bc

Dinikahi Profesor Galak

book_age18+
36.8K
IKUTI
268.7K
BACA
love after marriage
fated
independent
doctor
comedy
twisted
sweet
humorous
first love
colleagues to lovers
like
intro-logo
Uraian

"Saya harap Prof bisa membatalkan perjodohan ini!"

“Siapa kamu, berani menyuruh saya? Jika memang kamu tidak menginginkan perjodohan ini, silakan kamu sendiri yang membatalkannya!"

“Oh, jadi Anda memang ingin menikah dengan saya?"

Dokter muda itu begitu berani menentang konsulennya hanya karena tidak ingin dijodohkan dengan pria yang ia benci itu. Intan membenci Zein karena selama ini Zein selalu galak padanya. Namun siapa sangka, sebuah kenyataan membuat sikap Zein yang awalnya juga membenci Intan, kini justru sangat mencintainya. Sayangnya, pria galak dan kaku itu tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan cinta dengan benar. Sehingga Intan selalu salah paham padanya.

chap-preview
Pratinjau gratis
01. Tak Disangka
Intan sangat membenci konsulennya yang galak itu, siapa sangka ternyata pria yang paling menyebalkan tersebut justru akan menikahinya. Malam itu Intan diminta untuk datang ke sebuah restoran oleh ibunya. Ia sempat heran, tidak biasanya Ibu Intan yang bernama Fatma itu pergi ke restoran sendiri. Hal itu pun membuat Intan khawatir. Ia bergegas menuju restoran setelah selesai bertugas di rumah sakit. Sebelumnya ia sempat izin pulang lebih awal pada Zein-konsulennya. "Maaf, Prof. Saya mohon izin pulang lebih awal karena ada acara keluarga," ucap Intan saat berada di ruangan Zein. Sebenarnya ia takut, tetapi Intan terpaksa memberanikan diri demi ibunya. "Ternyata selain teledor, kamu juga tidak profesional, ya?" sahut Zein yang sedang sibuk dengan komputernya itu. Bukan hal aneh bagi Intan saat melihat reaksi Zein seperti itu. Profesor tersebut memang tidak pernah memperlakukannya dengan baik. Hampir setiap hari Intan dimarahi atau disindir dengan kalimat yang menyakitkan oleh Zein. Namun ia tidak ada pilihan lain karena Zein yang menentukan nilainya. "Maaf, Prof. Tapi ini sangat mendesak," sahut Intan, gugup. Jika bukan karena ibunya sudah ada di restoran, Intan pun tidak mungkin berani meminta izin pada Zein. Namun, kondisi ibunya yang sedang tidak sehat itu membuat Intan khawatir. Kesehatan Fatma beberapa tahun belakangan memang kurang baik. Ia mengidap kelainan jantung, sehingga Intan tidak tenang jika ibunya pergi ke mana-mana sendiri. Zein melirik ke arah Intan dan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Oke, kalau begitu besok kamu harus lembur!" sahut Zein ketus. Ia seperti tak memiliki belas kasih pada Intan. Intan menghela napas. Sudah seminggu terakhir ia memang selalu lembur. Bahkan sering pulang dini hari. Ia merasa Zein sangat keterlaluan. Hanya karena dirinya minta izin pulang cepat, profesor itu menyuruhnya lembur seolah Intan tidak pernah melakukannya. "Baik, Prof," jawabnya, singkat. Meski di dalam hati sangat dongkol, Intan tidak berani untuk protes. Baginya, diizinkan pulang lebih awal saja sudah bagus. Setelah itu ia pun pamit dan meninggalkan ruangan Zein. Beberapa menit kemudian, Intan tiba di restoran. Namun, saat baru memasuki restoran tersebut, Intan tidak sengaja berpapasan dengan Zein. 'Duh, apes banget. kenapa harus ketemu dia di sini, sih?' batin Intan. Ia ingin menghindar, tetapi Zein sudah terlanjur melihatnya. "Malam, Prof!" sapanya. Ia tidak mungkin pura-pura tidak melihat Zein karena posisi mereka begitu dekat. "Oh, jadi ini yang kamu bilang sangat penting?" sindir Zein. Ia merasa Intan telah membohonginya. "Maaf, Prof. Di dalam ada ibu saya sedang menunggu. Permisi," ucapnya. Ia langsung berlalu karena tidak ingin berdebat dengan Zein. Melihat Intan gugup, Zein yakin gadis itu telah membohonginya. Ia pun semakin tidak respect pada Intan karena Zein yakin Intan pasti datang ke sana untuk kencan. Apalagi malam itu malam minggu. Bukan tanpa alasan Zein tidak menyukai Intan. Gadis itu sering datang terlambat ke rumah sakit. Bahkan Intan beberapa kali terlihat tidak fokus bekerja karena mengantuk. Bagi Zein, gadis itu sangat tidak profesional dan ia membenci hal seperti itu. Setelah Intan pergi, Zein pun menuju ke ruangan yang telah dibooking oleh orang tuanya. Tanpa ragu ia masuk ke ruangan tersebut. "Maaf saya terlambat," ucap Zein saat membuka pintu ruangan itu. Keningnya mengerut kala melihat Intan ada di sana. Intan yang sudah duduk di dalam pun terperanjat saat menyadari Zein berdiri di ambang pintu. 'Prof Zein, mau apa dia di sini?' Batinnya. Ia sangat gugup karena kehadiran Zein. Perasaannya tidak enak, khawatir hal yang tidak ia inginkan terjadi. Orang tua mereka begitu senang melihat kedatangan Zein. Awalnya Rani-mamahnya Zein, sempat khawatir anaknya itu tidak akan datang. Sebab ia tahu betul anaknya itu sangat sibuk. Namun kini ia lega melihat anaknya sudah berada di sana walaupun terlambat. "Akhirnya kamu datang juga. Sini, Sayang!" ucap Rani. Ia menyambut Zein dengan begitu hangat. Keluarga mereka memang keluarga harmonis yang selalu ceria. Entah Zein mendapat sifat dingin dari mana hingga ia kaku seperti itu. Zein pun mendekat ke arah kursi yang ada di dekat Rani. Perasaannya sudah tidak enak dan mencurigai sesuatu. "Ada apa ini, Mah?" bisik Zein sambil memalingkan wajah. "Udah kamu duduk aja dulu! Nanti Mamah kasih tau," sahut Rani dengan berbisik. Ia tidak ingin anaknya kabur sebelum menyapa Intan dan Fatma. Akhirnya Zein terpaksa duduk meski di kepalanya penuh pertanyaan. Sejak kehadiran Zein, Intan tak berani menatap wajahnya. Ia terus menunduk karena takut pada profesor itu. Terlebih tadi Zein sempat mencibirnya saat ia izin pulang lebih awal. 'Ya Tuhan, kenapa jadi begini, sih? Aku udah lega bisa kabur dari hadapan dia tadi. Ehh, malah ketemu lagi di sini,' gumam Intan dalam hati. "Zein, kamu sudah kenal dengan Intan, kan?" tanya Rani basa basi. "Iya, dia dokter muda yang sedang koas di rumah sakit kita," sahut Zein, datar. Ia tidak menanyakan alasan ibunya bertanya seperti itu. Zein khawatir ada sesuatu yang sedang mereka rencanakan dan ia yakin itu tidak akan dia sukai. 'Semoga ini hanya pertemuan biasa,' batin Zein. Melihat reaksi Intan dan Zein, papah Zein yang bernama Muhammad atau biasa disapa 'Muh' itu berusaha mencairkan suasana. "Bagaimana kalau kita makan dulu?" ajaknya. Mereka semua pun setuju dan mulai menyantap hidangan yang telah tersedia di hadapan mereka. Sambil menikmati makanan tersebut, mereka berbincang agar lebih akrab. Meski Muh sudah mengenal Fatma. Namun hubungan mereka tidak begitu dekat semenjak suami Fatma meninggal. "Jadi kira-kira kapan Intan UKDI?" tanya Muh basa-basi. Padahal ia sudah mengetahui hal itu. "Kalau semuanya lancar, insyaaAllah dua minggu lagi sudah selesai koas karena ini stase terakhir saya. Setelah itu mungkin saya akan persiapan selama satu bulan sambil mendaftar," jelas Intan. Muh bangga terhadap Intan karena dia memiliki visi misi yang jelas. "Wah, kamu memang luar biasa, ya? Masih muda tapi semangatnya tinggi," puji Muh. Zein benci ketika melihat Intan dipuji seperti itu. Sebab, menurutnya itu tidak sesuai dengan apa yang ia ketahui. Ia melirik ke arah Intan dengan tatapan yang menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Intan. Menyadari hal itu, Intan tidak mau ambil pusing. Ia tak peduli meskipun Zein tidak menyukainya. Sebab ia hanya perlu bertemu dengan Zein beberapa minggu lagi. Setelah itu dirinya akan terbebas dari profesof galak yang ia benci tersebut. Namun, hal yang tak diharapkan pun terjadi. Tiba-tiba Muh mengatakan sesuatu yang sama sekali tak ingin mereka dengar. "Begini ... tujuan kami mengundang kalian datang ke sini ingin menyampaikan bahwa kami telah sepakat untuk menjodohkan kalian berdua," ujar Muh.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

TERNODA

read
198.9K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.7K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
63.0K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook