Episode 29

1741 Kata
"Tapi, hubungan kita harus di rahasiakan dulu untuk sementara di sekolah. Gak apa-apa kan, Kak Rafa?" ujar Safira secara tiba-tiba yang membuat Rafa melebarkan matanya dan terkejut. "Apa!?" kaget Rafa dan Rizki bersamaan. "Iya, harus dirahasiakan." ujar Safira. "Kenapa harus dirahasiakan?" tanya Rafa bingung, "Apa kamu malu sama hubungan kita?" tanya Rafa. "Bukannya gitu, Kakak populer di sekolah, semua siswi di sana pasti pada cemburu liat aku sama Kakak. Aku gak mau jadi bahan omongan di sekolah karena punya hubungan spesial sama Kak Rafa" jelas Safira. "Bener juga sih Kak, apa yang dibilang Safira. Satu sekolah pasti pada ngomongin dia macam-macam. Untuk sementara, dirahasiakan dulu aja lah." ujar Rizki yang mendukung Safira. "Gimana Kak, gak apa-apa kan? Untuk sementara aja kok." ujar Safira. "Ya udah, tapi jangan lama-lama." ujar Rafa menuruti keinginan Safira. "Makasih ya, Kak." ujar Safira girang. *** "Hei!" sapa Rafa seraya menepuk pelan bahu Safira, hal itu membuatnya terkejut. "Kak Rafa! Bikin kaget aja deh." ujar Safira. "Maaf ya, aku mau kasih kamu ini." ujar Rafa seraya memberikan sebuah kotak kecil kepada Safira. "Kak, ini masih area sekolah, kalo anak-anak pada liat gimana coba?" tanya Safira dengan raut wajah cemas. "Ya biarin lah, biar semua orang tau kalo kamu itu milik aku." ujar Rafa dengan penuh rasa percaya diri. "Kak Rafa! Kita udah sepakat kan!?" bentak Safira. "Iya, iya. Jangan marah gitu dong, aku permisi ya." pamit Rafa. "Hm, tunggu dulu, Kak!" panggil Safira. Rafa menoleh ke arahnya dengan cepat. "Kenapa?" tanya Rafa. "Makasih buat ini." ujar Safira seraya menunjukkan kotak kecil yang baru saja diberikan oleh Rafa. "Sama-sama." ujar Rafa seraya tersenyum dan langsung pergi meninggalkan Safira. "Apa ini?" tanya Safira pada dirinya sendiri. Ia sungguh penasaran dengan apa yang diberikan Rafa padanya. Ia segera membuka kotak kecil itu dengan perlahan, di sana terdapat sebuah kertas kecil yang berisi tulisan, ia segera membaca tulisannya. *** Kini, aku akan menjadi matahari yang selalu menerangi hidupmu. Aku akan menyingkirkan kegelapan yang menyelimuti dirimu. Akulah cahaya untuk kehidupanmu. *** "Kak Rafa, ada-ada aja deh." ujar Safira seraya tersenyum malu-malu. Di balik kertas itu ada sebuah kotak minuman. Ia segera mengambilnya. "Minuman?" Safira segera meminumnya, itu sangat enak. Ia pun segera menghabiskannya. "Enak banget." ujar Safira. *** "Safira, tugas matematika kamu sudah selesai?" tanya Rizki. "Sudah." jawab Safira dengan cepat. "Wah, hebat banget. Aku di beberapa soal masih belum paham loh." puji Rizki. "Kamu harus pahami lagi lah." ujar Safira. "Safira, kamu mau ajarin aku? Jadi guru les gitu." tanya Rizki. "Guru les? Bisa sih. Tapi, kita mau belajar di mana?" tanya Safira. "Senyaman kamu aja. Tapi, di area sekolah aja ya." ujar Rizki. "Oke." sahut Anna singkat. "Sekarang kita ke kantin? Aku udah lapar banget soalnya." ujar Safira. "Oke, yuk kita ke kantin." ujar Rizki. Mereka segera bergegas pergi ke kantin, sesampai di sana, Safira menjadi sungguh bingung, seisi sekolah kini menatapnya, mereka memperhatikan Safira sedari tadi. "Aduh, kenapa mereka semua liatin aku kayak gitu sih? Apa aku ada bikin salah, atau jangan-jangan mereka udah tau yang sebenarnya?" batin Safira. "Safira, kenapa mereka semua pada liatin kamu dengan tatapan tajam gitu sih? Serem banget." bisik Rizki. "Aku juga gak tau." balas Safira. "Kita masih mau makan di sini? Saran aku, kita gak perlu makan deh. Aku jadi takut lama-lama di sini." keluh Rizki. "Udah, gak apa-apa. Aku lapar banget. Kita pokoknya makan di sini, apa pun yang terjadi." ujar Safira. "Ya udah deh." turuti Rizki. Mereka segera memesan makanan dan menikmati makanan dengan perlahan. Terlihat, kantin menjadi semakin sepi, semakin lama mereka di sana. "Orang udah gak terlalu peduli sama kamu lagi, gak ada tatapan tajam, malah sepi banget di sini." ujar Rizki. "Iya, bagus deh, aku jadi gak merasa risih lagi sama mereka." ujar Safira tenang. Tak lama, seseorang menghampiri Safira dan Rizki yang tengah menikmati makanan dengan perlahan. "Maaf Kak, aku mau tanya." ujar orang itu, sepertinya ia kelas 10. "Mau tanya apa?" tanya Rizki. "Kak Anna pindah sekolah atau bagaimana ya, Kak? kenapa aku gak pernah liat di sekolah?" tanya orang itu. Sepertinya, ia adalah salah satu penggemar Anna di media sosial. "Kurang tau." jawab Rizki. "Seriusan, Kak?" tanya orang itu memastikan. "Iya, serius." jawab Rizki. Orang itu pun segera pergi meninggalkan mereka. "Ya ampun, Anna terkenal banget di sekolah ini, tapi aku juga salah satu penggemar dia di media sosial sih." ujar Rizki. "Rizki, apa bener ya, dia pindah sekolah?" tanya Safira. "Mana aku tau, kamu gak coba hubungi dia gitu?" tanya Rizki balik. "Udah sempat aku coba, tapi dia selalu gak aktif." jawab Safira. "Hm, jadi hubungan pertemanan kalian benar-benar udah gak bisa di selamatkan?" tanya Rizki. "Mungkin." jawab Safira dengan cepat. Tak lama, seseorang datang menghampiri Rizki dan Safira dengan sambutan yang meriah dari seisi sekolah. Orang itu tak lain adalah, Anna. Safira menoleh ke arah Anna diikuti oleh Rizki yang juga menoleh ke arah Anna. "Anna?" heran Safira. "Hai, Safira. Hai, Rizki." sapa Anna. Mereka hanya terdiam, "Apa aku boleh duduk di sini?" tanya Anna. "Boleh, boleh." ujar Rizki. Safira hanya menganggukkan kepalanya pelan. "Anna, kok kamu tiba-tiba samperin aku di sini, apa kamu udah enggak marah lagi sama aku?" tanya Safira memastikan. Anna tersenyum. "Untuk apa kita marah, cuma buang-buang waktu aja, ya kan?" ujar Anna. "Anna, jadi kita bisa bareng bertiga lagi, kan?" tanya Rizki memastikan. "Tentu." jawab Anna singkat. "Gimana kalo kita ke perpustakaan?" ajak Rizki dengan wajah gembira. "Boleh." turuti Anna. Mereka pun bergegas pergi ke perpustakaan. Sesampainya di perpustakaan, tiba-tiba saja seseorang datang menghampiri Anna. "Kak Anna, ke mana aja? Aku kira Kakak pindah sekolah tau." ujarnya. "Enggak, aku cuma lagi kurang enak badan aja. Makanya gak masuk sekolah." jawab Anna. "Boleh foto bareng, Kak?" tanyanya. Anna mengangguk. Mereka pun berfoto sesaat. Dan akhirnya, Rizki, Safira, dan Anna pun segera memasuki perpustakaan. Di ruang perpustakaan ini senyap sekali, tak ada sedikitpun suara seseorang. "Safira, kamu mau baca buku apa?" tanya Anna. "Aku gak mau baca buku, aku cuma mau temenin kamu aja di sini." jawab Safira. "Oh, ya udah. Kalo gitu aku ambil buku dulu ya. Kalian duduk aja duluan di sana." ujar Anna. "Iya." turuti Safira dan Rizki. Setelah selesai mengambil buku yang ingin ia baca, Anna segera duduk bersama Safira dan Rizki. Ia mulai membaca buku yang ia ambil tadi. "Anna, aku mau minta maaf soal yang waktu itu ya, aku benar-benar gak bermaksud bikin kamu marah." ujar Safira. "Udah, lupain aja lah." ujar Anna. "Udah lah, mending kita ngobrol aja kayak biasa, ya gak?" tanya Rizki dengan penuh rasa semangat. "Iya, aku juga kangen banget kita ngobrol bareng." ujar Anna. Mereka pun mengobrol dengan panjang lebar, hingga akhirnya bel masuk pun berbunyi. Mereka bergegas pergi ke ruang kelas masing-masing. Safira dan Anna kembali duduk bersebelahan. "Anna, udah mulai sekolah lagi?" tanya Valerie. "Iya." jawab Anna singkat. Tak lama, Guru memasuki ruangan kelas. "Selamat pagi, anak-anak. Bagaimana kabar kalian hari ini? Baik-baik saja?" tanya Guru. "Baik, Bu." ujar semua siswa. "Anna, kamu sudah sehat?" tanya Guru memastikan. "Sudah, Bu." jawab Anna. "Baik, kalau begitu langsung saja kita mulai pembelajaran hari ini. Silakan di catat materi yang ada di halaman 123 sampai 127. Setelah itu, kerjakan soal yang ada di halaman 129." perintah Guru. "Baik, Bu." turuti semua siswa. "Ingat ya, nilai kalian jangan sampai dibawah 80, jika kalian ingin naik kelas." peringat Guru. 2 jam sudah berlalu. "Baik, pembelajaran ibu sudah berakhir, ibu permisi ya. Ingat, jangan ribut." peringat Guru. "Siap, Bu." turuti semua siswa. *** "Hai, semuanya." sapa Rizki pada Anna dan Safira. "Hai." jawab Safira. "Pulang sekolah mau ke kafe bareng nggak?" tanya Rizki. "Kafe yang mana?" tanya Anna. "Gak jauh dari sekolah kita, mumpung kita udah baikan." ujar Rizki. "Boleh tuh." ujar Safira. "Ya udah, aku ikut." ujar Anna. "Oke, pulang sekolah ya." ujar Rizki. *** Bel pulang sekolah telah berbunyi, semua siswa segera keluar dari ruang kelasnya masing-masing dan bersiap untuk pulang. Namun, berbeda dengan Safira yang masih membereskan peralatan sekolahnya. Tak lama, Rafa terlihat masuk ke ruang kelas Safira dan segera menghampirinya. Rafa pun juga dengan cepat membantu Safira membereskannya peralatan sekolahnya. "Kak Rafa, gak usah." ujar Safira. "Gak apa-apa, aku mau bantuin kamu." ujar Rafa. "Kak, gak perlu." ujar Safira yang masih tidak ingin bantuan dari orang lain. "Oke kalau kamu benar-benar gak mau aku bantuin." ujar Rafa seraya mengangkat kedua tangannya ke atas. Setelah selesai, Safira dan Rafa segera keluar dari ruang kelas dan bersiap untuk pulang. Namun, Safira baru tersadar bahwa ia harus ke kafe saat pulang sekolah. Pasti Anna dan Rizki sudah menunggu lama, pikirnya. "Ayo kita pulang!" ajak Rafa. "Maaf ya, Kak. Aku baru ingat kalau aku harus ke kafe sekarang, aku udah janji." ujar Safira yang terlihat cemas. "Sekarang?" tanya Rafa memastikan. "Iya, Kakak tunggu aku sebentar di mobil gak apa-apa kan ya? Tapi, kalo mau langsung pulang juga gak apa-apa sih. Mungkin Kakak sibuk." ujar Safira. "Aku bakal tungguin kamu di mobil, jangan lama-lama." peringat Rafa. "Iya, Kak. Kalo gitu, aku ke sana dulu ya." pamit Safira seraya melambaikan tangannya. "Iya, udah sana." ujar Rafa. *** Sesampainya di kafe, ia melihat Anna dan Rizki telah duduk dengan tiga gelas minuman dingin di mejanya. "Hai, maaf aku telat ya." ujar Safira. "Gapapa, santai aja lah." ujar Rizki memaklumi. "Jadi, sekarang kita mau obrolin apa nih?" tanya Anna. "Aku mau tanya sesuatu sama kamu, kamu kenapa gak masuk ke sekolah?" tanya Safira penuh selidik. "Kan aku udah sempat bilang, aku gak enak badan, itu aja kok. Gak ada hal lain." jawab Anna. "Serius? Bukan karena masih marah sama aku?" tanya Safira memastikan. "Bukan." jawab Anna singkat. Mereka segera meminum minuman yang ada di meja, lalu melanjutkan obrolan. "Anna, jadi aku boleh main ke rumah kamu lagi?" tanya Rizki secara tiba-tiba. Anna langsung tersedak saat mendengar kalimat tanya yang diucapkan oleh Rizki tadi. Ia batuk-batuk sesaat. "Anna, kok kamu batuk sih?" tanya Rizki. "Uhuk, uhuk! Aduh, maaf ya, aku jadi batuk kayak begini." ujar Anna. "Gapapa." ujar Safira. "Aku batuk karena kaget aja sama pertanyaan kamu barusan." jawab Anna. "Oh, maaf deh. Kamu gak perlu jawab." ujar Rizki. Obrolan mereka yang begitu panjang, akhirnya berakhir, mereka sudah ingin pulang ke rumah masing-masing. "Anna, aku ke toilet dulu ya sebentar." ujar Safira yang perutnya sakit secara tiba-tiba. "Ya udah, kita pulang duluan gapapa?" tanya Anna. "Iya." jawab Safira cepat. Rizki pun dengan cepat berlari ke arah mobilnya, sementara Anna masih berada di kafe. Saat Safira mulai memasuki pintu toilet, Anna dengan cepat mengunci pintunya. "Safira, maafin aku ya, tapi ini semua salah kamu sendiri." batin Anna. —Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN