malam itu. *** "Anna, Papah ingin berbicara serius dengan kamu. Bisa?" tanya Papah. Anna terlihat tengah duduk di sofa sembari menonton acara televisi. Ia tak menghiraukan Papahnya sedikit pun. "Anna, Papah serius." ujar Papah. Namun, Anna sama sekali tak menanggapinya. Papah mulai berjalan ke arah Anna. Anna mulai menoleh ke Papahnya. "Kamu kenapa sih, selalu begini sama Papah?" tanya Papah dengan wajah serius. Anna mulai bangkit dari duduknya. Ia menatap Papahnya dengan tatapan tajam. "Papah kenapa tanya itu?" tanya Anna. "Ya, Papah bingung aja, kenapa kamu segitu kesalnya sama Papah." ujar Papah. "Papah masih tanya kenapa? Papah beneran gak sadar sama apa yang udah Papah lakukan selama ini ke aku!?" bentak Anna. "Papah melakukan semua itu kan untuk kebaikan kamu." ujar Papah. "Untuk kebaikan aku!? Itu semua untuk kebaikan Papah!" bentak Anna. "Anna, semua hal yang Papah lakukan ini untuk kebaikan kamu! Papah gak pernah melakukan sesuatu hal yang nantinya akan merugikan kamu. Dan, Papah minta tolong sekali ini aja sama kamu, tolong kamu terima perjodohan kamu dengan anak teman Papah ya." ujar Papah. "Sekali ini saja? Jadi, selama ini yang aku lakuin bukan untuk Papah!? Dari dulu? Terus, itu apa, Pah!?" bentak Anna. "Anna, ini semua untuk kebaikan kamu!" ujar Papah. "Omong kosong! Papah itu egois tau gak!? Papah gak pernah bisa ngerti perasaan aku!" jerit Anna. "Maksud kamu?" tanya Papah. "Papah selama ini udah bikin hidup aku menderita tau gak!? Papah kira aku senang selama ini!? Aku tersiksa, Pah! Rumah ini kayak neraka buat aku! Papah ngerti gak sih!?" jerit Anna seraya meneteskan air matanya. "Anna, Papah gak tau kalau kamu tersiksa sama semua ini. Papah kira, kamu...," "Apa, Pah!? Aku akan lupain semuanya? Yang udah berlalu, biarlah berlalu. Papah kira rasa sakit selama bertahun-tahun yang udah aku rasain selama ini akan hilang dalam satu malam?" tanya Anna. "Anna, Papah benar-benar tidak bermaksud begitu pada kamu. Kalau kamu merasa begitu, Papah minta maaf." ujar Papah. "Minta Maaf? Semudah itu, Pah? Kenapa baru sekarang? Kenapa gak dari dulu?" tanya Anna yang sudah berada di puncak amarahnya, "7 tahun, Pah! Aku ngerasain sakit tanpa henti!" jerit Anna dengan air mata yang semakin mengalir dengan sangat deras. "7 tahun?" heran Papah. "Papah minta nilai aku bagus, aku ikutin. Papah minta aku rajin belajar, aku ikutin. Papah minta aku jadi populer, aku ikutin, Pah! Tapi apa semua itu udah bikin Papah puas? Enggak! Semua itu masih kurang kan, Pah!?" tanya Anna dengan nada yang tinggi. "Anna...," "Papah minta aku gak punya teman, aku ikutin. Papah minta aku menang di perlombaan, aku ikutin. Dan, Papah minta aku peringkat satu, aku memang masih belum bisa penuhin, tapi aku berada di peringkat kedua, Pah!" jerit Anna. "Anna, Papah benar-benar minta maaf sama kamu, Papah gak tau kalau kamu merasa seperti ini selama ini." ujar Papah. Papah segera mendekati Anna dan dengan cepat memeluknya, Anna hanya dapat terdiam dan meneteskan air matanya. Ini pertama kalinya ia merasakan dekapan dari seorang ayah. "Papah!" Mereka berdua pun semakin berlarut dalam kesedihan. *** "Safira, kamu sudah siap?" tanya Rafa. Safira segera membukakan pintu rumahnya. "Ya ampun, kamu cantik sekali." puji Rafa. "Terima kasih." ujar Safira. Mereka berdua pun segera memasuki mobil yang sudah ada Rizki di dalamnya. "Hai." sapa Rizki. *** "Jadi, kita bakal makan malam di sini?" tanya Safira memastikan. "Kenapa? Kamu gak suka? Kita cari tempat lain aja kalau begitu." ujar Rafa. "Engga usah, aku cuma belum pernah liat tempat makan semewah ini aja sih." ujar Safira. "Ya udah, kalo gitu, kita langsung masuk?" ajak Rafa. "Boleh." Mereka berdua pun segera memasuki restoran yang telah di pilih oleh Rafa. "Kamu mau pesan apa?" tanya Rafa. "Kakak aja yang pesan. Aku nggak ngerti sama nama makanannya." ujar Safira. Rafa segera memesan makanan. Saat makanan datang, mereka segera menikmatinya. "Gimana, kamu suka?" tanya Rafa. "Suka banget." ujar Safira. "Safira, aku udah suka sama kamu sejak kita ketemu di perpustakaan. Kamu mau, jadi pacar aku?" tanya Rafa secara tiba-tiba. Safira pun langsung tersedak saat mendengar itu. "Apa? Kakak suka sama aku?" tanya Safira. "Kalo kamu gak suka, kamu boleh tolak aku. Oh iya, aku juga mau minta maaf, soalnya waktu itu aku bilang nggak suka kamu, soalnya aku takut kamu tolak saat itu." ujar Rafa. "Kak Rafa, aku udah suka sama Kakak sejak aku kelas 10." ujar Safira. "Hah? Kelas 10?" heran Rafa. "Iya, Kakak gak sadar apa? Kakak itu populer banget di sekolah. Tapi, aku gak berani ketemu sama Kakak, karena aku takut sama para wanita penggemar Kakak." ujar Safira. "Jadi, kamu mau?" tanya Rafa memastikan. "Iya, aku mau banget." jawab Safira. Rafa terlihat sangat senang mendengar hal itu. Mereka pun segera menikmati makanan yang ada di atas meja dan segera menghabiskannya. Saat telah selesai, mereka segera kembali ke mobil untuk pulang. "Hai, kayaknya ada yang baru jadian nih." ujar Rizki. "Iya, kita baru jadian." ujar Rafa. "Serius? Selamat ya untuk kalian berdua." ujar Rizki. "Makasih." ujar Rafa, "Aku gak sabar untuk mengumumkan ini ke satu sekolah." ujar Rafa. —Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN