Episode 30

1728 Kata
Saat Safira sudah selesai di toilet, ia pun segera membuka pintunya, namun pintu toilet sama sekali tidak terbuka. "Kok gak kebuka sih?" tanya Safira pada dirinya sendiri. "Tolong! Tolong!" jerit Safira. Namun, tak ada seorang pun yang mendengar jeritannya. Beberapa menit sudah berlalu saat ia berada di toilet. Rafa masih menunggunya di mobil. "Safira di mana ya? Katanya sebentar, kok lama banget sih." ujar Rafa. *** "TOLONG!! TOLONG!!" jerit Safira. 30 menit sudah berlalu, namun tak ada seorang pun yang berhasil membukakan pintu untuknya. Di sisi lain, Rafa berniat untuk menghampiri Safira ke kafe. "Apa aku ke kafe itu aja ya?" tanya Rafa pada dirinya sendiri. Tanpa berpikir panjang, Rafa segera berjalan menuju kafe yang berada tak jauh dari sekolah. "Permisi, mbak. Liat anak SMA, cewek, yang pakai tas berwarna putih?" tanya Rafa. "Liat mas, tapi udah gak ada di kafe. Kayaknya dia udah pulang deh." ujar pelayan kafe. "Masa sih udah pulang?" tanya Rafa memastikan. "Udah, mas. Soalnya saya dari tadi belum liat." ujar pelayan. "Apa Safira lagi di toilet ya?" batin Rafa. Saat Rafa berniat pergi ke toilet, suara jeritan Safira semakin kecil, suaranya perlahan memudar karena terlalu banyak menjerit. Rafa dengan cepat pergi ke toilet dan memanggil nama Safira. "Safira! Safira! Kamu di sini!?" panggil Rafa. Safira mendengar panggilan itu. "K-kak R-Rafa...," suaranya sudah hampir habis, namun ia tak kehabisan akal, ia mencoba memukul pintu toilet dengan keras agar Rafa mendengarnya. "Safira!" Brak! "Safira?" Brak! Brak! Rafa dengan cepat mencari keberadaan suara itu, dan akhirnya ia berhenti di sumber suara. "Safira, itu kamu?" tanya Rafa memastikan. Brak! Tanpa berpikir panjang, Rafa segera mendobrak pintu itu menggunakan kakinya. Dan, akhirnya pintu itu terbuka dan di dalamnya terdapat Safira. "Kak Rafa!" Safira segera memeluk Rafa dan menangis di pelukannya. "Safira, kamu kenapa? Siapa yang kunciin kamu di sana?" tanya Rafa khawatir. "Aku juga gak tau." ujar Safira seraya meneteskan air matanya. "Udah ya, kamu tenang dulu. Mending kita ke mobil sekarang." ujar Rafa. Safira menganggukkan kepalanya. Mereka pun segera berjalan ke arah mobil Rafa dan menaikinya. Safira terlihat masih syok karena kejadian tadi. Rafa pun segera mengendarai mobilnya dan membawa Safira untuk pulang ke rumahnya. Ia segera menghentikan mobilnya saat sampai di rumah Safira. "Safira, kita turun?" ajak Rafa. Safira mengangguk, lalu turun dari mobil. Mereka segera duduk di kursi yang berada di teras rumah Safira. "Safira, kamu minum dulu ya." perintah Rafa seraya membuka tasnya dan mengambil sebotol minuman air dingin. Safira segera mengambil minuman dari Rafa dan meminumnya. "Kamu tenang dulu ya." ujar Rafa. "Kak Rafa, aku benar-benar ... Aku gak ...," perkataan Safira terhenti saat air matanya mulai menetes kembali. "Udah, gak perlu kamu bahas lagi." perintah Rafa. "Kak Rafa, aku boleh minta tolong gak?" tanya Safira. "Minta tolong apa?" tanya Rafa. "Aku mohon banget, hubungan kita jangan di kasih tau ke siapa-siapa ya, soalnya aku takut. Mungkin aja orang yang kunci aku di toilet itu orang yang suka sama Kakak, jadi dia cemburu sama aku. Aku minta tolong banget sama Kakak." mohon Safira. "Iya, Safira. Aku gak akan kasih tau hubungan kita ke siapa pun." turuti Rafa. "Terima kasih banyak ya, Kak. Kalo kondisi udah membaik, kita bisa kasih tau semuanya kalo kita punya hubungan istimewa." ujar Safira. "Oh iya, aku harus pulang nih. Kamu gak apa-apa sendirian di rumah? Apa perlu aku temenin di sini?" tanya Rafa cemas. "Gak perlu, Kak. Urusan Kakak lebih penting." ujar Safira. "Tapi, aku juga mau minta sesuatu sama kamu." ujar Rafa secara tiba-tiba. "Minta apa?" tanya Safira penasaran. "Jangan panggil aku dengan sebutan Kakak, panggil kamu aja, atau sayang, atau apapun selain panggilan Kakak, soalnya aku merasa kita gak ada hubungan istimewa kalo kamu masih panggil aku dengan sebutan Kakak." ujar Rafa pada Safira. "Iya, kamu hati-hati ya." ujar Safira seraya tersenyum malu-malu. "Pasti." ujar Rafa seraya melambaikan tangannya. Rafa segera menaiki mobilnya dengan wajah berseri, ia segera mengendarai mobilnya dengan perlahan. "Sayang? Aku belum terbiasa panggil Kakak dengan sebutan itu." *** "Anna, kamu udah makan siang?" tanya Mamah. "Udah, Mah. Tadi di sekolah." jawab Anna. "Beneran? Kalo gitu, kamu ganti pakaian dulu ya." perintah Mamah. "Iya, Mah." turuti Anna yang segera memasuki kamarnya dan mengganti pakaiannya. Saat Anna mulai menuruni tangga, terlihat Papah sudah pulang dari kantor dan tengah duduk di ruang keluarga. "Papah?" Papah segera menoleh ke arah sumber suara, ia tersenyum saat menatap putri satu-satunya itu mengenakan pakaian yang indah dengan riasan yang cantik. "Bi, buatin aku cokelat panas ya." perintah Anna pada pelayan. "Siap, non." turuti pelayan. "Anna, kamu sudah pulang dari sekolah?" tanya Papah. Baru kali ini pertanyaan itu muncul dari mulut Papahnya. "Iya, Pah." jawab Anna. "Non, ini cokelat panasnya." ujar pelayan seraya memberikan secangkir cokelat panas pada Anna. "Makasih ya, bi." ujar Anna yang segera duduk di meja makan dan menikmati cokelat panas miliknya. "Manis banget." ujar Anna. "Anna, Papah ada sesuatu untuk kamu." ujar Papah seraya memberikan sebuah kotak yang berisi sesuatu di dalamnya. "Apa ini?" tanya Anna heran. "Buka aja, nanti juga kamu tau sendiri." perintah Papah. Anna segera membuka kotak itu dengan perlahan. Saat isi di dalamnya mulai terlihat, Anna begitu terkejut dan tak mampu berkata apa-apa. "Gimana, kamu suka?" tanya Papah. "Suka banget, Pah." ujar Anna seraya tersenyum kegirangan. Isi kotak itu tak lain adalah sebuah iPad. "Kok Papah bisa tau aku lagi cari ini?" tanya Anna. "Tau dong, kan Papah kamu." ujar Papah dengan penuh rasa percaya diri. "Ya ampun, makasih banyak ya, Pah." ujar Anna. "Iya, sama-sama. Pergunakan sebaik-baiknya." peringat Papah. "Siap, Pah!" turuti Anna. *** "Siapa yang kunci aku di toilet ya?" batin Safira yang masih penasaran. *** Hai diary, Kini, aku tak sanggup berkata-kata lagi. Aku telah berada di puncak kebahagiaan, terima kasih bulan, kau telah menghidupkan terang. *** "Kak Rafa, aku boleh tidur di sini lagi, kan?" tanya Rizki yang sudah berada di kamar Rafa sejak tadi. "Iya, terserah." ujar Rafa. "Makasih, Kak. Oh iya, sama Safira gimana?" tanya Rizki penasaran. "Kepo banget sih." ujar Rafa. "Kak Rafa, aku itu bukan kepo, tapi cuma pengen tau aja." elak Rizki. "Sama aja." ujar Rafa. "Iya, iya. Maaf." ujar Rizki. "Udah deh, kamu tuh gak usah terlalu kepo dan gak usah ganggu Kakak." perintah Rafa. "Hm, iya deh." turuti Rizki dengan wajah penuh rasa kecewa. "Kamu tidur aja sana." perintah Rafa. "Iya, Kak." turuti Rizki yang masih kecewa. *** "Ghea, kamu sudah bisa pulang." ujar Dokter. "Serius, dok?" tanya Ghea memastikan. "Iya, kamu sudah boleh pulang mulai hari ini." jawab Dokter. Ghea yang mendengar hal itu pun segera bangkit dan bergegas untuk pulang ke rumahnya dengan semangat. *** Kring... Kring... Kring... "Halo, kenapa Ghea?" tanya Safira. "Halo, gue udah bisa pulang sekarang. Ya ampun, gue seneng banget. Akhirnya!" ujar Ghea kegirangan. "Beneran? Bagus deh kalau begitu." ujar Safira. "Oh iya, gue besok udah mulai sekolah. See you soon!" ujar Ghea. "Iya." sahut Safira singkat. "Gue matiin dulu ya teleponnya, bye!"  ujar Ghea. "Iya." Safira segera menyimpan ponselnya di atas meja ruang tamu. "Akhirnya, Ghea udah sehat." ujar Safira pada dirinya sendiri. *** Jam sudah menunjukkan pukul 05:30. Safira baru saja bangun dan membersihkan rumahnya yang cukup berantakan. "Ya ampun, kotor banget sih, padahal aku cuma sendirian di rumah." kesal Safira. Jam sudah menunjukkan pukul 06:15, Safira sudah menyiapkan peralatan sekolah dan telah memakai seragam untuk berangkat ke sekolah. Saat ini, ia sedang sarapan. "Semoga, hari ini adalah hari yang paling indah." ujar Safira. *** Safira tengah berjalan menuju ruangan kelasnya, ia berjalan begitu pelan. Tak lama, Anna menghampirinya. "Hai, Safira!" sapa Anna dengan sebuah senyuman kecil terlihat di wajahnya. "Anna, kamu udah berangkat?" tanya Safira. "Iya, aku tau kamu pasti berangkat pagi, aku mau temenin kamu di kelas." ujar Anna. "Temenin aku di kelas? tumben banget, ada apa nih?" tanya Safira. "Gak ada apa-apa, tenang aja. Ke kelas yuk!" ajak Anna. "Iya." turuti Safira. Mereka berdua segera memasuki ruangan kelas dan mulai menduduki bangku mereka masing-masing. "Safira, kamu tunggu di sini sebentar ya, aku mau ke toilet." ujar Anna. "Iya, aku juga biasa sendiri kok di sini." ujar Safira. Tak lama, seseorang datang menghampiri Safira. "Hei!" Safira menoleh ke arah sumber suara, itu adalah Ghea. "Ghea, kamu udah sehat?" tanya Safira memastikan. "Udah dong, ngomong-ngomong, lo sendiri aja di sini?" tanya Ghea. "Engga, tadi aku sama Anna di sini." jawab Safira. "Anna? Ngapain dia?" tanya Ghea. "Dia udah baik loh sekarang. Dia udah maafin aku." ujar Safira. "Apa gue masih harus merahasiakan semuanya lagi?" batin Ghea. "Ghea, kok diem aja sih?" tanya Safira. "Engga, gue baik-baik aja kok. Hm, gue pamit ya, mau ke kelas. Ada Rizki di luar." pamit Ghea yang langsung keluar dari ruangan kelas. "Ghea aneh banget deh, hari ini." batin Safira. Tak lama, Rizki datang menghampiri Safira yang tengah berkutat pada bukunya. "Hai, belajar terus." sapa Rizki. "Rizki?" Safira menoleh ke arahnya. "Mau ke kantin gak? Masih pagi ini." ajak Rizki. "Gak ah, aku masih kenyang banget." tolak Safira. Kemudian, Anna pun segera datang menghampiri Safira dan Rizki. "Kalian lagi obrolin apa?" tanya Anna secara tiba-tiba. "Anna? Kita gak obrolin apa-apa kok." ujar Safira. "Masa sih?" tanya Anna memastikan. "Serius deh." ujar Rizki. Mereka pun segera duduk di bangku masing-masing. Rizki duduk di bangku yang berada di sebelah Safira. "Rizki!" teriak Anna. "Kenapa?" heran Rizki. "Itu bangku aku! kamu pindah dong." rengek Anna. "Eh, maaf ya, aku gak tau." ujar Rizki. Anna kemudian duduk di bangkunya dengan wajah kecewa. Ia terlihat cemberut. "Anna, aku benar-benar minta maaf ya." ujar Rizki, namun Anna tak menggubrisnya. Jam sudah berlalu begitu cepat, sekarang adalah jam istirahat. "Tadi soalnya susah banget kan?" "B.A.N.G.E.T!!" "Menurut aku sih, masih terlalu gampang lah, soal kayak gitu." Obrolan seperti itu menghiasi seluruh kelas saat jam pembelajaran telah selesai. "Safira, ke kantin yuk!" ajak Anna. "Boleh." turuti Safira. Mereka pun segera berjalan ke arah kantin dengan penuh rasa semangat. "Mau pesan apa?" tanya ibu kantin dengan ramah. "Mi ayam satu, bakso satu, sama es teh manis dua." ujar Anna. "Di tunggu ya neng." ujar ibu kantin. Safira terlihat masih berkutat dengan bukunya, pekerjaannya sehari-hari hanyalah belajar dan juga belajar. Memang, untuk mempertahankan nilai itu sangat sulit, jadi ia berusaha sangat keras untuk itu. "Safira, kamu baca buku terus sih. Pesanannya udah datang loh." ujar Anna. "Eh, maaf." ujar Safira. "Kita makan sekarang yuk, mumpung masih panas." ujar Anna. "Anna, emang kamu suka makanan kayak gini ya?" tanya Safira. "Makanan kayak gini? Maksud kamu mi ayam?" tanya Anna memastikan. "Iya." "Aku suka, soalnya enak." ujar Anna. —Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN