Intan terkesiap saat mendengar Zein mengatakan bahwa pria itu akan membahas pernikahan dengannya. Ia sangat ingin protes. Namun Intan tidak berani melakukan hal itu. Sebab, tinggal beberapa hari lagi ia selesai koas. Intan khawatir jika dirinya terlalu menentang Zein, maka pria itu akan mempersulitnya atau mungkin memberikan nilai buruk padanya. Akan tetapi, ia tidak tenang jika hanya diam. Sebab, menurutnya ada yang salah jika mereka benar-benar menikah dalam waktu dekat. ‘Pernikahan apaan, sih? Lamaran aja belum. Tiba-tiba bahas pernikahan. Helo … emang siapa yang mau nikah sama situ?’ batin Intan, kesal. "M-maaf, Prof. Maksudnya mau bahas pernikahan siapa, ya?" tanya Intan. Sebenarnya pertanyaan itu merupakan sindiran untuk Zein. "Menurut kamu? Apa saya punya waktu untuk membahas p

